
Liona yang baru saja pulang dari istana Kerajaan Roux, ia turun dari kereta kuda. Baru saja menginjakan kakinya di tanah, ia mendengar keributan.
Lalu salah satu maid mendekat, dan memberitahu kalau Gabrio dan Sean bertarung di taman yang ada di belakang kediaman.
Mendengar itu, Liona merasa kesal. Baru saja pulang dari istana Kerajaan, setelah sampai di depan kediaman Aratohrn, sudah terdengar keributan.
Perasaan, beberapa hari ini, Putranya dan keponakan laki-lakinya masih bersikap biasa-biasa saja, meskipun tak ada kata-kata untuk menyapa atau berbicara.
Dan sekarang, bisa-bisanya dua pemuda itu ribut. Liona membatin. "Apa tidak ada yang menengahi mereka berdua."
Liona teringat, kalau keluarganya sedang pergi untuk menerima undangan dari Keluarga Bangsawan lain. Dan di kediaman hanya dijaga para pelayan laki-laki, para maid Natalia, dan para penjaga.
Selain mereka adalah Natalia, Sean, dan Gabrio. Pikiran Liona tertuju ke arah Natalia. "Kalau dia juga disini, kenapa di tidak menghentikan mereka berdua ?"
Liona segera melompat tinggi ke arah genteng bangunan kediamannya. Ia berdiri melihat dari tempatnya berdiri. Dari atas bangunan kediaman keluarganya ia melihat kondisi taman sudah berantakan.
Pandangan Liona beralih ke arah tiga orang yang berada di tengah-tengah taman. Seketika ia melotot melihat Sean tertusuk pedang milik Natalia.
Liona terkejut melihat Putranya ditusuk oleh keponakan perempuannya. Parahnya ia mendengar kata-kata Natalia yang juga tak mengakui keberadaan Putranya. Lebih parahnya, mendengar kalau Gabrio menyukai dirinya.
Liona panas mendengarnya. Batinnya berkata. "Keponakanku yang satu ini benar-benar sudah gila."
Saat akan turun, seketika ia terdiam, karena Sean mampu bertahan dan memberi perlawanan kepada kedua keponakannya. Liona kembali terdiam.
Dalam diamnya, Liona bangga kepada Sean yang hebat dalam menyembuhnya. Entah kemampuan apa yang dimiliki Putranya. Dalam hatinya Senang, mengingat kalau Suaminya benar-benar membuat Sean tak mudah untuk kalah.
Liona sendiri tertawa kecil mendengar kata-kata Sean yang menjelekkan Gabrio dan Natalia Sudah cukup ia berdiam, ia segera turun dan mendekat mereka bertiga yang akan kembali bertarung.
__ADS_1
"Hentikan..!!"
Liona berteriak. Seketika Gabrio dan Natalia langsung menjatuhkan senjata mereka berdua. Karena mereka hafal suaranya.
Liona yang sudah berada di taman, dan berjalan mendekati di tengah-tengah mereka. Ia melihat sekeliling taman yang sangat berantakan. "Sebenarnya apa yang kalian ributkan, sehingga membuat kekacauan disini ?"
Liona menatap Putranya agar menjawab dan menjelaskan. Karena ia yakin, Sean bukanlah yang memulai keributan. Namun, Gabrio 'lah lebih dulu menjawab sambil menunjuk ke arah Sean. "Dia lebih dulu berulah kepada kita berdua, bibi..!!"
Liona menatap tajam Gabrio. "Benarkah ? Diriku ini bukankah terlahir sebagai orang yang bodoh sepertimu. Sifatmu yang buruk, tetaplah buruk dimataku. Bukankan sudah kukatakan sebelumnya, kamu lebih diam, dan jangan berbicara padaku !!"
Gabrio terdiam menunduk. Dengan dingin, Liona berkata. "Kamu adalah keponakan yang menjijikan, Gabrio."
Gabrio membeku. Pandangan Liona beralih ke arah Natalia. "Dan kau,Natalia"
Dalam diamnya, Natalia sedikit takut. Karena baru kali ini ia dimarahi oleh bibinya. Liona bersuara lagi. "Kamu kira aku tidak tau. Kamu adalah seorang yang diam-diam menghayutkan."
Natalia menatap dingin ke arah bibinya. "Apa maksudmu, bibi ?"
Natalia terkejut mendengarnya. Ia menundukan kepalanya. Liona kembali bersuara. "Aku jadi penasaran, bagaimana reaksi ayahmu dan ibumu, jika Putri mereka seperti ini ?"
Natalia tak merespon, ia terdiam. Liona bersuara lagi. "Pasti kedua orang tuamu sangat-sangat kecewa. Karena selama ini kamu tak pernah membuat mereka kecewa, lebih parahnya, pasti kakekmu sangat kecewa."
Tiba-tiba terdengar suara yang datang. "Ada apa ini ? Kenapa disini terlihat sangat berantakan ?"
Liona, Sean, Natalia, dan Gabrio langsung menoleh ke sumber arah itu.Telihat Lison datang berjalan memasuki taman belakang kediamannya.
Ticia, Liandro, Elisa, Javi, Iola, Claudia, dan Cariann ikut berjalan dibelakangnya. Semua kaget melihat keadaan taman yang sudah terlihat berantakan. Dalam pikiran mereka bertanya-tanya. "Apa yang sudah terjadi ?"
__ADS_1
Liona berjalan mendekati ayahnya. "Ayah, lebih baik kita bahas besok saja. Lagi pula ayah dan yang lainnya barus saja pulang. Lebih baik kalian mandi, membersihkan diri kalian, lalu tidur dan istirahat."
Lison yang ingin membalas kata-kata Liona, namun Liona langsung memotongnya. "Tidak baik, jika dibahas sekarang, semua pasti ingin istirahat. Lebih baik istirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk besok kita tanyakan kepada mereka bertiga."
Liandro bersuara. "Ayah.., apa yang dikatakan Liona, ada benarnya. Meskipun aku sendiri juga penasaran." sambi menatap tajam ke arah Natalia.
Natalia langsung menundukan kepalanya, ia tak berani melihat tatapan dari ayahnya. Liandro kembali menambahkan. "Lebih baik kita istirahat, karena kita juga baru saja pulang. Menurutku juga kurang kalau baru pulang kita langsung mengurus masalah dalam kondisi kita yang sudah lelah."
Cariann juga bersuara. "Lagi pula ini sudah malam, sudah waktunya kita istirahat." sambil menatap Gabrio, ia menduga kalau Putranya pasti berulah lagi.
Lison menghela nafasnya. Ia mengangguk kepalanya. Lagi pula, waktu yang tepat setelah pulang perjalanan, adalah istirahat.
Mereka semua segera masuk ke dalam kediaman, dan pergi ke kamar mereka masing-masing untuk mandi membersihkan diri mereka. Dan setelah itu, tidur untuk istirahat.
.....
Keesokan Harinya.
Masih di kediaman Aratohrn. Sudah bangun, sudah mandi, sudah sarapan, dan sekarang semua sudah di ruang keluarga. Sedangkan taman yang ada di belakang kediaman Aratohrn, sedang diperbaiki oleh para pengurus taman, dan beberapa pelayan laki-laki.
Lison, Ticia, Liona, Liandro, Elisa, Javi, Iola, Claudia, dan Cariann. Para orang tua itu duduk besampingan semua. Dan Dihadapan mereka, ada tiga orang yang merupakan generasi muda atau sang calon penerus mereka. Hanya ada meja kayu panjang yang menghalangi mereka.
Hal ini, Lison yang ingin turun tangan langsung, karena ia masih berstatus pemimpin keluarga Aratohrn. Lison menatap serius tajam ke arah ketiga cucunya. Dari dulu, Lison tak pernah pilih kasih, ia selalu berperilaku adil kepada anak-anaknya, maupun cucu-cucunya.
Natalia dan Gabrio yang menundukkan kepalanya. Namun sikap Sean yang biasa-biasa saja, ia memenjam kedua matanya dan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. Inilah menjadi hal yang menarik di mata semua orang.
Lison pun bersuara. "Ada yang mau menjelaskannya terlebih dahulu ?"
__ADS_1
Ketiga cucunya terdiam. Lison menatap serius ke arah Sean. "Sean, bisakan kamu jelaskan ?"
Sean membuka kedua matanya. Perlahan meletakan kedua tangannya diatas meja. "Pertama, aku ingin menyampaikan, kalau cucumu yang bernama Gabrio ini, otaknya sudah gak waras."