OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 45


__ADS_3

Posisi Sean masih berdiri menghalangi Rosalyn dari hantaman tubuh murid laki-laki yang didorong oleh wali Gurunya. Murid itu terkejut melihat Sean. Lalu ia meminggirkan tubuhnya dan sedikit membungkuk memberi hormat.


"Maaf, Tuan Sean. Saya tidak sengaja." ucap murid laki-laki itu dengan sopan. Dia berumur 13 tahun. Lalu ia beralih ke arah Rosalyn. "Maafkan saya, Tuan Putri." lanjutnya. Murid itu merasa takut jika membuat Tuan Putri Raja dan Tunangannya tak merasa nyaman.


Semua murid-murid teman sekelasnya terkejut melihat Rosalyn. Mereka menjadi was-was karena salah satu teman sekelas mereka hampir terdorong mengenai Putri Raja.


Sean hanya menatap datar, sedangkan Rosalyn tersenyum, lalu ia menjawab. "Tidak apa-apa. Jangan formal terhadapku, ini di akademi, status latar belakang keluarga tidak berlaku, semua yang menginjak akademi Kerajaan, kita semua sama. Jadi bersikap biasa saja."


Murid itu merasa lega. "Baik, Guru Rosalyn."


Rosalyn tersenyum, lalu pandangannya beralih ke arah Guru seniornya yang merupakan wali murid yang barusan di dorong oleh laki-laki ini. Ia menatap tajam. "Apa maksudmu, Guru Tom ? Kamu tak perlu bertindak keras seperti itu kepada muridmu."


Guru Seniornya yang bernama Tom hanya tersenyum. "Maaf Guru Rosalyn, mohon untuk tidak mencampuri urusanku. Karena aku memiliki berhak terhadap murid-muridku, secara aku adalah wali kelasnya."


"Tapi caramu salah, Guru Tom. Kenapa bisa kamu berperilaku kasar terhadap muridmu ?." balas Rosalyn dan bertanya, ia cukup paham dengan guru yang satu ini. Guru yang mudah terbawa emosi.


"Aku begini karenamu, Putri Rosalyn. Kamu yang selalu menolakku." batin Tom.


_______________________________________


Visual.


Tom Biller.



_______________________________________


"Urus saja kelasmu, Guru Rosalyn." jawab Tom, lalu pandangannya beralih ke arah Sean. Ia menatap benci kapadanya. "Wah, jadi ini, Tunanganmu, Tuan Putri ?."


Tom melihat-lihat Sean dari atas hingga bawah. Penampilan serba hitam. Rambut sedikit panjang dan hampir menyentuh bahu.


"Dia terlihat rendahan juga."


Rosalyn geram, ia tak terima Sean dikatakan seperti itu. Memang benar, status latar belakang keluarga tidak akan berlaku di akademi, karena itu memang aturan yang dibentuk oleh Raja Erlang, semenjak dulu.


Entah dari kalangan Bangsawan atas, rendah, bahkan dari keluarga Kerajaan saja, murid-murid yang belajar di akademi dipandang sama, bahkan untuk guru juga berlaku. Tetapi, bukan berarti dipergunakan seenaknya.


Sean bersuara. "Dan kau, adalah Guru gagal."

__ADS_1


Tom yang mendengar, terbelalak. Tak hanya dia, Rosalyn dan murid-murid didik Tom juga tak kalah kejutnya. Tom pun tersenyum remeh. "Jadi maksudmu, kamu lebih hebat dariku."


"Aku tidak mengatakan hal itu. Aku hanya bilang, kau adalah Guru yang gagal." jawab Sean santai.


Sean memang terlihat tidak peduli. Tetapi ia juga bisa menilai, kalau Tom adalah Guru gagal. Karena ia juga pernah menjadi Murid, ia tau mana guru baik. Karena guru yang baik bijak, entah muridnya mendapat nilai yang baik atau jelek, maka guru akan selalu menghargai usaha muridnya.


Sean lalu mengajak Rosalyn untuk pergi dari tempat itu. Karena mengingat hari sudah sore, mereka harus ke ruangan Rosalyn, mengambil barang mereka, setelah itu, mereka pulang.


Sean dan Rosalyn sudah berjalan meninggalkan tempat itu. Tom yang masih dalam amarahnya karena tak terima ucapan Sean. Ditambah, mengingat gadis yang ia sukai telah bertunangan dengan Sean, rasa bencinya semakin menjadi.


Tom segera mengarahkan tangannya ke arah Sean yang sudah berjalan akan menjauh bersama Rosalyn. Lalu ia mengeluarkan kata Sihirnya. "Bola Api !!"


Semua murid-muridnya melangkah mundur. Salah satu murid yang tadi dorong Tom, ia mendekati Tom. "Guru Tom, hentikan, ini disekolah !!"


Tom tidak mendengarkannnya, ia sudah dibutakan oleh rasa marah dan sakit hatinya. Ia segera melancarkan serangannya Sihirnya.


Wossss..!!


Keluarlah Bola Api dari tangannya. Bola Apinya terbang dan akan menyerang Sean dari belakang.


Sean yang sadar hal akan ada serangan dari belakang, ia segera memutar tubuhnya. Bersamaan ia melayangkan pukulan ke arah lantai, dan dalam batinnya, ia mengucapkan kata Sihirnya. "Protective Wall."


DUAR..!!


Terjadilah sebuah ledakan. Dinding itu masih berdiri kokoh untuk melindungi Sean dan Rosalyn.


Tentu saja, suara ledakan terdengar seluruh penjuru akademi. Semua orang-orang di dalam akademi segera berlari ke sumber keributan itu. Bahkan murid-murid yang tadinya akan pulang, mereka memilih kembali masuk karena penasaran.


Disisi Sean dan Rosalyn, mereka berdua keluar dari dinding yang melindungi mereka. Rosalyn menatap tajam ke arah Tom. "Apa kamu sudah gila, Guru Tom ? Ini di dalam akademi, kamu membuat kekacauan ?"


Tom yang sudah tak peduli dengan rasa malu dan atas perbuatannya, ia memilih meneruskan apa yang ia mau, ia sudah benar-benar marah. Ia menunjuk Sean yang berdiri di samping Rosalyn. "Aku dibuat marah begini karena dia menghinaku."


Sean membalas. "Aku hanya mengatakan sesuai apa yang kulihat. Karena memang itu kenyataannya."


Karena memang dasarnya Tom mudah emosi terbawa suasana. Masa bodoh ia melanggar aturan ketertiban akademi, apalagi keadaan tempat itu rusak karenanya. Saat ini, isi pikiran Tom adalah amarah dan menghabisi Sean.


Isi pikirannya benar-benar dibutakan oleh amarahnya. Dan bahkan ia mulai berfikir setelah menghabisi Sean, ia akan membawa Rosalyn pergi jauh ke tempat yang jauh sejauhnya dari Kerajaan.


Tom melompat ke arah Sean. Ia mengeluarkan pedangnya.

__ADS_1


"Pedang Api Amarah !!"


Pedangnya digenggamannya diselimuti Api yang kental.


Sean ikut melompat ke arah Tom. Tom melayangkan pedangnya ke arah Sean, Namun tidak mengenainya.


DUGH..!!


Yang ada Tom terkena tendangan dari Sean. Tom pun terjauh dan tergeletak di lantai tempat itu. Tom masih bisa menggerakkan tubuhnya. Ia berusaha berdiri dan akan melawan lagi, ia benar-benar sudah dibutakan amarahnya.


Sean mengeluarkan rantai yang sangat panjang dari cincin penyimpanannya. Sean memutar-putar rantainya, lalu ia melemparnya bagaikan cambuk ke arah Tom.


Ujung rantainya berhasil meraih tubuh Tom, memutar, dan mengikatnya. Sean yang menggenggam ujung rantai satunya lagi, dengan kuat-kuat ia menariknya. "Get Over Here !!"


Tom pun tertarik kuat ke arahnya. Ketika mendekat, Sean langsung memberinya pukulan dengan tangan kanannya tepat di wajahnya


BUGH..!!


Wajah Tom terpukul, ia pun terjatuh dan tergeletak ke lantai, dan ia tak sadarkan diri. Sean mengikat seluruh tubuh Tom dengan rantainya.


Murid-murid didik Tom terkejut bukan main. Karena Guru mereka terkenal salah satu Guru terkuat di akademi, yang sudah di Level 59 Tingkat Emas. Hanya beberapa serangan saja dari Sean, Guru mereka dibuat tak sadarkan diri.


Para Guru, dan murid-murid akademi mendekat. Mereka terkejut melihat keributan dan kekacauan di tempat itu. Pemimpin akademi mendekati Sean.


Pemimpin akademi bersuara. "Tuan Sean yang terhormat. Saya tau, anda adalah Tunangannya Tuan Putri Raja, tetapi seharusnya berbuat seenaknya berbuat disini."


Rosalyn ingin menjawab kebenarannya. Tetapi Sean sudah lebih dulu menjawab. "Dia yang memulainya dan dia juga yang memulai menyerangku, dan aku melawan hanya untuk membela diri. Jika aku tidak melawan, Tuan Putri Rosalyn juga akan terkena serangannya."


Pemimpin akademi ingin membalas, namun Sean bersuara lagi. "Jika terjadi sesuatu pada Tuan Putri Rosalyn, aku sangat yakin Yang Mulia Raja akan turun tangan. Bukan aku saja, tetapi kalian semua yang akan yang mendapat teguran keras darinya."


Semua terdiam mendengar kata-kata Sean. Kata-kata Sean ada benarnya. Sean bersuara lagi. "Kalau ingin tau awal kronologi kejadian ?"


Sean lalu menunjuk murid-murid yang yang merupakan murid didiknya Tom. "Tanyalah kepada mereka, mereka adalah saksinya kejadian."


Pemimpin akademi segeea mendekati murid-murid didiknya Tom. Ia meminta penjelasan yang sebenarnya. Salah satu murid menjelaskan kebenarannya.


Setelah mengetahui kebenarannya Pemimpin akademi mendekat kembali kepada Sean. "Saya sudah mendengar kebenarannya. Tetapi tetap saja, anda terlibat dalam kekacauan ini."


Sean memandang tajam, ia membalas dengan membentak. "Aku terlibat dalam kekacauan karena kau membela diri. Kalau aku diam saja, sama saja aku bisa mati konyol 'lah !!"

__ADS_1


Pemimpin akademi terbelalak karena Sean membentaknya. Sean manambahkan lagi. "Apa susahnya sih ? Tinggal minta sama pengurus untuk memperbaiki tempat ini dengan sihir mereka, seperti di arena pertandingan tadi."


__ADS_2