OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 98


__ADS_3

Dr. Alex terus terbang. Ia terbang sejauh mungkin dari kota. Kini tempat tujuannya adalah tempat terakhir ia bersama dengan Putranya, yaitu goa. Dalam pikiran memikirkan tentang dirinya yang sudah seperti manusia biasa.


Banyak sekali pesawat drone mengejar dirinya. Sambil tebang, Dr. Alex merubah kedua tangannya menjadi meriam dan menembaki pesawat-pesawat itu.


Keadaan dirinya ini, membuat ia teringat Putra kesayangannya, yang tak lain adalah Sean. Ia masih tak menyangka kalau dirinya memiliki kondisi seperti Putranya apakah ini karmanya yang telah ia berbuat kepada Putranya.


Padahal ia lakukan itu agar Putranya tetap hidup. Dan sekarang kedua tangan dan kedua kakinya terbuat dari logam, parahnya Nanotechnology tertanam padanya.


.....


Beberapa lama kemudian, Dr. Alex telah menghancurkan semua pesawat drone itu. Ia menambahkan kecepatan dalam terbangnya. Ingin sekali marah, karena Dr. Denny karena menggabungkan semua serum karyanya dan serum buatan Dr. Denny.


Benar-benar gila efeknya, ia malah menjadi terlihat pemuda yang berumur 30 tahunan. Dan ia bingung, kenapa peluru energi dan energi terbangnya tak pernah habis ? Tapi percuma, Dr. Denny telah ia bunuh, seharusnya sebelum ia membunuhnya, ia harus menyiksanya.


Tapi sekian lama ia berfikir, ia menyadari sesuatu, yaitu ada kemungkinan dirinya harus menyerap sinar matahari, bisa dikatakan, sinar matahari adalah sumber untuk merubah kedua tangan dan kedua kakinya sebagai perlengkapan atau senjata.


Beberapa saat kemudian, Dr. Alex sampai di atas hutan, Ia segera mendarat dirinya. Setelah lama ia berjalan di dalam hutan, ia melihat sebuah goa. Tepat sekali, tempat dimana ia dan Putranya berpisah.


Dr. Alex berjalan memasuki goa itu. Di dalam goa, Dr. Alex melihat-lihat sekeliling isi goa itu. Ia melihat tempat ia melakukan bom bunuh diri. Ia terus menulusuri goa itu. Beberapa lama ia mendalami goa itu, ia pun terhenti.


Salah satu tangannya menyentuh dinding goa. "Sepertinya, aku percuma kesini. Aku tak menemukan tanda-tanda apapun disini."


"Ahh, benar, sudah 3 tahun kebih, jelas Putraku sudah tak disini." lanjutnya.


Lalu Dr. Alex berjalan kembali ke arah jalan keluar. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ia merasakan ada sebuah cahaya dari belakangnya. Ia segera berbalik tubuhnya.


Dr. Alex memandang bingung dengan penampakan sebuah cahaya lingkaran yang berada di depannya. Beberapa saat kemudian, ia teringat masa lalunya.


"Portal..." gumannya, ia teringat istrinya.

__ADS_1


Dr. Alex berjalan cepat mendekati portal itu. Tanpa bertanya-tanya atas kedatangan portal itu yang tiba-tiba muncul, ia langsung masuk ke dalam portal itu. Setelah masuk, portal itu sekejap menghilag.


.....


Kini Dr. Alex tengah berada di sebuah tempat yang dimana ia melihat banyak sekali Dunia di matanya. "Tempat apa ini ?"


"Hei..."


Tiba-tiba indra pendengarannya merdengar suara pria, seakan memanggil padanya. Dr. Alex melihat seorang pria berambut putih panjang, dan mengenakan pakaian serba putih. Pria itu berdiri tak jauh darinya.


Dr. Alex langsung merubah salah satu tangannya menjadi meriam, dan mengarahkannya ke arah pria tua itu. "Siapa kamu ?"


"Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah pria tua yang kebetulan lewat disini."


Dr. Alex membalasnya. "Kebetulan lewat ? Apa tidak salah ? Tebakanku mengatakan kalau kamu yang tiba-tiba muncul. Jadi, mana mungkin kau lewat, secara tempat ini terlihat seperti tak ada kehidupan."


Pria tua itu terkekeh. "Ahh, dari kata-katamu aku jadi teringat Putramu."


Pria tua itu membalas. "Bukankah kamu sedang mencari Putramu ?"


Dr. Alex menatap tajam ke arah pria tua ini. Karena baginya aneh sekali kalau pria tua yang berpakaian serba putih ini bisa tau tujuannya. Pikirannya sudah entah kemana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedangkan di Dunia Lain. Tepatnya, Dunia D-31. Terlihat sebuah wilayah terbuka yang jaraknya sedikit jauh dari kota Kerajaan. Di tempat itu, sedang tejadi pertarungan hebat, yang tak lain pertarungan Sean dan Mozark.


Mereka berdua masih dalam Mode mereka masing-masing. Pertarungan mereka tak main. Tempat pertarungan mereka banyak sekali lubang-lubang bekas ledakan serangan mereka. Sudah beberapa mereka berdua saling bertarung.


Raja Erlang, Zayden, dan pasukannya yang berjumlah 50, mereka semua juga telah lama sampai di tempat pertarungan Sean melawan Mozark. Mereka memilih diam ketika melihat pertarungan Sean dan Mozark.

__ADS_1


Bahkan Raja Erlang dan Zayden sudah tidak dalam Mode Api mereka, yang berarti, mereka berdua memilih untuk diam dan melihat saja, dari pada menjadi beban. Para pasukan juga memilih diam untuk tidak ikut campur pertarungan Sean melawan Mozark.


Sementara, disisi Sean yang sedang bertarung melawan Mozark, ia melompat mundur sambil melempar Kapaknya ke arah lawannya. Mozark langsung menepis Kapak yang dilempar Sean padanya dengan menggunakan pedangnya.


Pedangnya Mozark cukup kuat, pedangnya telah berubah hitam pekat, sama persis dengan pemiliknya. Ya, Mozark dalam Mode Kegelapannya, tubuhnya menghitam, bahkan seperti tak terlihat.


Kapak yang tertepis oleh targetnya, dia bergerak kembali kepada pemiliknya. Setelah Kapaknya sudah kembali ke genggamannya, dengan kecepatan kilatnya, Sean bergerak mendekati Mozark dan menyerangnya lagi.


Mozark menepis dan menghindar semua serangan yang datang padanya. Ia akui, Sean sangatlah hebat, bahkan bisa menggunakan Sihir Petir yang terkenal sangat langka, bahkan senjata salah satu legendaris mengakui Sean sebagai pemiliknya.


Tetapi mengingat Sean adalah suami dari gadis pujaannya, itu adalah hal yang sangat tak sudi menerima kenyataan. Rasa benci dan marahnya kepada Sean semakin menjadi. Dan itu membuat aura hitam yang menyelimuti dirinya semakin pekat.


Gerakkan Mozark tak kalah lincah dengan gerakkan kilat milik Sean, dan itu membuat pertarungan mereka berdua semakin sengit. Setiap serangan senjata atau Sihir yang mereka lancarkan, menimbulkan ledakan.


Bahkan Raja Erlang, Zayden, berserta pasukannya memilih sedikit menjauh dari tempat itu, karena tak ingin terkena efek pertarungan mereka.


Saat di tengah-tengah pertarungan, Sean merasakan kalau energi mananya sudah terkuras banyak akibat efek terlalu lama memakai Mode Petirnya. Ia segera melompat mundur.


"Kalau begini, aku hanya bisa mengandalkan kemampuan fisikku dan keahlianku. Baiklah tidak masalah." guman Sean.


Sean melempar asal Kapaknya, kali ini ia tak bergatung dengan senjata itu. Bukan karena menguras energi mananya, tetapi ia akan menggunakan metode lamanya. Tidakan Sean membuat Raja Erlang, Zayden, dan pasukannya heran. Bahkan Mozark sendiri juga heran.


Sean mengeluarkan rantai, dan senapan AK-47 dari cincin penyimpanannya. Sudah lama ia tak memakainya. Senapan AK-47-nya ia simpan dibelakang punggungnya.


Wuusss...!!


DUAR...!!


Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di tengah-tengah pertarungan Sean dan Mozark. Entah apa itu yang jatuh sehingga membuat ledakan, dan menimbulkan banyak debu menghalangi pandangan mereka. Tak hanya Sean, dan Mozark tekejut, Raja Erlang dan rombongan juga terkejut.

__ADS_1


Namun, tak lama kemudian, debu-debu itu menghilang, terlihat pria dewasa mengenakan pakaian dan jas hitam panjang yang berdiri di tengah-tengah mereka. Semua orang memandang heran dengan orang asing ini.


Namun hanya Sean yang memasang wajah terkejut melihat wajah orang itu. Pria itu memandang tajam ke arah Mozark. Ia langsung mengarahkan tangan kanannya ke arah Mozark, seketika tangan kanannya berubah menjadi meriam.


__ADS_2