
Semua tersenyum mendengar ucapan Dr. Alex yang mengakui dirinya adalah suaminya Liona. Mereka paham, kalau ayahnya Sean sangat mencintai Liona. Begitu juga dengan Liona, kalau sudah takdir mereka bersatu, pasti bisa terjadi.
Disini, secara satu-persatu Brian, Arron dan yang lainnya saling memperkenalkan diri kepada Dr. Alex. Setelah sudah meperkenalkan diri, Sean dan Rosalyn mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Brian, Arron, dan yang lainnya berpamitan kepada Dr. Alex dan Liona. Setelah di dalam, di ruang tamu, Sean dan Rosalyn mempersilahkan Brian, Arron dan yang lainnya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
Sean meminta Rosalyn untuk duduk saja, karena ia akan membuat teh hangat untuk tamunya. Rosalyn pun duduk. Sambil menunggu Sean, mereka semua saling berbagi cerita.
Tak lama, kemudian Sean datang membawa nampan besar yang sudah berisi makanan ringan, 13 cangkir kosong dan 1 teko besar yang sudah berisikan air teh penuh.
Sean pun menuangkan teh hangat ke cangkir-cangkir mereka. Sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan mereka saling bercerita, membagikan pengalaman mereka masing-masing.
.....
Hari pun telah siang.
Semua teman-teman Sean dan Rosalyn berpamitan untuk pulang. Mereka juga tak lupa berpamitan kepada Dr. Alex dan Liona yang tengah bersih-bersih toko. Setelah melihat mereka sudah pergi, Sean dan Liona kembali membantu Dr. Alex dan Liona.
Lagi-lagi Rosalyn disuruh untuk duduk tidak boleh membantu. Mau tak mau Rosalyn menurutinya. Ia hanya bisa melihat Sean, Dr. Alex dan Liona membersihkan sekeliling toko obat. Sean dan Dr. Alex mencabut rumput liar, dan Liona, ia menyapu daun kering yany berserakan.
Beberapa lama kemudian, akhirnya mereka selesai. Liona menatap ke arah rumahnya, rupanya Sean, Rosalyn, dan teman-temannya masih belum selesai. Tak apalah, yang terpenting, di kediamannya damai tanpa ada masalah.
Tiba-tiba terdengar suara mendekat. Mereka berempat menoleh dan melihat 2 kereta kuda. Mungkin asing di mata Dr. Alex, tapi tidak di mata Liona, Sean ,dan Rosalyn. Wanita yang masih terlihat muda ini sangat mengenal 2 kereta kuda itu.
Pintu dari kedua kereta kuda itu terbuka, sesuai dugaan Liona, ia melihat keluarga besarnya keluar dari kereta itu. Ya, keluarga Aratohrn telah datang ke kediamannya. Liona berlari ke arah Lison. Mereka saling berpelukkan.
Lalu Liona beralih ke pelukan ibunya yang berdiri disamping ayahnya. Mereka melepaskan pelukannya, Liona bersuara. "Kenapa Kalian datang kemari tanpa memberi kabar burung padaku ?"
__ADS_1
"Bagiku, berkunjung ke tempat salah satu anggota keluargaku, itu tidak perlu dilakukan." jawab Lison dan Ticia, ia tersenyum dan mengangguk kepalanya.
Sean dan Rosalyn mendekati mereka, dan menyambut kedatangan keluarga Aratohrn. Semua tersebut atas sambutan Sean dan istrinya. Dan untuk Natalia, ia sudah sepenuhnya menerima Sean sebagai sepupunya.
Tapi tidak untuk Gabrio. Dari tatapannya, orang ini seakan ia masih manaruh rasa tak suka. Tapi bagi Sean, masa bodoh. Lagi pula Gabrio mana berani dengannya. Mengingat kalau Sean bisa menggunakan Sihir Petir dan memiliki salah satu Senjata Legendaris.
Tiba-tiba pandangan Lison tertuju ke arah Dr. Alex yang tengah berdiri memandangnya, ia terbelalak. "Di-dia..?"
Pandangan Liona menuju ke arah pandangan ayahnya. Ia menjawab. "Iya, ayah, dia suamiku yang selama ini terpisah dariku."
Jawaban Liona membuat semua keluarganya terkejut bukan main. Liona melambaikan tangannya ke arah suaminya untuk mendekat. Dr. Alex pun berjalan mendekati mereka.
Dalam pikirannya, Dr. Alex sudah tau latar belakang dan sisilah dari keluarga istrinya. Jadi ia takkan kaget dengan keluarga istrinya yang merupakan keluarga Bangsawan dan bertelinga lancip ini.
Mungkin anggota keluarga besar istrinya asing di matanya, tetapi tidak untuk Lison. Karena ia pernah bertemu sekali dengannya disaat Liona dijemput paksa. Dr. Alex sudah berdiri dihadapan Lison.
Lison memegang pundak Dr. Alex. "Kabarku sangat baik. Maafkan aku saat..."
"Liona sudah bercerita padaku, jadi tidak masalah." jawab Dr. Alex memotong kata-kata ayah mertuanya.
Lison tersenyum, ia merasa lega karena Dr. Alex tidak menaruh dendam padanya. Lalu Liona mengajak semua keluarganya masuk ke dalam rumah. Setelah di dalam ruang tamu, mereka duduk di kursi mereka masing-masing.
Liona pun memperkenalkan Dr. Alex kepada keluarga besarnya, dan tentang siapa Dr. Alex ini. Semua terkejut bukan main. Pasalnya seperti yang mereka ketahui, kalau suaminya Liona telah dinyatakan meninggal. Tapi kenapa sekarang ada di depan mereka ?
Lison yang penasaran, ia pun bertanya. "Kalau aku boleh bertanya, bagaimana kamu bisa datang ke Dunia ini ? Dan bukankah..."
Dr. Alex memotong kata-kata Lison. Ia menceritakan semua tentang dirinya, dari ia membantu Sean, hingga ia tinggal datang ke Dunia ini. Ia bercerita tanpa lebih-lebihkan atau dikurangkan.
__ADS_1
Semua paham setelah mendengar cerita Dr. Alex mereka pun paham. Lison dan yang lainnya senang, karena Liona telah bersatu kembali dengan suaminya. Lison benar-benar tak menyangka, keluarga besarnya bertambah.
Namun disisi lain Gabrio tak suka dengan Dr. Alex. "Aku tak percaya dengan cerita karanganmu."
Seketika semua menoleh ke orang yang barusan mengeluarkan kata-kata itu. Orang itu bersuara lagi. "Bisa saja kamu tertarik dengan bibi Liona, jadi kamu mengaku-ngaku."
Siapa lagi kalau bukan Gabrio. Sudah Sean duga, kalau laki-laki ini masih menyukai ibunya. Sungguh sepupu berotak udang. Disisi keluarga Aratohrn, mereka semua terbelalak tak percaya kalau Gabrio masih menyukai bibinya sendiri.
"Aku sangat mengenali wajah suami dari bibimu, meskipun hanya sekali aku melihat wajahnya. Dari auranya aku sudah aku kenali, jadi tidak mungkin semua adalah karangan." ucap Lison yang marah kepada cucunya yang satu ini.
Kadang Lison masih heran saja dengan Gabrio yang masih menyukai bibinya sendiri. Kapan dia berubah dan mencari wanita lain ?
"Gabrio..., jika kamu masih belum berubah, aku tidak akan mengakuimu sebagai anakku lagi..!!" kata Claudia.
Gabrio berdiri dari duduknya, ia memandang Claudia. "Ayolah bu.., kali ini tebakanku takkan salah. Kalau pria asing ini hanyalah mengaku-ngaku."
Semua semakin menatap tajam ke arah Gabrio. Liona menatap tajam dan marah ke arah keponakannya yang sudah berkata yang tidak-tidak tentang suaminya. Sedangkan Dr. Alex sendiri hanya menatap dingin ke arah Gabrio.
Dan Sean, saat ia ingin bersuara, Dr. Alex lebih dulu berkata padanya. "Sean, sebenarnya dia siapa ?"
Sean menjawab. "Dia adalah seorang keponakan yang tak tau diri, karena telah berani menyukai bibinya sendiri."
Dr. Alex mengangkat alis sebelahnya. Sean menjelakan. "Tepatnya dia menyukai istrimu, ayah."
"Oh." sahut Dr. Alex dengan tenang.
Semua yang mendengar mengernyit dahinya. Dr. Alex masih duduk tenang, lalu ia mengarah tangan kanannya ke arah Gabrio. Seketika tangan kanannya berubah menjadi meriam.
__ADS_1
Dr. Alex berkata. "Istriku, bolehkah aku memberi pelajaran kepada keponakanmu yang terlihat menyedihkan ini."