OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 106


__ADS_3

"Istriku, bolehkah aku memberi pelajaran kepada keponakanmu yang terlihat menyedihkan ini." kata Dr. Alex yang sudah merubah tangan kanannya menjadi meriam dan mengarahkannya ke arah Gabrio.


Melihat dan mendengar Dr. Alex seperti itu sontak membuat keluarga besar Liona terkejut bukan main. Mereka tak menyangka kalau suami Liona, memiliki sisi lain di balik sifat tenangnya.


Rosalyn sendiri memeluk erat lengan kiri Sean. Sean Menggerakkan tangan kanannya dan mengelus kepala istrinya. Lalu ua berbisik. "Tenanglah, sifat keponakan ibuku memang tidak waras."


Gabrio yang berdiri merasakan tubuhnya sedikit gemetaran. Tetapi, memang dasar sifatnya yang keras, ia malah tersenyum remeh. "Lihatlah tanganmu. Kau merubah tanganmu menjadi mainan, kau kira itu membuatku takut."


Lison berdiri dari duduknya. "Aku sungguh merasakan malu memiliki cucu tidak waras sepertimu."


Gabrio tidak menggubris ucapt kakeknya. Ia mementingkan harga dirinya. Ia sadar, ia telah memulai masalah, maka ia takkan mundur. Jika mundur, ia bisa malu, apalagi bibi pujaannya tengah menatapnya, meski tatapan itu benci maupun jijik.


Sean meminta kepada ibunya untuk menjaga istrinya, Liona pun menurutinya, dan berpindah duduk disamping menantunya. Lalu ia berjalan mendekati Gabrio. Semua tatapan orang mengerut dahinya.


Setelah berdiri dihadapan Gabrio.


BUGH...!! Sean memukulnya dengan tangan logam kirinya. Tubuh Gabrio langsung terdorong kebelakang dan menghantam dinding rumah hingga berlubang.


Sean memukulnya, karena tak ingin ayahnya mengotori tangannya sendiri. Ia akan lakukan apapun yang sudah berani meremehkan kedua orang tuanya, istrinya, kedua mertuanya, dan teman-temannya.


Setelah memukul Gabrio hingga keluar dari rumah, Sean membungkukkan badannya kepada Claudia dan Cariann, yang tak lain kedua orang tuanya Gabrio. Sean membungkukkan tubuhnya, dan berkata. "Maafkan saya yang telah memukul Putra kalian."

__ADS_1


"Tidak masalah, Sean. Lagi pula aku sudah tak tahan dengan sikap Putraku yang pikirannya tak pernah dewasa. Sudah beberapa kali kami memberinya pelajaran, tapi dia masih saja tidak pernag berubah." jawab Claudia menatap keponakannya.


Cariann pun juga menjawab. "Paman sebenarnya juga tidak masalah, karena Gabrio tak pernah sadar atas kesalahannya."


Sean hanya tersenyum simpul. Rupanya kedua Paman dan Bibinya sudah lelah mendidik Putranya yang memang pikirannya benar-benar sudah tidak waras.


Sean pun berpamitan kepada semuanya, dan berjalan keluar. Dinding rumahnya berlubang akibat ulahnya sendiri. Tapi tak masalah, lagi pula masih bisa diperbaiki dengan Sihir Tanahnya.


Sean sudah berdiri di halaman rumah, ia melihat warna langit. Lalu ia berguman. "Hari sudah sore." lalu pandangannya ke arah Gabrio yang akan berdiri sambil meringis kesakitan. Sean berjalan mendekatinya.


Gabrio cepat-cepat berdiri, dan mengambil posisi kuda-kuda, ia menyampingkan rasa sakit atas pukulan Sean di perutnya. Ia mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya.


Sean berjalan mendekati Gabrio, sambil mengarahkan tangan kanannya kesamping dan membuka telapak tangannya. Dan senjata legendarisnya datang pada genggamannya.


Seketika Sean dalam Mode Petirnya. Dan Gabrio gemetaran melihat Sean yang sudah terlihat ingin menghabisinya. Kini mereka berdua saling berhadapan dengan jarak 3 meter.


Sean mengarahkan Kapaknya ke arah Gabrio, dan bersuara. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, karena mengingat kita sama-sama memiliki darah keluarga Aratohrn yang mengalir di dalam diri kita. Tapi, kau sudah berani menyukai ibuku, dan berkata yang tidak-tidak tentang ayahku."


Gabrio yang ingin membalas kata-kata Sean, namun Sean lebih dulu memotongnya. "Jika kau masih berani membalas perkataanku, aku tidak segan-segan menggunakan Kapakku untuk menebas lehermu."


Seketika Gabrio terdiam. Sean kembali bersuara. "Ingatlah, Gabrio. Aku adalah Ksatria Level Tingkat Berlian. Sudah jelas bukan ? Kalau aku jauh lebih kuat darimu."

__ADS_1


"Jika kau masih berani, bukankah itu sama saja kau menggali kuburanmu sendiri ?" tambahnya.


Gabrio akhirnya menjatuhkan pedangnya ke tanah. Sean yang melihat itupun, kembali ke dalam wujud normalnya. Lalu ia menoleh kepalanya, ia melihat semua keluarganya telah berdiri di luar dan melihatnya.


.....


Setelah masalah Gabrio selesai, mereka kembali ke dalam rumah. Tak lupa Sean juga membetulkan kembali dinding rumahnya dengan Sihir Tanahnya. Lison meminta semuanya untuk menganggap masalah tadi, tak pernah terjadi.


Mereka kembali bercakap-cakap membahas tentang toko obat milik Dr. Alex yang akan dibuka besok sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan. Kini, di ruangan itu tak ada Gabrio. Pemuda itu kini tengah berada di dalam kereta kudanya.


Gabrio sudah tak bisa berbuat apapun. Dilehernya telah dipasangkan Ring buatan Lison. Ya, Lison yang telah membuat Ring itu. Ia menciptakan itu untuk kebutuhan militer Kerajaan Roux, Erlang, dan Wagner.


Kegunaan Ring itu adalah untuk menyegel Kekuatan dan Sihir seseorang. Dan sekarang Lison menggunakannya untuk menyegel Kekuatan dan Sihir Gabrio. Cara melepaskannya, jika Lison sendiri yang melepaskannya.


.....


Langit sudah akan gelap.


Lison dan rombongannya berpamitan untuk pergi kembali pulang. Keluarga Alexander meminta mereka untuk menginap, sekaligus ikut menyambut acara pembukaan bukanya toko obat milik Dr. Alex di besok hari.


Namun, permintaan itu itolak halus oleh Lison dan rombongannya, karena mereka telah mendapat penginapan, itupun atas pemberian Raja Erlang yang rupanya mengundang mereka datang untuk ikut merayakan pembukaan toko obat.

__ADS_1


Akhirnya, keluarga Alexander itu membiarkan keluarga besar Aratohrn itu untuk menginpa di penginapan pemberian Raja Erlang.


Setelah melihat rombongan Aratohrn pergi, semua kembali masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk mandi membersihkan diri dan istirahat.


__ADS_2