
Ketiga Raja memerintah pengawal dan ksatria mereka untuk membawa dan menjaga Ratu, dan keluarga mereka masing-masing ke tempat yang aman. Dan para penonton juga berlarian untuk segera keluar dari studion itu, karena mereka juga tak ingin terkena musibah.
Raja Roux, Raja Erlang, dan Raja Wagner masih berdiam di tempat mereka. Mereka tidak pergi, meski para beberapa pengawal mereka memintanya untuk pergi untuk keselamatan mereka. Dan Richard, ia setia disisi Raja Erlang.
"Siapa dia ? Kenapa dia tiba-tiba datang dan mengacaukan acara kita ?" tanya Raja Roux di tempatnya.
"Apa kamu tidak memberi perintah para penjagamu untuk memperketat keamanan wilayahmu sendiri ?" tanya Raja Wagner yang juga masih duduk tenang ditempatnya sambil melihat sosok pria asing itu yang tengah asik mengacaukan arena pertandingan.
"Sebelum acara ini dimulai, tentu saja aku sudah meminta para prajurit penjaga untuk memperketat keamanan wilayah Kerajaan ini." jawab Raja Roux dengan kesal karena orang asing ini.
"Dia Mozark, adik angkatku." ucap Raja Erlang tiba-tiba dengan tatapan marah ke arah orang asing itu yang tengah asik mengacau arena sambil melawan para penjaga, dan para pengikut Pria Elf.
Raja Roux dan Raja Wagner terkejut. Mereka berdua bersahut bersamaan. "Jadi, dia adikmu yang itu ?"
Mozark, adik angkat Raja Erlang. Dia sudah dicap orang asing karena sudah membuat hal yang tidak senonoh terhadap Putri Raja Erlang. Hingga akhirnya dihukum dan diasingkan.
Kasus yang sudah dirahasiakan itu hanya diketahui Raja Roux dan Raja Wagner dan para tetinggi, dan para mentri mereka. Meski mereka belum pernah bertemu. Hal yang tidak teduga, tiba-tiba ia kembali dan membuat kekacauan.
Raja Erlang sudah menduga kalau sudah menduga kalau adik angkat pasti akan kembali, entah untuk membalas dendam atau karena hal lain yang mungkin tidak ia ketahui tujuannya.
"Aku tidak menyangka kalau dia datang dan mengacaukan acara kita." ucap Raja Erlang, ia melangkah maju mendekati pagar ruangan khususnya.
"Kenapa dia bisa muncul disini, apa dia tau aku dan keluargaku berada disini ?" batin Raja Erlang.
Raja Erlang melihat-lihat sekeliling studion. Semua penonton sudah berlari keluar dari studion. Jadi ia sedikit merasa lega. Raja Erlang langsung mengucapkan salah satu kata Sihir pamungkasnya.
"Amarah Raja Api."
Lalu Raja Erlang mengeluarkan kekuatannya. Tubuhnya diselimuti Api yang membara. Kini ia terlihat seperti manusia api. Raja Erlang dan Raja Wagner terbelalak melihatnya karena baru pertama kali mereka melihat Raja Erlang dalam wujud itu.
Sedangkan Richard, ia tidak terkejut, karena sebelumnya ia pernah melihat sosok wujud yang digunakan Raja Erlang.
"Raja Erlang, apa yang lakukan ?" tanya Raja Roux.
"Mohon maaf Raja Roux, Raja Wagner. Karena kedatangan adikku ini telah membuat kekacauan di acara kita." jawab Raja Erlang yang tatapan matanya terus ke arah Mozark yang sedang melawan para penjaga.
Raja Erlang bersuara lagi. "Terutama kau Raja Roux, aku minta maaf sebesar-besar karena dia, tempatmu menjadi kacau begini."
"Tidak perlu begitu. Kita bisa menghentikan dia bersama." jawab Raja Roux dan Raja Wagner mengangguk kepalanya.
Raja Erlang menjawab. "Tidak sahabatku. Dia adalah adikku, biarkan aku yang menghentikannya. Karena aku yang bertanggung jawab atas tindakannya." ucap Raja Erlang tegas.
"Yang Mulia, izinkan saya membantumu." ucap Richard memohon.
__ADS_1
"Tidak Richard, tetaplah disini bersama yang lainnya untuk menjaga Raja Roux, dan Raja Wagner." jawab Raja Erlang tegas.
Raja Erlang melompat keluar dari ruangan meninggalkan kedua Raja itu, dan para pengawal. Raja Erlang terlihat sedang terbang dalam wujud manusia api.
Di arena, terlihat semua orang yang melawan Mozark, sudah tumbang tak sadarkan diri. Raja Erlang mendaratkan kakinya di arena studion.
"Hentikan Mozark..!!" ucap Raja Erlang.
Mozark yang sedang asik menghajar salah satu penjaga, pun terhenti. Ia menoleh, ia tersenyum melihat Raja Erlang yang sudah muncul dan berdiri tidak jauh darinya. Lalu Mozark melempar penjaga itu.
"Wah, akhirnya kakakku yang terhormat datang padaku." ucap Mozark menatap Raja Erlang yang didalam wujud manusia Apinya.
"Apa maumu Mozark ?" tanya Raja Erlang dengan tatapan amarahnya.
Mozark tertawa keras. "Hahahahaha..." ia berhenti tertawa, lalu ia menjawab. "Tanpa aku menjawab, kamu pasti sudah tau tujuanku."
"Kamu ingin balas dendam ?" tanya Raja Erlang.
Mozark tersenyum menyeringai. "Jika aku membalas dendam, apa kamu yang akan menghentikanku ?"
"Jika kamu ingin membalas dendam, janganlah melibatkan pihak lain, datanglah padaku !!" Raja Erlang membentak.
"Hahahahaha..." Mozark tertawa. "Tenanglah kakakku yang terhormat. Sebelum kita bersenang-senang, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa Putrimu juga disini ?" tanya Mozark.
Rahanng Raja Erlang mengeras. "Untuk apa kamu mencari Putriku ?"
"Hahahahah.." Mozark tertawa. "Kenapa aku mencarinya ? Tentu saja, aku masih menyukai putrimu."
Mozark kembali bersuara. "Pasti Putrimu ada disini."
"Dari mana dia tau ?" batin Raja Erlang. "Apa masih ada penghianat di dalam Kerajaanku ?" lanjutnya.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Putriku untukmu !!" Raja Erlang membentak.
"Aku harap semuanya tetap di ruangan mereka, jadi tak hanya Putraku dan Sean saja melindungi Putriku." batin Raja Erlang.
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin melepaskan Putrimu, maka akan kubuat kau melepaskannya !!" ucap Mozark, dan ia langsung mengambil satu langkah.
Mozark melompat ke arah Raja Erlang, sambil mengucap kata Sihirnya. "Pukulan Api Amarah!!"
Raja Erlang tak menghindar, ia menangkap pukulan Mozark. Lalu ia melemparnya ke arah sembarang. Mozark mengimbangi tubuhnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Mozark berdiri, ia tersenyum menyeringai. "Kekuatanmu sepertinya masih saja seperti itu. Lagipula aku ingin menguji hasil latihanku selama ini."
Mozark melompat lagi ke arah Raja Erlang sambil melancarkan aksinya. Mereka berdua saling memukul dan menendang. Mereka terlihat seimbang. Tanah saja bergetar.
.....
Sementara Disisi Lain.
Di 3 ruangan untuk para peserta, mereka memilih untuk berdiam dan melihat layar rekaman langsung dari arena. Mereka memilih diam karena merasa mereka bukan tandingannya pria asing itu.
Dan di salah satu ruangan peserta yang merupakan perkumpulan perwakilan Kerajaan Erlang, terlihat Zayden terus memeluk Rosalyn yang tak berhenti bergetar dan memenjam kedua matanya, karena ketakutan, ia teringat dimana saat paman akan melecehkannya.
Zayden terus menenangkan Rosalyn. "Tenanglah, kakak akan selalu menjagamu."
Sean menatap mereka berdua. Dalam pikirannya ia merasa khawatir kepada Rosalyn, dan juga ia bertanya-tanya. Kenapa Rosalyn terlihat ketakutan kepada pria asing itu. "Kenapa dia terlihat sangat ketakutan ?"
"Sebenarnya dia siapa ?" tanya Sean yang beralih ke arah layar rekaman langsung, dan memandangnya.
"Dia adalah Paman kami." jawab Zayden.
Sean kembali menoleh dan menatap Zayden. "Paman ?"
"Tepatnya, dia adalah adik angkat ayah kami." jawab Zayden.
"Tapi, kenapa Rosalyn..." Sean belum menyelesaikan pertanyaannya.
"Maaf Sean, aku tidak bisa jelaskan sekarang, karena kondisi adikku. Aku takut kondisi adikku semakin jadi jika teringat kejadian 3 tahun yang lalu." ucap Zayden yang memotong kata-kata Sean.
"Kejadian 3 tahun yang lalu ?" batin Sean, ia semakin penasaran.
Dalam pelukan Zayden, tiba-tiba Rosalyn teringat jelas kejadian 3 tahun yang lalu. Ia pun berjerit ketakutan sambil memenjam kedua matanya.
Zayden terus menenangkannya. "Tenanglah, kakak mohon tenanglah!! Kakakmu ini akan selalu ada disini untuk menjagamu dan melindungimu."
Sean yang tak tega, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk Rosalyn. Disini ia menyimpulkan kalau Paman dari kedua kakak beradik ini telah melakukan hal yang fatal terhadap Rosalyn.
Dilayar rekaman langsung dari arena, terlihat Raja Erlang sedikit kewalahan. Disini Sean menilai kalau adik angkat Raja Erlang lebih unggul. Ia segera bangkit dari duduknya.
"Sean, kamu mau kemana ?" tanya Zayden, saat Sean berjalan dan akan membuka pintu ruangan. Semua orang di ruangan itu melihat Sean.
Sean tak menjawab maupun menoleh, dengan wajah dinginnya, ia terus melangkah keluar dan menutup pintu ruangan. Ia pergi dari ruangan itu tanpa menjawab pertanyaan dari Zayden sama sekali.
Sean berjalan di lorong ruangan bawah tanah, ia akan mendekati anak tangga menuju ke arena. Dalam batinnya ia berkata. "Aku adalah seorang Prajurit Tentara dari Dunia Lain. Tugas Prajurit Tentara adalah menegakkan dan mempertahankan keadilan, serta melindungi orang-orang dari ancaman dan gangguan yang datang."
__ADS_1
"Maka dari itu, aku tidak akan tinggal diam."