
Happy Reading ....
.
.
.
Jemari Selena bergerlya pada lekukan otot perut sispax milik Felix. Gerakannya semakin turun ke arah bawah sampai menyentuh intin tubuh pria itu. Kedua matanya memandang Felix dengan nakal, tersenyum simpul sebelum akhirnya dia mengeratkan genggamannya pada milik pria itu.
Felix menghela nafasnya dalam-dalam. Merasakan sensasi hangat sekaligus nikmat pada pangkal pahanya. Denyut genggaman lengan Selena begitu lembut, membuat kenikmatan yang tiada duanya. Padahal wanita cantik itu masih menyentuhnya di luar kain, bagaimana jika dia sudah menyentuh langsung.
Selena melihat wajah Felix yang mulai sayu. Pria itu hanya terdiam, dan menerima semua sentuhan yang Selena buat pada tubuhnya.
Dia melepaskan genggamannya pada inti tubuh Felix. Lalu jemari lentik wanita cantik itu membuka setiap kancing baju kemeja Felix, membiarkan otot-otot perut pria itu terpampang nyata. Kini Selena bisa dengan leluasa menyentuhnya tanpa kain sehelaipun.
Selena meliukan tubuhnya dengan menggoda untuk membuat Felix terangsang. Perlahan, dia menyentuh beberapa bagian inti tubuhnya dengan tangannya sendiri.
Felix menatapnya dengan tatapan intens. Melihat Selena yang begitu menggodanya sehingga dia tidak mampu lagi untuk mengendalikan diri, dan sangat ingin menerkam wanita cantik itu.
Selena mendorong tubuhnya mendekati tubuh Felix. Wajah mereka saling berhadapan. Bibir sintalnya menyentuh setiap inci tubuh Felix dengan seductive. Membuat ketegangan yang kuat bagi pria itu.
“Hei Baby,” ucap Felix parau ketika bibir sintaal Selena menyentuh bibirnya.
Dia melumaat sekilas bibir Felix, laku melepaskannya kembali. Tubuh Selena kembali tegak seperti semula. Kini dia mulai melepaskan setiap kancing baju yang dia pakai.
“Kak!”
O ****!
Pergerakan Selena terhenti saat seseorang membuka pintu. Tatapan Selena maupun Felix langsung tertuju ke arah pintu tersebut dan melihat Zayn yang sedang menatap ke arah mereka dengan ekspresi terkejut. Lord! Pria ini datang hanya untuk menganggu kesenangan kakaknya.
Sontak Selena turun dari tubuh Felix, duduk di atas ranjang dengan posisi membelakangi Zayn dan sesegera mungkin memakaikan kancing bajunya.
Sementara Felix dengan santai bangun lalu beringsut turun dari ranjang, berjalan menuju pintu untuk menemui Zayn.
“Ada apa?” tanya Felix dengan nada dingin.
Percayalah, jika tingkat kemarahan pria itu saat ini sedang mencapai puncak tertinggi. Zayn datang menganggu kesenangannya. Kesenangan yang tidak akan didapatkan dua kali.
Sialan! Aku menganggunya! Pikir Zayn. Felix akan membuatnya sengsara lagi nanti. Pria itu akan mengirimnya ke kutub Utara.
“Kak, sebenarnya ....” Pandangan Zayn melirik Selena yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.
Selena merasa jika dirinya menganggu pembicaraan antara kakak beradik itu. Lantas, dia segera melangkah untuk keluar dari ruangan itu.
“Aku akan pergi,” ucapnya ketika melewati Felix.
Felix dan Zayn menatap kepergian wanita cantik itu hingga bayang-bayangnya menghilang terhalang dinding ruangan. Setelah itu, Felix menyoroti Zayn dengan tatapan tajamnya lagi.
“Katakan, ada apa?”
Zayn segera mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan isi layar yang berupa artikel itu kepada Felix. Membiarkan kakaknya itu untuk membaca lebih jelas dan detail.
__ADS_1
................
Selena berjalan dengan rasa malu sekaligus kesal. Kenapa Zayn bisa-bisanya masuk ke dalam ruangan sementara dia tahu ada Selena di sana. Pria itu tidak mungkin berpikir jika Selena sudah pergi bukan. Dia baru mengantarnya ke ruangan Felix beberapa menit yang lalu.
Langkah Selena berjalan di antara lorong perusahaan. Beberapa karyawan di sana memandanginya dengan berbisik. Selena mengabaikan itu. Sampai di ujung lorong, tiga wanita tiba-tiba menghadang langkahnya.
Selena berkerut kening melihat para wanita itu menghadangnya. Sementara tiga wanita itu tersenyum girang, kedua mata mereka berbinar ketika melihat Selena.
“Nona Selena? Tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”
“Kami adalah penggemar beratmu sewaktu SMA.”
“Bisakah kami meminta gambar bersamamu?”
Selena mengangkat halisnya mendengarkan deretan pertanyaan para wanita itu. Sebelum akhirnya dia mengangguk setuju untuk berfoto bersama. Masing-masing ketiganya meminta foto bersama Selena.
“Terimakasih, Nona.”
Selena tersenyum. “Sama-sama. Oh ya, cukup panggil aku Selena.”
“Terimakasih Selena.” Mata ketiganya dipenuhi binar.
“Aku akan pergi.”
“Sampai jumpa Selena.”
Selena pamit, kemudian melenggang pergi menjauhi tiga wanita cantik itu. Masuk ke dalam lift dan turun menuju loby.
“Dia adalah kekasih CEO kita, mungkin ke depannya dia akan lebih sering untuk datang ke sini.”
“Kau benar! Aku akan mengambil gambar sebanyak mungkin dengannya, dan aku pamerkan di sosial mediaku.”
“Ya! Cepat kita upload di sosial media.”
“Ya!”
Ketiga wanita itu sibuk dengan sosial media masing-masing. Mereka mengupload foto yang baru saja mereka ambil bersama Selena ke sosial media mereka.
#Selenacantik
#Selenemenggemaskan
#SelenaAlexander
#PerusahaanAlexander
***********
Renee menghempaskan ponselnya ke atas ranjang. Menggenggam erat rambutnya menggunakan kedua tangan. Rasanya dia ingin mengamuk dan menghancurkan seisi kamar lagi dan lagi.
Dia baru saja melihat artikel mengenai Selena. Seseorang meng-upload foto wanita itu yang sedang berada di perusahaan Felix. Ya! Wanita itu datang ke perusahaan Felix usai berbelanja bersamanya.
Apakah gerakanku terlalu lambat?
__ADS_1
Renee menyulut rokok di selah jemarinya. Menghisap lalu mengeluarkan asap dan memenuhi ruangan. Dia mencoba menenangkan pikirannya untuk tetap bisa berpikir dengan baik dan cerdik. Dia tidak akan gegabah kali ini. Langkah demi langkah harus pasti sehingga semua bisa berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah pesan notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Renee segera mengambil benda pipih itu dari atas ranjang untuk melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.
Sebuah tautan artikel. Jemarinya bergerak cepat untuk melihat artikel tersebut. Awalnya dia tercengang, lalu kemudian senyuman tersungging pada wajahnya.
Alam semesta mendukungku.
Dia segera pergi keluar dari kamar, menuruni tangga dan mencari keberadaan Johan, bertanya kepada pelayan di mana keberadaan ayahnya itu.
“Tuan besar sedang pergi untuk bermain golf, Nona.”
“Golf?”
“Golf pribadi.”
Renee menghela nafasnya dalam-dalam. Dia sedang memerlukan pria tua itu, namun Johan malah pergi bersenang-senang.
Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Mengetikan nomor untuk menghubungi seseorang. Beberapa kali dering terdengar, dan tidak lama kemudian seseorang menjawab teleponnya.
'Hallo?'
“Hai, how are you?”tanya Renee dengan sangat antusias.
'Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?'
“Ya, aku tentu baik-baik saja.”
'Apa kau sudah menerima kabar tentang pesta yang akan aku rayakan?'
“Tentu saja! Aku akan datang.”
'Terimakasih, Renee. Aku menunggu kehadiranmu.'
“Aku akan senang melihatmu setelah beberapa tahun.”
'Aku juga.'
Mereka berdua berbincang bersama di dalam telepon. Sampai akhirnya topik pembicaraan mereka habis dan sambungan telepon terputus.
Renee tersenyum senang setelah mematikan sambungan telepon itu. Dia tidak tahan untuk mengeluarkan tawanya.
Seseorang akan terluka karena ini.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like, koment, dan juga favorit yaaaa kaliaaan. Byebye.
__ADS_1