
Richard Kamilton, biasa dipanggil Richard. Dia dari keluarga Bangsawan Klan Kamilton. Klan Kamilton memiliki kemampuan untuk memanipulasikan Level Tingkat mereka. Itulah kelebihan keluarga Bangsawan Klan Kamilton.
Dan Richard sendiri, tak hanya memiliki kelebihan dari Klannya, ia memiliki hal yang paling dipercaya oleh Raja Erlang, yaitu dia berpegang janji. Dia tidak akan pernah membocorkan rahasia seseorang yang baik di matanya, bila sudah berjanji, maka ia akan menjaga rahasianya.
Namun posisinya sekarang, ia benar-benar kurang beruntung. Seorang Wanita yang merupakan Ras Campuran antara Manusia dengan Elf, dan juga seorang Ksatria Kerajaan Roux yang bernama Liona Aratohrn, tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Richard dan Liona sudah di tempat sedikit jauh dari ketiga Raja dan kedua Ksatria lainnya. Liona dan Richard berdiri saling berhadapan.
"Aku tau kalau kamu adalah orang yang memegang janji. Jadi Katakanlah sejujurnya padaku, siapa Sean ? Dia berasal dari mana ?" tanya Liona dingin.
Richard berkeringat dingin. Ia tau kalau dirinya bukan tandingannya Wanita ini. Kalau tak jujur, ia bisa habisi. Tetapi ia sudah terlanjur berjanji. Karena ia adalah tipe orang yang memegang janjinya.
Liona mengeluarkan aura membunuhnya, Richard masih bertahan dengan pendiriannya. Liona menghela nafasnya, lalu ia menghilangkan aura membunuhnya. Ia melirik Sean yang masih bertarung dengan Mozark.
"Apa Sean berasal dari Dunia Lain ?" tanya Liona, Richard terbelalak mendengarnya.
"Apa dia bukan berasal dari Dunia ini ?" tanya Liona dingin.
Richard menjawab. "Kenapa kamu berbicara tentang Dunia Lain ? Bukankah Dunia Lain hanyalah Cerita Legenda yang tidak ada buktinya." Richard sambil terkekeh garing.
"Kurang lebih 28 Tahun yang lalu, sebenarnya aku pernah pergi ke Dunia lain karena kecerobohanku." kata Liona lirih, pandangannya beralih untuk melihat Sean yang masih bertarung dengan Mozark.
Richard terbelalak mendengarnya. Liona kembali bersuara. "Singkatnya, setelah hampir satu tahun tinggal di dunia itu, aku menikah dengan seorang pria. Dia pria pertama yang kucintai yang berasal dari dunia yang berbeda denganku. Dan dari hasil pernikahan kami, kami memiliki anak."
Liona masih menatap Sean, melihat wajah Sean, seketika ia teringat suami tercintanya. Wajah mereka berdua sangat mirip. Liona kembali bersuara. "Karena keadaan yang terpaksa, demi keselamatan suamiku dan putra kami yang masih belum ada berumur 1 tahun, aku terpaksa pergi ke Dunia ini, dan meninggalkan mereka."
Liona mengusap air matanya yang sedikit keluar. Lalu pandangannya beralih ke arah Richard. "Nama Putraku, Sean Alexander. Sesuai namanya, Alexander adalah nama suamiku."
Richard terkejut mendengar cerita Liona. Tatapan Liona kembali tajam ke arah Richard. "Aku mengatakan sebagian kecil dari ceritaku, karena kamu orang yang dikenal oleh ketiga Raja yang bisa dipercaya. Sekarang Katakan padaku Richard !!"
Richard menghela nafasnya. Akhirnya ia mengangguk kepalanya. "Sean memanglah dari Dunia Lain. Dia pernah bercerita padaku, sebelum dia terkirim ke Dunia ini, dia sedang berada di dalam goa. Saat keluar, dia sudah ada di Di Dunia ini."
"Hanya itu yang kamu tau ?" tanya Liona. Richard mengangguk kepalanya.
"Apa dia hanya sendiri ?" tanya Liona lagi, ia memastikan suaminya ikut terkirim bersama Sean.
Richard mengangguk kepalanya. "Dia hanya sendiri. Tapi, setengah tahun lebih yang lalu, sebenarnya juga sudah ada seseorang yang datang dari dunia lain. Dia seorang wanita."
Liona terbelalak. "Ada lagi ? Apa dia juga berasal dari Dunia yang sama dengan Sean ?"
Richard menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, aku beramsumsi kalau dia dan Sean berasal dari Dunia Lain yang berbeda. Karena cerita Sean, Dunia asalnya telah kembali terjadi Perang Dunia."
Liona terdiam, lalu pandangannya beralih ke arah Sean yang merupakan Putra Kandungnya. Seketika ia terbelalak melihat Sean dicekik Mozark, wajahnya dipukul, dan dilempar.
Reflek, Liona langsung pergi berlari meninggalkan Richard begitu saja. Ia langsung mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya.
Meski ia tau kalau Sean hebat, tetapi seorang Ibu yang telah melahirkannya mana mungkin tega melihat anaknya di perlakukan begitu. Ditambah mereka telah saling berpisah sangat lama.
__ADS_1
Setelah berlari dan hampir mendekat, Liona melompat dan melewati Sean dari atas. Lalu ia mendaratkan kakinya di tanah arena, ia berdiri membelakangi Sean.
"Siapa wanita ini ?" batin Sean bertanya. Ia mengerut dahinya melihat Liona berdiri membelakanginya dan mengarahkan pedangnya ke arah Mozark.
Karena Liona berdiri membelakanginya, Sean jadi tak bisa melihat wajah Liona.
Mozark pun juga memasang wajah bingung. "Kamu siapa Nona ? Jangan mencampuri urusanku dengan pemuda yang berdiri di belakangmu."
"Tentu saja aku harus mencampuri karena kamu telah melukainya." jawab Liona dingin.
Mozark terkekeh mendengarnya, lalu ia membalas. "Dari penampilanmu sepertinya kamu adalah salah satu Ksatria Kerajaan Roux. Apa kamu tidak melihatnya ? Meski aku melukainya, luka-luka akan pulih kembali. Jadi kamu tak perlu ikut campur atau membantunya. Justru kamu yang terluka nantinya."
"Meski begitu, tetaplah seorang ibu khawatir kepada anaknya !!" jawab Liona dengan tatapan membunuh. Mozark mengerut dahinya.
Sedangkan Sean, ia hanya memasang wajah bingungnya. "Ibu ? Anak ?"
Liona menjawab tanpa menoleh. "Kita akan bicara nanti." jawabnya yang menanggapi Sean yang kebingungan karena kata-katanya.
Liona mengucapkan kata Sihirnya. "Bilah Pedang Api."
Tiba-tiba pedangnya Liona mengeluarkan Api. Ia hanya berdiri diam di tempatnya, lalu ia mengasal mengayunkan pedangnya.
Woosssss..!!
DUAR..!!
Serangan Liona mengakibatkan meledakan dinding arena. Bekas ledakan itu cukup besar. Semua terkejut melihatnya, mungkin jika ada manusia terkena serangannya, pasti fatal.
Liona tetap diam di tempatnya, ia kembali mengayunkan pedangnya. Seketika ayunan pedangnya mengeluarkan Apinya lagi seperti serangan pertamanya dan bergerak ke arah Mozark.
Woosssss..!!
DUAR..!!
Mozark pun menghindar lagi. Mozark memberi tatapan waspada terhadap Liona. Liona masih diam di tempatnya berdiri. Kali ini ia mengarahkan pedangnya ke arah Mozark.
"Semburan Bilah Pedang Api." Liona mengucapkan kata Sihirnya, seketika ujung pedangnya, mengeluarkan semburan Api tornado yang besar.
__ADS_1
Woosssss..!!
Mozark masih berhasil bisa menghindari serangan Liona. Dari jaraknya, Liona mengarahkan pedangnya ke arah Mozark. Pedangnya yang tadinya diselimuti Api pun menghilang.
Liona bersuara. "Aku tidak akan melepaskamu."
Mozark tersenyum menyeringai. "Tidak melepaskanku ? Tapi menyerangku saja, aku masih bisa menghindar."
Namun dalam batin Mozark berkata. "Aku harus benar-benar hati-hati dengan wanita ini."
Krek-krek.
Tiba-tiba terdengar suara asing. Lalu terdengar suara Sean. "Kalau begitu, aku pastikan kali ini berhasil mengenaimu."
Liona menoleh kepalanya ke arah Sean. Begitu juga pandangan Mozark beralih ke arah Sean. Terlihat Sean sedang memegang sebuah benda aneh dengan kedua tangannya.
Dor..!!
Craattt !!
"Aggrrhhh..!!" teriak Mozark lalu berlutut, ia merasakan kesakitan.
Sean berhasil menambaki persendian kaki kanannya Mozark dengan senapan sniper BARRETT M82 miliknya. Kali ini, ia menggunakan senjata dari asal dunianya, karena Mozark selalu bisa menghindar semua jenis serangan Sihir.
Mozark memegang terluka. Ia menatap tajam ke arah Sean yang masih menggenggam senapan sniper miliknya. "Sial..!!"
Krek-krek.
Dor..!!
Craattt !!
"Aggrrhhh..!!"
Mozark kembali berteriak kesakitan, sekarang persendian kaki kirinya yang tertembak. Sean menembaki bagian itu, agar pria laknat itu takkan bisa bergerak atau menghindar.
Sean berlari ke arah Mozark sambil memasukan kembali senapan ke dalam cincin penyimpanannya. Sean kembali mengambil dan menggenggam rantainya lagi yang tergeletak di tanah.
Sambil berlari, Sean memutar-putar rantainya, lalu ia mencambukkannya ke arah Mozark. Ujung rantainya berhasil meraih tubuh Mozark, dan mengikatnya.
Sean berhenti berlari, tangannya yang menggenggam ujung rantai satunya lagi, dengan kuat-kuat ia menariknya. "Get Over Here !!"
Mozark pun tertarik kuat ke arahnya. Ketika mendekat, Sean langsung memberinya pukulan dengan tangan logam kirinya tepat di wajahnya.
BUGH..!!
Wajah Mozark terpukul, mengakibatkan kepalanya terdorong dan menghantam tanah dengan keras. Seketika Mozark tergeletak di tanah, dan tak sadarkan diri. Sean segara mengikat seluruh tubuh Mozark dengan rantainya.
__ADS_1