
Hari terus berjalan.
Sean dan Rosalyn semakin dekat. Sean juga baru tau kalau Rosalyn di Level 58 Tingkat Emas. Begitu juga dengan Rosalyn, yang baru tau kalau bagian lengan tangan kiri Sean logam. Seperti biasa, Sean menjawab alasan kenapa tangan kirinya berbeda.
Sean juga baru tau kalau Raja Erlang sendiri di Level Tingkat Berlian, karena di generasinya saat masih muda, beliau selalu berpetualang.
Namun sekarang, ia jarang melakukan aktifitasnya karena kesibukannya di dalam istana sebagai Raja. Mungkin jika ia latihan bertarung kembali, sepertinya gerakan tubuhnya sedikit kaku.
.....
Tak terasa sudah 1 bulan terlewat.
Sean masih dalam belajar membaca dan mempelajari Sihir. Namun setelah Rosalyn sudah kembali masuk untuk mengajar di akademi, metode pembelajaran Sean menjadi berubah. Seminggu empat kali, Sean belajar Sihir kepada Rosalyn.
Sehari belajar sihir, besoknya tidak, besok belajar Sihir. Setiap Sean belajar kepada Rosalyn dilakukan di sore hari. Karena pagi, dan siang adalah waktu Rosalyn mengajar di akademi. Dan di waktu bersamaan, Sean juga ikut mengambil misi bersama party-nya.
Jadi setelah Rosalyn pulang dari akademi, dan Sean pulang dari misinya, mereka berdua akan saling bertemu di taman belakang istana. Awalnya Sean merasa tidak enak, dan membuat Rosalyn menjadi lelah, namun Rosalyn menjelaskan bahwa ia tidak keberatan.
Dan untuk Darold, ia juga masih membantu Sean dalam belajar membaca. Hampir tiap hari, setiap mereka tengah berpetualang menjalankam misi, di waktu luang, Darold setia mengajari Sean membaca. Terkadang anggota party lainnya juga ikut mengajari Sean membaca.
.....
Hari telah Sore.
Seperti biasa, Sean berada di gazebo yang ada di taman belakang istana.
Saat ini Sean tengah membaca buku. Sebenarnya ia sudah bisa membaca, tetapi ia ingin memperlancarkan cara membacanya. Buku yang saat ini ia baca adalah buku tentang Jenis Sihir Ciptaan.
Sean di tempat itu sendiri, Rosalyn pergi ke dalam istana, karena sebelumnya saat ia sedang menjelaskan isi buku yanh dibaca Sean, ada salah satu pengawal Raja Erlang memintanya untuk masuk ke istana atas permintaan Sang Raja.
Beberapa lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Sean menutup bukunya, ia menoleh, ia melihat Rosalyn berjalan menghampirinya bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu terlihat lebih muda darinya, dan ia mengenakan zirah yang terlihat mewah.
Sean bangkit dari duduknya. Ia bermaksud menyambut mereka. Namun, laki-laki berzirah itu bersuara. "Jadi dia, laki-laki yang bertunangan denganmu, sekaligus calon suamimu kelak ?"
Sean sedikit mengerut dahinya setelah mendengar laki-laki itu berbicara tentangnya dengan dingin. Rosalyn menunduk dengan raut wajah gelisah dan menjawab. "I-iya kak."
"Kak ?" bantin Sean.
Laki-laki itu memandang penampilan Sean yang mengenakan pakaian dan jubah serba hitam. Laki-laki itu kembali bersuara. "Aku kurang yakin dengan pilihanmu dan pilihan ayah kita ini."
__ADS_1
"Ayah ?" batin Sean lagi.
"Rupanya dia kakak laki-lakinya Rosalyn yang selalu berpetualang dan jarang pulang." lanjutnya dalam batinnya.
Sean sudah bisa menebak. Karena sebelumnya ia pernah berkumpul bersama Raja Erlang, Ratu Anne, dan Rosalyn. Raja Erlang pernah memberitahunya kalau dirinya memiliki anak laki-laki yang merupakan anak pertama. Dan merupakan salah satu orang yang berada di Tingkat Platinum.
Tetapi anak laki-lakinya belakangan ini selalu menghindarinya karena masalah perjodohan dengan seorang gadis dari salah satu keluarga Bangsawan, sekaligus anak dari salah satu mentrinya. Karena aturan Kerajaan sebagai penerus, di usia 18 tahun sudah harus bertunangan.
"Ke-kenapa kakak bicara seperti itu ?" tanya Rosalyn dengan gugup.
"Aku bisa menilai, orang yang sekarang di depanku ini, hanyalah orang biasa." jawab laki-laki itu dengan dingin.
Rosalyn melangkah mendekati Sean. Ia berdiri membelakangi Sean. "Kakak jangan coba-coba menghinanya !!"
"Kamu berani membentakku ?" sahut laki-laki itu.
"Aku tidak terima kakak menghina kak Sean !! Kakak ini tau apa tentang kak Sean. Selama ini kakak kemana ? Kakak yang tiba-tiba pulang dan langsung menghina kak Sean, jelas aku tidak terima !!" balas Rosalyn menatap tajam.
Laki-laki itu tersenyum menyeringai. "Ahh, jadi namanya Sean. Sungguh nama yang terdengar rendahan."
Rosalyn geram, ia ingin membalas ucapan laki-laki itu. Namun Sean memegang pundaknya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Rosalyn menurut dan memilih diam.
Sean mendekati laki-laki itu, dan memberikan tatapan yang tak kalah dingin. Kini mereka berdiri berhadapan dalam jarak 2 meter saja.
Laki-laki itu berdecak. Lalu ia menjawab. "Cih, dasar tak tau sopan santun kamu. Seharusnya kamu mengenalkan dirimu kepadaku yang merupakan anggota keluarga Kerajaan ini."
"Jadi, namamu siapa ?" tanya Sean. "Tak tau sopan santun ? Jika di dunia asalku, seharusnya kamu yang sopan kepadaku yang lebih tua darinya. Yahh, meskipun nantinya kamu jadi kakak iparku." lanjutnya dalam batinnya.
Laki-laki memandang rendah ke arah Sean. "Aku, Zayden Von Erlang, Pangeran Mahkota, sekigus penerus tahta Kerajaan ini."
_______________________________________
Visual.
Zayden Von Erlang.
_______________________________________
__ADS_1
"Penerus ? Berbicara soal perjodohan saja kamu menghindar ?" batin Sean.
Zayden mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya. Lalu ia arahkan pedangnya kepada Sean. "Aku menantangmu, dan mengujimu bahwa kamu ini pantas atau tidak untuk menjadi bagian anggota keluarga Kerajaan ini."
"Aku menerimanya." jawab Sean tegas.
Rosalyn ingin menyela, namun lagi-lagi Sean menghalanginya. "Tidak apa-apa. Aku juga ingin tau kakakmu ini benar-benar hebat atau omong kosong."
Rosalyn membeku mendengar Sean berbicara seperti itu. Zayden yang juga mendengar tidak terima, ia langsung melayangkan pedangnya untuk menyerang Sean.
Tang !!
Sean langsung menangkap pedangnya Zayden dengan menggunakan tangan logam kirinya, hingga menimbulkan suara logam yang beradu. Zayden sendiri juga dibuat bingung dan terkejut.
BUGH..!!
Sean langsung melayangkan tangan kanannya untuk memberi pukulan di wajah Zayden. Zayden sedikit terdorong kebelakang setelah wajahnya terkena hantaman.
Zayden terkejut, ia tak menyangka kalau Sean menghajar wajahnya, keluarlah darah dari salah satu lubang hidungnya. Ia mengusap darahnya, lalu Zayden menatap tajam ke arah Sean.
"Berani sekali kamu menyentuh wajahku." ucap Zayden.
Sean menjawab. "Menghajar wajah lawanmu, itu adalah salah salah satu perlawan. Jadi dalam sebuah pertarungan, aku kerahkan semuanya."
Zayden melompat ke arah Sean, kedua tangannya sambil menggenggam pedangnya, dan ia layangkan ke arah Sean. "Pedang Api !!"
"Fire Blow." batin Sean.
Lalu tangan logam kirinya diselimuti Api. Lalu ia hantamkan pukulannya ke arah pedang milik Zayden.
DUAR..!!
Zayden dan Sean sama-sama terpental setelah terkena efek serangan mereka yang saling bertabrakan.
Zayden menancapkan pedangnya di tanah agar dirinya tak terlalu jauh terdorong. Sedangkan Sean masih masih terpental di udara. Dalam batinnya, Sean berkata. "Thrust Flame."
Tiba-tiba keluarlah semburan Api dari kedua alas kakinya. Dorongan api yang kuat mampu membuat Sean berhenti terdorong, bertahan di udara.
Zayden dibuat terkejut, melihat Sean bisa terbang menggunakan Sihir Api. Karena seperti Rosalyn sebelumnya, yang ia tau, hanya Sihir Angin yang bisa membuat penggunanya terbang.
__ADS_1
"Cukup !!"
Tiba-tiba terdengar suara tegas. Sean dan Zayden segera menyudahi pertarungannya. Rosalyn, Sean, dan Zayden menoleh ke sumber suara itu.