Passionate Night

Passionate Night
*RENT


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Persyaratan untuk hadir dalam pesta perayaan sekolah sungguh di luar nalar. Penyelenggara pesta benar-benar sudah gila dengan memberikan syarat seperti itu. Selena tidak ingin menghadirinya tapi beberapa teman sekolahnya pasti akan mengolok-oloknya jika dia tidak datang.


Persyaratan itu pasti dibuat oleh orang-orang gila yang tahu jika Selena dan Jenni adalah seorang wanita single sejati. Pasalnya dua wanita cantik itu tidak pernah terlibat dalam pernikahan atau terlihat berpacaran selama ini. Mereka menyangka jika Selena dan Jenni adalah pasangan sesama jenis. Persyaratan ini adalah sebuah jebakan untuk mereka berdua.


Selena berpikir siapa yang akan diajaknya untuk datang ke pesta itu. Sementara Jenni menyarankan pria random yang dikenalnya, beberapa pria dari kalangan pengusaha dan juga model. Para pria itu cukup tampan dan menggoda, namun Selena tidak tertarik. Dia membutuhkan pria yang tegas dan berwibawa, seorang pria yang tidak mudah terusik oleh apapun dan orang tidak berani menganggunya.


“Jika kau menginginkan pria seperti itu, bawa saja Jonathan,” saran Jenni yang langsung membuat Selena mengumpat kesal.


“Meskipun dia adalah pria gemulai, tetapi dia memiliki banyak pengawal yang selalu pergi bersamanya. Jika seseorang menganggumu, dia bisa langsung memerintah pengawalnya untuk langsung menenggelamkan orang tersebut.”


“Jangan mengada-ngada,” kata Selena bersungguh-sungguh, dan Jenni hanya tertawa untuk itu.


Selena berpikir keras untuk pria yang akan dibawanya pergi ke pesta reuni itu. Dia tidak bisa membawa pria random yang disarankan eh Jenni karena ini menyangkut tentang harga dirinya. Jika seseorang dari kawannya mengetahui Selena membawa pria tanpa latar belakang tertentu, maka mereka akan menertawakan dan mengolok-oloknya. Hal yang sangat dihindari oleh Selena adalah kekalahanya.


“Bagaimana pertemuan di sekolah Kenzo tadi?” tanya Jenni mengalihkan topik pembicaraan.


Seketika Selena tersadar dan langsung mengingat Felix. Seorang pria kaya dan gagah, pasti orang tidak berani mengusiknya. Tapi sayang pria itu memiliki anak dan istri. Selena tidak mungkin membawanya untuk pergi meskipun dia sangat menginginkannya.


“Hei.” Jenni menyiku lengan Selena agar sahabatnya itu berhenti melamun. Selena langsung menatap ke arahnya dan Jenni mengedikan dagu untuk bertanya, “Apa yang kau pikirkan?”


Selena menggeleng. “Tidak ada.”


Dia duduk di samping Jenni setelah menambahkan beberapa kilo pemberat pada alat olahraga itu. Kemudian dia memainkan tangannya ke atas dan ke bawah. Sementara Jenni berhenti bermain, dia hanya duduk santai sembari memperhatikan Selena dan mengajaknya untuk berbicara.


“Damn! Kenapa ini sangat berat, padahal aku hanya bermain dua puluh kilogram saja.”


Jenni terkekeh mendengar ocehan Selena. “Karena sekarang kau sangat jarang berolahraga dan lebih sering minum alkhohol, kau sudah lemah.”

__ADS_1


“Sialan!” umpat Selena kesal.


Tiba-tiba seorang pria bertubuh atletis dan berotot besar lewat di depan mereka. Pria tersebut mengedip dengan genit untuk menggoda dua wanita cantik dan **** itu.


“Cih, aku sangat membenci pria seperti itu,” kata Selena seraya terus mengangkat beban beratnya.


“Itulah sebabnya kau masih sendiri sampai saat ini, kau membenci semua tipe pria,” sindir Jenni enteng.


Selena terdiam. Apa yang dikatakan oleh Jenni memang benar. Selena tidak mudah tergoda dan jatuh hati kepada pria. Dia sendiri tidak tahu bagaimana standar pria yang disukainya. Semua pria di mata Selena adalah sama, bastrad yang hanya bisa mempermainkan hati seorang wanita.


Berbicara tentang pria, Selena tiba-tiba teringat dengan pria yang sebelum ini dia minta Jonathan untuk mencari tahu tentangnya. Tapi sialnya Jonathan tidak datang ketika mereka sudah membuat janji temu, dan malah membiarkan Selena berada bersama Felix.


Aku akan menggeret pria gemulai itu nanti!


********


Waktu makan malam telah tiba, dan Selena sudah berada di rumah satu jam sebelum makan malam. Dia sudah membersihkan dirinya, dan saat ini sedang bersiap dan duduk di depan cermin di dalam kamar, sampai waktunya tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamar dan memintanya turun untuk makan malam.


Marie tersenyum simpul saat melihat putrinya hadir di dalam ruang makan. Pasalnya sangat jarang bagi Selena untuk makan malam bersama keluarga meskipun mereka tinggal di bawah atap yang sama. Selena adalah orang yang paling sibuk, dan tidak memiliki banyak waktu untuk berada di rumah.


Marie langsung memelototi suaminya agar tidak membicarakan masalah bisnis di meja makan. Sementara Johan hanya penasaran, pasalnya dia tahu jika jadwal Selena sangat padat dan sangat susah untuk meluangkan waktunya.


“Aku mengosongkan semua jadwalku hari ini dan pergi ke sekolah Kenzo.”


Johan mengangguk. “Baiklah.”


Semua makanan telah tersaji di atas meja dan beberapa pelayan berdiri di belakang para majikan dan siap untuk melayani. Namun mereka tidak memulai makan malam karena satu orang belum hadir di sana.


“Di mana Kenzo?” tanya Selena.


Kemudian seorang pelayan maju untuk memberitahunya. “Nona, tuan muda kecil sudah tidur, dia sedang demam.”


Selena berkerut kening ketika mendengarnya. Tadi siang Kenzo baik-baik saja, tapi malam ini bocah kecil itu malah demam.


“Apa dia sudah meminum obatnya?” tanya Marie.

__ADS_1


“Sudah, Nyonya.”


“Baguslah.” Marie meminta pelayan itu untuk mundur.


“Aku akan pergi melihatnya,” kata Selena seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Bagaimana dengan makan malammu, kau harus makan juga,” kata Marie.


“Aku akan memakannya nanti.”


Selena pergi menuju lantai atas dan berjalan ke arah kamar Kenzo. Dia masuk ke dalam kamar dengan nuansa planet itu dan melihat bocah kecilnya sedang berbaring di atas ranjang dengan berselimut tebal. Selena meminta dua pengasuh Kenzo untuk keluar dari kamar.


Dia duduk di samping putranya yang sedang meringkuk. Wajah mungilnya memerah dan nafasnya terdengar berat. Selena meletakan telapak tangannya pada dahi Kenzo dan merasakan jika suhu tubuh bocah itu benar-benar naik. Perasaan Selena langsung iba ketika melihatnya.


“Mami?” Kenzo membuka matanya.


Selena tersenyum tipis. “Beristirahatlah sayang, mami di sini.”


“Mami tidur denganku.”


“Ya, sayang.”


Selena membaringkan tubuhnya di sisi Kenzo, memeluk ringan tubuh kecil mungil itu, dan Kenzo juga balik memeluknya. Dia dapat merasakan suhu tubuh bocah kecil itu, dan membuat Selena khawatir. Selena akan membawanya ke rumah sakit jika besok suhu tubuhnya tidak kunjung mereda.


Selama tidurnya, Kenzo selalu mengigau. Dia berbicara tentang Selena, makanan, dan juga mainan. Anak kecil ini, Selena mengelus pucuk kepalanya dengan lembut agar dia bisa tertidur dengan tenang.


Sementara Selena terus terjaga untuk menjaganya. Jika Kenzo sakit, Selena selalu tidak bisa tidur. Dia bahkan rela mengosongkan semua jadwal pekerjannya hanya untuk menjaga bocah kecil kesayangannya itu.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2