
BUGH..!!
DUAK..!!
Salah satu siluman terjatuh dan belakang kepalanya menghantam lantai setelah wajahnya terhantam pukulan tangan logam kirinya Sean.
Siluman itu terjatuh, tetapi dia masih sadar. Mungkin karena efek perubahannya sehingga, daya tahannya di atas mahluk normal.
Sean langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya. Siluman itu berontak dan berusaha melepaskan diri. Tetapi usahanya sia-sia pasalnya, tangan yang digunakan Sean tangan logamnya.
Disisi siluman satunya, ia segera bergerak menyerang karena tak terima temannya diperlakukan seperti itu. Ia mengayunkan pedangnya sambil memutar tubuhnya agar ekornya juga mengenai Sean.
Namun Sean keburu, lompat menghindar. Meski melompat cengkraman tangannya sangat kuat, sehingga siluman yang sedang ia cekik juga ikut terbawa.
Setelah menghindar, Sean melempar siluman itu ke udara. Bersamaan, ia mengeluarkan rantainya dari cincin penyimpanannya. Ia memutar-putarkan dan langsung mencambuknya ke arah siluman yang ia lempar barusan.
Ketika rantainya memutar dan sudah mengikat tubuh siluman itu, Sean langsung menariknya. "Get Over Here..!!"
Siluman itu tertarik ke arah Sean. Setelah mendekat, dengan tangan kanannya, Sean langsung mencengkram wajah siluman itu, dan langsung menusukkan tangan logam kirinya ke arah dadanya.
JLEB..!!
Sean langsung menarik keluar tangannya. Di genggaman tangannya sudah terlihat benda hitam yang berdenyut. Sean meremasnya hingga hacur, dan mengeluar kan cairan hitam.
"Sialan kau !!"
Sean menoleh kepalanya, ia melihat sisa satu siluman lagi yang berteriak padanya.
"Beraninya kau membunuh rekanku !!"
Sean menjawab. "Tentu saja kubunuh, secara dia adalah siluman, sepertimu."
"Kepar4t...!! Kubunuh kau..!!"
Teman siluman satunya, berlari dan melompat ke arah Sean. Tindakannya terlihat gegabah, mungkin dia marah karena ada pemuda asing yang tiba-tiba muncul dan membunuh temannya.
Sean dan siluman itu bertarung. Mereka berdua melompat ke sana kemari. Mereka gerakan siluman yang ini, cukup lincah dan cepat dari siluman sebelumnya yang dibunuh oleh Sean.
Siluman yang satu ini bertarung dengan menggunakan kuku panjang dari semua jari di kedua tangannya. Sedangkan Sean hanya mengandalkan bela dirinya, sesekali ia menggunakan rantainya untuk mencambuknya.
Sementara disisi ke-6 remaja, semenjak Sean muncul, mereka terdiam dan membeku.
Dalam pikiran mereka ber-6 bertanya-tanya tentang siapa pemuda asing berpakaian dan jubah serba hitam, yang tiba-tiba datang membantu. Mereka tak bisa melihat keseluruhan wajahnya karena sebagian bawah wajahnya tertutup.
Yang membuat mereka ber6 terkejut, pemuda asing ini dapat membunuh satu siluman yang membuat mereka kewalahan.
Dan sekarang tersisa satu siluman lagi. Mereka ber-6 memilih berdiam, tidak membantu. Karena mereka bukan tandingan siluman ini. Jadi mereka yakin, pemuda asing ini, bisa mengalahkannya. Jika mereka ikut maju, bisa saja mereka menjadi beban.
Kembali disisi Sean, ia tak henti-hentinya memberi pukulan dan cambukan rantainya. Siluaman ini gerakannya sangat cepat dan lincah.
__ADS_1
Sean sendiri merasa kesal karena serangan bisa ditangkis dan dihindari. Sean berdiam menghentikan serangannya.
BUGH..!!
Perutnya terkena tendangan, Sean tak membalas ia tetap diam.
Sreett..!!
Craat..!!
Kini punggungnya terkena cakaran.
Sean masih diam, dan tak membalas.
Sreett..!!
Sreett..!!
Sreett..!!
Sean terus kena cakarannya, tetapi Sean masih diam tak memabalas.
Tindakan Sean membuat ke-6 remaja yang tengah melihatnya. Pasalnya luka Sean tertutup beberapa detik setelah menerima luka cakaran.
Tak hanya ke-6 remaja itu saja, bahkan siluman yang memberikan luka cakaran juga terkejut sekaligus heran, karena luka yang ia buat tertutup sembuh.
Greep..!!
Tiba-tiba Sean merasakan cengkaraman di lehernya. Rupanya siluman ini mencekik lehernya.
Leher Sean benar-baner dicekik, dan tubuhnya diangkat. Siluman itu menatapnya. "Kau takkan bisa mengalahkanku."
Sean menatap datar ke arahnya. Bahkan siluman itu bingung dengan tatapan Sean.
Greep..!!
"Lepaskan...!!" teriak siluman itu setelah melepaskan cekikannya.
Semua ke-6 remaja terkejut. Pasalnya posisi Sean yang awalnya dicekik dan tubuhnya diangkat, dengan mudahnya ia mencengkram wajah siluman itu, hingga cekikannya terlepas.
Sean mencengkram wajah siluman ini dengan tangan logamnya. Lalu ia mendorong dan menghantamkan kepala siluman itu ke lantai.
DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!!
DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!! DUGH..!!
Berkali-kali Sean mendorong dan menghantam kepala siluman ini ke lantai. Bahkan darah berwarna hitam pun hingga keluar dari belakang.
Sean melemparnya asal ke tempat, hingga tubuh siluman itu mengghantam tembok. Sean berjalan mendekatinya. Lalu ia mendudukinya, dan memberi pukulan di wajah siluman ini.
__ADS_1
BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!
BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!
Sean memberi pukulan tangan logamnya berkali-kali. Lalu ia menghentikan pukulannya, merasa puas telah membuat wajah siluman ini penuh dengan noda darah hitam.
Siluman ini masih bernafas, hanya saja Wajahnya yang sudah penuh luka parah bukan main. Sean bangkit, lalu ia mengambil rantainya untuk mengikat siluman ini.
Setelah diikat, Sean berjalan sambil menyeret ujung rantainya yang mengikati siluman ini. Sean berjalan sambil menyeret si siluman. Ia berjalan mendekati ke ke-6 remaja yang masih diam menatapnya.
Sean berhenti berjalan. Jarak ia berdiri dengan ke-6 remaja itu hanya 10 meter saja. Sean melihat ke-6 remaja ini, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Ada 2 perempuan berwajah sama, mungkin saudara kembar.
Lalu Sean melempar siluman ini di hadapan ke-6 remaja itu. Sean langsung berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.
Salah satu dari ke-6 remaja itu berjalan beberapa langkah. "Kau siapa ?"
Sean berhenti, lalu ia sedikit menoleh kepalanya, dan menjawab. "Aku hanya Prajurit yang kebetulan lewat."
Setelah menjawab, dalam batinnya, Sean mengucapkan kata Sihir. "Thrust Flame."
Sean pun terbang menggunakan Sihir Apinya. Ia mengantamkan atap mall hingga berlubang. Masa bodo rusak, yang penting ia pergi dari tempat itu.
Sementara Disisi ke-6 remaja itu.
"Dia sungguh hebat."
"Dia bisa terbang dengan menggunakan Sihir elemen Apinya."
"Dia hebat, tapi siapa dia ?"
"Dia menyebutnya dirinya seorang Prajurit."
"Sudahlah, ayo kita laporkan kalau tugas kali ini sudah selesai, aku ingin segera istirahat."
Semua mengangguk kepalanya. Lalu mereka segera memanggil para pasukan khusus yang sudah menunggu pertarungan mereka.
Sebenarnya para pasukan khusus bisa membantu mereka, tetapi tugas mereka adalah berjaga agar tidak ada warga sipil yang lewat. Itulah perintah dari atasan mereka.
.....
Sementara, disisi lain Sean masih terbang di langit yang sudah gelap malam. Ia melihat sekeliling bawahnya. Ia melihat pemandangan kota yang terang lampu. Entah lampu-lampu kota ataupun lampu-lampu kendaraan.
Sean segera mendaratkan kakinya di atap salah satu gedung yang tinggi. Ia duduk di pinggir atap gedung itu untuk menikmati pemandangan kota.
Saat sedang asik melihat pemandangan kota, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sean langsung berdiri dan berbalik, ia melihat seseorang pria dewasa mengenakan pakaian hanfu hitam dan jubah keemasan.
__ADS_1