OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 68


__ADS_3

Pria tua itu menyelesaikan kata-katanya. Sean menatapnya, lalu ia bertanya. "Lalu, apa tujuanmu membawa ku ke tempat ini ?"


"Ahh, karena saat aku melihatmu akan terjatuh, maka aku menyelamatkanmu dan membawa ke tempat ini."


"Menyelamatkanku ?" sahut Sean.


Pria tua itu mengangguk kepalanya. "Karena aku telah menyelamatkanmu, jadi ingin menyapamu dan berbincang-bincang denganmu."


Sean memutar bola matanya. "Kalau menyapa dan berbincang-bincang, tak masalah. Tetapi, untuk menyelamatkanku tak ada gunanya." jawab Sean.


"Bukankah kamu kehabisan energi mana-mu ? Kalau kamu menggunakan sisa-sisa energi mana-mu untuk membantumu mendarat, belum tentu kamu mendarat dengan mulus."


Sean membalas. "Aku memiliki kemampuan regenerasi. Jadi, jika aku terluka, kemampuan regenerasiku akan bekerja."


Pria tua itu terkekeh mendengarnya. Sean berkata. "Kenapa kau ketawa ?"


Pria tua itu menghentikan tawanya. Lalu ia menjawab. "Benarkah ? Apa kamu sudah lupa kelemahanmu sendiri ?"


Sean menatap datar ke arah orang tua ini. "Kamu tau kelemahanku ?"


"Bukankah sudah kuberitahu sebelumnya ? Salah satu tugasku adalah penjaga Multiverse, maka aku tau semua aktifitas-aktifitas mahluk hidup di dalamnya."


"Aku bertanya, kamu tau kelemahanku ?" sahut Sean mengulang pertanyaannya.


Pria tua itu terkekeh. "Tentu saja aku tau kelemahanmu. Meskipun kamu kehabisan energi mana, kamu masih bisa bangkit, secara kekuatan fisikmu lebih unggul."


Pria tua itu menambahkan. "Dan memang benar kamu memiliki kemampuan regenerasi, memenggal kepalamu saja belum cukup untuk menjatuhkanmu ataupun membunuhmu. Namun, kelemahanmu yang paling utama adalah, darahmu."


"Jika kamu masih memiliki banyak darah di dalam tubuhmu, tentu saja kemampuan regenerasimu masih berlaku. Tetapi, jika kamu diserang terus-terusan tanpa henti, dan mengeluarkan banyak darah, kamu tahu 'kan artinya ?" lanjutnya.


Sean terdiam dan terus menatap datar ke arah pria tua itu. Pria tua itu melanjutkan kata-katanya. "Regenerasimu akan melambat. Dan jika darahmu sudah benar-benar mencapai batas atau kehabisan, regenerasimu sudah tak berlaku lagi."


Sean akui, apa yang dikatakan Pria tua ini sangat benar. Karena selama ini yang tau kelemahannya hanyalah dirinya, dan mendiang ayahnya. Jika darahnya tinggal sedikit, maka regenerasinya tidak akan berlaku lagi.


Menurut fakta kesehatan, supaya darahnya bisa bertambah lagi, yaitu istirahat yang teratur, mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi yang tinggi, dan makanan yang banyak mengandung vitamin.


Tetapi tidak berlaku untuk Sean. Biasanya jika ia setelah bertarung, atau mengeluarkan darah, biasanya ia akan memperbanyak istirahatnya atau waktu tidurnya.


"Apa yang kukatakan benar 'kan ?"


Sean mengangguk kepalanya. "Benar."


"Maka dari itu, aku membawamu kemari. Coba kamu bayangkan, kamu jatuh dari ketinggian 3 km di udara, dan energi mana-mu sudah akan habis. Bisa-bisa kamu mengeluarkan banyak darah karena tubuhmu hancur setelah menghantam tanah permukaan tanah."


Sean membalas. "Yah, kalau begitu, Terimakasih. Tetapi, kenapa kamu menyelamatkanku ?"


Pria tua itu menjawab. "Aku tak ingin perbuatanku sia-sia. Aku sudah memindahkanmu ke dunia barumu secara utuh agar kamu bisa bertemu dengan ibumu, tetapi kamu mati jatuh karena kehabisan energi mana. Sungguh memalukan membayangkannya."

__ADS_1


Lalu ia menambahkan. "Aku tak ingin kamu mati konyol, sehingga aku harus menggunakan kekuatanku untuk mereinkarnasikan jiwamu. Padahal aku sudah memindahkanmu secara utuh. Bukankah tindakanku sebelumnya sia-sia."


Sean membalas. "Dasar perhitungan!!"


"Terserah kamu menyebutkanku seperti apa."


Lalu mereka terdiam. Pria tua ia mengarahkan telapak tangannya ke arah Sean, dan keluarlah sorot cahaya. "Aku akan mulihkan energi mana-mu."


"Apa karena aku bilang kamu perhitungan, jadi kamu memulihkan mana-ku ?" tanya Sean mengejek. Pria tua itu tak menjawab.


Tak mendengar jawaban dari Pria tua itu, Sean melihat sekelilingnya. Ia melihat banyak sekali Dunia-Dunia yang diawasi oleh pria tua ini.


"Apa kamu tertarik untuk masuk ke dunia lain ?" tanya pria tua itu setelah memulihkan energi mana-nya Sean.


Sean menatapnya. "Sebenarnya aku sedikit tertarik, tetapi aku memikirkan kalau aku takkan bisa kembali satu dunia dengan ibuku."


Pria tua itu mengarahkan tanganya ke arah Sean. Lalu muncullah 2 Ring di hadapan pemuda ini.


Sean terkejut. "Ring ?"


Pria tua itu tersenyum. "Masing-masing dari Ring itu digunakan untuk membuka portal untuk melintasi dunia lain."


Sean membalas. "Aku pernah mendengar cerita ibuku, kalau kakek buyut palsuku dulu pernah memiliki ini, sehingga ibuku membuka portal ke dunia asal ayahku."


Pria tua itu terkekeh. "Sebenarnya dulu aku ceroboh, karena dulu aku ingin jalan-jalan di dunia asal ibumu. Tetapi saat aku akan pergi dari sana, tanpa kusadari aku menjatuhkannya."


"Mungkin seperti itu, karena pada saat itu aku kurang fokus." jawabnya sambil terkekeh.


"Kenapa kamu tidak merebutkannya kembali ?" tanya Sean.


"Karena aku penasaran, apa yang akan dilakukan oleh kakek buyut palsumu dengan Ring milikku. Namun, hal yang tak terduga, malah ibumu yang menggunakan dan melahirkan sosok pemuda sepertimu." jawabnya sambil tertawa geli.


"Dasar Sinting." umpat Sean, sedangkan pria tua itu, masih tertawa.


Sean meraih 2 Ring yang melayang di hadapannya. "Mungkin aku ingin mencobanya."


lalu Sean melihat-lihat Ring digenggamannya. Ia merasakan Sihir Cahaya dan Kegelapan pada Ring ini. Di kedua Ring ini, salah satunya tertulis D-31 dan Ring satunya lagi bertulis D-09.


Sean bersuara. "Bukankah katamu, hanya menyatukan, dan memanipulasikan Sihir Cahaya dan Kegelapan untuk bisa membuka portal ?"


"Benar, tetapi semua orang tak mudah menggunakan Sihir Cahaya dan Kegelapan secara bersamaan. Dari semua mahluk hidup di Multiverse, hanya Pria Arogan itu yang bisa menggunakan kedua Sihir itu secara bersamaan." jawab pria tua.


"Jadi untuk apa gunanya Ring ini ?" tanya Sean.


Pria tua itu menjelaskan. "Ring yang bertulis D-09, untuk membuka portal menuju Dunia asalmu. Dan Ring yang bertulis D-31, untuk membuka portal Dunia barumu yang saat ini kamu tempati, tepatnya jika kamu ingin pulang kembali, kamu tinggal menggunakan Ring yang itu."


Pria tua itu juga menjelaskan, kalau ketiga sebelumnya yang tak sengaja ia jatuhkan adalah 2 Ring bertulis D-09, dan 1 Ring bertulis D-31.

__ADS_1


Sean menyerah Ring yang bertulis D-09. "Aku tak ingin balik ke Dunia asalku. Aku disana sudah difitnah dan cap buronan. Aku ingin Ring D-31 untuk pulangku nantinya."


Pria tua itu menghilangkan Ring D-09 yang diberikan Sean padanya. Lalu ia memunculkan Ring yang baru. "Ring ini bertulis D-25. Ring ini akan membuka portal untuk pergi ke salah satu Dunia Modern yang menyerupai Dunia asalmu. Tetapi Dunia ini tak ada Perang Dunia seperti Dunia asalmu."


"Dunia D-25 tak hanya Modern, tetapi juga termasuk Dunia Sihir. Dan musuh utama di Dunia D-25 adalah siluman. Mungkin kamu bisa mencari pengalaman di Dunia ini."


"Baiklah, aku ingin mencobanya." jawab Sean sambil menyimpan Ring D-31 di cincin penyimpanannya agar aman.


Pria tua itu menyerahkan Ring D-20 kepada Sean. "Alirkan 'lah energi mana-mu ke Ring itu."


Sean pun menuruti apa yang dikatakan Pria tua itu. Setelah mengalirkan energi mana-naya, Ring yang ada di dalam genggamannya bergetar, lalu Ring itu melayang di hadapannya dan bercahaya.


Ring itu berubah menjadi portal yang siap menyebrangi penggunanya ke Dunia D-25.



Sean melayang maju mendekati portal itu. Lalu ia menatap ke arah Pria tua. "Hey pak tua, sampai jumpa lagi !!"


Selesai mengucapnya, Sean masuk dalam portal itu. Setelah masuk dan tak terlihat lagi, portal itu pun menghilang. Pria tua itu kembali melanjutkan aktifitasnya, yaitu kembali mengawasi Multiverse.


Sejenak, pria tua ini memenjam kedua matanya. Ia menghubungi seseorang menggunakan kemampuan telepatinya.


Beberapa saat kemudian, ia membuka kedua matanya. Ia telah menyudahi kemampuannya. Beberapa saat kemudian lagi, terlihat dari sampingnya, muncullah cahaya portal.


Pria tua itu menoleh dan melihat sosok pria yang keluar dari portal itu. Pria itu mengenakan hanfu mewah keemasan. Dan Pria itu memiliki rambut pendek berwarna pirang keemasan.


Pria tua bersuara. "Ahh, aku kembali dibuat kagum olehmu, Reyhan. Tak hanya bisa melintasi dunia-dunia, tetapi kamu juga bisa melintasi waktu."


"Tak perlu ada yang dikagumkan." jawab Reyhan dingin.


"Sudah punya cucu, tetapi sikapmu masih saja seperti itu."


"Jadi, ada apa kamu memanggilku ?" tanya Reyhan dingin, tanpa membalas kata-kata pria tua itu yang merupakan penjaga Multiverse, sekaligus yang pernah mereinkarnasikan jiwanya.


Pria tua itu menghela nafasnya. "Apa kamu sibuk setelah beberapa bulan ini ?"


"Aku sudah tidak sibuk semenjak menyerahkan gelar Rajaku kepada Putra pertamaku, jadi aku bisa bersantai." jawab Reyhan.


"Aku ingin kamu pergi ke Dunia D-25."


"Untuk apa, aku pergi kesana ?" tanya Reyhan datar.


________________________________________


Sudah ada yang tau dengan Reyhan ? Kalau ada yang belum, bisa baca kisahnya yang berjudul 'Pindah Dimensi Lain'. bisa cek di profilku. Terimakasih.


__ADS_1


__ADS_2