OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 31


__ADS_3

Tiba-tiba mereka mendengar suara perempuan.


"Hukuman Alam, Serangan Akar Pembunuh !!"


Permukaan tanah pun bergetar. Semua orang melihat sekeliling tempat itu, dan mencari suara perempuan tadi. Terlihat seorang mengenakan jubah hijau muda dan mengenakan topeng bentuk hewan rubah.


Orang itu sudah ada di belakang Sean. Lalu, keluarlah banyak akar-akar berukuran besar dari tanah tempat para bandit berdiri. Akar-akar itu keluar dan langsung menyerang para bandit secara acak. Para bandit menghindar dalam keadaan panik.


BOOM..!! BOOM..!! BOOM..!!


BOOM..!! BOOM..!! BOOM..!!


Rombongan Sean membeku melihat serangan akar-akar itu. Mereka menatap orang yang berjubah itu. Salah satu anggota party-nya Sean menyadari sesuatu tentang Sihir Alam tipe Tumbuhan.


"Kenapa dia disini ? Tidak mungkin dia ada di hutan ini. Tapi dari Sihirnya, tidak mungkin kalau bukan dia." batin Darold.


Pasalnya, Darold adalah keluarga Bangsawan. Ia cukup paham dan sedikit hafal dengan kemampuan dan kekuatan keluarga Bangsawan lainnya. Tak hanya Bangsawan, bahkan kekuatan keluarga Kerajaan juga.


Akar-akar itu menyerang semua bandit seperti cambuk. Tak hanya itu, ada banyak akar yang menusuk target-targetnya bagaikan tombak. Ada juga akar-akar yang melilit para bandit.


"Aggrrhhh !!"


"Aggrrhhh !!"


"Aggrrhhh !!"


Bandit yang menjadi korban akar-akar itu berteriak kesakitan. Semua terlihat kocar-kacir, dan terlihat sungguh bruntal di mata Sean. Terlihat ada puluhan bandit yang tak terkena serangan akar-akar itu, dan mencoba melarikan diri.


Sean yang melihatnya, tak diam saja. Ia segera berlari dan menekan pelatuk senapan AK-47 miliknya.


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!


Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!! Dor..!!

__ADS_1


Arron, Brian, dan yang lainnya melihat itu, mereka juga segera memanfaatkan keadaan para bandit yang tengah berlarian untuk menyelamatkan diri.


Rin, Isla, dan Marie ingin sekali ikut menyerang. Tetapi mereka bertiga harus fokus dengan Sihir Cahaya mereka untuk melindungi para pedagang dan kelima kereta kuda.


Ke-6 anggota Party Sang Petualang segera melakukan rapalan Sihir, dan melancarkannya untuk ikut menyerang.


"Semburan Api Naga !!"_ Brian, Arron, dan Darold.


"Hantaman Pusaran Angin !!"_Elif, Erza, dan Lisa.


Woosssss


Kali ini, serangan ke-6 anggota Sean berhasil. Serangan mereka membakar tubuh para bandit. Setelah melancarkan serangan Sihir, mereka ber-6 segera berlari maju untuk menyerang bandit-bandit yang tersisa yang sudah terlihat lemah.


Namun ada juga yang mencoba memberi perlawanan, namun Arron, Brian, dan yang lainnya bisa mengatasinya, karena memang kondisi para bandit sekarang terluka.


Sementara, Disisi seorang berjubah itu, ia masih melancarkan Sihirnya untuk terus-terusan menyerang para bandit tanpa ampun.


Dan disisi Sean, ia memasukan kembali senapannya. Ia berlari cepat ke arah para bandit yang tengah melarikan diri. Lalu ia mengeluarkan granatnya dan langsung melemparnya.


DUAR..!!


Terlihat Ada satu orang bandit berdiri. Tubuhnya penuh luka. Ia menggenggam erat pedangnya. Ia berlari ke arah Sean yang tengah menghajar rekan-rekannya. Ia mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk berlari ke arah Sean.


Saat ini, Sean tengah terus memukul dan menendang bandit-bandit yang ia lihat.


BUGH..!!


BUGH..!!


BUGH..!!


Saat tengah asik memukul para bandit yang ia lihat, tiba-tiba dari ada bilah pedang menusuknya dari belakang hingga tembus ke depan dada.


JLEB..!!


Tentu saja para bandit yang masih hidup dalam keadaan terluka, melihat Sean tertusuk pedang oleh salah satu rekannya, pun tersenyum.

__ADS_1


Orang berjubah itu terbelalak melihatnya. Di balik topeng rubahnya, ia memasangan wajahnya terkejut melihat Sean yang tertusuk dari belakang. "Kak Sean."


Ia pun marah, karena tak terima melihat Sean. Tapi, ia terdiam, karens ia melihat hal yang tak terduga saat melihat Sean yang sudah tertusuk pedang, tetapi masih bisa berdiri.


Disisi Sean, tangan logam kirinya langsung mencekik leher bandit ini yang telah menusuknya. Cekikkannya sangat kuat dan mengangkatnya. Lalu tangan kirinya menarik pedang yang menusuk dirinya agar terlepas.


Semua anggota Party Sang Petualang tersenyum melihat Sean. Mereka sudah tau, kalau Sean bisa menyembuhkan lukanya dalam sekejap. Meski dalam pikiran mereka masih heran karena mengingat Sean tidak bisa menggunakan Sihir.


Semua bandit yang melihat terkejut bukan main. Yang awalnya mereka tersenyum, seketika memudar saat Sean mencekik leher rekannya.


Luka Sean sekejap sembuh. Sean menatap dingin. "Ku kembalikan pedangmu."


Sambil mencekiknya, Sean menusuk dadanya dengan pedang yang tadi tertusuk di tubuhnya. Ia langsung membuang jasad bandit itu sembarang. Sean kembali melakukan hajar menghajar para bandit yang ia lihat.


Disisi orang berjubah itu, ia terdiam. Ia tak melanjutkan serangannya semenjak melihat Sean tertusuk. Awalnya ia panik karena tidak bisa melindungi Sean.


Tetapi, ia malah dibuat terkejut. Sean tertusuk masih bisa bergerak. Padahal ia jelas sekali melihat Sean tertusuk dari belakang dan tembus ke depan dadanya.


Yang membuatnya terkejut lagi, luka Sean sekejap sembuh. "Sebenarnya, apa kekuatannya ? Apa Kak Sean menggunakan Sihir Penyembuh untuk menyembuhkan lukanya ? Tapi, yang 'ku lihat, Kak Sean tidak menggunakan Sihir."


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menggema hutan itu. "Siapa yang berani membuat keributan di wilayah kekuasaanku ?"


Aktifitas ke-6 anggota Party Sang Petualang, Sean terhenti. Mereka semua dan juga semua bandit yang masih sadarkan diri menoleh ke sumber suara itu. Sesuai harapan para bandit, Sang Pemimpin mereka telah datang.


Orang itu berbadan besar berotot dan terlihat sudah berumur. Dan juga ada pedang besar yang menempel di punggungnya. Tak hanya itu, orang itu juga tinggi. Bahkan tinggi Sean kalah. Orang itu memiliki tinggi 2,5 meter, sedangkan Sean hanya 180 cm.


"Tinggi amat." guman Sean menatap orang itu.


Orang itu berjalan ke arah keributan, dibelakang sudah ada beberapa orang-orang yang mengekorinya, bisa dikatakan anak buah terpercayanya. Orang itu Sang Pemimpin, geram melihat ratusan anak buahnya yang sudah tidak terlihat baik.


Ada yang sudah mati, tak sadarkan diri, terluka, buntung. Dan yang lain-lainnya. Hanya tinggal puluhan anak buahnya saja yang masih mampu berdiri dan duduk di tanah.


"Apa-apaan kalian ini ? Bagaimana bisa kalian bisa terlihat kacau dan payah di mataku ?" tanya orang bernada tegas sambil memandang semua anak buahnya yang masih sadarkan diri.


Tap..!! Tap..!! Tap..!! Tap..!! Tap..!!


Orang berjubah itu melihat Sean berlari ke arah Sang Pemimpin Besar Markas Bandit. Orang berjubah itu tidak akan tinggal diam saja. Ia merasa harus membantunya.

__ADS_1


Sean berlari sangat cepat, ia mengerahkan semua tenaganya. Bahkan orang berjubah itu yang ikut berlari mengikuti Sean, kaget bukan main melihat Sean berlari secepat itu. Pasalnya ia baru saja berlari, ia sudah tertinggal belasan meter.


Sean melompat tinggi ke arah orang yang merupakan Sang Pemimpin Markas Bandit terbesar itu. Bersamaan, tangan logamnya sudah untuk memukulnya.


__ADS_2