
Happy Reading ....
.
.
.
Selena berada di ruangan keluarga. Wanita cantik itu sedang menemani Kenzo belajar. Alih-alih mengajari putranya, Selena malah terus termenung dan pikirannya melayang kemana-mana, dia memikirkan Felix dan kejadian siang tadi.
Jelas-jelas Selena terpengaruh oleh obat, namun Felix tidak mengambil kesempatan untuk 'hal itu'. Tapi selama ini pria itu terus mendekati dan menggodanya, Selena pikir apa tujuannya selain untuk mendapatkan tubuh Selena? Tapi setelah yang terjadi tadi siang, dia malah terus merasa heran karena Felix tidak melakukannya saat dia benar-benar memiliki kesempatan. Jadi, apa yang sebenarnya ingin pria itu ingin lakukan?
Apakah dia ingin mempermainkanku untuk balasan dendam karena mencari masalah dengan Renee?
“Mami?” Kenzo menggoyangkan lengan maminya beberapa kali, dan Selena masih termenung. Dia terus melakukan hal tersebut sampai Selena menatap ke arahnya.
“Ah~ Ya, honey?”
Akhirnya maminya itu tersadar dan menoleh ke arahnya.
“Leon akan mengadakan pesta ulangtahun dua hari lagi, Mami.”
“Hmm ... Leon?”
“Ya, Mami. Mulailah mencari hadiah untuknya. Leon menyukai mainan,” kata Kenzo menyarankan.
“Mami akan segera mencarinya.” Selena mengusak pucuk kepala putra kecilnya itu.
Takdir selalu memihak pria itu. Selena benar-benar tidak bisa pergi untuk menjauh, sementara putranya masih berkawan dekat dengan putra pria tersebut. Itu melelahkan.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke dalam ruangan keluarga, dan menyampaikan sesuatu kepada Selena. “Tuan Edzar datang untuk bertemu dengan Anda, Nona.”
“Di mana dia sekarang?”
“Di ruang tamu bersama tuan besar.”
“Baiklah.”
Selanjutnya, Selena meminta pengasuh Kenzo untuk menemani bocah kecil itu belajar. Dia meminta ijin kepada bocah kecil itu sebelum akhirnya pergi keluar dari ruangan.
Selena melenggang masuk ke dalam ruang utama. Di sana sudah ada Edzar yang sedang berbincang dengan Johan. Kemudian Selena duduk di kursi tunggal di samping dua pria itu.
__ADS_1
“Kau mencariku, Edzar?” tanya Selena.
Johan sedang berbincang dengan keponakannya mengenai masalah perusahaan, dan bagaimana perkembangan bisnis setelah dipimpin oleh Selena. Pria itu menjelaskan dengan detail kepada Johan. Namun Selena telah tiba, Johan mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali pada keponakannya itu.
“Aku akan naik ke atas,” ucap Johan sebelum dia pergi meninggalkan mereka berdua.
Selena memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan minum. Dia bertanya kepada Edzar tentang minuman apa yang ingin dia minum, dan Edzar hanya menjawab dengan sederhana, air putih.
“Kami tidak menyediakan air putih,” ucap Selena pada pria itu. “Bawakan satu jus tomat,” perintahnya pada pelayan.
“Baik, Nona.”
Selena beralih focus pada Edzar lagi. Jarang sekali pria itu mau menginjakan kakinya ke dalam rumah Selena. Dia selalu menjauh dari Selena semenjak duduk di bangku sekolah menengah, alasannya karena wanita cantik itu menolak pernyataan cinta Edzar.
“Jadi ... ada masalah apa?” tanya Selena langsung.
Edzar tidak mampu menatap mata wanita di hadapannya, dia terlalu luluh dengan wanita itu. Dia tidak berani.
“Tidak ada masalah, Selena.”
Selena mengangkat sebelah halisnya. “Lalu?”
Terlihat raut ragu pada wajah Edzar, namun dengan jelas dia mengatakan, “Jenni memintaku untuk menemanimu datang di pertemuan reuni nanti, bagaimana menurutmu?”
“Apa kau mau menemaniku?”
Edzar menatap wanita cantik yang merupakan cinta pertamanya itu. “Tentu saja, kenapa tidak?”
“Baguslah kalau begitu,” kata Selena.
Edzar menarik ujung bibirnya tipis untuk menggariskan senyuman. Rasa senang membucah di dalam hatinya. Dia tidak pernah membayangkan jika Selena akan pergi ke pesta bersamanya. Selama ini dia selalu menjauhi Selena karena merasa minder padanya, dia pikir Selena membencinya semenjak hari itu.
“Kau sibuk besok?” tanya Selena.
Edzar berpikir. “Aku rasa aku tidak memiliki jadwal penting besok.”
“Baguslah, temani aku berbelanja, ada beberapa barang yang ingin aku beli.”
Pria tampan itu langsung mengangguk untuk menyetujuinya. “Baiklah, Sele.”
********
__ADS_1
Selena sedang berada di sebuah mall besar di ibukota. Dia pergi bersama Edzar, memenuhi janji bersama pria itu. Mereka berdua mengelilingi seisi mall dengan brand mewah di dalamnya, namun tidak satu pun barang yang Selena beli kecuali mainan mobil kecil yang sangat cantik dan juga mahal. Dia bahkan harus memakai orang dalam untuk mendapatkan mainan tersebut yaitu, Jonathan.
Mereka berjalan beriringan, suasana mall yang sepi membuat keduanya tidak jarang mendapat senggolan dari orang-orang di sekitar mereka. Terlebih lagi Selena ketika seorang wanita tengah berjalan terburu-buru, wanita itu menabrak bahu Selena sampai membuat tubuhnya limbung. Beruntung dengan sigap Edzar menangkap tubuh Selena, menahanya agar tidak jatuh membentur lantai.
“Kau baik-baik saja, Sele?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Selena, tersenyum kemudian menatih tubuhnya kembali untuk berdiri tegap.
“Kapan terakhir kali kita pergi bersama ke sini, apakah saat aku sekolah dulu?” tanya Selena, langkahnya mengiring tubuhnya dan juga Edzar masuk pada arena permainan. “Dulu kau sangat suka memainkan ini untuk mendapatkan boneka lalu kau akan memberikannya kepadaku,” ujar Selena seraya menunjuk sebuah mesin capit boneka.
Edzar tersenyum simpul. “Kau masih mengingatnya?”
Selena menyenggol lengan Edzar. “Tentu saja, siapa yang akan melupakan moment manis itu?”
Setelah bertahun-tahun terhalang antara status bos dan bawahan, akhirnya Edzar bisa merasakan kedekatannya bersama Selena kembali. Pada masa-masa saat mereka berdua remaja adalah hal yang manis dan indah, namun Edzar merusaknya dengan menyatakan cinta kepada Selena.
“Kau ingin mencobanya?” tanya Edzar.
Selena langsung mengangguk. “Tentu saja.”
Edzar pergi ke kasir untuk membeli member card untuk bermain, tidak lama dia kembali setelah selesai. Edzar menyodorkan card itu kepada Selena dan meminta wanita cantik itu untuk bermain mesin capit boneka tersebut, namun Selena selalu gagal setelah percobaanya ke empat kali.
“Damn! Ini sangat susah!” umpat Selena kesal saat melihat boneka yang sudah tercapit ke atas tiba-tiba terjatuh kembali.
“Biar aku mencobanya,” kata Edzar mengambil alih mesin permainan itu.
'YOU WIN!'
“Waaaaaaw Edzar kau mendapatkannya!” Selena tanpa sadar melompat, dan memeluk Edzar ringan.
Cukup dengan satu kali percobaan Edzar bisa mendapatkan boneka karakter kartun lucu yang sangat menggemaskan. Dia langsung memberikannya kepada Selena yang sedang bersorak kegirangan.
“Ini sangat menggemaskan,” kata Selena seraya memandangi boneka kecil yang kini sudah berada di dalam pelukannya.
Sementara itu di tempat lain, seseorang telah mengirimkan foto dan video kebersamaan mereka. Membuat orang yang melihatnya merasakan panas yang menggebu-gebu di dalam hati dan pikirannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....