
Langit telah berwarna jingga. Pertarungan pasukan Aliansi dan pasukan Kerajaan Alastair masih berjalan. Sudah banyak sekali prajurit dari kedua pihak yang telah bertumpah darah. Sudah ada ratusan mayat akibat perang disana.
Pasukan dari pihak Aliansi rela mempertaruhkan nyawa mereka demi mempertahankan tanah kelahiran mereka dari para pasukan Kerajaan Alastair yang merupakan penjajah.
Disisi Sean, ia masih dalam di bawah alam kesadarannya dan masih di dalam Mode Petirnya. Ia terus berjalan di tengah-tengah pertarungan pasukan Kerajaan Alastair dengan Kerajaan Aliansi.
Sean memukul para prajurit musuh yang datang mendekatinya. Efek pukulannya, entah itu membuat mereka mati atau tidak, Sean tidak peduli. Ia terus berjalan entah kemana tanpa tujuan.
Sedangkan Kapaknya, juga terus melayang bergerak cepat dan memutar-putar menyerang semua prajurit musuh yang dilewatinya. Korbannya pun juga sudah banyak oleh ulah Kapak ini.
Kembali disisi Sean, ia terus berjalan tanpa tujuan, ia terus memukul, menyerang prajurit-prajurit musuh dengan Sihir Petirnya. Sambaran Petirnya, membuat para prajurit musuh berhati-hati.
Meski berhati-hati, tetap saja, serangan Petir yang dilancarkan oleh Sean tepat pada sasaran. Ada yang mati ataupun ada yang tumbang tak sadarkan diri.
Serangan Sihir Petirnya benar-benar terlalu agresif jika berdekatan dengan musuh-musuh yang didekatnya ataupun yang datang mendekatinya.
Setelah Sean memukul para prajurit musuh di dekatnya ataupun yang mendekat, tiba-tiba percikkan Petirnya menyelimuti tubuhnya, menghilang. Kedua matanya kembali normal.
Rupanya Mode Petirnya terhenti. Sean berlutut dengan salah satu lututnya. Nafasnya terengah-engah, Sean merasakan energi mana-nya telah terkuras banyak.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku ?" Sean bertanya pada dirinya.
Melihat Sean dalam kondisi seperti itu, para prajurit musuh berkesempatan datang lagi untuk menyerang Sean. Sean pun berdiri, kini mengenakan kekuatan fisiknya dan kemampuan bela dirinya.
Sementara, bersamaan Sean telah berhenti dari Mode Petirnya, Senjata Kapaknya terhenti dan hanya mengambang di udara. Beberapa saat kemudan, Kapak itu bergerak kembali.
Tetapi Kapak itu bergerak melayangkan cepat ke arah Sean. Disaat Sean telah memukul beberapa prajurit musuh, Kapak itu telah melayang mendekati Sean.
Sean yang tau akan hal itu, ia segera melompat mundur. Dan langsung membuka telapak tangan kanannya, bersamaan Kapak itu digenggamannya.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini ? Kenapa Kapak ini datang padaku ?" Sean bertanya-tanya pada dirinya sambil melihat Senjata Kapak di genggamannya.
Sean terdiam, ia teringat cerita Brian, teman-temannya dan Richard sebelumnya, tentang 3 Senjata Legendaris yang hanya bisa dikendalikan oleh seserang yang bisa menggunakan Sihir Petir.
"Apa karena aku yang sudah bisa menggunakan Sihir Petir, Senjata ini langsung datang padaku ?" tanya Sean lagi dalam hatinya.
Disaat Sean terlihat berdiam, dan berfikir, para prajurit musuh datang lagi. Bagi mereka kesempatan mereka untuk menyerangnya, sekaligus merebut Senjata Legendaris itu.
Tapi kesempatan mereka pupus, karena insting Sean yang kuat, segera menghindar dan secara reflek, ia langsung melancarkan serangan Sihir Bola Api Birunya.
DUAR..!!
Para prajurit musuh terpental setelah menerima ledakan yang ditimbulkan oleh serangan Bola Api Biru milik Sean. Para prajurit musuh berdatangan lagi.
"Sepertinya aku harus bertarung bersama Kapak ini."
Sean pun maju ke arah para prajurit musuh yang datang padanya. Sean menyerang mereka dengan pululannya dan Kapaknya secara membabi buta.
.....
Kini Raja Erlang dalam Mode Apinya. Kekuatannya meningkat berlipat-lipat ganda. Tetapi ia harus siap resiko bila energi mana-nya terkuras banyak.
Raja Alastair berdiri. Saat akan merapal Sihirnya, salah satu orang berjubah hitam datang padanya, dan membisikkan sesuatu.
Raja Alastair terlihat terkejut. "Apa ? Salah salah satu Pahlawanku telah mati ?" ia pun membatalkan rapalan Sihirnya.
Raja Alastair menatap tajam ke arah Raja Erlang. "Tuan Raja Erlang, cukup sampai disini pertarungan kita. Hari ini, Aku membiarkanmu dan sisa pasukanmu untuk kesempatan hidup. Besok kita akan melanjutkan pertarungan ini."
Raja Erlang kembali dalam Mode Normalnya. "Kau benar, karena hari ini juga akan malam. Dan lebih baik kita semua mengumpulkan tenaga kembali untuk melanjutkan pertarungan kita besok."
__ADS_1
Raja Alastair, dan orang berjubah itu terbang mundur. Begitu juga dengan 2 Pahlawannya yang juga pergi menjauh. Raja Roux dan Raja Wagner mendekati Raja Erlang.
"Ada apa denganmu, kenapa kau membiarkan Raja itu mundur ?" tanya Raja Roux kesal.
"Setidaknya dengan mundurnya dia, kita bisa memulihkan tenaga kita semua." jawab Raja Erlang.
"Aku sungguh tak menyangka bisa-bisa kau berfikir seperti itu. Jika kita memulihkan tenaga kita, bukankah pihak musuh juga melakukan apa yang kita lakukan." kata Raja Roux yang masih kesal dan marah.
"Maafkan aku, sahabatku, aku berperilaku yang tidak mengenakan. Aku hanya bersikap layaknya seorang Pejuang sejati, meskipun tidak sejadi di mata kalian." jawab Raja Erlang.
"Sudahlah, yang terpenting hari ini kita bisa membuat musuh mundur, meskipun itu hanya sementara. Tapi besok, kita harus bisa menyelesaikan perang ini." kata Raja Wagner yang sebenarnya juga merasakan apa yang dirasakan oleh Raja Roux.
Beberapa saat kemudian pasukan musuh juga mundur setelah mendapat bisikan dari Raja Alastair dengan bantuan Sihir suara.
Para pasukan Aliansi berteriak, karena bisa dikatakan, pertarungan di hari pertama adalah kemenangan mereka. Mereka semua segera ikut mundur kembali ke tenda mereka yang ada di garis belakang.
Tetapi sebelum itu, ketiga Raja mengumumkan dengan Sihir Suaranya, meminta kepada pasukan mereka untuk segera membantu rekan-rekan mereka yang terluka.
Dan tak lupa, mereka juga akan membawa rekan-rekan mereka yang telah gugur. Meskipun telah gugur, mereka ingin merumahkan mereka dengan layak setelah perang selesai.
.....
Hari telah malam. Telihat banyak sekali tenda di bagian garis belakang. Para prajurit istirahat memulihkan tenaga dan energi mana-nya, jika pulih setidaknya bagi mereka yang bisa menggunakan Sihir Cahaya, bisa memulihkan dirinya dan rekan-rekannya.
Ada juga yang sedang memasak, agar mereka tidak kelaparan. Mau bagaimanapun mereka membutuhkan nutrisi dan membuat mereka lebih bertenaga nantinya.
Disamping itu, terlihat sebuah pemandangan yang mengharukan, yang dimana seorang ibu sedang memeluk Putranya. Mereka tak lain Liona dan Sean. Ada Rosalyn juga disana, ia tersenyum melihat mereka berdua.
Liona melepas pelukannya. "Kamu selama ini kemana ? Kita semua panik karena tak ada kabar apapun darimu !!."
__ADS_1
Sean terkekeh, saar akan menjawab, terdengar suara langkah banyak kaki mendekat. Sean, Liona, dan Rosalyn menoleh.