Passionate Night

Passionate Night
*BIG THING!


__ADS_3

Happy reading ....


.


.


.


Selena mematut dirinya di depan cermin kamar mandi. Lengannya mengelus perutnya yang masih rata. Ponsel miliknya terletak di depannya dengan layar menampilkan icon kalender. Sudah delapan minggu berlalu semenjak pernikahannya berlangsung. Selama itu dia menghentikan obat kontrasepsi yang biasa di minumnya.


“Aku sudah telat satu minggu,” gumam Selena rendah. Dia bahkan baru menyadari hal itu sekarang.


Selena tidak ingin berpikiran berlebihan dulu untuk saat ini. Dia harus memastikan lebih lanjut hal tersebut. Hal ini mungkin saja terjadi karena mungkin pekerjaannya yang tiba-tiba mendesak sebelum berbulan madu. Kemungkinan dia mengalami stres yang mengacaukan hormonya.


Setelah merapihkan kembali penampilannya, dia keluar dari kamar mandi. Felix berada di dalam kamar dan sedang berdiri menghadap jendela seraya berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Pria itu sibuk.


Felix langsung mematikan teleponnya saat melihat Selena keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri istrinya.


“Aku perlu memastikan sesuatu,” ucap Selena mengadu.


“Memastikan sesuatu?” tanya Felix.


“Ya. Tolong belikan aku ... testpack.”


“Kau hamil, Baby?”


“Belum tentu, aku ingin memastikannya dulu.”


“Baiklah, aku akan meminta seseorang membawakannya ke sini.”


Selena mengangguk setuju.


Setelah beberapa menit. Test kehamilan yang Selena pinta sudah ada. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil sedikit urinnya. Kemudian, dia membawanya ke hadapan Felix untuk langsung mereka lihat bersama hasil test kehamilan tersebut.


O Lord! Apakah aku hamil? Gumam Selena dalam hati.


Test kehamilan itu mulai menunjukan satu garis, lalu beberapa detik kemudian memunculkan garis lainya. Hasilnya dua garis. Felix langsung tersenyum melihat hal itu.


“Kau hamil, Baby!” Pria itu langsung mencium istrinya, dan mengecup puncuk kepala Selena.


Selena ikut tersenyum. Namun senyuman yang berbeda. Hati dan pikirannya sedikit merasa gelisah. Kedua matanya menatap Felix, pria itu terlihat sangat senang.


Felix melepaskan pelukannya dan menatap wajah Selena. Mengecup bibir wanita itu sekilas. “I love you,” ucap Felix padanya.


“I love you to.”


...****************...


Bulan madu akan segera berakhir. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di pulau khusus pengantin baru.


Selena sedang duduk di kursi di dalam kamarnya. Menunggu Felix yang sedang bersiap di dalam kamar mandi. Wanita cantik itu mengelus pelan perutnya yang masih rata.

__ADS_1


“Akhirnya kau berada di dalam perut mami, Sayang,” gumam Selena rendah.


Meskipun keresahan dan gelisah masih menyelimuti pikiran Selena. Tapi dia juga tidak bisa menolak kehadiran buah hatinya. Pekerjaan dan karier tidak lebih penting dapi anaknya.


Tidak munafik. Aku masih memikirkan masa-masa kebebasanku.


Suara pintu terbuka membuat lamunan Selena seketika hilang. Felix baru saja keluar kamar mandi lalu menghampirinya. Pria itu keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Sorot mata Selena tertuju pada dada bidang berotot milik suaminya. Seketika lengannya terangkat untuk menyentuh dada bidang Felix.


“Apa kau sedang menggodaku dengan tidak berpakaian seperti ini?” tanya Selena pelan.


Felix mengenggam pergelangan tangan Selena, wanita itupun bangun dari kursinya dan berdiri tepat di hadapan Felix.


“Apa kau tergoda?” tanya Felix menjerumuskan.


Selena menelan salivanya. “Aku menginginkannya.” Dia mengecup dada bidang Felix, namun pria itu menghentikannya dengan mendorong Selena pelan.


“Ada apa?” Kening wanita cantik itu berkerut halus.


“Kita tidak bisa melakukannya. Dokter mengatakan jika awal kehamilan sangat lemah.”


Raut wajah Selena berubah datar. Perkataan Felix untuk menolaknya sangat menyebalkan untuk di dengar.


“Tapi jika kau sangat menginginkannya, aku bisa melakukannya perlahan.”


Felix memajukan wajahnya pada sisi wajah Selena. Mencium dan menggigit pelan cuping istrinya. Membuat seluruh tubuh wanita cantik itu meremang hebat.


......................


Sementara itu di kediaman Geovandra. Kenzo sedang bermain dengan banyaknya robot yang dimilikinya. Meskipun begitu, itu semua tidak bisa mengalihkan perhatiannya untuk tidak melihat ke luar jendela. Dia sedang menunggu mami dan papi untuk menjemputnya.


Marie masuk ke dalam kamar cucu kecilnya dengan membawakan buah-buahan segar yang baru saja dia potong sendiri. Wanita paruh baya itu memperhatikan Kenzo yang sedang berdiri di depan jendela.


“Kemarilah untuk makan buah,” ajak Marie.


Kenzo berbalik dan menghampiri neneknya dengan raut wajah kecewa. Itu membuat Marie bertanya-tanya.


“Ada apa?”


“Di mana mami dan Papi? Apa mereka tidak jadi menjemputku?” tanya bocah kecil itu dengan raut wajah mencebik sedih.


“Mungkin jalanan macet dan mereka terlambat.”


“Aku sangat merindukan mami ....”


“Mamimu akan sampai sebentar lagi.”


Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Pelayan tersebut menyampaikan jika Selena dan Felix sudah tiba. Kenzo yang mendengar hal tersebut langsung melonjak kegirangan. Bocah kecil itu langsung berlari menuju ruang tengah.


“Aku sangat lelah,” keluh Selena seraya menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa.

__ADS_1


“Kau ingin pergi ke dokter?” tanya Felix.


“Tidak. Aku hanya butuh istirahat sebentar.”


“Mami!” Kenzo berlari seraya memanggil Selena kemudian memeluk maminya secara tiba-tiba.


“Ugh! Hati-hati, Sayang,” ucap Selena saat kepala Kenzo mengenai perutnya secara tidak sengaja.


“Mami, aku sangat merindukan Mami,” celoteh bocah kecil itu lucu.


Selena tersenyum, mengusak puncuk kepala bocah kecilnya dengan lembut.


“Kau hanya merindukan mami? Kau tidak merindukan papi?” tanya Felix, dan wajah mungil itu langsung menoleh ke arahnya.


“Papi!” teriak Kenzo mengalihkan pelukannya kepada Felix.


Marie baru saja tidak di sana. Dia duduk di sofa samping Selena.


“Kau terlihat sangat pucat, Selena,” ucap Marie memperhatikan wajah putrinya.


“Aku mungkin mengalami mabuk perjalanan,” dalih Selena.


“Wajahnya memang pucat beberapa hari terakhir. Mungkin karena efek kehamilannya,” lugas Felix seketika membuat Marie terkejut.


“Kau hamil?” tanya Marie dengan sangat antusias.


“Ya, usia kehamilanku memasuki usia lima minggu.”


Marie terlihat sangat senang. Senyumam pada wajahnya tidak bisa disembunyikan. “Jika papamu tahu, dia pasti akan sangat senang mendapatkan kabar ini.”


“Di mana papa?” tanya Selena.


“Dia sedang bermain golf.”


“Mami.” Kenzo menarik ujung baju Selena pelan. “Apa itu hamil? Apa itu sakit?” tangannya polos dengan mata bulan yang dipenuhi rasa penasaran.


Marie menarik bocah kecil itu lalu memberikan penjelasan. “Kenzo, kau akan memiliki adik kecil.”


“Adik kecil? Apa itu adik kecil?”


“Bayi, mamimu akan memiliki bayi dan kau akan menjadi kakak.”


“Kakak? Aku akan menjadi kakak?” Kenzo mulai dengan antusias. “Grandma, aku suka menjadi kakak!”


“Kau akan menjadi kakak yang baik.”


“Ya, Grandma!”


...****************...


Selena terduduk lesu di atas sofa tunggal yang berada di dalam kamarnya. Merasakan perut mual dan juga kepala yang pusing. Dia ingat, saat hamil Kenzo tubuhnya tidak selemah ini.

__ADS_1


__ADS_2