OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 87


__ADS_3

Tak hanya suara auman, tetapi tanah di wilayah itu bergetar. Tak hanya pasukan Kerajaan Alastair saja yang terlihat panik, pasukan Aliansi juga panik. Semua bertanya-tanya apa yang telah terjadi.


Pikiran mereka semua menebak-nebak akan terjadi bencana besar, bahkan tidak sedikit berfikir kalau hari telah kiamat. Beberapa saat kemudian terdengar suara auman lagi. Tanah bergetar semakin jadi.


Suara auman itu perlahan mendekat. Mereka segera berpandangan ke arah tempat garis belakang milik pasukan Kerajaan Alastair. Mereka terbelalak, melihat monster Naga berjalan ke arah mereka.



Sarah yang masih mengemudikan mobilnya, segera mendekati Sean dan kedua temannya. Setelah sampai, Sean membuka pintu mobilnya dan memasukkan Jack, dan Darren kedalam.


"Kamu pergilah ke tempat Arron, Darold, dan Erza, saat ini kita harus mundur !!" perintah Sean.


Sarah yang mengerti pun mengangguk kepalanya, ia segera membawa mobilnya menjauh mencari keberadaan ketiga teman Sean. Jika sudah ketemu, ia akan membawa semuanya untuk mundur dari medan perang.


Dan Sean, ia segera menggunakan Sihir Api Birunya untuk terbang ke arah Tank tempurnya yang kini menembaki monter Naga itu yang masih jauh disana. Tetapi semua tembakannya tidak ada yang mempan.


Setelah masuk, Sean segera membawa pergi Tanknya menjauh. Ia segera menggunakan alat komunikasi untuk menghubungi Sarah dan yang lainnya.


"Sinta, kita harus mundur." ucap Sean kepada Sinta yang ada diseberang sana.


"Aku mengerti." jawab Sinta.


Mereka segera mengakhiri komunikasinya. Mereka benar-benar harus mundur sejauh mungkin dari mahluk Naga itu.


Brian menatap Sean. "Kenapa kita mundur ? Bukankah kendaraanmu ini kuat segala serangan ?"


Sean menjawab. "Memang benar ketiga kendaraanku bisa menahan segala serangan. Tetapi kita harus benar-benar mundur, karena ketiga kendaraanku takkan kuat jika menerima beban yang melebihi kapasitas."


"Maksudmu ?" sahut Brian yang belum mengerti.


"Ketiga kendaraanku takkan kuat, bahkan bisa hancur jika terkena injakan kaki Naga itu." jawab Sean yang fokus mengemudikan kendaraannya.

__ADS_1


Brian mengangguk kepalanya. "Benar juga, secara monster Naga itu sangat besar dan...., tapi tunggu !! Kenapa ukuran monster Naga itu besarnya bukan main ?"


.....


"Aggrrhhh...!!"


"Aggrrhhh...!!"


"Aggrrhhh...!!"


"Aggrrhhh...!!"


Pasukan Kerajaan Alastair yang ada di barisan belajang banyak yang tewas akibat terlindas oleh keempat kaki Naga itu. Naga itu berada di jarak 500 meter dari barisan depan. Melihat itu, Richard bersuara.


"Semuanya mundur...!!"


Richard memberi perintah melalui Sihir Suaranya, agar semua pasukannya langsung pergi mundur setelah mendengar perintahnya. Setidaknya pasukannya tidak sampai ke depan sana.


Raja Roux menatap tak percaya. "Yang benar saja !! Kenapa ada moster naga sebesar itu bisa berada disini ? Bukankah seharusnya mahluk itu sudah punah ribuan tahun yang lalu ?"


Apa yang dikatakan Raja Wagner memang benar. Dunia tempat tinggal mereka masih banyak monster yang berkeliaran. Bahkan untuk ukuran monster yang paling besar saja, panjang ukurannya tidak sampai 50 meter.


Meskipun ada Naga pun, ukuran panjangnya juga tidak sampai sepanjang 50 meter. Bahkan tingginya tidak sampai 10 meter. Dan itu hanya cerita legenda di dunia mereka.


Namun, monster Naga yang mereka lihat saat ini memiliki panjang tubuh lebih dari 100 meter, dan tingginya lebih dari 20 meter. Bukankah itu sungguh diluar nalar ? Bisa saja monster ini disebut monster malapetaka.


"Alangkah lebih baik kita semua mundur sejauh mungkin. Jangan biarkan prajurit-prajurit kita tewas karena ulah mahluk ini. Setelahnya, kita merencanakan sesuatu untuk membunuhnya." ucap Raja Erlang.


Mereka bertiga pun segera pergi mundur daru medan perang. Mereka juga memerintahkan semua pasukannya untuk segera mundur sebelum monster Naga berjalan semakin dekat.


.....

__ADS_1


Sean mengemudikan Tank tempurnya untuk mundur. Dia merasa lega, teman-temannya juga ikut mundur. Pikirannya masih tak percaya hal yang baru saja ia lihat. Seekor Naga yang besarnya bukan umum. Brian juga mengatakan kalau Naga itu bukanlah ukuran Naga yang pernah ia temui saat menjalankan misi.


Naga itu bahkan terlihat sangat kuat, bahkan bisa dikatakan luar biasa kuatnya. Semua segala serangan tidak ada yang bisa menggoreskan kulitnya. Sean pun juga berfikir, kalau semua pasukan mundur menjauh dari Naga itu, bukankah sama saja membiarkan sosok monster malapetaka itu untuk tetap hidup.


Bukankah ujung-ujungnya juga pasti monster Naga itu pasti menghancurkan segala semua yang ada di depannya. Semua orang pasti memiliki rasa takut, karena rasa takut jelas termasuk sifat manusawi, dan itu tidak bisa terbantahkan.


Sean mengambil keputusan. Bukan karena ia menganggap sebagai tokoh utama, atau sok Pahlawan, tetapi karena ia masih memiliki jiwa Prajurit Tentara di melekat pada dirinya. Tugas Prajurit Tentara adalah menegakkan dan mempertahankan keadilan, Semua akan ia taruhkan demi melindungi orang-orang dari ancaman dan gangguan yang datang.


Sean menekan sebuah tombol yang memiliki tulisan autodriver. Lalu ia mengatur tempat tujuan Tank tempurnya. Setelah selesai, ia berdiri dari duduknya. Ia mendekati pintu keluar. Brian terkejut, karena Tanknya tanpa pengemudinya, bisa jalan sendiri.


Brian menepis pikirannya, ia mendekati Sean yang sudah membuka pintu keluar kendaraan. "Sean kamu mau kemana ?"


"Aku akan mencoba melawan dan mencari kelemahan monster Naga itu." jawab Sean yang sudah akan menutup pintu keluar.


Brian terbelalak mendengarnya. Sean kembali bersuara. "Jika hanya mundur sekarang, monster itu pasti ujung-ujungnya juga tetap terus maju mendekati kita."


Setelah berkata itu, Sean menutup pintu. Ia kini berdiri di atap Tank tempurnya. Sean melompat, ia langsung menggunakan Sihir Api Birunya untuk terbang ke arah monster naga itu.


.....


Di waktu bersamaan, monster Naga tengah berjalan, ia menginjaki semua yang ada di depannya. Dia berjalan pelan, mungkin karena ukuran tubuhnya yang besar bukan main. Sementara Disisi Raja Alastair, ia tengah melayang sangat tinggi di langit dan memandang pasukannya yang tengah bertarung Naga itu, Dan ada juga melarikan diri agar tidak ikut kehilangan nyawa.


Raja Alastair entah kenapa ia merasa tak karuan melihat pasukannya banyak yang mati akibat ulah mahluk Naga itu. Entah dirinya yang salah atau bagaimana. Mau menyalahkan ke-4 penyihirnya, jelas tidak mungkin. Ke-4 penyihir saja sudah mati lebih dulu sejak awal munculnya monster malapetaka itu.


Kedua Pahlawannya yang tersisa, telah jatuh dibawa pasukan Aliansi. Jelas sekali, efek dari kematian ke-4 penyihirnya, mengembalikan kedua Pahlawannya. Lalu pandangan menangkap sosok pemuda berpakaian serba hitam yang tengah terbang menggunakan Sihir Api Biru dan menyerang monster Naga itu.


.....


Di waktu bersamaan, Sean tengah melancarkan serangan Sihir Api Biru, Logam, dan Anginnya ke arah monter Naga itu. Semua serangannya tak memberi goresan sedikit pun. Bahkan Sean juga telah memberi pukulan tangan logamnya. Dan pukulannya juga tak berdampak sedikitpun.


Sean sedikit menjauh, ia mengarahkan tangan kanannya ke arah langit. JEDDERR....!! Tangan kanan Sean diselimuti pecikkan Petir. Lalu ia lancarkan Sihir Petirnya ke arah monster Naga.

__ADS_1


Serangannya kali ini cukup kuat, karena terbukti membuat Naga itu mengaum seakan ia kesakitan. Sean kembali mengangkat tangan kanannya ke arah langit lagi.


Beberapa detik kemudian terlihat sebuah senjata terbang ke arah Sean. Ia pun menangkapnya, dan menggenggam Senjata Kapak yang datang padanya.


__ADS_2