
"Pertama, aku ingin menyampaikan, kalau cucumu yang bernama Gabrio ini, otaknya sudah gak waras."
Semua orang tua terkejut mendengar kata-kata Sean. Lalu Sean menambahkan. "Kedua, cucumu yang bernama Natalia, diam-diam dia menghanyutkan rupanya."
Lagi-lagi semua dibuat terkejut, mendengar ucapan Sean yang begitu santai menjelekkan Gabrio dan Natalia di depan keluarga. Kecuali Liona, ia tersenyum tipis, karena melihat gaya bicaranya Sean, sangat mirip dengan mendiang suaminya.
Liandro yang mendengar sebenarnya tak terima karena Sean menjelekkan Putrinya. Tetapi mengingat inti permasalahnya belum jelas, ia memilih tak menyangkal. Tetapi, ia bertanya. "Sean, apa alasanmu mengatakan mereka seperti itu ?"
Sean menatap Gabrio yang masih mendunduk. "Aku mengatakan kalau Gabrio, otaknya tidak beres karena dia memintaku untuk menjauhi ibuku. Dia tak suka jika aku dekat-dekat dengan ibuku."
Semua orang tua terdiam, lalu menatap Gabrio semua. Sean menambahkan. "Apa salah kalau seorang anak ingin dekat ibunya ? Dengan beraninya ia mengatakan kalau dirinya menyukai ibuku. Sungguh tidak waras bukan ?"
Semua orang tua melotot tak percaya mendengar kata-kata Sean. Sedikit Liona, ia nampak acuh mendengarnya, karena ia sudah tau disaat ia di tempat kejadian.
Sean berkata lagi. "Dan untuk Natalia. Dia menusukku oleh pedangnya, dan membantu Gabrio untuk menyingkirkanku. Yahh..., karena dia sendiri juga tidak mengakui keberadaanku."
Lison menatap Sean dengan tatapan terkejutnya. "Menusuk ? Dia menusukmu ? Lalu lukamu ?"
Sean menjawab. "Luka tusukku sudah hilang, karena aku memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diriku."
Liona menambahkan. "Apa yang dikatakan Putraku adalah kebenaran. Bukan karena dia memang Putraku, tetapi aku sediri mendekati kata-kata mereka berdua lebih dulu sebelum aku menghentikan semuanya."
Semua terdiam. Ia menatap Gabrio dan Natalia yang diam masih saja menundukkan kepalanya. Sean bersuara. "Jika tidak ada yang percaya silahkan, karena tidak ada buktinya."
Sean berdiri dari duduknya. "Mungkin kedatanganku membawa kekacauan di keluarga ini. Lebih baik, aku akan pergi, dan menjauhi keluarga ini."
Semua orang tua menatap Sean, yang akan melangkahkan kakinya. Lison bangkit dari duduknya, dan memanggilnya. "Tunggu Sean !!"
Sean tetap melangkahkan kakinya. Ia segera pergi dari ruangan. Lison kembali duduk di bangkunya. Ia terlihat frustasi. Disisi Liandro, Elisa, Claudia, dan Cariann menatap anak mereka dengan tajam.
Keadaan ruangan itu, menjadi hening, tak ada pembicaraan. Liona bangkit dari duduknya. "Jika Putraku pergi, maka aku juga akan pergi."
__ADS_1
Lison kembali bangkit dari duduknya. "Liona.., kamu juga akan pergi ?"
"Tentu saja, aku tidak ingin pisah dari Putraku. Putraku pergi, maka aku juga akan pergi." jawab Liona dengan tegas, dan berlalu menyusul Putranya yang sudah keluar dari kediaman Aratohrn.
Tak hanya Lison, dan Natalia. Lalu Lison berkata. "Sebenarnya apa maunya kalian ? Kapan kalian dewasa ? Jelas-jelas Sean terbukti bagian dari keluarga ini, tetapi kalian tak mengakuinya."
Javi ikut bersuara. "Namun hal yang paling tak kusukai adalah dirimu, Gabrio."
Gabrio masih menunduk kepalanya ketika kakek keduanya ikut berbicara. Javi melanjutkan kata-katanya. "Kamu menyukai bibimu ? Benar apa yang dikatakan oleh Sean, bahwa otakmu sudah tidak waras, Bibimu sendiri kamu sukai. Bahkan kamu berniat menyingkirkan Putranya ? Dimana akal Sehatmu ?"
Liandro ikut berbicara. "Secara kasar, Seorang pria sejati, jika ia menyukai seorang wanita yang berstatus janda dan beranak satu, seharusnya juga menerima anaknya, bukan menyingkirkannya."
Liandro menatap keponakan laki-lakinya dengan tajam. "Tetapi untukmu, aku menyebutkan dirimu adalah sampah. Sesuai dengan apa yang Sean katakan, kalau otakmu sudah tidak waras. Carilah wanita lain !! Jangan adikku yang tak lain bibimu sendiri !!"
Cariann yang merupakan menantu Keluarga Aratohrn, pun juga berbicara kepada Gabrio sambil menatapnya. "Semua orang menyukai lawan jenisnya, entah umurnya lebih muda atau lebih dewasa darimu, itu hal yang wajar dan normal. Tetapi, menyukai bibimu sendiri, dan memiliki hubungan darah, ayah sendiri merasa kamu sudah tidak sehat."
Lison menatap cucu perempuannya. "Aku sendiri tidak menyangka, dibalik sikap tenangmu, kamu memiliki hal yang tidak baik. Aku sebagai kakekmu, sangat kecewa padamu."
.....
Sementara itu, disisi lain.
Sean sudah berada di tengah kota Kerajaan Roux. Ia berjalan kaki. Ia sudah masa bodo dengan keluarga Bangsawan yang menurutnya merepotkan.
Ditambah, mengingat sepupu laki-lakinya menyukai ibunya. Tunggu !! Sepupu ? Mengakui Gabrio sebagai sepupunya, mana sudi. Sean merasa jijik mengingat laki-laki bernama Gabrio itu.
Sekarang, yang Sean pikirkan adalah pergi kembali ke wilayah Kerajaan Erlang. Setelahnya, ia ingin pergi untuk berpetualang selama beberapa lama. Karena ia ingin lebih mengenal dunia barunya.
Sean sudah melewati pintu gerbang kota Kerajaan Roux. Setelah 200 meter lebih ia berjalan, tiba-tiba ada tangan yang memegang pundaknya.
Sean menepisnya dan langsung menyerang dengan pukulan tangan logam kirinya. Orang itu langsung melompat mundur menghindari serangan Sean padanya.
__ADS_1
Sean menatap tajam ke arah orang itu. Seketika ia terbelalak. Ia melihat ibunya yang rupanya tadi memegang pundaknya. "Ibu..?"
Liona menatap ke arah Putranya. "Kamu sudah berani imenyerang ibumu sendiri."
Sean memasang wajah khawatir. "Maaf ibu. Aku reflek saja. Karena tiba-tiba ibu memegang pundakku."
Liona menghela nafasnya. Ia berjalan mendekati Sean. "Kamu kemana ?"
"Aku ingin pergi kembali ke Kerajaan Erlang." jawab Sean.
Liona memegang kedua pundak Putranya. "Maafkan ibu yang telah membuatmu kecewa."
Sean tersenyum. "Ibu tak perlu minta maaf, ibu tidak salah, hanya saja mungkin dua keponakan ibu membutuhkan waktu menerimaku." dalam batinnya berkata. "Gak mungkin menerimaku. Lagian aku mana sudi aku mau menerima duo laknat itu."
Liona memeluk erat Putranya. "Ibu ingin sekali kamu tetap disini bersama ibu. Ibu merasa bersalah sama kamu. Terutama kepada ayahmu, ibu tak bisa berada disisimu dengan waktu yang lama."
Sean membalas pelukan ibunya. "Tidak apa-apa, bu. Aku sudah besar. Aku sudah bisa menjaga diri. Aku bahkan tak mudah terluka. Lagi pula dulu aku pernah hidup di hutan sewaktu aku menjadi prajurit di negara dunia asalku."
Liona dan Sean melepas pelukan mereka. Liona mengusap kedua air matanya yang sudah mulai muncul di kedua sudut matanya.
"Ibu disini memiliki tanggung jawab sebagai Ksatria Kerajaan. Itulah tugas yang hebat. Jadi Ibu tenang saja. Aku pasti sesekali kemari untuk mengunjungimu." ucap Sean tersenyum.
Lalu Sean berjalan menjauhi ibunya dan melambaikan tangannya. Liona pun membalas lambaian tangan Putranya.
Sean pun melompat tinggi ke udara lalu ia berkata dalam batinnya. "Thrust Flame."
Tiba-tiba keluarlah semburan Api dari kedua alas kakinya. Dorongan api yang kuat mampu membuat Sean terbang menjauhi tempat itu.
Disisi Liona, ia terkejut melihat Sean yang mampu terbang dengan menggunakan Sihir Api. Ia tersenyum. "Rupanya Putraku bisa mengembangkan Sihir Apinya untuk terbang."
"Angin, Terbang."
__ADS_1
Liona segera terbang dengan menggunakan Sihir Anginnya untuk kembali ke tempat tinggalnya. Sambil terbang, ia memikirkan sesuatu untuk memecahkan masalah dirinya, Sean, dan Keluarganya.