
Hari telah pagi, sinar matahari telah menerangkan langit dunia itu. Sudah satu hari mereka perjalanan yang mereka tempuh. Kini rombongan pedagang dan rombongan Party Sang Petualang memilih untuk menghentikan perjalanan mereka.
Kebetulan di di dekar jalur jalan terdapat sungai dan air terjun, jadi mereka bisa bersantai untuk membersihkan diri. Rin menggunakan Sihir Tanahnya untuk membuat dinding tanah.
Rin menggunakan itu hanya untuk sementara selama dia, Isla, Marie, dan Lisa mandi. Dengan dinding tanah itu mereka bisa merasa aman karena tidak akan ada yang mengintip.
Sementara untuk para laki-laki dan para pedagang memilih untuk memasak dengan bahan-bahan yang mereka bawa. Semua memilih mandi jika para perempuan telah selesai.
.....
Sementara, jarak 50 meter dari rombongan pedagang dan rombongan Party Sang Petualang, terlihat seorang berjubah hijau muda mengintip dari persembunyiannya yang ada di dahan pohon yang besar.
Wajahnya tak terlihat, karena ia memakai jubah yang juga menutupi kepalanya dan ia juga memakai topeng hewan rubah berwarna putih.
Ia melihat rombongan-rombongan itu, dibalik topengnya, ia tersenyum. Semenjak awal perjalanan dari Kerajaan, ia sudah mengikuti rombongan itu. Selama ini ia mengawasi perjalanan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara langkah rombongan mendekat. Lalu ia terdengar percakapan-percakapan mereka. "Hei, itu rombongan pedagang, dan ada rombongan Petualang juga."
"Ayo kita rampas semuanya !!"
"Lihat dinding tanah itu yang menutupi air terjun itu, pasti ada Petualang perempuan yang sedang mandi disana."
"Ahh, jika benar aku ingin sekali membawa mereka."
"Kita bunuh dulu para laki-laki itu. Setelahnya, kita rampas harta mereka dan membawa para perempuan."
Itulah percakapan orang-orang itu. Rupanya mereka sekelompok bandit yang berjumlah 7 orang. Orang bertopeng rubah marah mendengarnya. Di persembunyiannya, ia mengarah kedua tangannya ke arah ke-7 bandit itu.
"Hukuman Alam, Akar Pengikat !!"
Ke-7 bandit itu benar-benar lengah. Tiba-tiba muncullah banyak akar dari tanah yang tempat ke-7 bandit ini berdiri. Akar itu keluar yang menyebar luas, lalu langsung melilit tubuh ke-7 bandit itu, dan terangkat keatas.
"Sihir Alam ?" sahut salah satu dari mereka bertanya-tanya.
Orang berjubah hijau muda dan bertopeng itu menggunakan Sihir Alam, tipe tumbuhan. Ia mengendalikan akar tumbuhan untuk menyerang dan mengikat ke-7 bandit itu.
Lalu ia mengendalikan daun-daun besar yang tumbuh dari batang tumbuhan. Semua daun besar itu ia kendalikan untuk menutup seluruh kepala mereka.
Tak hanya itu, ia mengendalikan akar-akar untuk mengikat kepala mereka. Karena itu ke-7 bandit itu tak bisa berteriak, merapal sihir, benafas saja mereka kesulitan.
Gerakan kedua tangan Orang bertopeng itu mengepal kuat-kuat. Ia tak ingin menghasilkan suara yang membuat rombongan pedagang dan rombongan Party Sang datang padanya.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, ke-7 bandit itu akhirnya mati kehabisan nafas. Orang bertopeng rubah itu menggunakan Sihir Alamnya dan menumbuhkan akar-akar banyak dan melilit ke-7 mayat itu.
Lalu orang bertopeng itu menggunakan Sihir Tanahnya untuk membuat lubang di tanah. Lalu ia masukan ke-7 mayat itu dengan akar-akarnya yang masih melilit. Setelah tanah itu tetutup dan menguburi ke-7 mayat itu.
Lalu ia duduk di tanah. Nafasnya terdengar naik turun. Lalu salah satu tangan memegang sebuah pohon besar. Tiba-tiba pohon besar yang ia pegang, perlahan kering.
Orang itu rupanya menyerap kehidupan pohon itu. Dan ia kini terlihat seperti segar kembali. Lalu ia kembali mencari dahan pohon besar untuk injakannya dan tempat persembunyiannya.
Orang bertopeng itu mendengus kesal karena rombongan-rombongan tadi, kini akan berangkat melanjutkan perjalanan mereka. Padahal ia ingin sekali bersantai sambil mengawasi mereka.
Orang itu pun akhirnya melompat ke dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Ia kembali mengikuti rombongan-rombongan itu secara bersembunyi.
.....
Keesokan Harinya.
Hari kedua telah terlewati, perjalanan rombongan pedagang dan rombongan Party Sang Petualang berjalan lancar, tidak ada halangan semenjak kejadian pertama.
Hari pun telah Sore, tinggal 1 kilometer lagi mereka akan sampai wilayah berbatasan. Jika sudah melewati perbatasan, maka mereka sudah ada di wilayah Kerajaan Roux.
Dan jika ingin pergi ke kota Kerajaan Roux, mereka membutuhkan 2 atau 3 hari lagi, dengan kereta kuda mereka.
Tinggal 300 meter lagi, mereka akan mendekati perbatasan wilayah. Sean melihat sekelilingnya, ia merasa ada yang mengikutinya. Arron pun bertanya padanya. "Ada apa Sean ?"
Arron yang mendengar, ia ingin bertanya lagi, tiba-tiba Rin bersuara. "Seharusnya kita sudah sampai."
"Kamu yakin ?" tanya Sean. Arron dan Brian menatap Rin.
Rin mengangguk kepalanya. "Ya, aku sangat yakin, seharusnya kita sudah sampai, markas terbesar ada di sekitar daerah sini, tapi aku tau persis dimana letaknya. Tapi aku yakin markas itu ada di daerah ini."
Pasalnya letak markas terbesar bandit hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Tidak semua orang tau, yang mereka tau lokasinya yang dekat dengan perbatasan wilayah.
"Apa yang dikatakan Rin ada benarnya, seharusnya kita sudah sampai." kata Brian, lalu diangguki oleh Arron dan Isla.
Sean memandang semua orang. Terutama para pedagang yang menjadi kusir, wajah mereka seperti waspada. Lalu Sean berkata ke pedagang yang satu kereta dengannya. "Berhenti !!"
Pedagang pun menghentikan kereta kuda mereka. Karena melihat kereta kuda barisan pertama berhenti, kereta kuda barisan kedua, sampai kelima pun ikut berhenti.
Kini mereka berhenti di jalur jalan. Kanan kiri mereka serba hutan yanh cukup lebat. Sean segara turun dari kereta kuda, lalu diikuti oleh Brian, Arron, Rin, dan Isla pun juga turun.
Semua anggota lainnya juga ikut turun. Mereka semua meminta para pedagang tetap di tempat. Darold mendekat dan bertanya. "Sean, apa rencana kita sekarang ?"
__ADS_1
Sean memegang dagunya, ia terlihat memikirkan rencana. Elif pun bersuara. "Apa kita berbencar untuk mencari markas mereka ?"
Sean langsung menjawab. "Tidak jangan !! Kita tidak boleh ada yang berpencar, kita harus tetap disini. Jika kita pergi, siapa yang menjaga rombongan pedagang ?"
"Apa kita membagi kelompok, 5 orang berjaga, dan 5 orang berpencar." ucap Marie memberi saran.
"Tidak !!" sahut Sean.
Erza pun bersuara. "Lalu bagaimana ? Tidak mungkin kita menunggu mereka yang tiba-tiba muncul mendatangi kita."
"Aku akan membuat mereka datang kepada kita." jawab Sean.
"Bagaimana caranya ?" tanya semua anggotanya.
Sean lalu mengeluarkan 50 benda dari cincin penyimpanannya. Benda-benda itu sebesar kepalan tangannya. Orang-orang heran melihat benda yang dikeluarkan oleh Sean.
Lalu Sean mengambil 2 benda itu dengan kedua tangannya, lalu ia menggigit kedua tuas dari kedua benda itu. Setelahnya, Sean langsung melemparnya ke arah hutan secara acak.
DUAR..!!
DUAR..!!
Semua terkejut mendengar suara ledakan. Setelah mendengar suara ledakan. Sean berbicara keras. "Kalian cepat ambil lakukan apa yang aku lakukan !!"
Tak ingin bertanya dulu mengenai benda itu, semua memilih bergerak cepat, dan melakukan apa yang Sean lakukan. Mereka meniru gerakan Sean, lalu mereka juga melemparnya ke dalam hutan secara acak.
DUAR..!! DUAR..!! DUAR..!! DUAR..!!
DUAR..!! DUAR..!! DUAR..!! DUAR..!!
Suara ledakan itu membuat keributan. Sean membiarkan ke-9 anggotanya melempar granatnya. Ia gunakan itu untuk memancing para bandit yang ada di markas.
Dari pada cape-cape mencari markas mereka, lebih baik, membuat sesuatu untuk memancing para bandit datang menghampiri mereka. Yaitu membuat suara keributan atau suara berisik. Itulah pemikiran Sean.
Disamping anggotanya yang tengah melempar granatnya, Sean mengeluarkan senapan AK-47. "Kubuat kalian keluar." Lalu ia menembakinya ke arah langit dan ke arah hutan.
Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!
Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!
Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!
__ADS_1
Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!