
Sebelumnya.
Di dalam hutan, tepatnya masih di dalam kawasan wilayah Kerajaan Roux, tiba-tiba muncullah portal disana. Dari dalam portal itu, keluarlah sosok pemuda berpakaian dan berjubah serba hitam.
Pemuda itu yang tak lain adalah Sean. Ia baru saja kembali dari Dunia D-25. Rupanya ia kembali ke tempat asalnya saat ia 3 bulan yang lalu sebelum pergi ke Dunia D-31.
Mungkin ia berlalu terburu-buru menggunakan Ring tanpa tempat yang akan ia tujui Di Dunia D-31. Sehingga ia pulang kembali sebelum ia di bawa oleh Pria tua itu.
Sean segera terbang menggunakan Sihir Api Birunya ke Kerajaan Roux. Karena pikirannya saat ini adalah keadaan ibunya.
Sean terbang sangat cepat di langit melewati pintu gerbang kota Kerajaan Roux. Ia langsung pergi ke kediaman Aratohrn. Ia langsung mendarat di taman belakang kediaman Keluarga Bangsawan itu.
Kedatangannya disambut oleh tukang kebun dan beberapa pelayan laki-laki dan beberapa maid yang sedang ada disana. Sean langsung menanyakan keberadaan ibunya.
Disana ada Ticia, Elisa, Iola, dan Claudia yang ada di gazebo, mereka segera mendekati Sean. Mereka menjelaskan apa yang telah terjadi.
Semua laki-laki keluarga Aratohrn ikut turun perang. Bahkan Natalia pun juga ikut. Dan Liona juga ikut serta dalam perang itu melawan Kerajaan dari Benua Lain. Sedangkan mereka ber-4 tetap tinggal. Karena itulah perintah Lison.
Sean langsung kembali terbang lagi setelah mendengar semua penjelasan keluarga ibunya. Dalam kondisinya yang terbang, pikirannya sudah kacau.
Ia tak menyangka kalau semua orang-orang Kerajaan Erlang, Roux, dan Wagner, dari kalangan biasa hingga Bangsawan ikut serta dalam perang.
Sean yang terbang ke arah wilayah terbuka yang ada di dalam kawasan wilayah Kerajaan Wagner, segera menambah kecepatannya.
Zzzzz...!!
Wusssss...
Sean menambah kecepatan terbang dengan menggunakan Sihir Petirnya. Kini kecepatan terbangnya secepat kilat.
.....
Beberapa lama kemudian, tak ada satu jam, Sean telah sampai. Ia masih dalam kondisi diam terbang tinggi di langit. Ia melihat-lihat kondisi berpuluh- puluhan ribuan orang yang tengah berperang.
Banyak sekali yang sudah tumbang, dan gugur. Darah ada di mana-mana. Dari atas, ia melihat 2 wanita yang sedang bertarung. Salah satu wanita itu menggunakan Sihir Petir.
Sean menduga, kalau wanita itu adalah salah orang yang datang dari Dunia Lain, seperti yang dibicarakan oleh Richard. Sean langsung menepis pikirannya, saat ini pikiran adalah mencari keberadaan ibunya.
Beberapa saat kemudian, pandangannya tertuju ke arah 2 wanita yang sedang melawan seorang laki-laki. Kedua wanita itu tidak asing baginya. Tak lain adalah ibunya dan tunangannya.
Saat akan turun, Sean terbelalak melihat ibunya terluka dan dibantu oleh Rosalyn. Seketika nafasnya berburu. Ia marah. sangat-sangat marah.
Kemarahannya, menjadi pemicu kekuatan Sihir Petirnya yang ada di dalam dirinya. Hingga memunculkan Petir di langit. Tubuhnya di selimuti percikan petir.
__ADS_1
.....
Di Waktu Bersamaan di tempat lain. Di lautan, tepatnya di dalam dasar lautan, terjadilah pergeseran permukaan di dasar laut. Dan terjadilah gempa. Di dalam dasar laut, terlihat sebuah benda seperti senjata.
Senjata itu tertancap dasar laut. Beberapa saat kemudian, senjata itu tiba-tiba terangkat dan bergerak sangat cepat ke atas permukaan laut. Bersamaan gempa pun berhenti.
Senjata itu keluar dari permukaan laut dan terbang sangat-sangat cepat ke langit sambil berputar-putar.
Senjata itu seakan sudah menunggu sangat-sangat lama untuk dipanggil oleh pemiliknya.
.....
Sementara, Di Wilayah Terbuka yang sedang terjadi Perang, juga mengalami gempa. Hingga beberapa saat kemudian, gempa pun berhenti. Sontak membuat semua orang terkejut.
Sean yang sekarang dalam kondisi dibawah alam kesadarannya. Tubuhnya diselimuti percikan petir. Kedua matanya juga bercahaya putih kebiru-biruan.
Sean pun terbang turun ke bawah ke arah Liona dan Rosalyn dengan secepat kilat. Hingga mendaratkan kedua kakinya, membuat sebuah ledakan.
DUAR...!!
Sontak semua orang melihat ke arah tempat Rosalyn, dan Liona. Setelah debu-debu menghilang, terlihat sosok yang tak asing bagi semua orang-orang aliansi.
Sosok itu yang tak lain, adalah Sean. Tetapi semua kembali terkejut, karena kondisi Sean saat ini, tubuhnya diselimuti elemen Petir.
Redi sendiri juga tak kalah terkejutnya. Ia segera siap dalam posisi kewaspadaannya. "Siapa kau, orang asing ? Jangan mengganggu ketenanganku !!"
Sean berjalan ke arah Redi. Redi yang tak gentar sedikit pun, ia melompat maju ka arah Sean sambil melayangkan pedang besarnya.
Redi tak peduli siapapun lawannya, entah memiliki Sihir Langka, ataupun semacamnya. Redi percaya akan kekuatannya.
Tiang..!!
Serangan pedang miliki Redi tertahan oleh lengan kiri milik Sean. Redi terkejut karena pedangnya tidak memberikan luka pada lawannya, serangannya hanya merobek kain lengan lawannya.
Redi segera melompat mundur, karena tangan kanan Sean akan mengincar dirinya. Redi mengambil posisi waspada, kedua tangannya menggenggam gagang pedangnya.
Sean mengeluarkan aura membunuhnya. Redi tersenyum remeh. "Aku tak tau siapa kau. Tapi aku peringatkan padamu, jangan bermacam-macam padaku !! Aku adalah salah satu Pahlawan dari Kerajaan Alastair."
Sean tak menjawab, Redi kembali bersuara. "Kau pasti taukan, arti kata Pahlawan. Kamu jangan mencoba berani padaku, atau kau akan kubuat menyesal !!"
__ADS_1
Sean tetap diam, tak membalas kata-kata Redi. Disisi Liona dan Rosalyn, mereka merasa senang karena Seam telah datang setelah dinyatakan hilang selama 3 bulan lalu.
Tapi disamping itu, mereka berdua merasa terkejut, karena mereka merasakan kekuatan Sean melalui aura membunuhnya. Ditambah Sean bisa menggunakan Sihir Petir.
Tak hanya mereka berdua, semua orang-orang, termasuk dari aliansi maupun Kerajaan Alastair juga ikut terkejut. Yang awalnya sudah terkejut melihat seorang wanita bisa menggunakan Sihir Petir.
Dan sekarang ada lagi seorang yang bisa menggunakan Sihir Petir. Orang-orang dari Kerajaan Alastair kesal, karena kedua orang yanh bisa menggunakan Sihir Petir berasal dari Aliansi.
Sedangkan mereka sendiri tidak ada. Mereka hanya bisa mengandalkan kehebatan dari kr-4 Pahlawan mereka.
Kembali ke sisi Sean dan Redi.
Mereka berdua masih diam berdiri berhadapan. Disini, Redi terus mengoceh membanggakan kalau dirinya adalah Pahlawan.
Tapi tetap saja, Sean tetap diam. Redi bergerak maju dan menyerang ke arah Sean dengan pedangnya. Sean menghindar. Gerakkan Sean benar-benar tak terlihat oleh siapapun.
Redi merasa kesal, ia terus melayangkan pedang besarnya untuk menyerang Sean. Dan terus-terusan Sean hanya menghindar. Redi melompat mundur lagi.
"Apa kau hanya bisa menghindar saja ?" tanya Redi kesal.
Sean tetap diam. Redi berkata lagi. "Apa Sihir Petirmu itu hanya gertakan saja ?"
Sean masih tak menjawab, namun ia mengangkat tangan kanannya ke atas. Redi tersenyum remeh. "Apa kau menyerah ?"
Sean masih saja tak menjawab.
Bersamaan di atas langit, terlihat sebuah cahaya bergerak cepat.
Sontak membuat semua orang lagi terdiam melihat sebuah benda bercahaya itu di langit.
Benda cahaya itu disertai Petir. Benda cahaya itu akhirnya terbang turun. Semakin turun dan semakin mendekat turun ke arah Sean.
JEDEEERR...!!
Terjadilah sesuatu ledakan petir di tempat dimana Sean berdiri. Beberapa saat kemudian terlihat Sean yang masih berdiri kokoh.
Lebih mengejutkan semua orang adalah tangan kanannya menggenggam senjata senjata kapak yang juga diselimuti percikan petir.
Sesuai dugaan Senjata kapak itu adalah benda yang bercahaya tadi.
__ADS_1