
Happy Reading ....
.
.
.
Suasana hiruk-pikuk sudah menjadi ciri khas setiap club malam. Banyaknya orang berlalu lalang, mabuk, wanita-wanita ****, seorang penggoda, semuanya lengkap. Dan lautan manusia yang sedang meliukan tubuhnya di bawah lantunan musik EDM yang dimainkan oleh DJ.
Selena berada di tempat favoritnya. Di depan meja bartender. Dirinya sudah duduk selama setengah jam. Selama itu, beberapa pria datang untuk menggodanya, atau sekedar ingin berkenalan. Pria hidung belang, Selena langsung menyingkirkan mereka dengan cepat.
Dua sahabatnya sibuk dan belum juga datang untuk menemuinya. Dia seorang diri. Jonathan tidak bisa datang, sementara Jennie akan datang terlambat karena memiliki urusan pekerjaan.
Tidak lama setelah itu, Jennie melenggang mendekatinya. Memeluk Selena ringan lalu melepaskannya kembali.
“Hai Baby,” sapa Jennie kemudian duduk di samping Selena. “Aku memiliki pekerjaan yang menumpuk,” keluhnya.
Sebenarnya Selena juga memiliki banyak pekerjaan. Namun dia tidak akan bekerja ketika dirinya tidak ingin bekerja. Dia akan lebih memilih duduk di club malam ketimbang di dalam ruang kerjanya.
Selena menyulut batang bernikotin miliknya. Menghisap lalu menghembuskan nafas keluar dengan perlahan.
“Jadi kau sudah benar-benar putus dengannya?” tanya Jennie memastikan.
“Tentu saja.” Selena menghisap rokoknya kembali. “Apa yang bisa diharapkan dari dia selain terus mencemarkan nama baikku, membuatku terlilit masalah,” ungkapnya.
Jennie mengangguk mengerti. Dia begitu mengenal Selena. Sahabatnya yang satu ini bukan tipe pengejar pria. Dia juga tidak menyukai masalah-masalah tidak penting yang selalu menganggunya.
“Kau tidak akan menyesal untuk Kenzo?”
Selena terkekeh samar. “Apa yang harus aku sesali? Bocah itu sudah tumbuh selama bertahun-tahun tanpa seorang ayah.”
“Baiklah, aku mengerti,” balas Jennie. “Ingin minum?”
“Tentu saja.”
Jennie memesan whisky pada seorang bartender. Dua wanita cantik itu saling beradu gelas dan menegak whisky milik mereka beberapa kali. Membakar isi perut, dan mendatangkan pengar di kelapa. Setelah banyaknya gelas yang mereka tenggak, keduanya mulai mabuk.
Selain banyaknya masalah yang menimpa, pekerjaan yang membuat stres, kehidupan yang membosankan. Mereka akan melampiaskannya kepada minuman beralkohol. Meskipun mabuk tidak menyelesaikan masalah, namun setidaknya bisa melupakan masalah itu untuk sesaat.
...................
Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk membuat dua wanita cantik itu tersungkur di deoan meja bartender.
__ADS_1
Jennie memegang gelas yang masih berisikan whisky miliknya, namun tangannya sudah tidak tahan untuk mengangkat gelas tersebut.
Sementara Selena, dia masih menegak minumannya meskipun pengar di kepalanya sudah melanda, dan perutnya sudah penuh dengan cairan.
“Jennie.” Selena menekan punggung Jennie dengan telunjuknya, namun wanita cantik itu tidak bergeming. “Jennie, apa kau mati?” celotehnya mabuk.
Selena berdecih pelan. “Siapa yang akan menemaniku minum lagi?” gumamnya padahal sudah dalam kondisi mabuk parah, namun dia tetap mengisi gelasnya dengan minuman.
“Bagaimana jika aku yang menemanimu mabuk?” tanya seseorang.
Refleks Selena menolehkan wajahnya, dan memandang pria itu seraya menyipitkan kedua matanya yang mulai buram. Dia tidak mengenal pria asing itu, dan juga tidak pernah melihatnya.
Pria itu duduk di samping Selena, lalu memesan minuman. Dia melirik setiap inci tubuh **** Selena, lalu menjilat bibir bagian bawahnya. Tertarik. Pria itu tersenyum simpul.
Sebenarnya dia dan beberapa temannya yang kini masih duduk di sofa sudut ruangan sudah memperhatikan dua wanita cantik yang mabuk itu. Mereka berniat membungkusnya untuk dibawa pulang. Keinginan mereka di dukung dengan kondisi mabuk berat kedua wanita cantik itu.
Dalam kondisi mabuk, Selena tidak memperdulikan siapa yang datang kepadanya. Dia bahkan mengabaikan pria asing yang kini duduk di sebelahnya.
“Apakah aku boleh tahu namamu?" tanya pria tersebut.
Selena menoleh padanya. “Selena,” balasnya singkat.
“Kau sangat cantik Selena,” pujinya.
Pria itu terkekeh melihat tingkah wanita yang kini sedang menegak minuman beralkohol miliknya. Lalu, tatapannya turun pada paha mulus Selena. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.
PLAK!
Satu tamparan panas mendarat tepat pada pipi pria tersebut, membuat wajahnya seketika terhempas ke samping. Dia memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu, lalu matanya melirik ke arah Selena dengan bengis
“Bitch!” umpatnya kesal lalu hendak melayangkan pukulan ke arah Selena, namun tiba-tiba lengannya ditahan oleh sesuatu.
Selena memejamkan matanya saat pria itu mengangkat tangan ke arahnya. Namun selang beberapa detik pukulan itu tidak sampai kepadanya, dan dia membuka matanya kembali.
“Siapa kau?” tanya pria tersebut.
Sorot mata elang yang tajam menusuk membuat ngeri siapapun yang menatapnya. Wajah tegas dan ekspresi dingin. Dia menghempaskan lengan pria itu dengan kasar.
“Felix?” gumam Selena rendah.
“Jangan menyentuhnya, atau kau akan tahu akibatnya.” Felix memberi pria itu peringatan.
“Memangnya siapa kau?” pria itu mengangkat dagunya, kemudian turun dari kursi untuk berhadapan denga. Felix.
__ADS_1
Suasana club malam yang ramai mendadak hening karena semua mata tertuju pada dua pria yang saling berhadapan itu. Beberapa teman pria asing itu sudah standby di belakang untuk membantu temanya.
“Apa kau tidak mengenalku? Aku yang berkuasa di dalam club malam ini!” kata pria asing itu menyombongkan diri.
Selena berdecih. Berkuasa katanya? Bahkan jika Jennie tahu ada pria murahan seperti dia di dalam club malam miliknya, Jennie sudah menendangnya dari awal.
“Bastard,” umpat Selena, membuat tatapan tajam pria asing itu langsung tertuju padanya.
“Diam kau *****!”
Lagi, dia hendak melayangkan pukulannya ke arah Selena. Namun dengan cepat Felix menahannya dan balik menghajar pria itu sampai tersungkur ke bawah. Dia memukulinya beberapa kali.
Beberapa orang di sana menjerit ngeri akibat kegaduhan yang sedang berlangsung. Banyak orang lari keluar dari area club malam itu.
Selena tercengang. Wajah pria asing itu sudah dipenuhi dengan darah, namun Felix masih terus melayangkan pukulan padanya.
Beberapa teman pria tersebut langsung berlari untuk membantu kawannya yang sedang kesusahan. Namun langkah mereka tiba-tiba tersekat saat beberapa pria bertubuh kekar menghalangi mereka.
“Siapa kalian?” tanya para pria asing tersebut.
“Tidak perlu ikut campur jika kalian tidak ingin bernasib sama sepertinya,” ucap salah satu pria kekar yang tak lain adalah pengawal Felix.
Selena merasa mual melihat muncratan darah yang keluar dari wajah pria itu. Dia akan mati jika Felix masih terus menghajarnya. Selena tidak tahan lagi, dia menarik baju kemeja Felix agar pria itu menghentikan pukulannya.
“Sudah cukup Felix, kau akan membunuhnya!”
Deru nafas Felix tidak menentu. Amarahnya menggebu-gebu dan belum berakhir, seolah belum puas menindas lawannya yang hampir mati.
Siapa yang berani menyentuh wanitanya, apalagi sampai melayangkan pukulan untuk menyakitinya. Siapapun itu, Felix tidak akan segan untuk menghajar bahkan menghabisinya sekaligus.
Pria asing tersebut sudah tersungkur di atas lantai dengan tidak berdaya. Beberapa pengawal membawah tubuhnya setelah mendapatkan perintah dari Felix.
“Felix, kau hampir membunuhnya," kata Selena.
Felix menatap wanita itu lalu mengatakan, “Siapa yang peduli jika aku membunuhnya? Tidak ada satu orangpun yang bisa menyakitimu, Selena!”
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like dan juga koment yaaa. Byebye untuk chapter selanjutnya nanti siang.