
Happy Reading ....
.
.
.
“Happy birthday, Leon.”
“Happy birthday, Leon.”
“Happy birthday, Leon.”
Semua orang bernyanyi lagu ulang tahun, bersorak ramai menyerukan perayaan untuk seorang bocah kecil yang kini sudah ada di depan mereka ditemani oleh keluarganya, dan siap untuk meniup lilin.
Selena hanya menepuk-nepuk tangannya mengikuti irama, tanpa mengeluarkan suara apapun. Pandangannya hanya tertuju tajam pada Felix yang kini berada di samping Leon dan Renee, pria itu juga sedang menatapnya.
Cih, sedang apa dia di sana? Pikir Selena.
Selena memutar bola matanya malas dan mengalihkan pandangannya dari pria itu.
Sebelum perayaan dimulai, saat Selena sedang berbincang dengan para wali murid Renee tiba-tiba datang, wanita itu terus menyudutkannya dengan kata-kata 'single parents'. Perasaan Selena sudah malas mendengarkan hal itu.
Kekesalanya bertambah saat Felix baru saja turun dari lantai dua, dan seorang bocah kecil langsung berteriak memanggilnya 'papa'. Hal itu membuat orang bertanya-tanya, kenapa Leon bisa memanggil Felix dengan sebutan 'papa'.
Bahkan kalimat 'Kau adalah wanitaku' masih terngiang-ngiang di dalam kepala Selena seolah dia baru saja mendengarnya beberapa detik tadi. Tapi kini kenyataan menamparkan begitu kuat untuk bangun dan tersadar agar dia tidak larut ke dalam pesona pria itu.
Tetapi karena hal itu, semua orang menyorotinya dengan tatapan tajam tanpa tahu hal yang sebenarnya terjadi.
Para reporter meliput pesta dengan antusias, lebih tepatnya lagi mereka sedang menyoroti Felix. Mereka juga bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi di kediaman Alexander sehingga bocah kecil itu dengan polosnya memanggil Felix 'papa'. Apakah terjadi scandal di rumah itu? Terlebih lagi, selama ini tidak pernah ada yang tahu siapa sosok dibalik suami Renee Alexander.
Jika berita ini beredar luas, maka itu akan menjadi perseteruan panas di antara beredarnya gosip jika Selena adalah kekasih Felix.
Tidak sia-sia kita datang kemari. Pikir para reporter.
Setelah meniup lilin dan memotong kue, Leon menyuapkan kue pertama untuk Renee, kemudian Felix, dan disusul dengan suapan-suapan untuk orang terkasih dikeluarganya.
Saat itu Zayn datang tergesa seraya membenarkan kancing kemeja miliknya. Dia menyesuaikan jalanya dengan pelan saat sampai di depan aula.
Leon melihatnya dan tersenyum lebar, saat itu juga dia memanggil Zayn. “Papa Zayn!”
__ADS_1
Zayn tersenyum mendekatinya, mengusak puncuk kepala bocah kecil itu.
Keterkejutan orang-orang belum pudar saat bocah kecil itu memanggil Felix dengan sebutan 'papa', dan sekarang disusul oleh Zayn.
Selena mengangkat ujung bibirnya saat mendengar hal itu. Dia berpikir jika bocah kecil itu ternyata memanggil semua pria di keluarganya dengan sebutan 'papa'. Entah kenapa, mengetahui hal ini hati Selena menjadi sedikit tenang.
********
Pagi harinya, Selena bersiap untuk pergi ke perusahaan. Dia memiliki meeting penting hari ini dengan beberapa kliennya. Bahkan ketika Marie memintanya untuk sarapan sebelum pergi, Selena menolak dan pergi dengan tergesa-gesa.
Marie mengangkat kedua bahunya sembari menatap Johan. “Putrimu sangat sibuk.”
“Dia menghindari kita,” kata Johan dengan suara beratnya.
“Cukuplah, jangan terus bersikap seperti itu padanya, dia akan merasa tidak nyaman.” Marie diam sejenak untuk menatap Johan dengan kerutan halus di dahinya. “Bagaimana jika dia pergi lagi dari kediaman ini?”
Johan menggeleng pelan. Marie benar, dia tidak bisa terus ikut campur di dalam kehidupan Selena. Karena putrinya itu selalu bersikap seenak hatinya. Jika satu hal membuatnya tidak nyaman, maka Selena akan pergi menghindar. Sama halnya seperti rumah, ketika merasa tidak nyaman di dalam rumah Selena akan terus berpergian, dan bahkan pindah tempat untuk tinggal.
“Putrimu sangat susah untuk diatur,” ungkapnya pada Marie. Wanita paruh baya itu hanya berdecak malas mendengar ungkapan dari suaminya.
...........
Ponsel Selena terus berdering menerima sebuah notifikasi yang muncul dari grup sekolah Kenzo. Ya, semenjak pertemuan dengan orangtua murid tadi malam, Selena jadi ikut andil ke dalam kumpulan itu.
Sudah cukup sibuk menerima email pekerjaan, kini dia juga harus meladeni obrolan para ibu-ibu.
Dia berada di ruangannya setelah menyelesaikan meeting. Selena focus menatap layar MacBook untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seketika ponselnya berdering, sesaat mengalihkan perhatian Selena untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya. Lidya, ibu muda yang baru saja dikenalnya tadi malam.
'Selena, apa kau sibuk?' tanya Lidya. 'Kami memiliki janji untuk makan siang bersama, dan berharap kau bisa hadir.'
Selena menghela nafasnya dalam-dalam, berusaha tidak bersuara ketika menghembuskan ya. Jadwalnya sangat padat, tapi jika dia menolak mereka akan menganggapnya angkuh dan akan mengucilkan Kenzo di sekolah.
****! Lingkaran setan ini.
“Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha untuk datang,” balas Selena.
'Baiklah, sampai jumpa saat makan siang nanti Selena. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu.'
Sambungan telepon itu terputus, Selena langsung menyimpan ponselnya ke atas meja. Kemudian, ponselnya kembali berdering dengan banyaknya notifikasi pesan yang muncul. Pesan itu dari Jenni, dan lagi-lagi wanita kurang kerjaan itu mengiriminya beberapa link.
“Aku sangat sibuk, aku akan membukanya nanti,” gumam Selena pada diri sendiri.
__ADS_1
.........
Selena berusaha untuk datang tepat waktu di alamat yang telah Lidya kirimkan padanya. Kini dia berada di sebuah restoran keluarga bintang lima dengan privateroom di dalamnya.
Makanan mewah tersaji di atas, menu makan siang itu ialah sushi, beberapa sajian daging ikan mentah menghiasi meja.
Selena duduk di samping Lidya, para orangtua murid memandanginya denga. tersenyum aneh. Selena pikir, ada yang tidak beres namun dia mencoba menetralkan pikirannya.
“Ah Renee mengirimiku pesan jika dia tidak bisa datang, dia memiliki makan siang keluarga,” ucap Lidya.
Oh ternyata wanita itu juga aktif dalam komunitas sekolah. Pikir Renee.
Mereka memulai makan siang mereka tanpa menunggu apapun lagi.
Selena hanya mengambil beberapa potong irisan daging salmon segar untuk makan siangnya, dan dia merasa jika itu sudah cukup mengenyangkan. Lalu dia meminum sake dari gelasnya.
Melihat itu, Lidya segera mengakhiri aktivitas makan siangnya.
“Selena, apa kau tahu artikel yang sedang beredar sekarang?” tanya Lidya.
“Tidak.” Selena menggeleng pelan. “Aku jarang membaca artikel di internet.”
“Oh astaga ... kau harus lebih sering membacanya,” kata seorang ibu muda bernama Agnes. “Karena akhir-akhir ini beberapa artikel sedang menautkan namamu.”
Selena mengangkat sebelah halisnya, dan Lidya langsung memegang lengan Selena agar menatap ke arahnya. Dia sudah siap dengan layar ponsel yang menyala dan menunjukan sebuah artikel penting kepada Selena.
*HUBUNGAN TERSEMBUNYI RENEE DAN FELIX ALEXANDER.
“Bukankah kau dan Felix dekat, bagaimana tanggapanmu dengan artikel itu, Selena?” tanya Lidya.
Wajah Selena datar tanpa ekspresi, dan hening tidak menjawab pertanyaan dari Lidya. Selena sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang jelas itu semua membuat kepalanya pusing.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa koment, like, dan juga fav okeeee.....bye-bye.
__ADS_1