OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 60


__ADS_3


Masih Di Kediaman Aratohrn.


Sean tengah duduk di sebuah gazebo. Ia melihat ibunya tengah merawat bunga-bunga, dan tanam-tanaman bersama yang lainnya. Ibunya terlihat senang berkebun bersama anggota keluarganya dan dibantu tukang kebun mereka.


Sean tak sendiri, ia duduk berhadapan dengan Gabrio. Gabrio yang menatap remeh padanya, Sean membalasnya dengan tatapan dingin.


"Meski semua keluarga ini menerimamu, jangan harap kalau aku juga menerimamu." ucap Gabrio tersenyum mengejek.


Sean tak menjawab, ia hanya memandang dingin ke arah Gabrio. Gabiro kembali bersuara. "Lagipula, kamu ini di Tingkat Apa ? Perunggu ? Perak ?"


Sean meraih cangkir tehnya, sebelum meminumnya, ia berkata. "Aku tak peduli dengan kata-kata yang dilontarkan dari seseorang berpura-pura berlagak kuat."


Gabrio yang mendengarnya menatap tajam ke arah Sean. "Kamu hanyalah pendatang baru disini !!"


Sean membalas. "Dan kamu adalah seorang yang baru saja merasakan pubertas."


Gabrio bangkit dari duduknya. Ia marah dengan kata-kata yang dilontarkan Sean padanya.


Sementara, disisi lain, para perempuan tengah asik berkebun dan merawat bunga-bunga. Liona bagian membetulkan tanah, ia bersama Ticia. Ticia adalah istri pertama ayahnya, tepatnya ibu tirinya.


Meskipun ibu tiri, Ticia tidak membanding-bandingkan kasih sayangnya. Ia menerima Liona dan menyayanginya. Ticia pun mengajaknya berbicara. "Apa kamu tidak berfikir untuk menikah lagi ?"


Liona diam sejenak. Lalu ia meneruskan kegiatannya, Ticia menghela nafasnya, lalu ia bersuara. "Sudah berapa banyak laki-laki yang kamu tolak lamarannya ?"


Liona mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." lalu ia menambahkan. "Aku tidak pernah berfikir untuk menikah lagi. Sekarang yang kupikirkan adalah kebahagian Putraku."


Ticia tersenyum. Lalu ia menatap Sean yang tengah diam duduk di kursi yang sudah disediakan di dalam gazebo. Pandangan Ticia kembali beralih ke Liona. "Kamu benar-benar menyayangi Putramu."


Liona tersenyum, ia membalas. "Suamiku saja tidak menikah lagi setelah kita berpisah, dia bisa menjaga Sean hingga akhir hayatnya. Dan sekarang, aku yang menjaganya."


"Apapun keputusanmu, ibu akan mendukungmu." kata Ticia.


Liona tersenyum. Lalu ia terdiam, dan beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu mengenai Putranya.


.

__ADS_1


Braakk...!!


Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja. Semua orang yang di taman menoleh ke sumber suara itu. Pandangan mereka semua tertuju ke arah gazebo.


Terlihat Gabrio berdiri dengan kedua tangannya di meja. Ia memberikan tatapan tak suka dan marah ke arah Sean yang tengah sambil meminum tehnya.


Semua berjalan cepat mendekati gazebo. Claudia lebih dulu santai. "Ada apa ini ? Kenapa ada terdengar ribut disini ?"


Setelah Claudia, barulah Elisa, Iola, Natalia, Ticia, dan Liona yang telah sampai di gazebo. Natalia yang merupakan kakak sepupu, ia mendekati Gabrio dan menenangkannya.


"Tenanglah." ucap Natalia, ia melirik datar ke arah Sean.


Claudia mendekati Putranya. "Sebenarnya, ada apa ?"


Gabrio menjawab. "Bu, aku tidak suka dengan orang ini." jawabnya sambil menunjuk ke arah Sean.


Ticia bersuara. "Apa alasanmu tak menyukainya, Gabrio ? Sean adalah sepupumu, dan juga cucuku."


Gabrio tak menjawab, ia hanya memandang marah ke arah Sean yang santainya kembali meminum tehnya.


Sean kembali meletakan cangkir tehnya. Lalu ia menatap ke arah Gabrio. "Aku hanya mengejeknya."


Semua terkejut mendengar jawaban Sean. Liona menatap heran ke arah Putranya. "Kenapa kamu mengejeknya ? Apa masalahnya sampai-sampai kamu mengejeknya ?"


Claudia pun bersuara. "Nak Sean, maaf sebelumnya, mungkin kamu adalah bagian keluarga kami. Tetapi, setidaknya jagalah sikapmu, karena kita semua baru mengenalmu."


Sean terkekeh. Lalu ia menjawab. "Aku mengejeknya karena memiliki alasan. Karena dia lebih dulu mengejekku, maka aku balik mengejeknya. Tapi, dianya malah marah tidak terima. Padahal dia yang mulai duluan."


Semua terdiam mendengarnya, lalu semua orang menatap ke arah Gabrio. Gabrio terlihat sedikit gugup. Disisi Sean meraih kembali cangkir tehnya, lalu ia berguman "Untung saja aku lebih dulu mengambil cangkir tehku. Kalau tidak, tehku akan terbuang sia-sia."


Gumanan Sean terdengar semua orang disitu. Sean segera bangkit dari duduknya, ia menatap ibunya. "Ibu, aku pergi dulu. Aku mau menjenguk Putri Rosalyn."


Liona memegang dagunya. "Tuan Putri Rosalyn ya ? Benar, dia pasti memiliki trauma karena melihat Pamannya." lalu Liona menatap Sean. "Baiklah, ibu akan ikut denganmu."


Sean memandang heran. "Ibu yakin ?"


Liona mengangguk kepalanya. "Tentu saja, ada hal juga yang ingin ibu sampaikan ke Yang Mulia Raja Roux."

__ADS_1


Sean mengangguk kepalanya. Liona berpamitan untuk segera menggantikan pakaiannya. Setelah kepergian ibunya, pandangan Sean beralih ke arah Gabrio yang tengah dimarahi oleh ibunya.


"Hilangkan sifat jelekmu itu !! Tak hanya ibu, ayahmu, dan semuanya yang ada disini tidak suka dengan sifatmu yang memandang remeh orang lain !!" Claudia memarahi Putranya.


Gabrio menjawab sambil menatap tajam ke arah Sean. "Aku merasa dia menipu kita."


Tak hanya Claudia, Ticia, Elisa, dan Iola heran dengan pemikiran salah satu anggot keluarga mereka yang satu ini. Gabrio menambahkan. "Sepertinya, dia melakukan Sihir untuk memanipulasi hasil hubungan darah ? Dia sudah menipu kita."


Ticia membalas. "Kalau dia menipu kita, dan menggunakan Sihir untuk memanipulasi, disitu pasti aku merasakannya. Tetapi aku tidak merasakan apapun, semua murni. Kalau Sean juga salah satu cucuku."


"Gabrio, ibu mohon hilangkanlah sifat jelekmu ini, itu tidak baik." Claudia menambahkan, ia heran dengan pemikiran Putranya yang terkadang bertolak belakang jika tidak ada hal yang tidak disukainya.


"Tetapi, firasatku mengatakan, kalau orang ini adalah penipu, dia hanya ingin mendekati bibi Liona." Gabrio tetap kekeh dengan pemikiran karena ketidaksukaannya.


Semua semakin heran dengan pemikiran Gabrio yang mulai entah kemana. Gabrio mendekati Sean. Kini mereka saling berhadapan dan menatap.


Gabrio menatap remeh. "Karena kecantikan bibi Liona, kamu menyukainya dan selalu ingin dekat dengannya. kamu menipu kami."


Semua semakin heran dengan pemikiran Gabrio. Bisa-bisanya ia berkata yang tidak-tidak. Ticia yang tak tak suka perkataan salah satu cucunya yang satu ini, ia pun bersuara. "Gabrio, jujur saja, nenek merasa kecewa padamu."


Semua memandang Sean, yang sudah menatap tajam ke Gabrio. Mereka menduga, kalau Sean tak terima perkataan Gabrio yang tidak wajar.


Mereka segera menengahi Sean dan Gabrio, tetapi seketika mereka membeku. Karena mereka merasakan aura membunuh, mereka memandang Sean yang sudah mengeluarkan aura membunuhnya.


Disisi Sean yang sangat marah karena dirinya dijelekan, bahkan ibunya dibawa-bawa. Tanpa sadari, ia mengeluarkan aura membunuhnya. Ini adalah murni dan pertama kalinya Sean mengeluarkan aura membunuh, bahkan ia sendiri tak pernah mempelajarinya.


Semua orang di taman merasakannya, bahkan tukang kebun yang sedang mengurusi kebun keluarga Aratohrn pun juga merasakan auranya.


Semua terdiam membeku, tak bisa bergerak. Aura membunuh yang dikeluarkan Sean sangatlah kuat. Mereka membatin. "Sebenarnya, sudah berapa banyak yang telah ia bunuh ?"


Gabrio saja yang ada dihadapan Sean saja, ia berwajah pucat, ia berkeringat dingin, dan tubuhnya terlihat sedikit gemetaran.


"Penipu ?" sahut Sean dingin.


"Penipu Gundulmu..!!" tambahnya sambil membentak persis di depan wajah Gabrio.


Dalam diamnya, Gabrio terkejut, bahkan kedua matanya terbuka lebar. Tak hanya dia, semua yang disana juga kaget bukan main.

__ADS_1


__ADS_2