OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 79


__ADS_3

Semua orang, entah dari pihak aliansi atau dari pihak Kerajaan Alastair, terkejut. Mereka terkejut bukan main melihat seseorang pemegang Salah satu dari tiga Senjata Legendaris yang hanya bisa dikendalikan bila penggunanya bisa menggunakan Sihir Petir.


Disisi Sean, ia masih dalam mode Petirnya. Tangan kanannya memegang kapak Petir, yang merupakan salah satu Senjata dari tiga Senjata Legendaris. Kondisi saat ini, ia masih di bawah alam sadarnya.


Di belakang Sean, masih ada Liona dan Rosalyn. Mereka berdua tak bisa berkata apapun setelah melihat Sean dalam sosok yang berbeda. Ditambah, Sean sudah bisa menggunakan Sihir Petir beserta senjatanya.


Sedangakan disisi Redi, tentu saja dia yang melihat lawannya memiliki senjata seperti itu, ia benar-benar sangat tertarik untuk memilikinya.


Karena Redi juga mengetahui Senjata yang digenggam Sean adalah salah satu Senjata Legendaris. "Wah aku jadi sangat tertarik Senjata itu."


Redi mengarahkan pedangnya ke arah Sean. "Dengan mengalahkanmu, Senjata Legendaris itu akan menjadi milikku..!!"


"Hiaaa...!!" Redi berteriak sambil melompat maju ke arah Sean dan melayangkan pedangnya.


Tiang..!!


Pedang besar milik Redi tertahan oleh Kapak Petir milik Sean. Redi menepis menarik pedannya, lalu ia memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya dan menyerang Sean lagi.


Tiang..!!


Lagi-lagi serangan pedang miliknya, tertahan lagi. Redi menjadi marah, serangan keduanya masih tidak bisa berhasil.


Redi kembali lompat mundur. Baru saja mendaratkan kakinya, seketika ia langsung melompat maju kembali ke arah Sean. Kedua tangannya menggenggam gagang pedangnya dengan erat.


"Pedang Api Kemarahan..!!"


DUAR..!!


Sebuah ledakan yang ditimbulkan oleh serangan Redi. Tetapi tetap saja, Sean bisa menahannya dengan Kapaknya, ia juga tak terluka sedikit pun.


Redi cepat-cepat mundur kembali, karena tangan kiri Sean ingin menangkapnya. Redi menatap tajam ke arah Sean. "Aku adalah salah satu Pahlawan dari Kerajaan Alastair. Sekarang, aku tidak akan menahan diriku."


Redi kembali maju dan menyerang. Ia mengerahkan semua yang ia punya. Dari teknik pedangnya serta Sihirnya. Tetapi Sean terus menangkis dan menahan semua serangan yang dilancarkan oleh Redi.


.....


Sedangkan disisi Sinta, ia telah menjatuhkan lawannya. Ia melihat Sean yang cukup jauh dari tempat ia bertarung. Sinta berguman. "Sekarang, dia adalah salah satu pemilik senjata legendaris. Tinggal satu lagi."

__ADS_1


Lawannya bangkit dan langusng maju menyerang Sinta. Sinta yang tau hal itu, ia segera menghindar. Karena sudah tak sabar, ia segera mengakhirinya. Sinta menggunakan Sihir Petir. "Gerakan Kilat."


Sinta bergerak dengan sangat cepat. Bahkan lawannya tak bisa melihat gerakannya. Tiba-tiba Sinta muncul di hadapannya dan seketika Sinta juga mencengkram wajahnya, dan membenturkannya ke tanah.


Pahlawan wanita itu pun tak sadarkan diri. Selama awal pertarungannya, Sinta menahan semuanya. Ia ingin tau, sampai sejauh mana kehebatan lawannya.


Tiba-tiba Richard datang padanya. Ia melihat Sinta yang sudah mengalahkan Pahlawan wanita ini. "Kamu menghabisinya ?"


Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya membuatnya pingsan saja. Mana mungkin aku membunuhnya, karena aku penasaran, karena wanita ini, pendiam, tak mengeluarkan bicara sama sekali. Yang kulihat dari tatapan wanita ini seperti kosong."


Richard mengangguk kepalanya, ia paham istrinya berkata mengarah kemana. "Ada kemungkinan, kalau pikiran wanita ini telah dikendalikan."


DUAR...!!


Richard dan Sinta langsung menoleh dan melihat sebuah pertarungan Sean dengan salah satu Pahlawan yang bernama Redi.


"Hal yang tak teduga, Sean yang merupakan orang datang dari Dunia Lain sama sepertimu, juga bisa menggunakan Sihir Petir, sekaligus salah satu penerus pemilik senjata legendaris juga sepertimu." ucap Richard sambil menatap Sean yang tengah bertarung.


"Tapi, aku merasakan, pemuda itu lebih kuat dariku." balas Sinta yang juga memandang pertarungan Sean.


Richard terbelalak dan menoleh menatap istrinya. "Benarkah ?"


Dari kejauhan, Richard dan Sinta masih bisa melihat pertarungan Sean. Tapi ada yang aneh dirasakan oleh mereka berdua. Richard bersuara. "Apa hanya aku saja yang merasakan kalau Sean dari tadi menangkis serangan lawannya ?"


Sinta mengangguk kepalanya.


Mereka berdua segera menyampingkan pemikiran mereka. Richard melanjutkan pertarungan sisa-sisa pasukan musuh yang masih bertahan.


Sedangkan Sinta tetap bertarung di tempatnya, sambil menjaga Pahlawan wanita yang telah ia buat tak sadarkan diri. Karena, jika sadar, Sinta ingin menanyakan beberapa hal padanya.


.....


Kembali disisi Sean.


Sean terus menahan dan menangkis serangan yang dilancarkan oleh Redi. Disisi Liona dan Rosalyn, mereka segera menjauhi tempat pertarungan Sean dan Rosalyn.


Zayden mendekati mereka. "Ayo, aku akan antar kalian menjauh dari tempat ini."

__ADS_1


Zayden menuntun jalan Liona dan Rosalyn. Ia menyerang orang-orang yang merupakan prajurit dari pasukan musuh untuk membuka jalan.


Sebenarnya, Liona bisa menyembuhkan luka-lukanya dengan Sihir Cahayanya. Tetapi karena energi mana-nya hampir terkuras semua saat ia bertarung banyak pasukan musuh dan Redi.


Rosalyn juga merasakan hal yang sama seperti Liona. Mereka segera mundur, ke tempat kamp. Aliansi mereka, agar para medis yang ada disana bisa memulihkan luka mereka.


Sementara Di pertarungan Sean dan Redi. Sean tetap terus menahan dan menangkis serangan yang dilancarkan oleh Redi. Ia belum memberikan perlawanan.


Redi kembali melompat mundur. Ia memandang Seam dengan pandangan marah. "Kamu dari tadi hanya menghindar dan menahan semua seranganku. Apa hanya itu yang kamu bisa."


Namun dalam batinnya, Redi berkata. "Sial, kenapa semua seranganku tak bisa mengenainya. Luka sendikit saja, lukanya langsung sembuh dalam seketika."


Tetapi karena sifat sombongnya sudah tertanam dirinya, ditambah ia adalah seorang pahlawan yang terpanggil, sifat buruknya semakin menjadi untuk menyandang gelarnya sebagai Pahlawan.


"Pedang Bilah Api."


Setelah mengucapkan kata Sihirnya, pedang besar milik Redi langsung diselimuti Api. Ia memasang kuda-kuda dan kedua tangannya menggenggam gagang pedangnya dengan kuat.


"Kali ini kau akan mati."


Sedangkan Sean, ia masih saja diam tak membalas perkataan Redi. Ia masih dalam mode petinya di bawah alam sadarnya. Tangan kanannya memutar-putarkan Kapaknya.


Redi melompat dan mengayunkan pedang besarnya menyerang Sean. Dam Sean sendiri, ia langsung melempar Kapaknya ke arah Redi.


Tiang..!!


Kretek.. Takk..


Pedang besar milik Redi hancur. Redi sendiri dibuat terkejut. Ia mendaratkan kakinya, ia langsung segera melangkah mundur untuk menjauh, karena ia sudah tak punya Senjata.


JLEB...!!


"Aggrrhhh..!!"


Redi terjatuh, ia merasakan rasa sakit di bagian punggungnya. Rupanya Kapak milik Sean menancap de punggungnya.


Kapaknya kembali melayang dengan cepat kepada Sean, setelah meninggalkan luka pada punggung Redi. Sean mengarahkan Kapaknya ke arah Redi yang dalam posisi tengkurap di tanah.

__ADS_1


JEDEEERR..!!


Redi pun tersambar Serangan Petir yang dilancarkan oleh Sean. Tubuhnya terlihat gosong, dan pakaiannya rusak. Redi tak sadarkan diri, entah ia pingsan atau sudah tak bernyawa.


__ADS_2