OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 24


__ADS_3

Dari awal pertemuan, Putri Rosalyn terus menatap Pemuda Petualang berambut hitam dan sedikit panjang mengenai bahu. Ia tak berhenti menatapnya saat pemuda berpakaian serba hitam itu berbicara kepada ayahnya.


Entah kenapa dadanya tiba-tiba berdebar-debar. Baru kali ini ia merasakan hal seperti ini. Dari semua laki-laki muda tampan dari kalangan Bangsawan yang mendekatinya, tak pernah membuatnya seperti ini.


Melihat hajah pemuda berpakaian serba hitam ini, ia merasa asing seakan pemuda ini bukan berasal dari Kerajaannya. Tetapi tetap saja, di matanya, dia tetap terlihat tampan, dan dari sikapnya, dia terlihat dewasa.


Hingga pemuda itu pamit undur diri, Putri Rosalyn tidak berhenti menatapnya. Raja Erlang tersenyum melihat Putri Rosalyn terus menatap ke arah Sean yang sudah berjalan menjauh dari gazebo. Ratu Anne melihat Putrinya yang terus begitu, ia bersuara. "Dia tampan ya ?"


"Iya, dia tampan." jawab Putri Rosalyn tanpa sadar.


"Wah jadi ada yang lebih tampan dari ayahmu ini ?" kata Raja Erlang.


Putri Rosalyn tersadar, lalu ia menoleh dan menatap Raja Erlang dan Ratu Anne. "Ayah, Bunda, ta-tadi kalian berbicara apa ?"


Raja Erlang menjawab. "Tadi kamu bilang, dia tampan."


Wajah Putri Rosalyn merah, ia menjadi salah tingkah, dan ia mencoba menahan rasa malunya di depan kedua orang tuanya. "Ma-maksud ayah, siapa ?"


"Pura-pura lupa ya kamu ?" tanya Ratu Anne menggoda Putrinya.


Putri Rosalyn semakin salah tingkah. Ia langsung berdiri dari duduknya, dan langsung pamit pergi kembali ke istana, dan lalu diikuti pelayan pribadinya.


"Sayang, sepertinya Putri kita jatuh cinta pandangan pertama." ucap Ratu Anne.


Raja Erlang tersenyum mengangguk-angguk kepalanya. "Benar sayang, aku sudah bisa menebaknya saat melihat tingkahnya barusan seperti itu."


"Tapi bagaiman jika dia benar-benar menyukai dan jatuh cinta ke pemuda yang bernama Sean itu ?" tanya Ratu Anne.


Raja Erlang membalas. "Aku tidak masalah, setidaknya ada harapan kalau Putri kita akan menemukan jodohnya. Karena selama ini, Putri kita terus menolak pemuda-pemuda Bangsawan yang telah melamarnya."


Ratu Anne bersuara lagi. "Tapi, aku masih penasaran latar pemuda yang bernama Sean itu."


Raja Erlang mengangguk kepalanya. "Ya, aku juga penasaran. Dari sikap dan cara bicaranya, seakan-akan kita Keluarga biasa-biasa saja. Dan juga aksinya tadi, itu saja membuatku terkejut."


Setelah lama-lama berbicara, Raja Erlang dan Ratu Anne segera bangkit dari duduk mereka. Mereka berjalan keluar dari gazebo. Mereka akan kembali masuk ke dalam istana dan diikuti ke-2 ksatria dan semua pengawal.


_______________________________________


Visual.

__ADS_1


Rosalyn Von Erlang.



_______________________________________


.....


Sementara Disisi Lain.


Sean dan Richard baru saja keluar dari dalam istana. Mereka kini menginjak kaki mereka di halaman istana. Semua pengawal memberi hormat saat mereka lewat.


Mereka akan melewati pintu gerbang istana. Saat Sean akan kembali memakai penutup sebagian wajahnya. Richard menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia bersuara. "Kenapa kamu menutup sebagian bawah wajahmu lagi."


Sean yang akan memakai penutup sebagian wajahnya, ia bersuara. "Aku hanya merasa nyaman saat memakainya."


"Sebaiknya tidak perlu dipakai. Kita sedang berada di waktu bersantai. Lebih baik kamu memakainya ketika berangkat berpetualang." kata Richard dan memberi saran.


Sean yang mendengar kata-kata Richard, ia mengurungkan niat untuk memakai penutup sebagian wajahnya. Itu hanyalah kebiasaan Sean menutup identitasnya saat di dunia asalnya. "Benar juga, lagi pula aku sudah tidak tinggal di dunia asalku. "


Richard yang melihat Sean tak jadi menutupi sebagian bawah wajahnya, ia tersenyum. Sean menjadi pusat perhatian. Senyuman Richard memudar, ia menyesal memberi saran. Ia menjadi merasa iri, karena hampir semua gadis-gadis muda yang mereka lewati di kota Kerajaan, memperhatikan Sean.


Richard hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Ia sadar, beginilah resiko berjalan bersama pemuda asing dan tampan. Sebenarnya Richard tampan, tetapi masih kalah dengan Sean. Umurnya sudah 35 tahun dan belum menikah karena ia masih menunggu seseorang.


"Apa itu ?" sahut Sean.


"Sejak kita duduk berhadapan dengan Yang Mulia Raja dan keluarganya, Putrinya menatapmu terus." jawab Richard tersenyum.


"Putrinya ?" sahut Sean lagi. "Putri Raja ?" lanjutnya.


Richard mengangguk-angguk kepalanya. "Apa kamu tidak menyadarinya ? Saat itu Tuan Putri Rosalyn terus menatapmu."


"Lalu kenapa jika Putri Raja menatapku ?" tanya Sean.


Richard menjawab. "Dari cara dia melihatmu, aku bisa melihat, sepertinya dia tertarik padamu. Apa kamu tidak tertarik padanya ?"


Sean tidak menjawabnya. Menurutnya hal yang dikatakan Richard tidak penting, lagi pula dari penampilannya, umur Putri Rosalyn pasti berada jauh dibawanya. sedangkan Sean sendiri berumur 25 tahun. Ia tau diri.


Jadi menurut Sean, buat apa tertarik dengan gadis remaja yang berumur 16 tahun. Yah, walaupun di dalam hatinya, Sean mengakui kalau Putri Rosalyn memang sangat cantik, dan memiliki bentuk tubuh yang indah yang bisa dibilang idaman semua lelaki.

__ADS_1


Karena Sean tak menjawab, Richard berbicara lagi. "Kamu tidak tertarik ? Yang benar saja !! Tuan Putri Rosalyn sangat cantik. Jika kamu ingin tau, semua pemuda Bangsawan tertarik padanya. Mereka berlomba-lomba untuk melamarnya. Namun ia menolak semuanya."


Sean masih tidak menjawab. Richard menjadi sedikit kesal karena Sean tidak menanggapi ucapannya. Lalu ia mengalihkan pembicaraan. "Mengingat pembicaraanmu dengan Yang Mulia Raja, aku penasaran, apa rencanamu ?"


"Tidak ada ?" jawab Sean santai.


"Hah ?" sahur Richard kaget.


"Kamu tidak ada rencana ? Lalu kenapa saat ditanya Yang Mulia Raja kamu menjawab sudah punya rencana ?" lanjutnya bertanya.


"Aku asal jawab saja. Setidaknya aku bisa menjawab kata-kata tanpa membuatku malu sendiri saat di depan Raja." jawab Sean dan ia sedikit tersenyum kecil.


Tanpa disadari Sean, senyumannya membuat semua wanita dan semua gadis yang melihatnya semakin terpesona. Untuk para laki-laki, termasuk Richard, semakin iri.


Richard menepiska rasa irinya. Ia berlanjut bertanya. "Lalu, tentang kelompok ? Apa itu hanya jawaban asal-asalanmu lagi ?"


Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku akan benar-benar membuat kelompok yang akan ikut bersamaku."


Richard mengangguk-angguk kepalanya. "Kalau boleh tau, siapa yang kamu ajak dalam kelompokmu ? Apa tidak sekalian membuat party ?"


"Kamu pasti akan tau siapa orang-orang yang akan ku ajak nanti. Dan soal membuat party, aku masih memikirkannya." jawab Sean.


Tak ada pembicaraan lagi. Mereka terus berjalan menuju Guild. Waktu akan berangkat menjalankan misinya 2 atau 4 hari lagi, Sean akan mengumpulkan orang-orang untuk ikut bersamanya.


.....


Keesokan Harinya. Hari telah pagi, Sean lebih awal sudah duduk di salah satu meja di ruangan Guild Petualang. Kini ia tengah menikmati sarapan paginya.


Disamping itu, banyak sekali tatapan para Petualang yang ada di ruangan itu, karena melihat wajah tampan Sean. Dan Sean tidak memperdulikan hal itu, yang terpenting, ia fokus dengan sarapannya.


Baru saja menyelesaikan sarapannya, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya. "Hai Sean !!"


Sean menoleh ke sumber suara itu sambil meminum minumannya. Sean melihat orang itu. Bria datang mendekatinya, lalu ia berkata. "Jarang sekali kamu sarapan disini. Dan kamu beberapa hari ini jarang terlihat."


Sean membalas. "Ya, sesekali tidak ada salahnya aku ingin sarapan disini. Apa kamu akan mengambil misi ?"


Brian duduk di hadapan Sean yang


"Yahh, seperti biasa, aku mengambil misi, dan sekarang aku sedang menunggu teman-temanku."

__ADS_1


Sean mengangguk-angguk kepalanya. Ia menatap Brian, ia tak peduli tatapan-tatapan yang dari awal ia turun saat akan sarapan.


"Brian, aku ingin mengajakmu dan party-mu."


__ADS_2