OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 91


__ADS_3

Semua senjata milik Reyhan meluncur terbang menyerang sang Naga. Tak semua berhasil bisa menembus kulit monster itu. Sebagian ada yang terpental, sebagian ada yang berhasil tertusuk.


Tentu saja, mendapat luka, si Naga itu semakin marah tak karuan. Sean yang terbang ke arahnya, pun memutar kapaknya dan melemparnya ke arah kepala Naga itu dari samping.


DUGH..!! JEDEER...!!


Kepala Naga itu menoleh keras setelah mendapat hantaman keras dari Kapak Petir yang Sean lempar. Dan Sinta, kini ia sudah sampai di atas kepala naga itu setelah ia berlari secepat kilat.


Sinta memulai menyerang atas kepala Naga ity dengan Pedang petirnya dengan Bruntal. "Tebasan Petir..!!"


Setiap serangan pedang petir milik Sinta, pasti mengeluarkan petir. Dan itu tentu saja menambah kuat efek serangannya. Pada akhirnya mata kiri Naga itu pun terluka setelah terkena Serangan Pedang Petir milik Sinta.


Tetapi semua serangan Reyhan, Sean, dan Sinta tak sesuai harapan. Meski kedua mata Naga itu sudah terluka, dan tak bisa melihat, tak membuat Naga itu untui tumbang.


Hal yang membuat mereka bertiga tak percaya, semakin Naga itu mendapat lukaatau serangan, Naga itu terlihat semakin bergerak kuat. Bahkan rantai-rantai yang mengikat tubuhnya, satu persatu terputus.


Sinta melompat mundur, bersamaan ia mengarahkan ujung pedangnya ke arah Sang Naga. "Sengatan Petir..!!"


Pedang Sinta menyala biru, dan seketika langsung mengeluarkan Petir dari ujung pedangnya. JEDEERR...!! Serangan Petirnya menyerang Naga itu.


Namun yang ada, Naga itu malah terlihat semakin kuat setelah mendapat luka yang ia terima. Sebagian Rantai-rantai milik Reyhan yang mengikat tubuhnya pun juga ada yang putus.


Reyhan menghentikan Serangannya, begitu juga dengan Sean yang mulai turun mendaratkan kakinya di permukaan tanah.


"Yang benar saja !! Kenapa dia semakin kuat ?" ucap Sinta kesal.


"Coba kalian berdua serang dengan Sihir Petir kalian secara bersamaan." kata Reyhan memberi saran.


Sean dan Sinta mengangguk kepalanya. Sean mengangkat Kapaknya ke arah langit, begitu juga dengan Sinta, ia mengarahkan pedangnya ke arah langit.


JEDEER.....!!


Muncullah cahaya petir di Pedang milik Sinta dan Kapak milik Sean. Mereka segera beralihkan senjata legendaris mereka berdua ke arah Sang Naga.


Bersamaan itu, Reyhan sendiri pun mengeluarkan Bola Api hitamnya dari telapak tangannya. Dan langsung ia lancarkan bola Api hitamnya ke arah Monster Naga itu.


DUAR...!!

__ADS_1


DUAR...!!


DUAR...!!


Terjadilah ledakan lebat di tempat itu. Sean, Reyhan, dan Sinta juga kagum bukan main melihat serangan mereka sendiri. Kini mereka bersiap kembali, apakah Naga itu semakin kuat atau melemah. Asap-asap yang ditimbulkan ledakan tadi pun perlahan menghilang.


Terlihat sang Naga masih berdiri, tetapi kondisinya yang sekarang, membuat Reyhan, Sean, dan Sinta tersenyum. Pasalnya, kulit Naga itu kini terluka, terlihat sekali tetesan darah yang keluar dari lukanya.


Tapi sekian detik kemudian, senyuman mereka bertiga luntur. Di luar dugaan, Naga itu malah semakin menjadi, terluka tetapi malah menjadi kuat. Bahkan rantai-rantai milik Reyhan saja sudah hampir putus semuanya.


Memang benar, kedua mata Naga itu sudah terluka, dan Naga itu takkan bisa melihat lagi. Tetapi, entah kenapa Naga itu malah masih belum tumbang dari luka-luka yang ua dapat.


Disini hanya Reyhan dan Sean yang mencoba untuk tetap tenang. Reyhan mengeluarkan rantai-rantainya lagi dari cahaya-cahaya portalnya untuk mengikat Naga itu agar tetap di tempatnya.


Sinta yang sudah sangat-sangat kesal, ia segera berlari secepat kilatnya ke arah Naga itu. Ia berlari di seluruh tubuh Naga itu sambil menebaskan pedang petirnya.


Wussssss....!!


Tiba-tiba Sinta terpental menjauh dari Sang Naga setelah menerima hantaman udara yang datang kepadanya. Beruntung, Sinta bisa mengimbangi tubuhnya jadi ia bisa mendaratkan kedua kakinya


Rupanya Naga itu melebarkan kedua sayapnya. Disini Reyhan mengeluarkan cahaya-cahaya portalnya lagi dan semua jenis pedang, tombak, lembing, dan jenis senjata tajam lainnya untuk terbang menyerang Naga itu.


Tetapi targetnya adalah kedua sayap sang Naga. Reyhan berfikir, sebisa mungkin Naga itu tidak terbang. Ia juga mengeratkan rantai-rantainya yang mengikat tubuh Naga itu.


Sementara Sean, ia mengarahkan Kapaknya ke arah Sang Naga. Seketika Sihir Petirnya keluar dan menyerang Naga itu. Begitu juga dengan Sinta, ia melancarkan serangan Sihir Petir dari ujung pedangnya.


Naga itu terus berontak, tenaganya semakin besar. Meski kedua sayapnya telah terluka parah akibat serangan senjata-senjata Reyhan, Naga itu masih belum tumbang juga.


Bersamaan mereka sedang sibuk dengan serangan mereka masing-masing, tiba-tiba terdengar suara tembakan di tempat itu. Tubuh Sang Naga terkena banyak sekali tembakan.


Sean, Reyhan, dan Sinta menoleh. Mereka bertiga melihat 3 kendaraan yang diam tak jauh dari mereka. Ya siapa yang datang dengan kendaraan itu kalau bukan Liona, Rosalyn, Zayden, Arron, dan yang lainnya.


Mereka tetap berdiri di tempat mereka dengan senapannya, dan menembakinya ke arah Monster Naga itu. Begitu juga dengan 3 kendaraan yang juga mengeluarkan senjatanya dan menembakinya.


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!

__ADS_1


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!


Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!! Dor...!!


Naga itu semakin berontak tak karuan menerima tembakan yang dilancarkan oleh orang-orang Sean dan yang lainnya.


Sean, dan Sinta pun menghentikan serangan Sihir Petirnya. Mereka membiarkan Naga itu terus-terusan ditembak oleh orang-orang mereka dan 3 kendaraan bersenjata itu.


Terlihat Liona dan Rosalyn berjalan mendekati Sean. Liona langsung memeluk Putranya. Tak lama kemudian, Liona melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam Putranya.


"Kenapa kamu bertindak semaumu tanpa mengajak ibumu !?!?" kata Liona marah.


"Maaf bu, aku tak ingin melihat ibu terluka bila bertarung bersamaku." jawab Sean tersenyum, namun dalam hatinya ia merasa takut karena dimarahi oleh ibunya.


Disaat Sang Naga sedang ditembak oleh senjata teman-teman Sean dan Zayden, Liona tak henti-hentinya memarahi Sean. Dan Sean hanya diam tak berani membantah ibunya.


.....


Sementara Disisi Lain.


Terlihat seorang laki-laki tengah berdiri di atas tebing yang cukup tinggi. Ia tengah melihat semua pasukannya mati semua akibat perang, dan terutama Sang Naga itu. Semua sisa prajuritnya mati semua.


Dia tak lain, Philip, Sang Raja Alastair. Ia menatap marah ke arah Naga itu. Akibat ulah para penyihirnya yang sudah mati, kini ia harus mundur dari medan perang.


Mungkin ia akan memikirkan rencana beberapa tahun lagi agar bisa bertarung lagi dengan pasukan aliansi. Ia pun membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi tempat itu.


Tiba-tiba dibelakangnya ada sebuah cahaya kilat datang padanya. Tiba-tiba....


JLEB...!!


Belum sempat terkejut, sebuah tombak menusuk dirinya dari belakang hingga tembus ke depan perutnya. Raja Alastair terbelalak, dan ia pun muntah darah, dia benar-benar merasa rasa sakit yang amat luar biasa.


Perlahan, Raja Alastair memutar kepalanya dan menatap siapa yang sudah menusuknya dari belakang. Ia melihat seorang wanita dewasa mengenakan gaun putih yang indah.

__ADS_1


Wanita itu tak hanya cantik, tetapi dia juga bertelinga lancip. Rupanya yang menusuk Raja Alastair adalah seorang wanita berRas Elf.



__ADS_2