OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 104


__ADS_3

"Jadi begitu." sahut semua anggota party Sang Petualang setelah mendengar cerita Sean tentang ayahnya.


Mereka pun saling berbagi cerita, dan kadang bercanda. Dalam pikiran mereka semua tak menyangka kalau Sean telah menjadi calon ayah.


.....


Setelah beberapa lama, Sean pun bangkit dari duduknya. "Baiklah, aku harus kembali ke Kerajaan."


"Ahh, kau benar." sahut Brian, dan semua anggotanya mengangguk-angguk kepalanya.


"Besok aku jadwal hari liburku, kalian kalau ingin datang ke kediamanku, maka datanglah. Disana terbuka untuk kalian." kata Sean.


"Tentu." sahut Brian.


"Pastinya." Arron yang juga menyahut kata-kata Sean. Dan yang lainnya mengangguk.


Sean pun berpamitan. Setelahnya, ia pun pergi keluar dari Guild Petualang. Brian dan ke-10 anggota memulai rapat menyusun rencana untuk mengambil misi selanjutnya.


Rencana yang mereka buat akan dilakukan 2 hari kedepan. Karena seperti kata Sean sebelumnya, mereka semua besok akan datang berkunjung ke kediaman Sean.


Saat sedang rapat, tiba-tiba Richard datang. Ia mendekati perty Sang Petualang. Brian dan anggotanya seketika menghentikan rapat mereka, dan menatap Richard yang sudah berdiri di depan mata mereka.


"Apa tadi Sean kesini ?" tanya Richard.


Semua mengangguk kepalanya. Brian berkata. "Apa tuan ada hal yang ingin disampaikan kepada Sean ?"


Richard menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin mengajaknya untuk mengobrol, karena sudah lama sekali ia tak pernah kemari semenjak Tuan Putri Rosalyn dinyatakan hamil."


"Bukankah tuan Richard sendiri salah satu petinggi Kerajaan ? Apa tidak pernah bertemu ?" tanua Arron.


Richard menepuk jidatnya. Lalu ia berkata. "Ahh..., benar, aku lupa memberi tahu, aku sudah tak mengundurkan diri dari jabatan itu sejak 10 bulan yang lalu."

__ADS_1


"Kenapa ?" sahut mereka semua.


"Aku hanya ingin menjadi master Guild saja. Aku ingin punya waktu banyak dengan keluarga kecilku." jawab Richard sambil tersenyum.


"Lalu bagaimana kabar Sinta ?" tanya Erza.


Dengan bangganya ia menjawab. "Dia sedang menjadi sosok ibu untuk putraku dan setia menunggu aku pulang kerumah."


Seketika semua anggota party Sang Petualang memutar bola matanya. Mareka sangat paham, betapa bucinya Richard terhadap istrinya.


Richard pun pamit untuk pergi kembali ke ruangannya. Party Sang Petualang pun kembali rapat.


.....


Keesokan Harinya.


Dipagi hari, Sean dan Liona sedang bersih-bersih di toko obat milik Dr. Alex. Karena besok adalah hari pertama buka. Sedangkan Rosalyn, ia hanya duduk memperhatikan mereka berdua. Ingin sekali membantu, tetapi Sean dan Liona melarangnya.


Semenjak dirinya dinyatakan hamil, Sean dan Liona sangat overprotektif kepada Rosalyn. Bahkan Dr. Alex sendiri pun juga seperti itu. Rosalyn hanya pasrah, atas perhatian keluarga Sean yang terlalu menyayanginya.


Peralatannya hanya 2 panci alumunium besar dan 2 centong kayu panjangnya untuk mengaduk. Sisanya, ia hanya merubah kedua tangannya menjadi peralatan yang ia butuhkan.


Untuk memanaskan panci besarnya saja, ia hanya merubah tangannya menjadi meriam penyembur Api. Mungkin tak asing bagi Sean dan Liona yang dulu pernah tinggal satu rumah dengan Dr. Alex, tapi asing di mata Rosalyn.


Banyak sekali botol kaca dan siap untuk menerima cairan hasil buatan Dr. Alex. Semua botol kacanya memiliki panjang 10, dan lebarnya 4 cm saja. Ia dapatkan dari pengrajin kaca.


Satu panci besar berisi cairan obat yang berwarna biru cerah dan akan siap dituangkan satu-persatu ke botol kaca. Dr. Alex sudah memperhitungkan kalau obat ini hanya bertahan 4-6 bulan saja jika tidak di konsumsi.


Semua telah dituangkan ke semua botol kaca. Dr. Alex memanggil Sean dan Lioan datang untuk membantu membawanya. Mereka bertiga masing-masing membawa keranjang yang sudah berisi botol kaca sejumlah 40 pcs.


Setelah membawa ke depan, mereka bertiga menyusun semua botol kaca di lemari. Tak membutuhkan waktu lama, semua telah selesai. Dr. Alex, Liona, dan Sean tersenyum puas. Mereka bertiga melihat 2 lemari kayu yang sudah berisi botol kaca sejak kemarin.

__ADS_1


Semua terdiri dari 3 warna. Warna biru cerah untuk demam, batuk, flu, dan pusing. Warna merah cerah untuk mengobati luka dalam, dan sakit perut. Warna kuning cerah untuk memulihkan pegal-pegal dan masuk angin.


Mungkin terkesan lucu, karena cairan obat-obat buatan Dr. Alex sesuai dengan Dunia asalnya. Ia membuat obat-obat itu sesuai dengan orang-orang yang sering mengalami keluhan seperti itu.


Cuma obat-obat buatan Dr. Alex tak berbentuk tablet, melainkan cairan. Tak ada salahnya 'kan ? Kalau membuat obat-obat asal Dunianya di Dunia barunya.


Sean membalikkan tubuhnya, ia menatap istrinya yang tengah duduk di teras depan toko dengan cemberut, karena hanya bisa duduk tak membantu. Sean pun duduk di sampingnya.


"Jangan cemberut dong, nanti cantiknya nambah." goda Sean.


"Aku ingin ikut bantu." jawab Rosalyn dengan wajah melasnya.


Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak boleh, kamu boleh bergerak, tapi tidak boleh bergerak berlebihan. Atau kita mau jalan-jalan ?"


Belum sempat Rosalyn menjawab, terdengar suara langkah banyak kaki mendekat. Sean dan Rosalyn memandang ke arah rombongan Brian dan yang lainnya berjalan mendekati mereka berdua.


Sean segera bangkit dari duduknya, dan tak lupa membantu istrinya berdiri. Mereka berdua menyambut kedatangan teman-teman mereka. Sean menjabat tangan dengan teman-teman laki-lakinya.


Dan Rosalyn, ia berpelukkan dengan Rin, Lisa, Isla, Elif, dan Marie secara bergantian. Kelima teman perempuan ini saling mengelus perutnya.


Brian memandang toko obat yang berada disamping rumah Sean. Ia bersuara. "Jadi ini toko obatnya, seperti lain dari yang lain."


"Ya, karena ayahku menginginkan kalau tempatnya sesuai dengan Dunia asalnya." jawab Sean.


Sudah bukan rahasia lagi. Namun hanya orang-orang yang Sean percayai tentang asal dirinya. Tetapi Sean tak pernah bercerita tentang Pak tua penjaga Multiverse.


Semua terdiam melihat Liona dan Dr. Alex keluar dari toko obat. Semua memang tak asing melihat Liona, tetapi mereka terpaku melihat Dr. Alex. Mereka tak percaya kalau wajahnya Dr. Alex mirip dengan Sean, seperti duplikat.


"Wahh.., teman-teman Sean telah datang." ucap Liona.


Semua mengangguk kepalanya. Dr. Alex bersuara. "Jadi ini teman-temannya Putraku." ucapnya sambil tersenyum dan memandang semua teman-teman Sean.

__ADS_1


Liona pun bersuara. "Oh ya.., kenalkan, dia ayahnya Sean."


"Dan juga suaminya dia." sambung Dr. Alex sambil menatap Liona dengan senyuman dan merangkulnya.


__ADS_2