OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 47


__ADS_3

Sling..!!


Craattt..!!


Edi yang juga tadinya tersenyum karena berhasil memberi luka garis yang panjang di dada Sean, namun seketika senyumannya memudar, karena luka Sean tertutup, dan sembuh Kembali dalam sekejap.


Sean menatap dingin ke arah Edi. Ia tak peduli dengan tatapan-tatapan semua orang yang melihatnya. Mata Sean terfokus kepada Edi.


Edi yang sudah terlanjur menyerang Sean, dan tak ingin malu, ia kembali menyerang Sean dengan pedangnya. Ia mengucap kata Sihirnya. "Tebasan Bilah Pedang Angin !!"


Wuussss...!!


Sebuah angin berbentuk sabit melaju cepat ke arah Sean. Sean berputar ke samping untuk menghindar serangan Sihir milik Edi. Dengan satu lompatan, Edi melompat cepat ke arah Sean.


Edi melayangkan pedangnya untuk menebak Sean. Disisi Sean, ia berputar salto ke belakang, ia menghindari tebasan Edi. Sebenarnya tanpa menghindar, Sean tak apa-apa karena regenerasi miliknya.


Sean memilih menghindar untuk melihat batas dimana kemampuan kakak dari Darold ini. Apakah kehebatannya bisa setingkat kepercayaan dirinya ?


Sean terus menghindar serangan pedang Edo. Sean memilih untuk tidak menyerang, dan ia tidak akan mengeluarkan senapannya atau pistolnya. Bergantung senjata dari asal dunianya, membuat dia harus berfikir berkali-kali.


Pasalnya, kalau ia terus-menerus menggunakan senapan, atau pistolnya, suatu saat pelurunya cepat habis. Karena selama ini, ia menggunakan senjata asal dunianya selama mengambil misi. Mungkin sudah tinggal 2000-an butir peluru yang tersisa.


Kembali ke situasi sekarang.


Sean tetap terus menghindar serangan pedang dan serangan Sihir milik Edi. Edi semakin marah, karena semua serangannya tidak mengenai Sean sama sekali. Semua orang yang melihat membeku melihat aksi Edi dan Sean.


Mereka justru merasa tegang. Sedangkan Rosalyn, ia tetap tenang, karena ia percaya kalau Sean tidaklah lemah. Justru Rosalyn menganggap Sean masih menahan kekuatannya.


Salah satu murid perempuan dari akademi mendekati Rosalyn. "Guru Rosalyn, apa sebaiknya kita semua menghentikan mereka berdua ? Telihat kalau Tuan Edi cukup berbahaya untuk Tuan Sean."


"Tidak perlu, Lena. Saya yakin Kak Sean tidak akan terluka." jawab Rosalyn dengan yakin.


"Tapi, sejak tadi, Tuan Sean menghindar terus." balas Lena, ia merupakan salah satu murid dari kelas yang diwalikan oleh Rosalyn.


Rosalyn tidak menjawab, ia fokus melihat Sean yang dari tadi tidak membalas atau menangkis serangan pedang dan serangan Sihir milik Edi.


Edi pun berhenti. Sean pun juga berhenti. Mereka saling berhadapan, jarak mereka berdua hanya 10 meter saja. Edi memandang Sean dangan wajah marahnya. "Jangan hanya menghindar, seranglah aku. Apa keahlianmu hanya bisa menghindar ?"

__ADS_1


Sean masih diam. Edi bersuara lagi dengan senyuman mengejek. "Sepertinya cerita adikku hanyalah kebohongan. Dia menceritakan kalau dirimu sangay hebat, tapi ternyata kamu hanya bisa menghindar saja."


Sean menghela nafasnya. Ia pun menjawab. "Majulah, aku tidak akan menghindar."


Edi sedikit melirik ke arah Rosalyn yang masih diam memperhatikan dirinya dan Sean. Edi tersenyum menyeringai. "Janganlah menyesali perkataanmu."


Edi mengambil satu langkah, seketika ia sudah ada di depan Sean sambil melayangkan pedangnya untuk menyerang Sean.


Tang..!!


Edi terbelalak, Sean menahan serangan pedangnya dengan lengan kirinya. Namun yang membuatnya terkejut, serangannya hanya ditahan dengan lengan dan menimbulkan suara logam yang saling beradu.


BUGH..!! Sean memukul wajah Edi dengan tangan kanannya.


BUGH..!! Tangan kanan Sean memukul perut Edi. Pukulannya membuat Edi terdorong kebelakang beberapa meter.


Semua orang disana terkejut melihatnya. 2 pukulan mampu membuat Edi terdorong mundur.


Disisi Edi, Ujung pedangnya menyentuh tanah, membantu menahan tubub Edi. Ia meringis kesakitan karena rasa sakit di wajah dan perutnya.


Edi berdiri, ia menahan rasa sakitnya. Ia mengarahkan ujung pedangnya ke arah Sean. "Lumayan juga pukulanmu."


Edi mengambil satu langkah lagi, dalam sekejap ia sudah ada di depan Sean, dan langsung melayangkan pedangnya lagi.


Sean memutarkan tubuhnya untuk menghindar. Bersamaan, ia melayangkan kakinya untuk memberi hantaman ke perut Edi.


DUGH..!!


Edi terdorong kebelakang lagi. Entah kenapa ia merasa Sean terlalu bahaya untuknya. Tetapi, karena tak ingin malu, ia menggunakan alas kakinya untuk menahan tubuhnya agar tidak mundur terlalu jauh, dan langsung melompat ke arah Sean lagi.


Edi menyerang dengan pedangnya. Lagi-lagi Sean menghindar lagi. Bagi Sean, Edi mengorbankan kecepatannya hanya untuk meningkatkan kekuatan fisiknya. Jadi gerakannya terbaca.


Begitu menghidar satu langkah ke samping, Sean langsung memberi pukulan ke wajah Edi.


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!

__ADS_1


Tak hanya wajah, Sean juga memberi pukulan pada perut, dan dada Edi. Gerakan Sean cukup cepat, Edi dibuat kewalahan, ia tak bisa melihat celah sama sekali.


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


Ingin sekali membalas, tetapi gerakan pukulan Sean benar-benar cepat. Sean berhenti, terlihat Edi sempoyongan. Melihat itu, Sean sedikit melompat dan memutar tubuhnya sambil memberi tendangan yang kuat ke arah dada Edi.


DUGH..!!


Edi dan terdorong kebelakang, dan akhirnya ia terjatuh. Ia berusaha berdiri, ia masih tak mau mengakui kalau dirinya kalah. Edi sudah berdiri, ia terlihat sempoyongan lemas. Ia menggenggam erat Pedangnya.


Sean mengarahkan salah satu tangannya ke arah Edi. Dalam batinnya berkata. "Earth Bullet Rain Attack."


Tiba-tiba tanah yang ada di sekitar Sean, menyerang ke arah Edi. Serangan Sean seperti hujan. Edi terkena, dan terdorong jatuh, karena tak bisa menahan serangan Sihir hujan tanah milik Sean.


Sean menyudahi serangannya. Edi masih berusaha untuk berdiri. Ia merasa malu jika kalah oleh Sean. Sungguh luar biasa rasa harga dirinya.


Sean mengeluarkan yang sangat panjang dari cincin penyimpanan miliknya. Sean memutar-putar rantainya, lalu ia melemparnya bagaikan cambuk ke arah Edi.


Ujung rantainya berhasil meraih tubuh Edi, memutar, dan mengikatnya. Sean yang menggenggam ujung rantai satunya lagi, dengan kuat-kuat ia menariknya. "Get Over Here !!"


Edi pun tertarik kuat ke arahnya. Ketika mendekat, dengan tangan kanannya, Sean langsung mencengkram wajah Edi dan menghantamkannya ke lantai.


DUAGH..!!


Seketika Edi tak sadarkan diri.


Sean memasukan kembali rantainya ke cincin penyimpanannya. Lalu ia melihat-lihar ke-19 orang yang ada di tempat itu.


"Apa dari kalian bisa menyembuhkan luka-lukanya ?" tanya Sean.


Beberapa murid akademi dan beberapa orang seumuran dengan Sean mengangkat tanganya. Sean bersuara. "Baiklah salah satu dari kalian, silahkan sembuhkan dia. Kalau dia mati, bisa tambah repot nanti."


Semua yang mendengar tak berani menjawab. Namun, ada salah satu dari mereka berjalan mendekati Edi. Ia menggunakan Sihir Cahaya miliknya untuk memulihkan luka-lukanya.


Melihat itu, Sean berjalan meninggalkan arena latihan. Ia memilih untuk duduk di salah satu kursi penonton, ia mengeluarkan sebuah buku dari cincin penyimpanannya. Lalu ia membacanya.

__ADS_1


__ADS_2