
Happy Reading ....
.
.
.
Seorang pria berjas abu-abu duduk di kursi kebesarannya. Jemarinya mengetuk atas meja sembari pandangan menatap tajam ke arah ponsel yang terus berdering. Panggilannya tidak kunjung mendapat jawaban. Dia terlihat begitu gelisah.
Pintu ruangannya seketika diketuk, lalu seseorang masuk ke dalam ruangan setelah mendapat ijin dari pemilik ruangan. Sekretarisnya itu membacakan jadwal.
“Majukan jadwal pertemuan dengan perusahaan Geovandra,” perintah Felix pada sang sekretaris.
“Sorry, Mr! Mereka baru saja meminta jadwalnya di undur untuk tiga bulan kedepan.”
Felix menatap tajam sekretarisnya, seolah tidak bisa menerima hal yang baru saja dia dengar. “Baiklah, kau boleh pergi.”
Lalu wanita itu mundur, kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan atmosfir mencekam itu.
Perasaan Felix merasa tidak enak. Sejak dia pergi tiga hari yang lalu ke luar negeri, Selena tidak kunjung menjawab teleponnya. Sepertinya wanita itu sengaja menjauhinya, dia bahkan memundurkan jadwal pertemuan bisnisnya dengan perusahaan Felix.
Kemudian, Zayn masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Dia duduk di sofa yang masih berada di dalam ruangan itu, menuangkan teh ke dalam cangkir lalu menyesapnya. Pandangannya tertuju pada Felix yang terlihat bimbang.
“Kau belum pulang? Lembur?” tanya Zayn.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Bahkan sebagian karyawannya sudah pulang, hanya tersisa beberapa yang melakukan lembur di malam hari. Termasuk Zayn.
“Bagaimana dengan hal yang aku perintahkan padamu?” tanya Felix, beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju Zayn.
“Aku telah membereskannya.” Zayn terdiam sejenak.
“Baguslah.”
Beberapa artikel beredar mengenai dirinya selama dia pergi ke luar negeri. Artikel sampah itu membuat berbagai judul yang membuat orang lain akan beranggapan lain ketika membacanya.
Felix meminta Zayn untuk menarik semua artikel tersebut, menghilangkannya hingga tidak tersisa satupun. Namun meskipun begitu, Felix yakin jika Selena telah membaca salah satu dari artikel itu. Mungkin itulah sebabnya dia tidak kunjung menerima telepon dari Felix. Dia marah.
Apa yang sebenarnya wanita lakukan jika dia marah atau cemburu. Menghilang untuk menangis, menenangkan diri, atau mengurung diri sendiri dan meratapi kesedihannya.
Felix pikir Selena bukanlah orang yang seperti itu.
Tiba-tiba Zayn menjentikkan jemarinya, membuat semua hal yang memenuhi pikiran Felix buyar seketika. Mata elang itu langsung tertuju pada si pembuat suara.
__ADS_1
“Lihat ini, dia sedang berlibur.”
Zayn memperlihatkan layar ponselnya yang berupa gambar seorang wanita cantik yang sedang bersenang-senang. Wanita itu sedang berselancar mengenakan bikini di laut bebas. Dia terlihat sangat ceria.
Felix tidak bisa mendapatkan kabar apapun tentangnya, dan bahkan dia tidak bisa mencari keberadaan Selena karena wanita itu tidak suka diikuti. Namun sekarang, dia dengan bebas memposting kesenangannya di akun media sosial.
Sialnya Felix tidak memiliki akun sosial media untuk mengikutinya. Dia bahkan tidak berpikir jika Selena akan begitu aktif membagikan kegiatannya di dunia maya.
Wanita itu sedang bersenang-senang.
“Oh, dia meng-upload video," seru Zayn.
Felix mendekat melihat wanita cantik itu yang sedang bersenang-senang. Dia tertawa gembira, memperkenalkan beberapa teman wanita dan teman pria yang ikut menyapa di dalam videonya.
Tatapan Felix semakin turun ke bawah. Dia mengenakan bikini dan berdekatan dengan banyak pria. Dia tidak bisa menerimanya secara naluri.
Zayn menyadari perubahan suasana di dalam ruangan itu, menjadi dingin seperti es. Dia melirik Felix yang terlihat geram setelah menonton video kiriman Selena. Pria itu berapi-api.
Seharusnya aku tidak membiarkannya melihat itu. Pikir Zayn.
*********
HAHAHAHHAH.
CHEERS!
Memanggang daging BBQ ditemani alkhohol di tepi pantai adalah hal yang paling menyenangkan. Terlebih lagi setelah penat berselancar.
Selena duduk di kursi panjang, dan meluruskan kakinya ke depan. Membiarkan tubuhnya terlentang dengan balutan bikini tipis. Sudah lama sejak terakhir kali dia mendatangi pesta bikini. Hal ini membuatnya sangat bebas setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri.
“Selena, ponselmu berdering,” teriak Jennie seraya merjalan mendekat memberikan ponsel itu kepada Selena.
“Kau mau daging?” tawar Jenni, dan Selena menggeleng pelan. “Daging hidup?” tanyanya lagi dengan sedikit kekehan.
Selena meliriknya. “Damn *****! Pergilah kau!”
Jenni terbahak mendapati sikap dari Selena, wanita sexii itu lalu pergi dan kembali memanggang daging sembari diteman para pria **** yang sejak tadi mengelilinginya. Para pria hidung belang.
Selena menggerakan jemarinya membuka layar kunci ponsel. Dia melihat notifikasi panggilan tidak terjawab dari Felix. Pria itu terus menghubunginya sejak tiga hari yang lalu. Sementara Selena masih tidak ingin diganggu olehnya.
Tidak lama kemudian, satu pesan masuk dari Felix.
'Kau sedang berlibur?' tanya pria itu di dalam pesan teks.
__ADS_1
“Ya. Aku sedang bersenang-senang bersama teman-temanku.” Selena sengaja membalasnya untuk memanas-manasi pria itu.
Kemudian dia mengirmkan foto yang baru saja di ambilnya. Foto itu memperlihatkan Jenni yang sedang memanggang daging sembari dikelilingi para pria tampan dan ****.
'Bersenang-senanglah.'
“Cih, pria ini!” decih Selena malas.
Respon Felix sama sekali bukan respon yang Selena harapkan. Kenapa pria itu begitu tenang setelah mengetahui jika wanitanya sedang bersama banyak pria tampan di sini.
Selena tidak ingin membalas pesan pria itu lagi. Dia lebih memilih untuk menutup ponselnya, dan kembali menikmati pesta. Tidak ingin ambil pusing dengan sikap menyebalkan pria itu.
.................
Selena meliukan tubuh sintalnya dengan bebas di bawah musik EDM yang dimainkan oleh DJ. Dia bersenang-senang sembari memegang botol alkhohol di tangannya. Jenni tepat bergoyang di sampingnya, keduanya saling mengadu tubuh.
Dia menegak cairan beralkohol itu langsung dari bibir botol. Tidak merasa bersalah meskipun cairannya tumpah membasahi dada yang hanya tertutup secarik kain tipis.
Seorang pria mendekat Selena, meliukan tubuhnya di belakang wanita cantik itu. Selena berbalik dari hadapan Jennie, dan berhadapan dengan pria asing dan tampan itu. Kembali meliukan tubuhnya.
Namun secara tiba-tiba seseorang menarik tubuh sintalnya. Mengangkat perut Selena dengan sebelah lengan, dan membawa tubuh wanita cantik itu keluar dari lautan manusia.
“Hei, apa yang kau lakukan! Turunkan dan lepaskan aku!” Selena memberontak seraya memukul punggung pria itu.
Pria itu menurunkan tubuh Selena setelah berjalan sedikit menjauh dari pesta itu. Refleks Selena langsung mengangkat botol alkhohol yang sedang digenggamnya, lalu mengarahkannya pada pria tersebut.
“Apa kau mau mati?” pekiknya kencang sebelum menyadari siapa yang telah menariknya keluar dari pesta.
“Felix?”
“Untuk apa kau datang ke sini?” Selena mengedikan dagu ke arahnya, dan menyoroti Felix dengan tatapan tajam.
Felix mengambil botol alkhohol yang sedang Selena pegang, lalu membuangnya ke sembarang arah. Dia menarik pergelangan tangan Selena dengan kuat dan mendekat ke arahnya.
“Untuk apa? Tentu untuk menemuimu, Selena.”
Untuk menghukumu karena bermain terlalu liar ....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....
Gatau btw riviewnya lama hari ini. Padahal gada adegan apapun. Next part yaaa.