
Terlihat pertarungan di yang cukup hebat, yang gak lain Raja Erlang, Raja Roux, dan Raja Wagner, yang melawan Raja Alastair berserta kedua Pahlawannya.
Mereka bertarung sengit, tidak ada yang ikut mencampuri pertarungan mereka. Pasukan mereka masing-masing memilih bertarung melawan Pasukan yang merupakan lawan mereka.
Raja Erlang melawan Raja Alastair, Raja Roux melawan Pahlawan pertama, dan Raja Wagner melawan Pahlawan kedua.
Raja Erlang tidak memakai mode Apinya, karena mengingat dirinya tak pernah latihan. Jadi, jika ia masuk ke mode Apinya, fisiknya akan cepat lemah, ditambah energi mana-nya juga akan cepat berkurang.
Raja Erlang dan Raja Alastair saling beradu pedang dam sihir mereka masing-masing. Mereka menyerang, bertahan, dan menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya.
Raja Alastair melompat mundur untuk menghindari serangan dari Raja Erlang. Raja Alastair mengarahkan pedangnya ke arah Raja Erlang. "Tuan Raja Erlang, menyerahlah, suruh kedua temanmu dan para pasukanmu. Dengan begitu, perang ini akan berakhir tanpa bertumpah darah yang lebih banyak lagi."
Raja Erlang membalas. "Apa yang kamu katakan ada benarnya, Wahai Raja muda. Tetapi itu sama saja kau akan menguasai wilayah aliansi. Tidak..!! Kau akan menguasai Benua ini, karena kau menjatuhkan ketiga Kerajaan ini."
Raja Alastair tertawa. "Hahahahaha..., wah Yang Mulia Raja Erlang terlalu panjang lebar saat berbicara. Inilah yang paling aku tidak sukai jika harus berhadapan dengan Raja yang sudah berumur."
"Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan. Kami akan terus bertarung untuk mempertahankan tanah kelahiran kami sampai titik darah penghabisan." jawab Raja Erlang.
"Wah sayang sekali dengan kata-kata yang kau ucapkan. Apa kau berkata begitu karena di pihakmu memiliki 2 orang yang memiliki Sihir Petir ?" kata Raja Alastair dan bertanya.
"Mereka berdua tidak ada hubungan dengan kata-kataku yang kuucapkan barusan." baals Raja Erlang.
"Meskipun kau memiliki 2 orang yang bisa menggunakan Sihir Petir, itu takkan membuatku takut !!" ucap Raja Alastair, lalu ia maju dan melayani pedangnya.
Tiang..!!
Serangan Pedang Raja Alastair ditahan oleh pedang milik Raja Erlang. Pedang mereka berdua saling beradu dan dorong-mendorong.
Raja Erlang bersuara. "Mendengar kata-katamu barhsan, membuatku suka sekali dengan semangat mudamu, sebagai Raja termuda."
Raja Erlang dan Raja Alastair pun melompat mundur. Raja Alastair bersuara. "Kau tau ? Kini aku mulai tertarik dengan Putrimu, Tuan Raja Erlang."
Mendengar Raja Alastair yang tiba-tiba berkata tertarik pada Putrinya, ia langsung menatap tajam kepada Raja muda ini. Jangan bilang kau..."
__ADS_1
"Benar...!!" kata Raja Alastair memotong kata-kata Raja Erlang. "Bagaimana dengan menyerahkan Putrimu padaku, maka aku akan menarik semua pasukanku ?" lanjutnya bertanya.
Raja Erlang menjawab. "Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menyerahkan Putriku ke orang yang salah. Lagipula, Putriku sudah bertunangan. Lebih baik kau mencari gadis lain."
Raja Alastair menatap Raja Erlang sambil tersenyum mengejek. "Entah kata-katamu kebohongan, atau benar. Meski Kau mengatakan Putrimu sudah bertunangan, aku tidak peduli, itu takkan membuatku mundur. Dan jika memang benar Putrimu sudah bertunangan, maka aku tinggal membunuh tunangannya."
Raja Erlang tersenyum mendengarnya. Ia tak mengira banyak laki-laki menginginkan Putri tercintanya. Tetapi ia takkan menyerah Putrinya kepada orang yang salah. Lagi pula ia sudah mempercayakan Putrinya kepada Sean.
Raja Erlang bersuara. "Kenapa ya, semua anak-anak muda generasi sekarang selalu menghalalkan cara untuk mencapai tujuannya ?"
Raja Alastair membalas. "Karena Raja Generasi lama sudah tidak dibutuhkan. Lagipula Dunia ini hanya butuh satu Raja saja. Maka aku akan mengalahkan semua Raja-Raja yang menguasai wilayahnya yang ada dunia ini."
"Di Benua alasku, sudah ada 6 Kerajaan yang kukalahkan. Dan sekarang di Benua ini, memiliki 15 Kerajaan, dan sudah 12 Kerajaan yang kukalahkan. Aku tak menyangka ada 3 Kerajaan yang bersatu dan beraliansi." tambahnya.
"Kenapa sekarang kau yang banyak bicara, wajai Raja Muda ?" balas Raja Erlang bertanya.
Raja Alastair menatap tajam. "Sepertinya aku harus benar-benar mengalahkanmu."
Raja Alastair melompat maju, begitu juga dengan Raja Erlang. Mereka kembali bertarung.
.....
Ia telah mengalahkan Redi. Redi entah pingsan atau kelihangan nyawa, Sean tak tau. Ia tidak peduli dengan kondisi lawannya ini, dan sekitarnya. Lagi pula dirinya masih dalam di bawah alam sadarnya.
Sean memutar-putarkan kapaknya. Lalu ia melemparnya ke sembarang arah. Dengan sendirinya, Senjata Kapaknya terbang dan berputar-putar dengan cepat ke arah para prajurit pihak musuh.
Kapak itu menyerang semua prajurit musuh setiap yang dilewatinya. Kapak itu baru saja melewati para prajurit musuh, seketika mereka tersambar Petir, entah mati atau tidak mereka.
Setelah melempar Kapaknya, Sean perlahan maju ke arah arah para pasukan yang saling bertarung. Mode Petirnya masih aktif, setiap kali Sean lewat, pasti para prajurit yang ada di pihak musuh langsung tersambar Petirnya.
.....
Disisi Lain. Sinta yang sedang melawan para prajurit musuh yang datang mendekatinya. Sesekali ia melirik ke arah Sean yang berjalan entah akan kemana.
__ADS_1
"Dia sudah di tahap itu." batin Sinta.
"Senjata Legendarisnya sama seperti milikku, yang dimana Senjatanya akan memperkuat pemiliknya." batin Sinta.
Tiba-tiba ada pedang datang padanya. Sinta langsung menghindar, dan langsung memberi tendangan pada orang yang datang menyerangnya ini.
DUGH..!!
Orang itu langsung, terdorong jauh. Lalu datang lagi 20 prajurit musuh berlari padanya. Mereka melingkar, mereka merencana mengkroyoki Sinta.
Sinta yang tau apa tujuan mereka, ia melompat tinggi ke atas. Ia mengarahkan ke arah langit. Tiba-tiba sambaran Petir datang, dan menyambar pedangnya.
JEDEERR...!!
Sambaran Petir itu seakan memberinya kekuatan lebih untuk Sinta. Sinta mendaratkan kakinya, bersamaan ia menancapkan Pedangnya ke tanah. "Ledakan Pedang Petir."
Zzzzzzzzzz.....!!
Seketika gelombang Petir merambat dan menyerang 20 prajurit musuh itu. Mereka semua pun tumbang, entah mati ataupun tidak. Setelah mengalahkan 20 prajurit ini, Sinta kembali ke tempat dimana Pahlawan wanita yang masih belum sadarkan diri.
Lagipula, Sinta telah memindahkan Pahlawan wanita itu di tempat yang aman di balik batu yang besar di dekat pepohonan. Setelah kembali, rupanya Pahlawan wanita ini sudah bangun sambil memegang kepalanya.
Dia menatap Sinta. "Kamu siapa ?"
Sinta mengangkat alis sebelahnya. "Jangan bilang kalau kamu hilang ingatan. Trikmu takkan berlaku apapun padaku."
"Hilang ingatan ?" sahutnya.
"Aku tak tau apa yang kau maksud, dan ini dimana ? Kenapa seperti sedang terjadi perang ?" lanjutnya bertanya.
Sinta menatap Pahlawan wanita ini. "Kejadian terakhir apa yang kau ingat ?"
.....
__ADS_1
Sementara itu, kembali ke sisi Sean yang masih di dalam Mode Petirnya, ia terus berjalan di tengah-tengah pasukan yang merupakan dari 2 kubu berbeda dan saling bertarung.
Sean menyerang dengan cara menyambar semua pasukan musuh dengan Sihir Petirnya. Ia tak tak tau ulahnya itu membunuh mereka atau tidak.