OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 39


__ADS_3

Darold berteriak. "Mulai !!"


Hup..!! Wussss..!!


Tiba-tiba Rosalyn meloncat tinggi ke atas dari tempatnya. Di udara ia menatap tajam ke arah Sean. "Angin Pendorong !!"


Tiba-tiba tubuh Rosalyn diselimuti angin. "Aku tidak akan menahan diriku, Kak Sean !!"


Wusss..!!


Tubuh Rosalyn tiba-tiba meluncur ke arah Sean yang tengah menatap datar ke arah Rosalyn. Rosalyn menyiapkan kepalan di salah satu tangannya. "Pukulan Api !!"


DUAR..!!


Tanah injakan Sean menjadi hancur dan retak setelah terkena serangan Rosalyn. Tempat itu menjadi penuh debu. Perlahan debu menghilang. Sean tak ada.


"Kamu menyerang siapa ?"


Rosalyn terbelalak, ia langsung melompat, sambil memutarkan tubuhnya. Dan ia langsung memberi serangan ke arah Sean yang berdiri di belakangnya. "Pisau Angin !!"


Sean melompat mundur. Setelah meletakan kakinya di tanah, Sean meletakkan salah satu tangannya menyentuh permukaan tanah. Tanpa berkata, tetapi berkata dalam batinnya. "Serangan Hujan Peluru Tanah !!"


Tiba-tiba tanah yang ada di sekitar Sean, menyerang ke arah Rosalyn. Serangan Sean seperti hujan. Rosalyn yang melihat terkejut. Ia segera berucap kata Sihirnya. "Dinding Pelindung !!"


Muncullah sebuah dinding tanah yang tebal di depan Rosalyn. Dinding itu, melindunginya dari serangan Sean yang terus menghujaninya.


Dibalik dinding pelindungnya, Rosalyn masih merasa tidak menyangka, kalau Sean bisa menggunakan Sihir tanpa mengucapkan kata Sihir. "Dia bisa menggunakan Sihir tanpa mengucapkan kata Sihir ? Bagaimana bisa ?"


Tak hanya Rosalyn, Darold yang menjadi wasit dan menonton Rosalyn dan Sean, ia juga tak kalah kejutnya seperti apa yang Rosalyn pikirkan. "Apa aku tak mendengar saat Sean mengucapkan kata Sihirnya. Atau telingaku yang bermasalah ?"


Sedangkan Sean, ia masih meletakan tangannya di permukaan tanah. Serangan Sean terus menghujani dinding pelindung milik Rosalyn.


Sean melompat ke maju ke arah dinding pelindung milik Rosalyn. Sean bergerak maju, secara otomatis, Serangan Sihir Peluru Hujan Tanah miliknya terhenti.


Sean siap melayangkan tujuan dengan kepalan tangan logam kirinya.


BRUAAKK..!!


Dinding Pelindung Tanah milik Rosalyn hancur setelah menerima pukulan Sean. Namun Sean tidak menemukan Rosalyn. Tetapi ia melihat sebuah lubang di tanah, dengan berdiameter 1 meter saja.


Tiba-tiba dari lubang tanah itu, di dekat tempat Sean berdiri, keluarlah akar-akar menjalar. Akar-akar itu melilit tubuh, kedua tangan, dan kedua kakinya Sean.


Tubuh Sean terangkat oleh akar itu. Terlihat, dari ke jauhan Rosalyn sudah ada di sisi tempat sejauh 30 meter tempat Sean tadi menyerangnya.


"Sejak kapan dia disana ? Aku tak melihatnya ia berpindah." batin Sean bertanya-tanya.


Ia melihat sekelilingnya, tubuh, kedua tangan, dan kedua kakinya masih terikat. Sean pun teringat lubang tanah yang ia lihat tadi. "Jadi, saat di belakang dinding pelindungnya, dia menggali tanah sebelum aku melancarkan pukulanku."


Sean tak berontak, tubuhnya masih terangkat di udara oleh akar-akar yang melilit dirinya. Rosalyn berjalan mendekatinya. "Apa segini saja ? Sepertinya pelajaran yang diberikan padamu masih kurang."

__ADS_1


Sean tak menjawab. Rosalyn berhenti, kini mereka berdua berjarak 10 meter saja. Rosalyn bersuara lagi. "Kerahkan semua kemampuanmu yang kamu miliki, Kak Sean. Supaya kamu bisa mengalahkan musuhmu."


Sean tersenyum menyeringai. "Apa aku boleh kerahkan semuanya ?"


"Tentu saja." sahut Rosalyn.


"Baiklah, aku kerahkan semuanya, dan kamu jangan menyesal." balas Sean.


Lalu tangan logam kirinya berontak sangat kuat. Akar yang melilit tangan kirinya terlepas. Lalu ia meraih pistolnya yang ia sembunyikan di dalam saku celananya.


Dor..!!


Dor..!!


Dor..!!


Rosalyn terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh Sean. Ia menyadari benda yang selama ini dipakai Sean dalam pertempurannya. "Benda apa yang dia pakai ?"


Dor..!!


Dor..!!


Dor..!!


Sean menembaki batang akar-akar yang melilit dirinya. Akhirnya ia terlepas, dan mendaratkan kakinya di permukaan tanah.


Hup..!!


"Jangan diam saja, jika kamu tak ingin kalah dariku..!!" ucao Sean.


Rosalyn yang terdiam karena melihat aksi Sean yang tak terduga, ia tersadar. Ia segera melompat ke atas untuk menghindari Sean yang lompat ke arahnya.


Rosalyn berhasil menghindari Sean. Namun Sean dengan mudahnya menangkap kaki Rosalyn, dengan tangan logam kirinya. Sean langsung ayunkan dan membantingkannya ke tanah.


"Hantaman Pukulan Angin !!"


BUGH..!! Wusss..!!


Namun, Rosalyn lebih keburu mengucap kata Sihirnya. Tubuhnya tak terjadi menghantam tanah, ia hanya terjatuh pelan saja dalam posisi duduk di permukaan tanah.


Sedangkan Sean, tubuhnya terdorong ke belakang. Ia segera memutar tubuhnya untuk mengimbangi agar ia tak terjatuh.


Sean langsung loncat kembali. Ia berkata dalam hatinya. "Api Pendorong."


Muncullah semburan Api dari kedua alas kaki Sean. Semburan Api itu terlihat tak biasa. Tubuh Sean pun terangkat ke udara. Ia terbang ke atas dengan cepat.


Rosalyn mendongak dengan wajah terkejutnya. Tak hanya Rosalyn, bahkan Darold sendiri juga terkejut. Karena, tak hanya mereka, semua orang di dunianya hanya tau biasanya Sihir Angin yang bisa membantu mereka terbang ke udara.


Rosalyn dan Darold baru pertama kali ini melihat Sihir Api juga bisa sebagai salah satu pendukung untuk terbang.

__ADS_1


Sean terbang cepat turun menuju ke arah Rosalyn. Lalu dalam hatinya berkata. "Spinning Fire Kick."


Kaki kanan Sean diselimuti Api. Dan juga tubuhnya berputar-putar.



Posisi seperti itu, Sean terlihat seperti roda Api yang terbang, dan siap memberikan tendangan Api miliknya.


Rosalyn yang melihatnya juga tak ingin kalah. "Tangan Api Membara !!"


Tangan kanannya diselimuti Api yang menyala-nyala terang. Rosalyn siap memberikan pukulan Apinya. Ia juga tak menduga kalau Sean bisa


Sean dan Rosalyn sudah saling dekat. Mereka berdua sama-sama mendekat, dan saling akan beradu serangan mereka masing-masing.


"Cukup !!"


Rosalyn berhenti, serangan yang akan ia lancarkan juga terhinda dan menghilang. Namun tidak bagi Sean. Sean tidak bisa menghentikan serangannya.


"Menghindarlah !!" teriak Darold.


DUAR..!!



Rosalyn dapat menghindar. Sebuah ledakan yang ditimbulkan oleh Serangan Sean. Permukaan tanah yang terhantam serangan Sean hancur dan retak berantakan.


Rosalyn dan Darold tak percaya kalau Sean mampu menciptakan jenis serangan Sihir Api yang cukup mengerikan.


Terlihat Sean tengah duduk di tanah. Rosalyn berlari kecil mendekati Sean. Sean bersuara. "Maafkan aku, aku tidak bisa menghentikan seranganku."


Rosalyn yang sudah berdiri di depannya tersenyum, ia mengulurkan tangannya. "Tidak masalah. Kamu harus belajar lagi untuk menghentikan seranganmu."


Sean tersenyum. "Ya, kamu benar. Aku masih harus belajar lagi." lalu ia menerima uluran tangan Rosalyn.


"Kita istirahat dulu." ucap Rosalyn sambil menarik tangan Sean, dan membantunya berdiri.


"Memang hebat, seorang Tingkat Platinum, sudah bisa memperlajari dasar Sihir dalam waktu yang singkat." ucap Darold.


"Sebenarnya semua orang bisa, hanya saja tergantung dari setiap orangnya yang cepat paham karena memiliki kemauan yang tinggi." Rosalyn yang menjawab. Sean mengangguk kepalanya.


"Tapi yang aku herankan, bagaimana caramu menggunakan Sihir ? Padahal aku tidak mendengarmu mengucapkan kata Sihir." ucap Darold, Rosalyn juga heran.


Sean terkekeh. "Beberapa saat yang lalu, sebelum kita latihan bertarung, saat itu aku berfikir, untuk apa mengucapkan kata Sihir secara terang-terangan disaat tengah-tengah pertarungan ? Bukankah hal itu bisa membuat lawan kita mengetahui serangan yang akan kita gunakan ?"


Darold dan Rosalyn berfikir. Dan bersamaan mereka berkata. "Benar juga."


"Kenapa aku baru menyadarinya ?" batin Rosalyn dan Darold.


Sean menambahkan. "Jadi saat aku ingin menggunakan Sihir, aku hanya berucap kata Sihir dalam batinku, dan aku sedikit membayangkan jenis Sihir yang ingin 'ku keluarkan."

__ADS_1


"Wah.., ini menarik, dan bisa buat pembelajaran untuk kita." sahut Darold, Rosalyn mengangguk-angguk kepalanya.


Mereka menyudahi kegiatannya. Mereka memilih untuk bersantai di gazebo, dan menikmati teh mereka. Seperti biasa, Sean kini meminta belajar kepada Darold untuk membaca.


__ADS_2