
Selama Sean di kediaman Aratohrn, semua terlihat baik-baik saja. Semua keluarga ibunya menerimanya. Disini Sean benar-benar ingin mengenal lebih keluarga ibunya.
Hanya saja Gabro yang merupakan sepupu laki-lakinya yang masih memberi tatapan tak suka padanya. Sedangkan sepupu perempuannya yang bernama Natalia, ia hanya memasang wajah acuh tak peduli dengan keberadaannya.
Tapi bagi Sean tak masalah selagi kedua sepupunya tidak ada yang mencari masalah dengannya.
Semua anggota keluarga Aratohrn, sedang tidak ada di kediaman, melainkan mereka sedang pergi untuk menerima undangan dari Keluarga Bangsawan lain.
Kecuali Liona, karena ia sedang berada di istana Kerajaan Roux. Karena tugasnya sebagai salah satu Ksatria Kerajaan Roux. Dan mungkin, sebenyar lagi, ia akan pulang.
Dikesempatan itu seorang Gabrio ingin menyingkirkan Sean, karena tak suka Sean dekat-dekat dengan Liona. Apalagi Liona tak pernah mau menatapnya ataupun menyapanya semenjak kejadian sebelumnya.
Sudah 1 jam lebih Gabrio menyerang Sean dengan pedangnya, tetapi selama 1 jam lebih itu, Sean hanya menghindar saja.
"Sudah lelah ?" tanya Sean.
Gabrio mengarahkan pedangnya ke arah Sean. Lalu ia mengucapkan kata Sihirnya. "Bilah Pedang Api."
Tiba-tiba pedangnya Gabrio mengeluarkan Api. Ia hanya berdiri diam di tempatnya, lalu ia mengasal mengayunkan pedangnya.
Woosssss..
Ayunan pedangnya Gabrio mengeluarkan sabit Api dan bergerak cepat ke arah Sean. Disisi Sean, ia melompat untuk menghindarinya. Gabrio mengayunkan kembai pedangnya.
Ayunan pedangnya mengeluarkan sabit Apinya lagi. Lagi-lagi Sean menghindarinya. Gabrio bertambah kesal, karena serangan fisik maupun Sihir, Sean masih bisa menghindarinya.
Tenaga ataupun mananya Gabrio, sudah terkuras banyak. Gabrio menyudahi Sihirnya. Lalu ia melompat ke arah Sean, ia kembali mengayunkan pedangnya, untuk menyerangnya.
Lagi dan lagi, Sean menghindar. Gabrio berlutut di tanah. Nafasnya memburu. Sean berjalan mendekatinya. Kini ia berdiri tepat dihadapan Gabrio.
"Masih belum menyerah ?" tanya Sean.
"Hahhh..., kau pikir, hah.., aku membiarkanmu.." ucap Gabrio sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
Sean memutar bola matanya, ia merasa tak habis pikir dengan laki-laki yang bernama Gabrio ini. Sudah jelas-jelas terlihat akan kalah, dia masih berusaha menyingkirkannya.
Sedangkan Natalia yang duduk diam. Ia tak peduli dengan dua laki-laki yang tengah berhadapan, yang satu berdiri, dan yang satunya berlutut.
"Aku heran demikiran otak udang itu." ucap Sean dengan sedikit menunjukan wajah kesalnya.
"Otak udang ? Aku ?" sahut Gabrio sambil menunjuk dirinya.
Sean menjawab. "Ya.., kerena otakmu itu sudah tidak waras. Kamu memintaku untuk menjauhi ibu kandungku sendiri ? Apa salahnya seorang anak ingin dekat ibunya ?"
Sean menambahkan. "Apa karena kamu menyukai ibuku, sehingga kamu cemburu ketika melihat aku dekat dengan ibuku sendiri ? Jika kenyataannya seperti itu, kamu sudah benar-benar gak waras." jawab Sean dengan tatapan tak percaya kepada laki-laki ini.
JLEB..!!
Sebuah pedang datang dan langsung menusuk punggung seseorang. Gabrio saja kerkejut melihatnya. Seseorang yang tertusuk dari belakang siapa lagi kalau bukan Sean.
Gabrio tersenyum, ia melihat sepupu perempuannya datang dan menusuk Sean dari belakang. Bahkan tusukan pedangnya hingga tembus ke depan dadanya.
Tubuh Sean menjadi lemas. Ia menunduk melihat pedang yang tembus hingga depan dadanya. Tubuh menjadi lemas.
Gabrio tersenyum senang. "Dengan begini, kita bisa menyingkirkannya."
Natalia yang masih belum menarik pedangnya, ia menghela kesal. "Kamu sendiri yang benar-benar gila. Bisa-bisanya kamu menyukai bibi Liona."
"Tapi buktinya sekarang, kamu membantuku disaat-saat terakhir." jawab Gabrio senang.
"Aku membantumu karena aku tak mungkin membiarkan sepupuku kalah oleh orang asing." jawab Natalia. "Sekarang, kita harus benar-benar menyingkirkan dia, aku sudah punya alasan yang tepat jika bibi liona menanyakan tentangnya." lanjutnya.
Gabrio berdiri, ia menatap remeh ke arah Sean. Hap..!! Hal yang terduga, Natalia terkejut bukan main melihatnya.
Kini tubuh Gabrio terangkat. Pasalnya Sean mencekik lehernya. Sean menatap tajam ke arah Natalia. Natalia langsung melepaskan genggaman pedanhnya dan melompat mundur. Ia berjaga jarak.
Sejak awal, Sean sudah menyadari kalau Natalia datang menusuk pedangnya, jadi ia memilih pura-pura tak tau seakan fokus terhadap Gabrio.
__ADS_1
Sean menarik keluar pedang Natalia yang masih tertusuk pada tubuhnya, Sean menghancurkan pedang itu. Natalia kembali lagi-lagi dibuat terkejut melihat Sean terlihat baik-baik saja.
Pandangan Sean menatap dingin ke arah Gabro yang terlihat kehabisa oksigen. Ia lalu melompat tubuh Gabrio ke hadapan Natalia.
Gabro terbatuk-batuk, Natalia membantunya untuk berdiri. Gabri berdiri sambil memegang leher dan manatap Sean dengan tubuhnya yang gemetaran.
"Kenapa lukanya bisa sembuh dalam seketika ?" batin Natalia.
Sean berjalan ke arah mereka berdua. Natalia mengeluarkan pedang keduanya dari cincin penyimpanan. Ia berlari meninggalkan Gabrio. Lalu ia melompat sambil melayangkan pedangnya untuk menyerang Sean.
Tiang..!!
Sean menahan serangan pedang milik Natalia dengan lengan kirinya. Natalia lagi-lagi terkejut, karena serangan pudangnya mampu ditahan oleh laki-laki di depannya ini.
Tangan kanan Sean bergerak dan akan menangkap wajah cantik sepupu perempuannya ini. Natalia yang tak ingin tertangkap, ia segera melompat mundur.
Natalia melompat mundur untuk berjaga jarak. Ia mendaratkan kedua kakinya, kini ia berdiri di samping Gabrio. Natalia bersuara. "Ini semua salahmu !! Kalau saja kamu tidak terobsesi pada bibi Liona, kita takkan berurusan dengan laki-laki ini."
Dimata Natalia, sekarang sosok Sean adalah sosok bukan pemuda biasa. Natalia beranggapan, meski Level Tingkat Sean masih dibawah Liona, Lison, Javi, Liandro, dan Cariann, ia menilai Sean adalah pemuda yang berbahaya.
Seharusnya, ia tak membantu Gabrio, dan memilih diam menikmati teh hangatnya. Natalia mengutuk dirinya sendiri yang seharusnya tak memperdulikan Gabrio.
Disisi Sean, ia berdiri dan diam di posisinya. Ia memandang dingin ke arah Natalia dan Gabrio. "Perlu kuakui, aku sendiri juga tidak mengakui kalian berdua sebagai sepupuku."
Sean menambahkan. "Aku sendiri juga mana sudi punya sepupu otak udang, dan wanita ular seperti kalian berdua."
Gabrio dan Natalia yang mendengar ucapan Sean, mereka tak terima. Dengan segera mereka menggenggam pedang mereka masing-masing.
"Hentikan..!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita. Suara itu tak asing di indra pendengaran mereka bertiga. Gabrio dan Natalia langsung menjatuhkan senjata mereka berdua.
Mereka semua melihat sosok Liona yang sudah berada di taman. Ia berjalan mendekati di tengah-tengah mereka. Ia melihat sekeliling taman yang sangat berantakan. "Sebenarnya apa yang kalian ributkan, sehingga membuat kekacauan disini ?"
__ADS_1
Liona menatap Putranya agar menjawab pertanyaannya. Karena ia yakin, Sean bukanlah yang memulai keributan. Namun, Gabrio 'lah lebih dulu menjawab sambil menunjuk ke arah Sean. "Dia lebih dulu berulah kepada kita berdua, bibi..!!"
Liona menatap tajam Gabrio. "Benarkah ? Diriku ini bukankah terlahir sebagai orang yang bodoh sepertimu. Sifatmu yang buruk, tetaplah buruk dimataku. Bukankan sudah kukatakan sebelumnya, kamu lebih diam, dan jangan berbicara padaku !!"