
Sudah lebih dari satu jam Sean terbang. Ia masih terbang dengan bantuan Sihir Api pendorongnya. Baru kali ini ia terbang dalam perjalanan jauh. Biasanya ia memakai Sihir pendorong Apinya untuk bertarung, dan pergi ke tempat yang dekat.
Kecepatan terbangnya,bisa dikatakan cukup cepat. Jika di dunia modern, dan melihat hasilnya spedometer, mungkin kecepatannya 70-90 km/jam.
Sean mencoba terbang lebih tinggi lagi. Dan posisi sekarang, ia sudah mulai merasa kalau dirinya sudah mencapai batas tingginya yaitu kurang lebih 3,5 km dari permukaan laut. Udaranya juga terasa dingin.
Di posisi sekarang, ia bisa melihat luasnya hutan, dan banyak sekali gunung-gunung. Disini, Sean jadi teringat dua pengalamannya saat masa di zaman dirinya masih di Sekolah Menengah Atas. Saat itu ia pernah kemah bersama teman-teman di salah satu gunung tertinggi di negaranya.
Saat sedang menikmati suasana, dan mengenang masa dulu, tiba-tiba posisi terbangnya terganggu. Ia menyadari kalau mana-nya sudah terkuras banyak, karena memakai Sihir Api-nya secara terus-menerus.
Sean menyadari kalau semua mahluk hidup pasti memiliki kekurangan. Katakanlah Sehebat-hebatnya dirinya, pasti ada batasnya. Seperti sehebat-hebatnya musuh, pasti memiliki kelemahan.
"Sial, seharusnya aku tak berbuat lebih Sihirku." umpatnya.
Dan sekarang posisi Sean, ia sudah merasa mana miliknya sudah menipis. Seharusnya ia berhenti, dan istirahat untuk mengumpulkan mana, setidak ada jedanya untuk dirinya berhenti terbang.
Sean menghentikan Sihir Pendorong Apinya. Ia membiarkan dirinya turun terjatuh ke bawah. Ia memposisikan seluruh tubuhnya agar ia nyaman dalam terjun.
Mungkin sekarang sudah 2 km dari permukaan laut. Sean masih terjun kebawah. Jujur saja, dalam hatinya, ia merasa sedikit ngeri, melihat ke bawah.
Apalagi ia tak memakai parasut. Di dunia barunya mana mungkin ada parasut. Mungkin jika jaraknya sudah dibawah 1 Km dari permukaan laut, ia akan menggunakan Sihir Pendorong Apinya lagi untuk mendarat.
Saat masih dalam posisi terjun ke bawah, dan akan mendekati jarak 1 km, tiba-tiba ada kabut putih tebal. Sean saja merasa pandangannya terganggu.
Sean pun memasuki kabut tebal itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia mengantuk. Sean berusaha menahan ia tidak tertidur, kalau tertidur, bisa gawat secara ia dalam posisi terjun di udara.
Tapi apa daya, ia merasa kantuk berat, pada akhirnya, ia menutup kedua matanya. Sean benar-benar merasa ngantuk yang hebat sehingga ia menginginkan tidur.
Tubuh Sean terus terjun ke bawah. Tiba-tiba muncullah sebuah portal di bawah. Sean yang dalam tertidur pun, ia masuk ke dalam portal itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terlihat seorang pemuda berpakaian serba hitam, dan tubuhnya melayang di sebuah tempat yang sulit dijelaskan. Pemuda itu tak membuka matanya. Lalu beberapa saat kemudian, ia membuka matanya.
Ia melihat sekelilingnya. Ia berguman. "Mungkin aku sedang bermimpi."
__ADS_1
Ia menutup kedua matanya lagi. Beberapa saat kemudian ia tersadar lagi, karena ia mengingat kejadian sebelum dirinya tertidur. Ia sedang terjun kebawah.
Ya, pemuda itu siapa lagi kalau bukan Sean. Sean benar-benar bingung, dimana dirinya saat ini. Ia melihat sekelilingnya, terlihat dirinya seperti ruang yang angkasa.
"Bukankah kalau di luar angkasa tidak ada oksigen ? Kenapa aku bisa bernafas ?" tanya Sean.
Tiba-tiba terdengar suara. "Hey, anak muda."
Sean menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat seorang pria tua berpakaian serba putih. Tak hanya itu, rambut, kumis, serta jenggot yang panjang juga berwarna putih.
"Hey, pak tua, kau siapa ? Dan ini dimana ?" tanya Sean, lalu ia melihat sekelilingnya. Sean juga melihat dirinya yang masih melayang-layang, karena kedua kakinya tak menginjak apapun.
Pria tua itu tersenyum mendengar pertanyaan dari Sean. "Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah pria tua yang kebetulan lewat disini."
Sean mengerut dahinya. "Lewat sini ? Yang ada kau yang tiba-tiba muncul, mana mungkin lewat, secara tempat ini seperti ruangan hampa."
Pria tua itu terkekeh. "Ahh, baiklah..., sebenarnya aku yang memindahkanmu ke dunia tempat asal ibumu."
Sean terbelalak. "Kau..!!"
"Banyak, Semesta ?" sahut Sean kaget.
"Kita sebut saja Multiverse, yang merupakan sekelompok banyak alam semesta, yang terdiri dari segala sesuatu yang ada, seperti keseluruhan ruang, waktu, materi, energi, informasi, dan hukum fisika. Dan juga bisa dikatakan banyak sekali alam semesta yang disebut dunia alternatif." jawab pria tua menjelaskan.
"Multiverse ? Bukankah itu sebutan dari banyaknya Universe ? Maksudmu Dunia Paralel ?" sahut Sean bertanya.
"Benar sekali." jawab pria tua itu. Sambil menunjukkan banyak dunia yang ada ruangan hampa itu.
"Tugasku bukan hanya menjaga semua Universe saja, tetapi aku juga memiliki tugas untuk memilih orang-orang yang akan kukirimkan untuk berpindah dunia." lanjutnya menjelaskan tentang tugasnya.
"Termasuk diriku ?" tanya Sean.
"Benar sekali."
__ADS_1
"Termasuk orang-orang yang bereinkarnasi ? Itu juga tugasmu ?" tanya Sean.
"Betul sekali. Jika menurutku dia orang yang pantas, tetapi mati. Maka kubuat dia bereinkarnasi di dunia barunya untuk menjalani kehidupan keduanya."
"Dan aku bertanya padamu. Apa tujuanmu memindahkanku ?" tanya Sean.
"Aku memiliki alasan tertentu, tetapi aku tak bisa kujelaskan padamu. Lagipula, bukankah kamu ingin bertemu dengan ibumu ?"
Sean terdiam, karena benar apa yang dikatakan Pria tua itu. Sean kembali bersuara. "Aku pernah mendengar kalau di salah satu Kerajaan yang ada di Benua lain di dunia baruku, memanggil Pahlawan dari dunia lain ? Apa maksudnya ?"
Pria tua itu menjawab. "Kalau kamu mendengar hal itu, memang benar. Ada salah satu Kerajaan di dunia barumu memanggil orang-orang untuk menjadikan pahlawan di Kerajaannya. Tetapi, jika kamu berfikir aku yang dibalik kejadian itu, adalah salah."
Sean terdiam. Pria tua itu melanjutkan. "Orang-orang yang memanggil para pahlawan itu, mereka semuanya hanyalah penyihir amatiran yang hanya bisa memanggil saja, tanpa mengetahui isi hati orang-orang yang mereka panggil."
"Kenapa aku bilang mereka amatiran ? Karena orang-orang yang mereka panggil, belum tentu semuanya memiliki visi misi yang baik, bisa dikatakan orang-orang yang mereka panggil belum tentu memiliki hati yang baik."
"Bukahkan bisa disebut kalau mereka hanya asal memanggil saja ? Coba saja bayangkan jika seorang yang tak memiliki visi misi, arogan, kekanakan, keras kepala, tidak bisa berfikir dewasa, parahnya jika dia seorang pembunuh. Apakah itu disebut pahlawan ?"
"Kenapa mereka memanggil pahlawan ? Untuk mengalahkan para iblis yang datang menyerang Kerajaan mereka ? Para Iblis itu datang menyerang karena apa ? Lalu, apa gunanya seorang Raja ?"
"Benar juga." sahut Sean.
"Kenapa kamu bisa tau ?" lanjutnya bertanya.
"Sudah kukatakan sebelumnya, aku adalah penjaga Multiverse. Secara aku mengawasi aktifitas-aktifitas mahluk hidup di dalamnya."
"Berbeda denganku. Aku memindahkanmu ke dunia baru bukan untuk menjadi pahlwan. Aku memiliki tujuan yang tak bisa menjelaskannya padamu. Karena suatu saat nanti, kamu akan menemukan jawabnya sendiri."
"Kalau kamu bisa mengirim seseorang untuk berpindah dunia. Kenapa orang-orang itu bisa memanggil orang-orang dari dunia lain ?" tanya Sean.
"Karena mereka yang akan haus pengetahuan. Jika kamu memiliki Sihir Cahaya dan Kegelapan, dan bisa memanipulasikan keduanya dengan benar dan akurat, secara kamu bisa membuka portal untuk menyebrangi dunia-dunia lain."
"Tetapi untuk para penyihir itu, mereka tak bisa memiliki kedua Sihir itu secara bersamaan. Jadi, setiap dari mereka memiliki Satu jenis Sihir saja. Bisa dikatakan, mereak menggabungkan Sihir mereka bersama-sama."
"Tetapi hasilnya tetap saja, kurang tepat dan tidak akurat, sehingga Sihir mereka asal mengambil orang-orang secara acak. Tindakan mereka sungguh ceroboh. Maka dari itu, aku menyebutkan kalau mereka adalah amatiran."
Sean mengangguk-angguk kepalanya. Pria tua itu kembali bersuara. "Ada seseorang yang sudah mampu menggunakan Sihir Cahaya dan Kegelapan secara bersamaan. Dia juga bisa memanipulasikan kedua Sihir itu dengan tepat dan akurat. Meskipun awalnya dia sendiri juga tidak melakukannya."
__ADS_1
"Dia juga termasuk orang pilihanku sebelumnya. Aku mereinkarnasi jiwanya ke dunia barunya untuk kehidupan keduanya. Tapi diluar dugaan, dia seorang yang genius dan kuat. Yahh..., meskipun dia arogan, tetapi dibalik sifat arogannya, hatinya sangat baik."
Pria tua itu menyelesaikan kata-katanya. Sean menatapnya, lalu ia bertanya. "Lalu, apa tujuanmu membawa ku ke tempat ini ?"