Passionate Night

Passionate Night
*HOT!


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Selena merasakan panas pada sekujur tubuhnya. Wajahnya memerah padam, dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Nafasnya menderu tidak karuan, pandangannya tertuju pada Felix dengan perasaan kesal bercampur gairah.


Sialan! umpatnya dalam hati.


Felix menyeringai melihat wajah sendu yang Selena tunjukan. Wanita cantik itu sedang menahan hasrat yang timbul akibat efek obat yang sebelumnya telah Felix campurkan ke dalam minuman. Itu adalah hukuman untuknya, karena di masalalu dia juga pernah memberikan Felix obat yang sama.


“Bagaimana rasanya?” tanya Felix menggoda.


Selena menelan salivanya susah payah. Dia sangat ingin mendorong pria itu menjauh dari hadapannya, namun kondisi tubuhnya yang lemah tidak mendukung rencananya itu. Saat dia mengulurkan tangannya ke arah Felix, tubuhnya malah limbung ke depan, dan alhasil dia jatuh ke dalam pelukan pria itu.


“Kini kau yang melemparkan diri langsung ke arahku,” kata Felix dengan seringai.


Rasanya seperti ingin meledak. Selena menggigit bibir bagian bawahnya saat aroma tubuh maskulin pria itu menguar dan masuk ke dalam indera penciumannya. Dia merasakan segar, tidak sadar jika jemarinya sudah bermain di atas otot lengan Felix.


Nafas Selena semakin menderu tidak karuan, dia tahu jika terus berada bersama Felix maka dirinya akan lebih gila lagi. Dia ingin pergi dari sana secepatnya, menghilang dari hadapan pria itu.


Seketika Felix menarik tubuhnya, dan melepaskan pelukan Selena pada wajahnya. Dia menatap mata sendu dan wajah memerah dari wanita cantik itu, kemudian dia tersenyum. Felix mendekatkan wajahnya pada Selena, begitupula dengan Selena. Namun pria itu mempermainkannya, dia mendekatkan bibirnya pada Selena tapi sesaat menjauhkannya kembali.


Jemari Felix menyentuh dagu Selena kemudian berkata, “Apa kau ingin patuh padaku sekarang?”


Tanpa sadar Selena menganggukan kepalanya. Tidak ada hal lain di dalam pikirannya saat ini kecuali bibir merah dan sintal itu. Dia sangat ingin menggigit dan mempermainkannya.


Persetan dengan obat itu! Aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.

__ADS_1


Felix menyentuh pipi Selena dengan lembut, membawa beberapa helai rambut yang jatuh pada wajah cantik itu ke belakang telinga. Telapak tangannya perlahan mengarah pada tengkuk leher, membuat seluruh tubuh Selena mengejang karena titik sensitifnya telah di sentuh.


Perlahan dia mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Selena, menyentuh bibir manis itu dengan bibirnya. Berbeda dengan sebelumnya yang mendapatkan banyak penolakan, kini Selena justru yang memandu permainan. Felix tahu jika bukan karena reaksi obat itu dia tidak akan menerimanya, oleh karena itu ciuman mereka langsung terlepas saat Felix tiba-tiba menarik tubuhnya untuk menjauh.


Wajah merahnya menahan kesal, kenapa pria itu tiba-tiba menarik tubuhnya untuk menjauh. Sementara efek obat itu semakin menguasai Selena, rasanya dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya dan lebih memilih untuk menciium dan memeluk Felix saat ini juga.


“Kau menginginkannya sekarang? Apa kau menginginkannya?” tanya Felix, nafasnya terengah menahan hasrat yang tidak kalah menggebunya dari Selena.


Selena mengangguk, mengeluarkan kata dengan suara seraknya, “Ya ....”


Felix menelan salivanya dengan susah payah. Sebenarnya dia juga tidak bisa menahan keinginannya untuk bersama dengan Selena, namun kenyataan menamparnya jika dia melakukan hal tersebut karena dia berbuat curang dengan obat itu. Felix lebih baik menahan semua nafsunya dibandingkan dia mendapatkan kepalan tangan dari Selena ketika wanita itu tersadar.


Setidaknya sekarang Felix telah memastikan jika rumor yang beredar tentang wanita itu adalah salah. Dia masih menyukai seorang pria.


Kemudian, Felix memasukan sebuah pil kecil ke dalam mulutnya sebelum dia menciium bibir Selena kembali. Dia mendorong keluar pil tersebut dengan lidahnya sampai beralih tempat dan tertelan oleh Selena. Dia memuaskan diri untuk mencumbu wanita cantik itu sebelum dia tersadar nanti dan Felix akan menyesal jika tidak melakukan apapun padanya.


Sudah cukup puas bermain dengan bibir sintal itu, Felix menarik tubuhnya dan melepaskan tautan bibirnya pada bibir Selena. Meskipun deru nafas mereka sudah tidak karuan diiringi hasrat yang menggebu-gebu, tapi Felix berusaha sadar diri untuk menahannya.


Efek obat itu masih belum hilang meskipun Selena telah meminum penawarnya. Gairah dan rasa panas masih melekat pada dirinya. Ketika Felix melepaskan ciumannya, dia sangat menolak dan tidak menyukainya.


Dia menggendong tubuh Selena di bahunya, gerakannya yang tiba-tiba cukup membuat wanita itu terkesiap. Felix membawanya dengan langkah yang cepat, sementara Selena merasakan pusing yang teramat saat tubuhnya berada dalam posisi yang terbalik.


“F-felix, apa yang kau lakukan?”


Byyyuuuuuuurrrr!


Felix melemparkan tubuh Selena ke dalam kolam renang, kemudian dirinya loncat dan menyusul. Selena jelas-jelas mabuk dan tidak sadar, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk naik ke permukaan. Beruntung Felix segera menarik lengan wanita itu, membawanya ke atas untuk bernafas.


Nafas Selena terengah-engah. “Kau gila!” Dia memukul dada Felix ringan, sementara pria itu terus menopang tubuhnya yang limbung. “Airnya sangat dingin ....”


Felix tahu airnya sangat dingin, oleh karena itu dia sengaja menceburkan tubuh Selena ke sana agar wanita itu dapat segera tersadar dari efek obatnya. Felix tidak ingin Selena terus menggodanya, dia tidak akan bisa menahan dirinya lagi kalau begitu.

__ADS_1


Dua telapak tangan Felix menyugar rambut Selena yang menutupi sebagain wajah cantiknya. Dia mengecup kening Selena, lalu menuntun tangannya untuk menepi. Dia naik ke atas permukaan, dengan Felix yang membantunya.


............


Setengah jam menggigil kedinginan, akhirnya Selena tersadar dari efek obat yang dari tadi menganggunya. Wanita cantik itu tidak berhenti mengumpat dalam hati, juga menghujani Felix dengan amarahnya. Sementara Felix santai, kini pria itu sedang membuat makanan untuk menghilangkan pengar yang Selena rasakan.


Dia datang dengan membawa satu mangkuk sup penghilang pengar, lalu meletakannya di atas meja ke hadapan Selena yang sedang duduk dengan satu gelas coffee panas di tangannya. Percayalah, jika saat ini yang sangat ingin Selena lakukan adalah menyiramkan coffee itu kepada Felix.


“Makan ini dan pengarmu akan hilang, tubuhmu juga akan hangat.”


Selena berdecih pelan. “Apa kau yakin kau tidak mencampurkan hal aneh lagi ke dalam supnya?”


Terdengar kekehan pelan dari Felix. “Kau masih meminum coffee yang aku buat, kenapa kali ini kau ragu dengan sup ini?”


Selena melihat coffee di tangannya. Benar juga, dia telah menghabiskan setengah cangkir coffee itu. Pandangannya beralih menatap ke arah Felix dengan malas.


“Kau masih marah?”


“Tidak ada gunanya aku marah,” jawabnya seraya menarik mangkuk sup itu mendekat. Dia mencicipinya, dan tidak menyangka jika pria tampan itu benar-benar mahir memasak. Supnya memiliki rasa yang enak.


“Apa yang kau inginkan sekarang? Aku akan memberikanmu segalanya.”


“Menjauhlah dariku,” ujar Selena enteng.


“Tidak akan pernah.”


.


.


.

__ADS_1


***Bersambung ....


Jangan lupa like, koment, dan juga fav yaaaaaaaa. Terusss semangati authorrrrr***.


__ADS_2