
Semua orang sudah mendengar cerita Sarah. Semua orang geram mendengar cerita sarah. Raja Erlang bersuara. "Raja macam apa dia ? Bisa-bisanya memiliki tujuan seperti itu."
"Aku tak menyangka kalau dia sampai-sampai membunuh orang yang bukan dari Dunia ini." kata Raja Wagner.
Raja Roux juga tak kalah marahnya. "Yah.., padahal dia sendiri yang mendatangkan mereka, tetapi dia malah membunuh satu dari mereka, hanya karena tidak setuju dengan tujuannya."
Raja Erlang menatap Sarah. "Lalu bagaimana denganmu, kenapa kamu bisa terlepas dari Sihir yang mencuci pikiranmu ?"
Sinta yang menjawab. "Aku menghantamkan belakang kepalanya ke tanah, itu pun dengan bantua sedikit Sihir Petirku agar Sihir Kegelapan yang menguasai otaknya menghilang."
Semua orang- mengangguk-angguk kepalanya. Mereka pun teringat sesuatu, dan seketika menatap Sean. Raja Erlang bersuara. "Ada hal yang ingin kutanyakan, nak Sean. Selama ini kamu pergi kemana ?"
Raja Roux juga bertanya. "Ketika kamu kembali, kamu sudah bisa menggunakan Sihir Petir, dan salah satu Senjata Legendaris sudah ada di genggamanmu."
"Apa kamu selama ini berlatih ?" tanya Raja Wagner.
Semua menatap Sean dengan penuh dengan tanda tanya. Liona yang duduk disebelahnya, pun bersuara. "Jawab Sean, kita semua ingin mendengarnya."
"Baiklah, aku akan katakan sejujurnya. Tidak ada lagi kebohongan yang kututupi. Mungkin hanya beberapa orang yang disini yang sudah tau asalku, maka akan kuceritakan hal-hal yang kudapat selama aku pergi." jawab Sean.
.....
Beberapa lama kemudian.
Semua terkejut mendengar cerita Sean, tentang asal usul dirinya. Kebanyakan terkejut semua, dan ada yang tidak karena sudah tau asla usulnya. Liona juga membantu menjelaskan.
(Ceritanya di BAB-BAB sebelumnya)
Setelah bercerita tentang dirinya, Sean menceritakan dirinya pergi ke Dunia Lain lagi. Kali ini seisi orang-orang di dalam tenda itu terkejut bukan main.
Tetapi, Sean tidak bercerita tentang dirinya bertemu seorang laki-laki tua yang merupakan penjaga Multiverse. Tetapi ia bercerita tentang Reyhan, yang merupakan seorang yang hebat.
"Jadi aku disana belajar banyak hal, dan mencari pengalaman." kata Sean menyudahi ceritanya.
"Lalu, Sihir Petirmu ?" kata Raja Roux.
Semua menatap Sean dengan serius, karena sekarang sudah tidak ada 1 pengguna Sihir Petir lagi. Sean menjawab. "Aku diajarkan oleh pemuda yang tinggal di Dunia sana."
__ADS_1
"Pemuda itu bernama Peter Rodriguez, aku akan selalu mengingatnya, karena sudah dipastikan aku dan dia pasti berpisah." lanjutnya.
"Bagimana bisa kamu belajar menggunakan Sihir Petir ? Di Dunia ini memang langka, contohnya Sinta, dia murni bisa menggunakan Sihir Petir." kata Richard.
Sean menatap Sinta. "Kamu, orang pernah diceritakan oleh Tuan Richard, kamu..."
"Apa dugaanmu benar, jiwaku juga berasal dari Dunia Lain, tetapi bukan dari Dunia yang sama sepertimu. Jiwaku bereinkarnasi ke tubuhku yang sekarang." kata Sinta memotong kata-kata Sean.
Sudah waktunya Sinta memberitahu tentang dirinya. Karena jika memiliki rahasia, pasti tidak akan nyaman jika terus-terusan disimpan.
Mendengar Sinta berkata itu, semua seisi tenda disitu terkejut bukan main. Kecuali Sean dan Richard yang tak terkejut, karena sudah tau.
Tapi untuk Richard, ia bisa lega, karena berkurangnya rahasia orang-orang yang pernah curhat padanya. Masalah memiliki prinsip berpegang janji sangatlah berat dalam hati.
Setelah berbagi cerita singkat tentang Dunia Lain, saatnya ke topik yang utama. Yaitu rencana perang hari kedua, tepatnya besok hari.
Disamping itu, Sarah sendiri juga terkejut bukan main. Ia merasa ternyata bukan dirinya dan yang lainnya saja yang datang dari Dunia Lain.
.....
Salah satu prajurit datang dan memberi hormat. "Yang Mulia, saya ingin melapor, bahwa malam ini aman. Berita dari para prajurit yang berjaga di garis depan, tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan dari musuh."
"Kalau begitu, terus tingkatkan penjagaan kita, dan pastikan dari prajurit kita tidak ada mata-mata." ucap Raja Erlang.
"Baik Yang Mulia." prajurit itu pun pergi.
Ketiga Raja dan para bawahannya, pergi ke tenda milik mereka masing-masing, begitu juga Liona yang pergi ke tendanya setelah berpamitan kepada Putranya,
Setelah melihat para orang tua pergi, Sean, Zayden, Rosalyn, dan anggota mereka memutuskan untuk mencari tampat yang sepi. Karena Sean memiliki rencana.
Sean juga mengajak Sinta, serta Sarah. Karena istrinya ikut, Richard memutuskan untuk ikut dengan Sean dan yang lainnya.
"Kemana Senjatamu ?" tanya Sinta.
"Senjata ?" sahut Sean.
"Senjata Kapak Petirmu." jawab Sinta.
__ADS_1
"Ohh..., aku meninggalkannya di medan perang." jawab Sean santai.
Seketika mereka terkejut. Zayden membentaknya. "Apa kau bodoh ? Kenapa kamu meninggalkan Senjata yang paling langka di medan perang ?"
Tak hanya Zayden saja yang kesal, semua orang di dekatnya juga kesal. Brian merasa gemas kepada Sean, ia bersuara. "Astaga, jika ada yang mengambilnya bagaimana, Sean ?"
"Tenanglah, aku yakin tidak akan ada yang mampu memegang Senjata Kapakku yang satu ini." balas Sean sambil tersenyum.
"Apa maksud dari perkataanmu, Sean ?" tanya Richard.
Sean menjawab. "Senjata itu sudah resmi menjadi milikku, secara Kapak itu hanya bisa digunakan oleh seseorang yang bisa menggunakan Sihir Petir. Dan juga, hanya aku saja yang bisa memegangnya."
Sean menambahkan. "Lagi pula, aku malas membawanya terus. Kapak itu tidak mau masuk ke dalam cincin penyimpananku. Jadi aku asal melemparnya ke arah pasukan musuh. Kalau aku lagi membutuhkannya, kapak itu pasti akan datang sendiri padaku."
Sinta pun teringat. "Ahh, benar juga, pedangku ini juga akan datang sendiri padaku jika aku membutuhkannya saat terpisah dariku."
Setelah sampai di tempat yang kosong. Sean memberikan sebuah rencana tersendiri. Sean menunjukkan hal-hal yang tak terduga, hingga membuat mereka terkejut.
(Apa itu ?)
.....
Sementara Disisi lain, terlihat beberapa pasukan musuh tengah bergantian mengangkat sebuah Senjata Kapak. Mereka semua mengerahkan semua tenaganya, tetapi Kapak itu tidak terangkat.
"Bagaimana ?"
"Kapak ini sama sekali tidak bisa terangkat."
"Apa kamu sudah menggunakan Sihir Tanahmu ?"
"Semua orang disini sudah menggunakan Sihir yang mereka punya, hasilnya nihil."
"Sepertinya hanya mau terangkat oleh pemilikny, secara pemiliknya pengguna Sihir Petir."
"Bukankah Yang Mulia menginginkan Kapak ini 'kan ? Kita harus membawanya."
"Bagaimana caranya ? Kapak ini tidak mau bergerak sama sekali."
__ADS_1