
Kembali di garis depan.
Masih terlihat semua pasukan Kerajaan Alastair melawan pasukan Aliansi beserta 2 benda yang terus bergerak dan menyerang. Perang hari ini, mungkin bisa ditebak, pasukan Aliansi akan menang.
Richard dan pasukannya, terus menyerang pasukan musuh tanpa ampun. Ketiga Raja juga ikut turun menyerang. Para Ksatria juga tak ingin kalah. Semua pasukan Aliansi benar-benar bersemangat untuk menenangkan perang ini.
Pasalnya, pasukan Kerajaan Alastair terlihat sudah kerepotan diserang terus-menerus oleh Tank tempur dan Truk Tank. 2 kendaraan ini terus berjalan menabrak dan menembaki mereka semua.
Meski sudah diserang dengan Sihir dan anak-anak panah yang dilancarkan pasukan Kerajaan Alastair, tetap saja, serangan mereka tak berefek pun sama sekali. Meski bodi Tank lecet dan terkena noda darah, itu tak membuat Tank itu berhenti.
Disisi Tank tempur yang dikemudikan oleh Sean, terlihat sudah 3 orang berdiri di atap Tank itu. Mereka ber-3 tak lain Arron, Darold, dan Erza. Mereka ber-3 segera melompat turun dan menginjakkan kaki mereka di tanah.
Tank yang dikemudikan Sean terus berjalan ke depan meninggalkan Arron, Darold, dan Erza. Sean terus menjalankan Tanknya sedangkan Brian terus mengontrol senapan Tank tempur untuk menembaki musuh.
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
Mereka ber-3 pun mulai membidik dan menembaki semua pasukan musuh yang ada di depan atau berlari mendekati mereka.
Dengan senjata AK-47 di tangan mereka, sudah jelas sekali, mereka ber-3 lebih unggul. Sesekali mereka melompat dan berguling untuk menghindari serangan musuh.
Mereka sudah dibekali 100 ribu peluru di cincin penyimpanannya setelah Sean memberikannya. Tak hanya mereka berempat, Zayden dan anggota-anggotanya juga dibekali peluru dengan jumlah yang sama.
"Senjata ini sangat hebat !!" guman Arron yang terus tak berhenti membidik dan menembaki targetnya.
"Benar, pantas saja Sean dengan mudahnya menjatuhkan musuh karena senjata ini." balas Darold yang juga melakukan seperti yang dilakukan oleh Arron.
Arron, Darold, dan Erza saling berjaga, agar mereka tidak memilik titik buta jika ada serangan datang. Mereka ber-3 menyerang bersama.
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
__ADS_1
Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
"Aggrrhhh...!!"
"Sangat menyenangkan sekali." kata Arron lagi.
"Benar, padahal aku masih ingin naik kendaraan tadi." balas Erza.
"Jangan mengeluh, kita harus menjalankan rencana ini." balas Darold.
"Kamu benar." jawab Erza, ia pun menghentikan tembakannya. Lalu ia berguling menghindari serangan salah satu prajurit musuh sambil mengisi ulang pelurunya, kemudian ia melanjutkan tembakannya.
.....
Sementara, di waktu bersamaan disisi Truk baja berjalan yang dikemudikan oleh Sinta. Sinta dengan senangnya terus menjalankan Truknya dan menabraki prajurit-prajurit musuh di depannya.
Rosalyn, Rin, Lisa, Isla, Rin, Elif, dan Marie juga terus menatap monitor, dan membidik target sambil menekan pelatuknya, sehingga semua senapan yang dimiliki oleh Truk itu, terus menembaki musuh.
Disisi luar Truk.
Zayden dan anggota-anggotanya sangat senang sekali bisa membunuh prajurit-prajurit musuh dengan Senjata pemberian Sean.
.....
Sementara Disisi Sean yang sedang mengendarai Tank tempurnya, dari layar monitor tak sengaja melihat 2 pahlawan terjatuh tergeletak di tanah, yang cukup jauh dari jaraknya.
Mereka berdua terlihat tak sadarkan diri. Padahal tadi mereka berdua sedang bertarung melawan beberapa prajurit Aliansi, namun tiba-tiba mereka terjatuh.
Itu membuat Sean bingung. Di sementara menghentikan Tanknya. Ia segera menghubungi seseorang dengan alat komunikasi yang merupakan salah satu alat yang tersedia pada Tanknya.
"Sarah, sekarang waktunya kamu muncul, tapi kamu urungkanlah rencanaku yang akan dijalankan olehmu." ucap Sean.
"Ada apa Tuan Sean ?" jawab Sarah bertanya yang ada diseberang sana.
"Aku melihat kedua temanmu tak sadarkan diri. Datanglah, aku akan mengirim sinyal padamu setelah mereka berdua sudah bersamaku." jawab Sean.
"Baiklah, aku akan segera datang." jawab Sarah.
__ADS_1
Sean menutup sinyal komunikasinya. Ia menatap Brian yang masih asik menatap monitor untuk membidik dan menembak targetnya. "Brian, aku akan keluar, kamu tetaplah disini."
"Baiklah." jawab Brian.
"Kamu terus tembak ke semua prajurit yang datang. Tapi jangan untuk 2 orang itu. Kamu tenang saja, body lapisan Tank ini sangat kuat, jadi kamu fokus menembak saja." kata Sean, Brian mengangguk paham.
Sean segera membuka pintu keluar yang letaknya ada di atas. Sean membukanya, ia keluar, dan langsung menutupnya. Sean memandang semua prajurit yang datang mendekat Tank tempurnya.
Sean melompat tinggi. Ia melompat ke arah 2 orang pemuda yang bergelar pahlawan seperti Sarah. Dua orang itu tak lain Jack, dan Darren.
Sean sudah berdiri di dekat Darren. Jarak Darren dan Jack hanya kurang lebih 50 meter. Sean segera menggendong Darren di punggungnya.
Sean melompat dan terbang menggunakan Sihir Api Birunya ke tempat Jack yang tak terbaring tak sadarkan diri. Setelah sampai, Sean segera meletakan tubuh Darren di dekat tubuh Jack.
Sean segera mengeluarkan rantainya. Ia segera mengikat kedua pemuda ini. Sean lakukan ini untuk berjaga jika mereka berdua sadarkan diri dan masih dalam pengaruh penyihir.
Setelah mengikatnya, Sean melawan semua prajurit musuh yang mendekatinya. Sean pun mengeluarkan Bola Api Birunya, dan melemparnya ke arah langit.
DUAR...!!
Bola Api Birunya pun meledak di langit. Semua membeku melihatnya. Setelah itu, Sean kembali melanjutkan melawan para prajurit musuh yang mendekatinya.
Sambil bertarung dan menjaga Darren, dan Jack, ia kini tinggal menunggu Sarah datang setelah memberi sinyal tadi. Dalam pikiran Sean sendiri, ia masih heran. Kenapa 2 orang ini tiba-tiba tak sadarkan diri di tengah medan perang ?
Di waktu bersamaan, terlihat sebuah benda berjalan sangat cepat setelah keluar dari dalam hutan.
Benda itu lebih kecil dari Tank tempur, dan Truk Tank milik Sean sebelumnya. Benda itu juga termasuk kendaraan milik Sean yang tengah dikemudikan oleh Sarah.
Bruumm...!!
Mobil itu bisa berjalan karena sebelumnya Sean telah mengisi daya mobil itu dengan Sihir Petirnya. Sehingga, Sarah bisa mengendarainya.
Sarah sendiri, dulu ia adalah seorang gadis yang pernah mengikuti balapan liar di dunia asalnya. Jadi ketika Sean meminta Sarah mengemudikan mobil bajanya, Sarah sangat senang.
Sebenarnya Tank tempur, dan Truk Tanknya juga bisa diisi daya. Sinta tentu saja paham hal itu setelah Sean mengajarinya.
Mobil baja yang dikemudikan Sarah terus berjalan dengan sangat cepat bukan main. Semua prajurit musuh yang ada didepannya ditabrak olehnya tanpa ampun.
__ADS_1
Setelah melihat ledakan di langit, di balik kaca mobilnya, Sarah sudah menebak, kalau itu adalah sinyal lokasi Sean. Ia pun segera mempercepatkan laju mobil bajanya.
Tiba-tiba terdengar suara auman yang sangat keras dan menggema di medan perang. Tentu saja, semua pasukan Aliansi dan pasukan Kerajaan Alastair sontak berhenti bertarung.