
Baru saja menggenggam Kapaknya, Sean terpental setelah mendapat hantaman keras yang datang padanya. Rupanya Sang monster Naga 'lah yang mengayunkan salah kakinya. Naga itu melempar pandangan marah kepada Sean.
Sean yang mengimbangi tubuhnya agar tidak jatuh, ia segera terbang kembali ke arah Naga itu. Ia sambil memutar-putar Kapaknya, dan melemparnya ke arah kepala Naga itu.
DUGH...!! JEDEERR..!!
Kapaknya mengenainya, bahkan memunculkan Petir dan menyerang kepala Naga itu. Hingga membuatnya sedikit oleng setelah menerima hantaman Kapak yang Sean lempar padanya.
Setelah menghantam kepala Naga itu, kapak itu melayang terbang kembali ke arah Sean.
"Entah kenapa, aku masih bertanya-tanya, kenapa Kapakku ini bisa mampu memberi perlawanan ke Naga ini ? Apa segitu kuatnya ?" batin Sean.
Sean pun menangkapnya. Ia kembali melempar Kapaknya ke arah Naga itu.
DUGH...!! JEDEERR..!!
Setelah menghantam tubuh Sang Naga, Kapak itu kembali terbang kepada Sean.
Setelah menangkap Kapaknya, sean lagi-lagi melemparkannya ke arah Naga itu. Setelah menghantam tubuh Sang Naga, Kapak itu kembali terbang kepada Sean.
DUGH...!! JEDEERR..!!
DUGH...!! JEDEERR..!!
DUGH...!! JEDEERR..!!
.....
Beberapa lama kemudian.
DUGH...!! JEDEERR..!!
DUGH...!! JEDEERR..!!
DUGH...!! JEDEERR..!!
DUGH...!! JEDEERR..!!
Sean masih terus berulang kali melakukan hal sama, yaitu melempar Kapaknya ke arah Naga. Setelah menghantam Sang Naga, Kapak itu kembali kepada Sean.
Sean pun menyudahinya. Dan benar saja, Naga itu terlihat sedikit meringis. Lalu Naga itu memberikan tatapan marah pada Sean
Woosssss...!!
Naga itu menyeburkan Apinya kepada Sean. Ukuran semburannya bukan main. Sean saja dibuat terkejut. Meski sudah menghindari, kedua kakinya terkena Serangan Sang Naga.
Regenerasinya pun aktif, memulihkan kedua kakinya. Kini Sean tanpa menggunakan alas kaki. Yah, karena terbakar ulah semburan Api Naga barusan.
__ADS_1
Sean terbang mendekati Sang Naga. Sean mengerat genggamnya pada gagang Kapaknya, ia siap akan menyerang Naga itu. Kapaknya juga mulai bercahaya kebiru-biruan disertai percikkan petir.
JEDEEERRR....!!
Serangan Sean seketika menampilkan Petir yang besar. Saking besarnya Petir itu, menjadi perhatian semua pasukan Aliansi yang sudah mundur jauh disana.
.....
Di Kamp. Aliansi di bagian timur.
"Lihat itu !!"
"Serangan Sihir milik siapa ?"
"Apa ada yang mencoba melawan Naga gila itu ?"
"Kalau pun ada, sepertinya otaknya sudah tidak waras. Apa dia tidak menyadari, kalau Naga itu besarnya bukan umum !!"
"Hey...!! Setidaknya, ia memberi perlawanan, tidak seperti kita yang hanya bisa mundur, bagaikan pecundang."
"Ini adalah pilihan terbaik, karena jika maju, itu sama saja menjadi beban."
"Tapi, tunggu !! Siapa yang sedang melawan Naga itu ?"
"Bukankah yang tadi kita lihat serangan Sihir Petir ?"
"Aku tidak tau, itu terlalu jauh jelas sekali kita tak bisa melihat siapa yang tengah melawan Naga besar itu. Lagi pula semua pasukan kita telah mundur semua."
"Benar juga. Kalau bukan Tuan Sean dan Nona Sinta, lalu siapa ? Pasukan musuh ?"
"Aku berharap begitu, jadi kita tidak perlu turun ke medan perang, secara pasukan musuh mati akibat ulah Naga itu."
"Lalu tadi, Serangan Sihir petir milik siapa ? Apa Naga itu sendiri juga memiliki Sihir Petir ?"
"Andai saja kita di Tingkat Platinum, kita pasti bisa membantunya."
"Hey...!! Pejuang Tinggat Berlian saja juga ikut mundur bodoh!!"
"Ahh, benar juga."
Itulah percakapan para prajurit Aliansi, yang telah sampai di kamp. yang ada di garis belakang. Karena letaknya jauh, jadi mereka tidak sepenuhnya bisa meliha siapa yang sedang melawan Naga besar itu.
Dan juga mereka tak tau siapa sosok yang tengah melawan Naga. Karena yang mereka tau, semua pasukan aliansi mundur semua dari medan perang agar tidak terkena dampak dari monster Naga itu.
Tempat kamp. Aliansi sangat jauh dari garis depan. Dari jarak kurang lebih 1 kilometer saja mereka mampu melihat Petir ulah serangan seorang pemuda yang jauh di garis depan sana.
.....
__ADS_1
Disisi Lain Kamp. Barat, terlihat 2 kendaraan yang sudah terpakir. Mereka segera keluar dari kendaraan itu. Sinta, Rosalyn, Zayden, Rin, Isla, dan yang lainnya keluar dari kendaraan mereka.
Sarah pun juga keluar dari mobil bajanya yang diikuti Arron, Darold, dan Erza. Begitu juga dengan kedua temannya yang sudah sadarkan diri. Terlihat dari wajah mereka semua senang, karena Darren dan Jack terlepas dari Raja Alastair.
Sarah memperkenalkan Jack dan Darren kepada Sinta, Rosalyn, Zayden, Brian, Arron, dan yang lainnya. Sinta dan Zayden membantu Sarah menjelaskan situasi sekarang kepada Darren dan Jack.
Lalu tak lama kemudian, terlihat satu kendaraan Tank tempur datang dan berhenti. Brian keluar dari kendaraannya, ia terlihat buru-buru.
"Teman-teman !!" ucap Brian.
"Ada apa Brian ? Kenapa kamu terlihat panik ? Kemana Sean" tanya Arron.
Arron dan yang lainnya mendekat.
"Sean sedang melawan Naga besar itu." jawab Brian, seketika semua teman-temannya terkejut mendengarnya.
"Jadi, cahaya petir tadi itu..." ucap Zayden.
"Ya, Sean sedang bertarung sendirian." jawab Brian memotong ucapan Zayden.
"Kenapa kamu meninggalkannya ?" tanya Rosalyn kesal.
Brian menjawab. "Aku sendiri juga tak ingin meninggalkannya. Kita tau sendiri 'kan, hanya Sean, Nona Sinta, dan Sarah yang bisa mengendalikan ketiga benda baja aneh ini. Entah tombol apa yang dia tekan, sehingga Tank tempurnya berjalan sendiri."
Zzzzzzz
Wussssss...!!
Tiba-tiba, entah siapa yang baru saja pergi secepat kilat. Zayden dan semuanya saling memandang. Beberapa saat kemudian, mereka menyadari kalau Sinta tidak ada.
"Apa tadi, Sinta baru saja pergi ?" tanya Arron.
"Jelas sekali, cahaya dan kecepatan kilat itu Sihir petir milik Sinta." Zayden menjawab.
.....
Di waktu bersamaan, di sebuah tenda besar, tempatnya berkumpulnya orang-orang penting ataupun tempat rapat. Telihat ketiga Raja serta bawahannya berada di dalam tenda itu, didalam juga ada Richard, dan semua Ksatria (termasuk Liona).
Mereka semua tengah membuat rencana agar bisa membunuh Naga itu. Tapi entah kenapa, mereka belum menemukannya, mengingat kalau Naga itu sangat besar bukan main, dan kulitnya juga sangat keras.
Ditambah, keadaan semua orang panik. Pasalnya semakin lama, Sang Naga pasti akan mendekat jika tidak segera dihentikan. Dibunuh saja, belum tentu mudah.
Disini, Liona khawatir. Bagaimana tidak khawatir ? Karena Putranya entah ada dimana. Tak sabar, dengan rapat yang tak ujung usai, ia langsung pergi begitu saja.
Liona tak peduli dengan tatapan semua orang di dalam sana. Setelah keluar, ia pergi menuju ke Kamp. Barat. Disanalah Liona bisa bertemu dengan Sean serta teman-temannya.
.....
__ADS_1
Sementara Disisi Sean, ia masih terus-terusan menyerang monster Naga dengan segala kemapuan yang ia punya. Hasil tidak mengecewakan. Segala kemampuan yang ia miliki, ia gabungkan dengan Sihir Petir miliknya.