OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 41


__ADS_3

"Cukup !!"


Tiba-tiba terdengar suara tegas. Sean dan Zayden segera menyudahi pertarungannya. Rosalyn, Sean, dan Zayden menoleh ke sumber suara itu.


Terlihat Raja Erlang berjalan menuju mereka. Dibelakang Sang Raja, juga ada Ratu Anne, dan juga para pengawal dan maid. Rosalyn dan Zayden berjalan mendekati orang tua mereka, sedangkan Sean tetap diam berdiri di tempatnya.


Raja Erlang dan rombongannya sudah mendekati Rosalyn, dan Zayden. Ia berjalan mendekati Zayden dan...


Plak..!!


"Aduhhhh..!!"


"Dasar anak tidak tau diri. Baru pulang kamu malah membuat kekacauan disini !!" ucap Raja Erlang membentak.


Zayden mengusap kepalanya bekas dipukul oleh Sang Raja. "Ayolah ayah..., aku hanya ingin menyapa dengan calon adik iparku."


Sean mengerut dahinya mendengar dan melihat tingkah Zayden yang berbeda jauh dari beberapa saat lalu. "Kenapa sifat dia terlihat sangat berbeda ?"


"Jika kamu ingin menyapa, seharusnya kamu menyapanya dengan sopan, bukan asal main datang dan mengajak bertarung !!" Raja Erlang membentak lagi.


"Astaga ayah.., aku hanya ingin bercanda, dan juga aku hanya ingin melihat kehebatan calon adik iparku yang bisa membuat adikku jatuh hati padanya." jawab Zayden.


Rosalyn yang mendengar malu. Lalu ia menatap datar ke arah kakak laki-lakinya. "Jadi, perilaku kakak tadi, maksudnya apa ?"


Zayden tersenyum mengejek. "Kamu seperti tidak mengenal kakakmu ini. Tentu saja, tadi aku hanya berpura-pura. Hahahahaha...."


Rosalyn sudah setengah mati karena ketakutan. Karena awal pertama kali pulang, Zayden terlihat bersikap tegas karena ia ingin bertemu dengan Sean.


Karena juga Zayden yang mendengar berita yang beredar, kalau adiknya telah bertunangan. Maka ia ingin melihat siapa laki-laki yang bertunangan dengan adiknya.


Rosalyn sendiri juga kaget bukan main, Zayden, yang orangnya terkenal baik, tiba-tiba pulang dan langsung ingin bertemu dengan wajah setelah menyapa Raja Erlang dan Ratu Anne.


Sean menatap datar ke arah Zayden yang tengah tertawa sendiri. "Jadi, dia pandai berakting."


Plak..!!


"Aduhhh..!! Astaga ayah, jangan memukul kepala putramu sendiri..!!" kata Zayden kesal sambil mengusap kepala yang baru saja di pukul oleh Raja Erlang.


"Ini yang paling tidak aku sukai. Yaitu sikapmu yang selalu membuat ayah kesal." ucap Raja Erlang marah.

__ADS_1


Ratu Anne hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Suaminya dan Putranya, yang selalu ribut. Karena merasa bosan ribut dengan ayahnya, Zayden berjalan meninggalkan ayahnya.


"Dasar anak tak tau diri." umpat Raja Erlang yang frustasi menghadapi sifat putranya yang kekanakan.


"Meski begitu, dia itu Putra kita." balas Ratu Anne. Raja Erlang menghela nafasnya, lalu ia mengangguk kepalanya.


Sementara disisi Zayden, ia mendekati Sean. Sean sedikit memiringkan kepalanya karena heran apa maunya Pangeran Mahkota ini.


Namun hal tak terduga, Zayden mengulurkan tangannya. Zayden tersenyum. "Maafkan aku, karena aku manyapamu dengan cara aneh. Hahahaha..., jujur saja, itu juga salah satunya aku ingin mengujimu. Namun, kamu berhasil memukul wajahku, hahahahaha..."


"Ternyata dia orang tak buruk juga, meski ia punya sifat yang konyol." batin Sean.


Seperti itulah sifat Zayden yang sebenarnya.


Sean membalas uluran tangan Zayden. Mereka berdua bersalaman. Sean bersuara. "Tidak masalah. Caramu menyapa tadi, cukup untuk pemanasan."


"Hahahahaha.., boleh juga kata-katamu." kata Zayden sambil tertawa. "Namaku Zayden Von Erlang, panggil saja aku, Zayden." lanjutnya memperkenalkan dirinya.


Sean tersenyum. "Sean Alexander, panggil saja aku, Sean."


"Namamu terdengar asing, tetapi terkesan keren juga." sahut Zayden kagum.


"Kamu hebat, saat kita bertarung barusan aku tak mendengar kamu mengucapkan kata Sihir, tetapi kamu bisa mengeluarkan serangan Sihir yang hebat." kata Zayden memuji Sean. Ia masih tak percaya dengan cara bertarungnya Sean.


"Itulah pengembanganku dalam mengenal Sihir. Jika kamu mau, kamu bisa pelajari kepada adikmu, karena dia juga bisa melakukannya setelah kita saling belajar bersama." jawab Sean.


Zayden terkekeh. Lalu ia menatap serius, ia memegang pundak Sean dan berkata pelan. "Aku percayakan adikku padamu. Aku tau mungkin sekarang kamu masih belum menerima sepenuhnya."


Sean hanya tersenyum simpul. sebenarnya, ia sudah sepenuhnya menerima sosok Rosalyn. Bukan karena hanya baik, gadis itu adalah sosok gadis yang hebat, hingga membuatnya semakin menerimanya. Tetapi, ia tak berani mengutarakan perasaannya.


Terlihat Sean dan Zayden sudah mulai dekat, bagaikan teman pada umumnya. Raja Erlang, Ratu Anne, dan Rosalyn berjalan mendekati mereka berdua.


....


Setelah sedikit keributan sebelumnya, semua kembali tenang. Kini di gazebo, semua berkumpul, yang terdiri dari Raja Erlang, Ratu Anne, Zayden, Rosalyn, dan Sean.


Mereka ber-5 menikmati teh hangat mereka, dan juga cemilan ringan. Mereka setia mendengar cerita Petualang Zayden sebelum pulang kembali ke Kerajaan.


Ternyata selama ini Zayden dan party berpetualang ke Kerajaan Roux, yang merupakan Kerajaan Elf. Zayden dan party-nya selama ini menginap disana. Karena 2 anggota party-nya juga punya keluarga disana.

__ADS_1


Zayden juga mendengar mendengar kalau Markas Besar Bandit telah dihancurkan oleh party Sang Petualang dari Kerajaan Erlang. Raja Erlang menjelaskan kalau pemimpin party Sang Petualang adalah Sean.


Zayden dibuat terkejut. "Luar biasa !! Aku jadi tidak sabar berlatih tanding denganmu !!"


Plak..!!


"Tidak akan kuizinkan !!" ucap Raja Erlang kesal setelah memukul kepala Putranya lagi.


"Astaga.., ayah, apa kamu tidak lelah terus memukul kepalaku ?" tanya Zayden yang juga kesal sambil mengusap kepalanya.


Ratu Anne, dan Rosalyn tertawa, mereka berdua sudah biasa melihat Zayden dan Raja Erlang seperti itu. Sedangkan Sean, ia tersenyum simpul melihat Zayden yang membuat orang-orang disekitarnya terhibur.


Raja Erlang menatap serius kepada Zayden. "Ayah ingin berbicara serius padamu."


Zayden langsung berdiri dari duduk. "Sudah dulu ya, aku ingin segera kembali ke kamarku. Aku ingin istirahat. Dan Sean, aku percaya kamu yang terbaik untuk adikku."


Setelah itu, Zayden langsung berlari cepat. Raja Erlang menatap tajam ke arah Putranya yang melarikan diri darinya. "Dasar, selalu saja dia melarikan diri ketika aku mengajaknya berbicara tentang perjodohannya."


Ratu Anne menatap ke arah Sang Raja. "Suamiku. Bersabarlah, lagi pula Putra kita baru saja pulang."


Sean berdiri dari duduknya. Ia berpamitan untuk pulang ke penginapan kepada Raja Erlang, Ratu Anne, dan juga Rosalyn. Karena hari sudah sore dan akan mendekati malam.


Sean telah pergi dari dari tempat itu. Tinggallah Raja Erlang, Ratu Anne, dan Rosalyn. Rosalyn juga berpamitan kepada ayah dan ibunya, karena ia ingin pergi ke kamarnya untuk istirahat.


.....


Sementara Disisi Lain. Di kamar Zayden, ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuknga setelah ia melepas zirahnya.


"Huhhh, meskipun aku adalah pewaris, tapi aku belum siap untuk dijodohkan." ucapnya.


Sebenarnya Zayden siap meneruskan tahta ayahnya. Tetapi, ia harus tunangan, karena itu adalah peraturan Kerajaan, itu sudah dijalankan sejak dulu.


Tak hanya keluarga Kerajaan dan Bangsawan saja, orang-orang dari kalangan kelas penduduk biasanya, diusia 15-16 tahun sudah hal umum jika Putra-Putri mereka saling menyukai untuk menikah. Atau mereka menjodohkan Putra-Putrinya.


Terutama Keluarga Kerajaan, sebagai penerus, sudah seharusnya memiliki tunangan atau calon istri, karena itu adalah aturannya. Dan juga memiliki tunangan atau calon istri adalah sebagai pendukung kalau dirinya sudah siap sebagai penerus.


Tak hanya di Kerajaan Erlang saja, semua Kerajaan di dunia ini juga menerapkan aturan itu sejak lama. Karena sebegai calon pewaris, memang seperti aturannya.


Zayden segera bangkit dari kasurnya. "Lebih baik aku mandi untuk menjernihkan pikiranku."

__ADS_1


__ADS_2