OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 37


__ADS_3

Kelompok Sean telah sampai di depan pintu gerbang Kota Kerajaan Erlang. Putri Rosalyn turun dari kereta kudanya, belum sempat ia menunjukan identitasnya, beberapa penjaga pintu membungkuk untuk memberi hormat.


Terlihat Rosalyn berbicara dengan beberapa penjaga itu. Beberapa saat kemudian, Rosalyn berjalan mendekati kereta kuda yang dinaiki oleh Sean, beberapa penjaga juga mengekorinya


"Kita turun, dan biarkan kereta kuda ini diurus oleh mereka." ucap Rosalyn sambil menunjuk beberapa penjaga.


"Termasuk para mantan tahanan ini." lanjutnya sambil menatap 4 mantan tahanan perempuan yang tengah menunggu.


Sean dan Darold mengangguk kepalanya. Lalu mereka berdua turun dari kereta kuda Mereka masing-masing. Ke-4 mantan tahanan juga ikut turun.


"Maaf, cukup sampai sini saja kita mengantar kalian." ucap Rosalyn.


Ke-4 mantan tahanan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu salah satu dari mereka bersuara. "Tuan Putri, jangan berkata maaf kepada kami. Justru kami berterimakasih karena telah menyelamatkan kami. Ini sudah lebih dari cukup."


Rosalyn tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Baiklah, selamat datang kembali ke rumah. Cepatlah pulang, pasti keluarga kalian sudah lama menunggu kepulangan kalian."


"Terimakasih, Tuan Putri. Kami pamit undur diri." ucap mereka ber-4.


Lalu mereka ber-4 segera berlari masuk ke dalam kota Kerajaan. Mereka terlihat bahagia, dan tersenyum lepas. Setelah melihat mereka ber-4 sudah menjauh, para penjaga membawa ke-3 kereta kuda.


Karena kereta beserta kudanya tidak ada pemiliknya. Jadi lebih baik, Rosalyn meminta para penjaga untuk membawa ketiga kuda itu ke kandang kuda Kerajaan, untuk dirawat, dan karena suatu saat pasti diperlukan lagi.


Kini Rosalyn, Sean, dan Darold akan segera masuk. Namun Darold memberikan bersuara. "Aku sangat penasaran, kalian berdua telihat dekat."


Sean dan Rosalyn terdiam. Darold tersenyum dan ia kembali bersuara. "Apa kalian memiliki hubungan ?"


Sean dan Rosalyn masih diam. Sebenarnya Sean sendiri, juga tidak tau entah kenapa dirinya bisa bisa dekat Rosalyn. Padahal baru beberapa kali bertemu.


Darold tersenyum jahil. "Sean yang terhormat. Tidak baik jika kamu dekat-dekat dengan perempuan yang telah bertunangan."


Entah kenapa Sean merasa tidak terima mendengarnya. Sedangkan Rosalyn tetap diam, rasanya ingin sekali memberi teman angkatannya kalau dirinya dan Sean adalah sepasang tunangan.


Tetapi, jika ia memberitahu yang sebenarnya, ia takut, kalau Sean akan menjauhinya dan benci padanya. Lebih baik ia memilih diam saja. Terserah jika Sean mengakuinya atau tidak.


Sean menghela nafasnya. Ia melirik ke arah Rosalyn yang menunduk. Tangannya maraih sesuatu dari dalam pakaiannya. Ia langsung memakainya di jari manis tangan kanannya. Lalu ia tunjukan ke arah Darold.


Tindakan Sean, membaut Rosalyn terkejut sekaligus senang. Tetapi ia harus menyembunyikan rasa senangnya terlebih dahulu.


Dan untuk Darold, ia terbelalak. "Sudah kuduga. Sean, rupanya kamu tunangannya Tuan Putri Rosalyn."


Sean dan Rosalyn heran, dari mana Darold bisa menduga tentang mereka berdua. Mereka memilih menepis pikiran mereka.

__ADS_1


Setelah itu, mereka masuk melewati pintu gerbang Kota Kerajaan. Rosalyn, Sean, dan Darold berjalan di tengah-tengah Kota Kerajaan. Banyak orang-orang melihat mereka bertiga.



Semua penduduk kota Kerajaan yang melihat Putri Rosalyn, mereka memberi senyuman, terkadang ada yang formal, seperti membungkuk memberi hormat.


Rosalyn tersenyum membalas sapaan mereka dan menerima orang-orang bersikap formal. Namun sebenarnya ia risih jika ada yang bersikap formal, ia lebih nyaman jika bersikap biasa-biasa saja.


"Apa hanya aku yang tau tentang ini ?" tanya Darold.


Sean mengangguk kepalanya. "Untuk anak muda seusiamu, hanya kamu yang sudah tau, dan yang lain, hanya orang-orang Kerajaan yang sudah tau."


"Tapi tetap saja, Sean. Kalau disembunyikan dari orang-orang kota Kerajaan, pasti perlahan semua akan mengetahuinya." lanjut Darold.


"Jika memang seperti itu, maka biarkan saja, biarkan mengalir apa adanya." jawab Sean. Dan Rosalyn menyetujuinya.


Darold mengangguk kepalanya, ia berjanji tetap tutup mulut. Lalu ia berpamitan untuk pulang ke kediamannya.


Kini tinggal Rosalyn dan Sean saja. Mereka berjalan menuju ke istana Kerajaan Erlang. Karena Sean harus melapor kepada Raja Erlang, kalau dirinya sudah menyelesaikan tugasnya.


.....



"Dimana ayahku dan ibuku ?" tanya Rosalyn kepada salah satu maid.


"Yang Mulia Raja dsn Yang Mulia Ratu sedang ada di taman belakang istana, Tuan Putri."


Rosalyn mengangguk kepalanya. Lalu ia mengajak Sean untuk mengikutinya. Sean hanya menurut saja, karena ia juga tak ingin berlama-lama.


.....



Setelah di taman belakang istana. Rosalyn berjalan mendekati gazebo, Sean mengekorinya. Terlihat Raja Erlan, dan Ratu Anne tengah menikmati teh. Ternyata juga ada Richard disana.


Sean merasa heran, pria yang bernama Richard kenapa terlihat dekat sekali dengan Raja Erlang. Sungguh rasa penasaran Sean cukup tinggi. Terlalu kepo.


Raja Erlang, Ratu Anne, dan Richard berdiri dari duduk mereka setelah salah satu maid memberitahu atas kedatangan Rosalyn dan Sean.


Rosalyn sedikit membungkuk dan tangan kanan memgang dada kirinya. "Ayah, aku sudah pulang."

__ADS_1


Sean yang berdiri di belakangnya juga melakukan apa dilakukan oleh Rosalyn, tetapi ia tak bersuara.


"Jadi, bagaimana ?" tany Raja Erlang.


"Kami sudah menghancurkan Markas Besar Bandit." jawab Rosalyn. Ia juga menjelaskan bahwa ada banyak tahanan disana, dan semua sedang diantar pulang oleh beberapa anggota party milik Sean yang sudah dibagikan menjadi kelompok untuk mengantar pulang para mantan tahanan ke desa mereka.


Raja Erlang mengangguk kepalanya. Lalu menatap Sean yang dari tadi diam. Ia merasa tidak enak kalau Putrinya mengikuti Sean dan anggota-anggotanya. "Apa Putriku membebanimu ?"


Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak Yang Mulia. Justru Tuan Putri Rosalyn banyak membantu saya dan anggota-anggota saya."


Rosalyn menoleh dan menatap ke arah Sean. "Bukankah aku sudah meminta padamu cukup memanggil namaku saja ?"


Sean hanya tersenyum simpul. "Aku merasa tidak hormat jika memanggil namamu saja didepan keluargamu."


Rosalyn mendengus kesal. Raja Erlang, Ratu Anne, dan Richard terkekeh, karena Sean terlalu jujur. Raja Erlang bersuara. "Apa benar kalian telah mengatasi Markas Besar Bandit ?"


Sean lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. Ia mentengkan sebuah kepala. "Ini adalah kepala pemimpin Markas Besar Bandit, yang bernama Hugon."


Tidakkan Sean memang terlalu jujur. Dengan santainya ia menunjukan organ kepala dari pemimpin Markas Besar Bandit.


Raja Erlang menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau Sean benar-benar tipe orang yang menarik.


Lalu Raja Erlang memanggil salah prajurit penjaga. Ia meminta menyerahkan kepala pemimpin Markas itu kepada prajurit penjaga yang baru saja datang.


Setelah menyerahkan kepala Hugon, Sean bersuara. "Yang Mulia, saya mohon pamit undur diri."


Sungguh sikap yang tidak bisa basa-basi. Raja Erlang mengangguk kepalanya. "Ya, silahkan, kamu pasti lelah, dan membutuhkan istirahat."


Sean membungkuk sedikit lagi tubuhnya. "Terimakasih, Yang Mulia."


Saat Sean membalikan tubuhnya, dan akan melangkahkan kakinya, Rosalyn bersuara. "Tunggu!"


Raja Erlang, Ratu Anne, dan Richard mengerut dahinya. Sean menoleh dan memandang Rosalyn. Rosalyn berkata. "Bukankah kamu ingin belajar Sihir dariku ? Besok datang kemari."


Sean memandang Raja Erlang. Raja Erlang tersenyum dan mengangguk kepalanya. "Aku tidak keberatan. Justru aku senang jika kamu datang lagi kesini dan belajar Sihir dari Putriku. Kalian bisa melakukannya di taman."


"Dan juga kalian bisa semakin mendekati dan saling menerima." lanjutnya dalam batinnya.


Sean membungkuk sedikit lagi tubuhnya. "Terimakasih, Yang Mulia."


Sean pun pergi dari dari tempat itu dan pulang ke penginapannya. Setelah melihat kepergian Sean, Raja Erlang menyuruh beberapa prajurit untuk menyiapkan hadiah yang akan diberikan kepada Sean dan anggota-anggota party-nya nanti jika sudah pulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2