
Happy reading ....
Selena terduduk lesu di atas sofa tunggal yang berada di dalam kamarnya. Merasakan perut mual dan juga kepala yang pusing. Dia ingat, saat hamil Kenzo tubuhnya tidak selemah ini.
“Ada apa, Baby?” tanya Felix seraya mengelus bahu Selena.
“Tidak tahu,” jawab Selena singkat.
Felix mengeryitkan dahinya. “Apa kau sakit? Kehamilanmu membuatmu banyak berubah. Kau bahkan tidak memiliki nafsu makan beberapa hari terakhir.”
“Aku merasa sakit, hatiku sakit.”
“Ada apa dengan hatimu? Apa ada orang yang menyinggungmu? Siapa, katakan siapa orangnya.”
“Tidak ada. Aku hanya ingin menangis. Peluk aku Felix.”
Selena merentangkan kedua lengannya. Meminta Felix untuk segera memeluknya. Pria itupun dengan sigap memeluk tubuh Selena. Mengusap puncuk kepalanya dengan sangat lembut.
Semenjak kehamilannya Selena berubah drastis. Pemikiran dan perilaku. Dokter mengatakan jika ini adalah hormon ibu hamil. Felix harus bersabar menghadapinya. Ibu hamil adalah manusia paling sensitif.
Saat Selena hamil Kenzo, Felix tidak bisa mendampingi wanita itu. Kini gilirannya untuk berjuang memberikan apapun yang Selena inginkan.
...****************...
Selena menyeka air matanya beberapa kali. Dia sudah menangis tiga kali untuk hari ini. Entah kenapa, semua hal membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam.
Felix meminta Selena untuk pergi keluar berbelanja, pergi ke spa, atau salon. Agar wanita cantik itu mencari kesenangan disaat dirinya sibuk bekerja dan tidak bisa menemani istrinya.
Meskipun telah melakukan semua hal itu, Selena tetap merasa kesepian yang mendalam di dalam hatinya.
Sementara itu dia memiliki waktu bercuti selama beberapa Minggu, dan mengerjakan pekerjaannya di rumah. Hal itu semakin membuat Selena bosan. Terlebih lagi jika Felix dan Kenzo pergi untuk melakukan urusan mereka masing-masing.
Kenapa aku seperti ini? Pikir Selena heran. Dia bahkan tidak tahu kenapa dirinya bisa berakhir seperti itu akibat kehamilannya.
“Kau sangat sensitif,” ucap Jennie yang duduk di kursi depan Selena.
“Ya.” Selena hanya menjawabnya singkat.
“Kau bahkan menangis ketika melihat artikel mengenai kebakaran yang terjadi beberapa hari yang lalu.”
“Menyedihkan. Rasanya air mataku selalu tumpah saat melihat hal-hal seperti itu,” keluh Selena. “Ini karena kehamilanku.”
“Kau bahkan tidak perasan dengan kehamilan pertamamu. Bekerja siang dan malam, clubing, dan melakukan perjalanan bisnis hingga saat perutmu besar.”
“Kenzo sangat tenang saat di dalam perutku. Aku tidak tahu kenapa kali ini dia sangat lemah,” kata Selena seraya mengelus perut yang sedikit buncit itu dengan lembut.
“Aku bahkan selalu merindukan Felix.”
__ADS_1
Jennie memutar bola matanya malas. Ingat dulu betapa sahabatnya itu membenci Felix. Tapi kali ini, dia selalu menyebutkan nama pria itu dan mencarinya.
Selena melihat jam pada layar ponselnya. Ini sudah menunjukan waktu untuk makan siang. Dia akan segera pergi ke perusahaan untuk mengajak Felix makan bersama.
“Aku akan pergi, Jennie,” ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Ya baiklah hati-hati.”
Setelah itu, Selena keluar dari restoran. Sementara Jennie masih berada di sana untuk menghabiskan jus wortel yang dipesannya.
Jennie sedikit tidak habis pikir dengan perubahan sikap sahabatnya itu. Selena yang garang mendadak menjadi Selena yang sangat lembut bahkan rapuh.
Huh! Semoga kehamilanku kelak tidak akan berjalan semenyedihkan itu.
......................
Selena memutuskan untuk pergi ke restoran sushi terdekat dari perusahaan suaminya untuk makan siang. Dia sangat menginginkan makanan laut mentah padahal sebelumnya dia sangat menghindari itu karena perutnya yang tidak kuat.
“Kau yakin akan memesan ini?” tanya Felix. “Aku khawatir jika makanan itu memperburuk keadaanmu,” imbuhnya menatap Selena lekat.
“Aku yakin. Aku mendadak sangat ingin memakannya.”
“Baiklah,” ucap Felix setuju dengan pesanan Selena.
“Felix, aku sangat bosan berada di rumah,” keluh wanita cantik itu menghela nafas lelah. “Besok aku ingin pergi ke perusahaan,” ucapnya.
“Komdisiku sudah lebih baik aku rasa. Aku tidak merasakan mual lagi setelah beberapa hari terakhir.”
“Baiklah kalau seperti itu. Aku akan meminta supir untuk mengantar jemputmu.”
“Ya.”
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Beberapa piring shusi dan shasimi. Selena mengambil piring yang berisi shasimi salmon. Dia mencoba memakannya satu potong.
Tidak buruk. Perutku bisa menerimanya. Pikirnya. Padahal sebelum ini dia selalu muntah saat melihat makanan mentah.
Felix memperhatikan Selena yang makan dengan cukup baik. Setidaknya istrinya itu tidak menolak atau memuntahkan makanannya lagi. Dia berharap berat badan Selena yang turun drastis akibat kehamilan awalnya akan kembali seperti sedia kala.
“Setelah ini, aku akan pergi dan menjemput Kenzo.”
Felix mengangguk samar.
“Nanti malam, aku ingin berendam.”
“Kau ingin aku menemanimu?” tanya Felix menawarkan diri.
Selena tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja.”
__ADS_1
“Aku akan pulang cepat.”
“Harus lebih cepat,” ucap Selena diiringi tatapan nakalnya pada Felix.
......................
Setelah menjemput Kenzo dari sekolah. Selena segera kembali ke kediamannya. Padahal hari ini dia berjanji pada bocah kecil itu untuk membelikannya makanan siap saji. Tapi tiba-tiba saja seorang pelayan dari kediamannya menghubungi Selena jika ada tamu yang datang dan sedang menunggunya.
“Paman Edzar!” seru Kenzo seraya berlari menghampiri pria tampan yang berdiri di ruang utama. Dia memeluk pria itu dengan erat.
“Aku merindukan paman,” ucapnya menatap Edzar menggunakan mata bulatnya.
Edzar bersimpuh di hadapan bocah kecil itu dan mengusak kepalanya lembut. “Kau tumbuh sangat cepat, kau sudah tinggi sekarang.”
Kenzo tersenyum dengan manis mendengar hal tersebut.
“Tentu saja dia sudah tinggi sekarang. Kau bahkan saru menemuinya lagi setelah setengah tahun,” ucap Selena berjalan mendekat.
Edzar melihat wanita cantik itu yang terlihat cukup kurus dari sebelumnya. Dia berdiri dan mendekati Selena.
“Justru kali ini kau yang tampak tidak baik-baik saja,” ucap Edzar langsung mendapatkan decihan dari Selena.
“Seharusnya kau memberitahuku jika kau pergi mengambil alih perusahaan di luar negeri, bukan? Kau malah menghilang tanpa jejak,” celotehnya.
Mereka berdua duduk di atas sofa. Seorang pelayan membawakan jus untuk Edzar dan juga Selena. Keduanya mengobrol bersama.
“Apa yang membawamu datang, Edzar?” tanya Selena.
“Aku ingin memberikanmu ini.” Edzar mengeluarkan sebuah undangan dari dalam saku jasnya, lalu memberikannya kepada Selena.
Selena menerimanya dengan cepat. Membaca isi undangan tersebut.
“Waw! Kau akan menikah?” tanyanya dengan antusias.
“Ya.”
“Benar-benar sebuah kejutan untukku.”
Selena tersenyum senang. Dia bahagia akhirnya Edzar akan menikahi wanita pilihannya. Setidaknya pria itu tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang Selena.
“Selamat untukmu,” ucap Selena memberi selamat seraya memeluk ringan saudaranya itu.
“Ehem!”
Seketika suara dehaman samar terdengar di telinga. Selena melepaskan pelukannya pada Edzar dan menoleh pada sumber suara.
Felix? Kenapa dia pulang di siang hari?
__ADS_1