
Keluarga kecil itu makan bersama-sama dengan hidangan yang Felix buat dan dibantu oleh Selena. Selama itu, suasana di antara mereka hening. Hanya terdengar beberapa kali bunyi denting alat makan.
Kenzo menyelesaikan makanannya. Kemudian meminum jus miliknya dari dalam gelas. Dua mata bulatnya dengan polos menatap ke arah Selena dan Felix yang sama-sama terdiam.
“Ada apa?” tanya Felix yang menyadari tatapan bocah kecil itu.
Selena yang sejak tadi focus dengan makanannya pun seketika langsung menoleh ke arah bocah kecil itu.
Kenzo menatap Selena dengan bingung. “Mami, apakah aku bisa memanggil paman Felix dengan sebutan papi?” tanyanya dengan polos.
Selena tidak tahu apa yang bocah kecil itu pikirkan. Kenapa dia bisa bertanya hal itu lagi jelas-jelas Selena sudah memberitahunya.
Oh ayolah Kenzo, mami akan memberitahumu kapan kau bisa memanggilnya dengan sebutan papi. Batin Selena.
Sebelah lengan Felix terulur untuk mengusak rambut bocah kecil itu. “Ya, kau bisa,” ucapnya pada Kenzo.
Selena menatap Felix untuk sesaat, dan Felix menatapnya dengan senyuman. O Lord!
......................
Felix sedang membereskan piring bekas makan malam saat Selena kembali ke dapur setelah mengantarkan Kenzo ke dalam kamarnya. Dengan inisiatif Selena membantunya untuk membereskan itu semua.
“Tidak perlu,” Felix mencekal pergelangan tangan Selena.
“Duduklah dan minum jusmu.” Dia mengedikan dagunya ke arah meja makan, dan terdapat satu gelas jus di sana.
Selena tidak mendengarkan pria itu, dan terus menyusun beberapa piring kotor dari atas meja lalu memindahkannya ke tempat cucian piring. Dia mengambil alih sarung tangan dari Felix lalu mulai mencuci piringnya.
“Seharusnya kau memperkejakan satu pelayan di sini,” ucapnya seraya terus membasuh piring.
Felix berdiri di sampingnya,menatap Selena dengan intens. Dia pikir jika wanita cantik manja dan sangat suka berfoya-foya itu tidak tahu caranya mencuci piring. Ternyata dia tidak seperti yang Felix bayangkan.
__ADS_1
Selena pernah hidup di luar rumah selama beberapa tahun. Dia tidak diijinkan menjadi CEO perusahaan keluarga jika pola hidupnya tidak berubah. Ayahnya akan membagikan harta kepada orang lain jika Selena tidak bisa memimpin perusahaan.
Kemudian, Felix melangkah mendekatinya. Dia berdiri di belakang Selena, lalu memegang dua tangan yang sedang sibuk bekerja itu dengan perlahan.
Selena menghentikan gerakannya, namun Felix malah memandu tangannya untuk terus bekerja.
“Aku tidak bisa melakukannya jika kau berada di sana, Felix,” kata Selena penuh penekanan.
Namun Felix tidak memperdulikannya, dan tetap menggerakan lengan Selena untuk terus mencuci piring. Setelah selesai, dia membuka sarung tangan yang Selena pakai lalu mulai membilas tangan wanita cantik itu.
Felix menyentuh kedua bahu wanitanya, membalikan tubuh Selena agar menghadap ke arahnya. Dia masih mengenggam kedua telapan tangan wanita cantik itu.
“Ini untuk yang terakhir kalinya kau melakukan ini. Kau tidak boleh melakukannya lagi,” ucap Felix kemudian mengecup kedua telapak tangan lembut itu.
“Ada apa? Bukankah ini pekerjaan rumah tangga? Aku akan melakukannya jika sudah menikah nanti,” lugas Selena.
Felix terkekeh samar untuk itu. “Aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya.”
Selena tersenyum simpul. “Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?” Dia mendongakan wajahnya, menatap Felix dengan lekat.
“Mami!”
Refleks Selena mendorong tubuh Felix dari hadapannya, membuat pria itu mundur menjauh. Dia segera mendekati Kenzo untuk bertanya kenapa bocah kecil itu keluar kamar lagi padahal Selena sudah mematikan lampu kamar dan memintanya untuk tertidur.
“Mami aku tidak mau tidur di sana, aku mau tidur bersama mami,” ucap bocah kecil itu diiringi dengan wajah menjebik dan mata berbinar.
Selena hampir melupakan kebiasaan putranya di tempat baru. Bocah kecil itu tidak terbiasa tidur sendiri jika bukan di dalam kamar miliknya. Dia akan merengek ketakutan.
“Baiklah, kau akan tidur bersama mami.” Selena mengusak puncuk kepala bocah kecil itu lalu membawanya ke dalam pelukan.
Felix melirik bocah kecil dengan mata bulat itu. Kemudian dia memegang lengan Kenzo, lalu dengan gamblang bertanya, “Apakah Kenzo ingin tidur bersama papi juga?”
__ADS_1
Pria tampan itu langsung memberikan sorotan matanya kepada Felix. Namun pria itu hanya meliriknya sekilas dengan tidak peduli.
Kenzo mungkin akan kebingungan dengan semua ini. Tiba-tiba ada seorang pria yang tidur satu ranjang bersama dia dan maminya. Bocah kecil itu mungkin tidak setuju meskipun dia memanggil Felix dengan sebutan 'papi'. Ini terlalu cepat baginya, dia akan terkejut.
Kenzo mengangguk dalam, dia setuju. Hal itu membuat Selena tercengang mendapati jawaban dari putra sulungnya itu. Padahal sebelumnya, bocah kecil itu selalu tidak mau orang lain menganggu ranjangnya.
Felix tersenyum lalu membawa tubuh Kenzo ke dalam gendongannya. Dengan seperti ini, dia akan tetap berada di dekat Selena.
......................
Di dalam kamar. Kenzo dan Felix sedang duduk sembari bercengkrama antara bocah kecil dengan orang dewasa. Sesekali mereka tertawa dengan gembira.
Sementara itu Selena berada di kursi meja rias. Sedang memoleskan krim malam pada wajahnya. Dia menatap kebersamaan antara ayah dan anak itu dari balik cermin di hadapannya.
Kebersamaan keduanya menyentuh lubuk hati Selena. Dia berpikir, mungkin akan ada baiknya jika ketika pulang bekerja dan lelah seharian, dia melihat pemandangan yang indah dan belum pernah dia lihat sebelumnya seperti ini. Hidupnya mungkin akan lebih berwarna. Rasa lelahnya akan hilang.
Alih-alih melampiaskan kekosongannya dengan minum-minum di dalam club malam. Akan lebih bagus jika dia mengisi kekosongan itu.
Selena berharap semoga tidak ada keraguan lagi di dalam dirinya.
Kenzo dengan menggeser tab miliknya. Bocah kecil itu memperlihatkan foto masa kecilnya kepada Felix. Dia juga menjelaskan beberapa kejadian menggelikan yang neneknya ceritakan padanya saat mereka mengambil foto tersebut.
Sampai pada slide terakhir, di mana saat itu Kenzo baru saja dilahirkan. Bayi kecil dan memerah itu sedang telungkup di atas dada ibunya.
Senyuman Felix seketika buyar, dan berubah menjadi raut wajah dingin dan tidak berekspresi. Dia menatap intens foto itu, dan bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang Selena rasakan pada saat itu.
Wajahnya memerah dengan air mata yang mengalir, peluh membasahi dahinya, dan ekspresi wajah kesakitan. Felix menelan salivanya kasar.
Tatapannya beralih pada wanita cantik yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Tiba-tiba dia merasa iba kepada Selena karena harus merasakan rasa sakit itu seorang diri.
“Pamam Felix lihat ini, mami saat menggendongku,” kata Kenzo dengan suara lucunya yang seketika mengalihkan perhatian Felix.
__ADS_1
“Kau sangat lucu, pantas saja mamimu sangat menyayangimu.”
“Ya! Grandma dan grandpa juga mengatakan hal yang sama.”