OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 32


__ADS_3

Sean melompat tinggi ke arah orang yang merupakan Sang Pemimpin Markas Bandit terbesar itu. Bersamaan, tangan logamnya sudah untuk memukulnya.


BUGH..!!


Wosssss


Pukulan yang dilancarkan Sean menimbulkan hembusan angin yang lumayan besar. Namun hal tak terduga, Sang Pemimpin bandit yang ia pukul, masih berdiri.


Sean menatap tajam ke arah orang berbadan besar ini dan yang sudah tak muda lagi. Rupanya pukulannya ditahan. Sebelum Sean sampai dan memukulnya, Sang Pemimpin bandit ini juga memberikan pukulan tangan kanannya untuk beradu pukulan dengan Sean.


BUGH !!


Sean terkena pukulan. Rupanya selagi tangan mereka beradu, dan Sean belum mendaratkan kakinya di tanah, Sang Pemimpin bandit melancarkan pukulan lagi dengan tangan kirinya, dan memukul dagu Sean hingga terangkat ke udara.


Orang itu memutar, dan memberikan Sean sebuah tendangan.


DUGH !!


Sean terdorong kebelakang, dan jauh berguling di tanah. Namun Sean mengimbangi tubuhnya agar terus-terusan berguling. Tangan logam kirinya mencengkram tanah agar tubuhnya tak terdorong jauh lagi.


Sean berdiri, dagunya terluka, sudut bibirnya telihat ada darah. Dalam sekejap, lukanya menghilang. Tentu saja, melihat Sean langsung sembuh, membuat semua terkejut.


Orang berjubah berhenti berlari. Dibalik topeng rubahnya, ia kembali terkejut dengan Sean yang terlihat biasa-biasa saja setelah menerima serangan Sang Pemimpin bandit.


"Hebat sekali, kamu masih bisa berdiri setelah menerima seranganku." ucap Sang Pemimpin bandit.


Dibalik penutup sebagian wajahnya, Sean tersenyum. Bukan karena bisa berdiri, melainkan karena kemampuan regenerasinya.


Lalu Sean membalas ucapan orang itu. "Kamu juga hebat, orang besar, kamu bisa menahan rasa sakit tanganmu."


Sang Pemimpin bandit itu memasang wajah datarnya. Jujur dalam hati, ia benar-benar merasa yang amat sakit pada tangan kanannya. "Sial, kenapa tanganku bisa sesakit ini ? Kenapa tangannya terasa sangat keras ?"


"Kamu memang luar biasa." ucap orang itu, lalu terlihat Cahaya Hitam menyelimuti tangan kanannya. Orang itu tersenyum, ia sudah tak merasakan rasa sakit lagi pada tangannya.


"Sihir Kegelapan ?" guman mereka tak percaya.


Arron, Brian, dan yang lainnya, bahkan orang berjubah itu, terkejut melihat Sang Pemimpin bandit bisa menggunakan salah satu jenis Sihir Utama yang terbilang langka. Semua anggota Party Sang Petualang memilih diam tak membantu.


Karena mereka menyadari kalau Level mereka masih jauh dibawa pemimpin mereka. Jika membantu Sean, yang ada akan menjadi beban. Yang mereka bisa lakukan sekarang adalah mendukung Sean agar bisa mengalahkan Hugon, Sang Pemimpin Markas Bandit terbesar.


Sean yang mendengar gumanan anggotanya, ia sedikit memiringkan kepalanya seakan heran. "Sihir Kegelapan ?"


Sang Pemimpin bandit tersenyum, lalu ia bersuara. "Kamu seorang yang menarik, dari kemampuanmu dan kekuatanmu."

__ADS_1


Sean tidak menjawab. Orang itu mengambil pedang besarnya yang dari tadi menempel dipunggungnya, lalu ia menancapkannya di tanah, dan ia bersuara. "Perkenalan, namaku Hugon, aku Pemimpin Markas Bandit terbesar. Aku ingin menawarimu bergabung menjadi salah satu anggotaku."


_______________________________________


Visual.


Hugon.



_______________________________________


Sean mengangguk kepalanya, lalu ia membalas. "Namaku Sean, seseorang yang akan mengalahkan orang bodoh sepertimu."


Hugon tertawa mengejek, lalu ia berkata. "Leluconmu sungguh lucu. Jangan berbicara yang omong kosong."


Sean langsung maju. Dalam sekali lompat, ia sudah dihadapan Hugon. Sean melayangkan tangan logam kirinya untuk memukul wajah Hugon.


BUGH..!!


Wajah Hugon terkena pukulan, dan itu membuatnya terdorong melayang kebelakang belasan meter. Sean kembali berlari mendekati Hugon.


Hugon yang bisa mengimbangi tubuhnya, ia tak jadi terjatuh. Salah satu kakinya menginjak tanah untuk jadikan loncatan dan maju menyerang balik Sean.


Hugon melemparnya ke atas. Sean terlempar berputar-putar di langit. Hugon mengarahkan salah satu tanganya ke arah Sean yang akan terjatuh ke tanah, ia pun mengucap kata Sihirnya.


"Bola Api Hitam Pemusnah !!"


Keluarlah bola Api Hitam dari tangan Hugon. Lalu bola Api Hitam itu datang menyerang Sean. Semua orang terkejut melihat Api hitam itu. Dari warnanya sudah jelas, Hugon adalah salah satu orang yang bisa menggunakan Sihir Kegelapan.


Sean yang baru saja mendarat, ia langsung mengerahkan seluruh tenaganya, tangan Logamnya siap untuk meninju untuk menangkis serangan Bola Api Hitam itu.


DUAR..!!


Hal yang tak terduga. Sebuah ledakan yang ditimbulkan setelah Sean meninjunya. Sean pun terpendal ke belakang, dan jatuh.


Namun, Sean masih bisa berdiri. Luka-lukanya sembuh kembali. Hugon dan anak buahnya yang tersisa saja juga heran. Karena serangan Hugon biasanya dapat membuat korbannya terluka parah bahkan mati tanpa sisa. Hugon semakin tertarik dengan kekuatan Sean.


Sean berdiri, dan menatap dingin ke arah Hugon. Ia benar-benar ingin mengalahkan Hugan dan Markasnya, karena ia ingin desa-desa kecil yang ada, bisa hidup tenang dan damai tanpa adanya bandit besar ini.


Orang berjubah, datang mendekati Sean. Lalu ia memegang pundaknya. "Kamu tidak apa-apa ?"


Meski samar suaranya, namun Sean merasa tak asing suara orang ini. Suara perempuan. Sean menoleh kepalanya dan menatapnya.

__ADS_1


Tatapan Sean dan orang berjubah ini saling beradu. Dapat terlihat jelas mata orang ini, dari kedua lubang mata topeng rubah yang dikenakannya.


"Siapa kamu ?" tanya Sean dingin, dan orang berjubah itu terdengar menghela nafasnya.


"Pertanyaanmu disampingkan dulu, kita harus mengalahkan orang ini." jawabnya sambil menunjuk ke arah Hugon, yang sudah menyipakan Api Hitamnya yang masing-masing di kedua tangannya.


Hugon melemparnya ke arah mereka berdua. Orang berjubah mengucapkan kata Sihirnya. "Dinding Akar Pelindung."


Mucullah dua akar besar dari tanah tempat Sean dan orang berjubah itu berdiri. Dua akar itu melingkari mereka dan melindunginya dari serangan Hugon.


Namun sayang sekali, namanya juga Sihir Alam tipe Tumbuhan, terkena Api pun tetap saja terbakar. Apa lagi Api hitam, membakar akar yang melindungi Sean dan orang berjubah ini.


Sean dan orang berjubah meloncat mundur agar tidak terkena Api Hitam yang tengah membakari akar yang melindungi mereka. Sean tengah berfikir untuk mengalah Hugon yang merupakan salah satu pengguna Sihir Kegelapan.


Sean teringat saat pertama kali ia memukul Hugon, saat mereka berdua saling beradu. Sean pun mencoba sesuatu.


Orang berjubah sudah siap dengan Sihir Alamnya. Sean langsung mengeluarkan Pistol DESERT EAGLE miliknya. "Cobalah gunakan Sihir Akarmu untuk mengikat mengikatnya. Aku akan mendekat dan menyerangnya."


Orang berjubah mengangguk kepalanya. Sean berlari cepat mendekati Hugon. Orang berjubah memulai menggunakan Sihirnya.


"Hukuman Alam, Akar Pengikat Jarak Jauh !!"


Tiba-tiba muncullah beberapa akar besar dari tanah tempat injakan Hugon, dan langsung mengikat kedua tangan dan kedua kakinya. Hugon berontak agar akar-akar yang mengikatnya terlepas.


Sean berlari mendekati Hugon sambil mengarahkan pistolnya ke arah kepala pria berbadan besar itu. Namun saat akan menekan pelatuknya, tiba-tiba tubuh Hugon diselimuti Aura hitam.


"Bola Api Hitam Peledak !!"


Aura hitam itu terkumpul di atas Hugon, dan langsung cepat melayang ke arah Sean. Sean yang melihat segera menghentikan larinya. Bola itu menghantam tanah tepat di depan Sean.


DUAR..!!


Terjadilah ledakan.


Sean sampai dibuat terpental ke belakang. Orang berjubah itu melihat Sean terlempar cepat ke arahnya, ia segera melepaskan Sihir yang mengikat Hugon. Ia beralih untuk menggunakan Sihir pelindung untuknya.


Bruukk..!!


Namun sayang sekali, terlambat. Belum sempat mengucap kata Sihir pelindungnya, Sean sudah lebih dulu menabraknya hingga mereka tejatuh bersamaan.


Topeng rubah milik orang berjubah itu terlepas. Orang itu tergeletak di tanah akibat terkena punggung Sean yang sudah menambraknya, hingga tubuhnya juga ikut terdorong, kepalanya membentur tanah dan tak sadarkan diri.


Sean segera bangkit, ia tak peduli dengan lukanya, karena lukanya pasti sembuh. Ia segera mendekatkan dirinya ke orang berjubah itu yang terlihat pingsan.

__ADS_1


Sean terbelalak ketika melihat wajah orang itu yang sudah tak tertutup lagi dengan topengnya. "Putri Rosalyn ?"


__ADS_2