
"Sinta..." Richard memanggil nama wanita itu.
Wanita bernama Sinta itu, tersenyum hangat. "Aku datang kembali untukmu."
Richard merasa tak percaya, wanita yang selama ini ia tunggu, telah kembali. Seorang wanita yang datang dari dunia lain. Richard berjalan cepat dan langsung memeluk Sinta.
Sinta terbelalak, ketika tubuhnya dipeluk oleh Pria yang mendekati umur 36 tahun ini. Namun Sinta membalas pelukannya. Mereka berdua saling berpelukkan.
Perlahan, Richard melepas pelukannya. Ia memegang kedua pundak wanita ini. "Sejak kapan kamu disini ?"
"Aku kembali ke sini sejak tadi siang, lalu aku langsung kemari, tetapi kamunya tidak ada." jawab Sinta.
"Huhhh.., kau tau ? Aku kira kamu takkan kembali." sahut Richard.
Sinta terkekeh mendengarnya. Mereka pun berdiam, dan saling menatap. Perlahan wajah Richard mendekati wajah Sinta. Namun, wanita ini lebih dulu mendorong wajah Richard dengan telapak tangannya, hingga tubuh Richard terdorong.
"Kamu berani sekali ya ? Baru juga bertemu, seharusnya kamu tanya kabarku bagaimana, bukan main nyosor aja !!" ucap Sinta dengan kesal.
Richard hanya terkekeh malu sambil mengaruk-garuk tengkuk kepalanya. "Hehehe, maaf, aku terlalu rindu padamu."
"Cih..., rindu apaan..!!" ucap Sinta, lalu ia duduk kembali di sofa.
Richard pun segera ikut duduk disamping wanita ini. "Bagaimana kabarmu ?"
"Tentu saja, kabarku baik." jawab Sinta sambil meraih cangkir teh hangatnya yang sebelumnya dibawa oleh Lucy.
"Selama ini kamu kemana saja ?" tanya Richard melihat Sinta yang sedang meminum minumannya.
"Tentu saja aku berpetualang mengelilingi benua ini." jawab Sinta setelah meminum tehnya, lalu meletakan kembali cangkirnya di atas meja.
"Jadi bagaimana, hasil dari petualangmu ?" tanya Richard.
"Aku tak mendapat hasil apapun, tetapi aku mendapat banyak pengetahuan tentang dunia ini." jawab Sinta.
"Apa kamu mendapat kesulitan ?" tanya Richard.
"Kesulitan pasti ada, aku terpaksa menyamar jadi penduduk biasa, agar bisa memasuki wilayah selain Kerajaan Erlang, Roux, dan Wagner. tetapi aku bisa mengatasinya. Bahkan ada pria-pria berhidung belang mencoba menangkapku." jawab Sinta.
Richard terbelalak, ia terlihat khawatir. "Kamu tidak apa-apa 'kan ?"
"Tentu saja aku baik-baik saja. Mereka langsung kubunuh tanpa sisa hahahaha..." jawab Sinta sambil tertawa jahat membayangkan saat ia membunuh para pria bajingan yang mencoba bermacam-macam padanya.
__ADS_1
Sinta menghentikan tawanya. Mereka kambali saling diam, lalu Richard bersuara. "Apa kamu tidak berniat menanyakan kabarku ?"
"Untuk apa aku menanyakan hal itu, padamu. Lagipula kamu terlihat baik-baik saja. Jadi, aku tak perlu bertanya kabarmu." jawab Sinta.
"Huhhh.., sifatmu masih saja tak hilang." ucap Richard.
Sinta terkejut mendengarnya. Richard teringat sesuatu, lalu menatap padanya. "Apa kamu masih ingat, sebelum waktu kamu berangkat. Aku mengatakan padamu, kalau kamu pulang kembali, aku akan melamarmu."
Sinta terdiam. Ia menghela nafasnya. Lalu ia menjawab. "Baiklah mungkin aku haru membuka hatiku untukmu."
"Kalau kamu masih ragu, tidak apa-apa, aku akan melamarmy sampai kamu benar-benar menerimaku. Aku tau kamu masih belum bisa melupakan dia." balas Richard sambil tersenyum, ia tau masa kehidupan Sinta saat masih tinggal di dunia asalnya. Karena Sinta pernah bercerita masa lalunya sebelum bereinkarnasi.
"Maaf, tapi aku akan belajar menerimamu. Karena aku sadar, duniaku dan dunia dia telah berbeda." Sinta membalas kata-kata Richard.
Richard memeluk Sinta. Dan Sinta membalas pelukan Richard. Dalam hati Richard memang sedih, karena Sinta belum bisa melupakan pemuda masa lalunya di kehidupan sebelumnya.
Tetapi mau bagaimana lagi, prinsip Richard tidak akan memaksa. Tetapi ia juga harus berusaha, agar Sinta bisa menerima perasaannya.
Dalam batin Richard berkata. "Wahai pemuda dari masa lalu wanita yang kucintai, izinkan 'lah aku mengisi hatinya. Tetapi aku tidak akan membuatnya lupa kalau kau juga pernah mengisi hatinya."
Richard melepaskan pelukannya karena ia teringat sesuatu. "Aku teringat sesuatu, kamu pasti kaget jika mendengarnya."
Sinta mengerut dahinya. "Apa itu ?"
Sinta terkejut bukan main mendengarnya. Richard menambahkan. "Sepertinya, dia datang bukan dari dunia yang sama seperti dunia asalmu."
"Maksudnya ?" sahut Sinta.
"Dia datang dari dunia lain, kata orang itu, dia datang dari dunia yang dimana dunia itu sudah terjadi perang dunia ketiga." jawab Richard.
Sinta mencerna kata-kata Richard. Lalu ia bersuara. "Setelah kupikirkan, sepertinya benar apa yang kamu katakan, pasalnya dunia asalku perang dunia ketiga tidak ada atau tidak terjadi."
Richard lalu menceritakan sosok orang itu yang merupakan Sean. Dari awal Sean mendaftar, dan membasmi markas bandit besar. Tanpa dikurangi dan dilebihkan, ia bercerita.
Richard bercerita tentang Sean kepada Sinta, hingga Sean bertemu dengan ibunya yang merupakan berasal dari keluarga Bangsawan di Kerajaan Elf.
Sinta sendiri terkejut mendengarnya. "Pantas saja, saat aku memasuki wilayah Kerajaan ini, tidak ada bandit-bandit yang menghalangi perjalananku."
"Tapi yang lebih mengejutkan, adalah ibunya yang merupakan berasal dari dunia ini. Apa kamu memberitahu tentangku ?" tanya Sinta.
Richard menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tetapi sekarang ada 2 orang yang tau selain diriku. Sean, dan ibunya."
__ADS_1
Sinta ingin sekali protes dan marah, tetapi mengingat Richard adalah orang yang dapat percaya. Richard adalah seseorang yang tidak sembarangan jika membeberkan sebuah rahasia.
"Dia sekarang ada dimana, orang yang bernama Sean itu ?" tanya Sinta.
"Dia masih tinggal di Kerajaan Roux. Dia ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga ibunya."
Sinta mengangguk-angguk kepalanya. Karena merasa dirinya ingin istirahat, Sinta ingin pergi ke kamar penginapannya yang sudah hampir setahun ia tinggalkan.
Sinta berpamitan kepada Richard. Dan Richard mempersilahkan, karena ia juga ingin membersihkan dirinya dan segera istirahat.
_______________________________________
Visual.
Queen Sinta.
.
_______________________________________
.....
Sementara Disisi Lain. Hari telah sore dan langit akan gelap malam. Terlihat seorang pemuda yang tak lama lagi berusia 26 tahun, tengah bertarung dengan seseorang laki-laki yang lebih muda darinya.
Sean tengah bertarung dengan Gabrio. Mereka bertarung dii taman, di belakang kediaman Aratohrn. Mereka bukan latihan, melainkan karena salah satu dari mereka membuat masalah, siapa lagi kalau bukan Gabrio, yang memulai.
Lison, Javi, Liandro, dan Cariann beserta istri mereka masing-masing, sedang tidak ada di kediaman, melainkan mereka sedang pergi untuk menerima undangan dari Keluarga Bangsawan lain.
Sedangkan Liona, ia berada di istana Kerajaan Roux. Karena tugasnya sebagai salah satu Ksatria Kerajaan Roux. Dan mungkin, sebenyar lagi, ia akan pulang.
Dan untuk Natalia, dia tak kemana-mana. Dia sendiri hanya diam duduk di gazebo melihat keributan dua sepupu Laki-lakinya.
Keributan diawali oleh Gabrio yang tak suka kepada Sean,ia terus-terusan meminta Sean untuk pergi, karena ia tak suka Sean dekat dengan Liona.
Sean menyimpulkan kalau Gabrio menyukai ibunya, tentu saja ia memilih untuk tetap tinggal. Sudah sangat jelas, ia tidak akan membiarkan seorang keponakan menyukai bibinya. Ia menganggap otak Gabrio sudah tidak beres.
Karena sudah tak bisa menahan gejolak pada dirinya, akhirnya Gabrio langsung menyerang Sean. Namun semua serangannya, bisa dihindari dengan mudah oleh Sean. Sudah hampir 1 jam lebih, akhirnya Gabrio berhenti menyerang Sean.
"Hanya segitu ?" tanya Sean dingin, ia berdiri, dan ia tak terlihat lelah sama sekali.
__ADS_1
Terlihat Gabrio terengah-engah. Dia sudah terlihat lelah. 1 jam lebih ia menyerang Sean dengan pedangnya, tetapi selama 1 jam lebih itu, Sean hanya menghindar saja.
"Sudah lelah ?" tanya Sean.