Passionate Night

Passionate Night
*MY ROOM


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Selena masih memiliki waktu senggang saat dia selesai pergi berbelanja bersama Renee. Wanita cantik itu memutuskan untuk datang ke perusahaan pria itu tanpa sepengetahuan Felix. Dia sempat ditolak masuk karena belum membuat janji dengan CEO perusahaan tersebut. Selena cukup kesal karena menerima beberapa kali penolakan oleh resepsionis perusahaan tersebut.


Wanita cantik itu memutar otaknya untuk berpikir siapa yang bisa dia hubungi selain Felix di perusahaan itu. Seketika dia teringat Zayn. Setelah menghubungi adik dari CEO itu, tidak lama kemudian Zayn datang untuk menjemputnya di depan resepsionis.


“Ingat untuk tidak menahannya lagi, atau kontrak kerjamu akan berakhir,” ucap Zayn memperingati resepsionis yang menunduk dan meminta maaf.


“Kau menakutinya,” bisik Selena rendah. Selena tahu jika resepsionis itu hanya menjalankan tugasnya.


“Itu menyenangkan untuk menggoda wanita cantik,” kata Zayn konyol.


Selena menggelengkan kepalanya samar mendengar ungkapan dari pria itu.


Kemudian, Zayn membawa Selena menuju ruangan Felix. Banyak pegawai yang langsung melirik ke arah mereka berdua ketika mereka berjalan beriringan. Beberapa bergosip tentang keduanya.


“Bukankah itu Selena Geovandra? Akhir-akhir ini dia digosipkan dekat dengan CEO kita,” ucap salah satu pegawai.


“Ya. Sepertinya itu bukan gosip, mereka benar-benar menjalin hubungan.”


“Maybe. Mr Zayn sendiri yang mengantarkannya pergi ke ruang CEO.”


Zayn dan Selena sampai di depan ruangan Felix. Pria itu memberitahu kepada sekretaris Felix untuk membiarkan Selena masuk setelah memperkenalkan siapa wanita itu. Sekretaris itu hanya mengangguk mengiyakan. Setelah itu Zayn pergi dan meminta Selena untuk masuk ke dalam ruangan sendiri.


“Goodbye Selena, aku masih memiliki banyak pekerjaan.”


“Thanks Zayn!”


Kemudian, Selena mengetuk ruangan Felix. Dia tidak mendengar pria itu menjawab, lantas memutuskan untuk membuka pintu. Dia melihat pria itu sedang duduk di belakang meja kerjanya, focus membaca beberapa dokument pekerjaan. Entah kenapa, ekspresi seriusnya ketika sedang bekerja menambah ketampanan kekasihnya itu.


“Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?” seru Felix tanpa mengalihkan perhatiannya dari beberapa lembar kertas di atas meja.


“Sorry, Mr! Tapi aku telah mengetuk beberapa kali, dan kau tidak mendengarnya.”


Felix terdiam seketika. Lalu dia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang dengan suara yang begitu tidak asing di indera pendengarannya.


“Selena,” seru Felix, dan wanita cantik itu tersenyum.


Selena menutup pintu ruangan dengan rapat, lalu melangkah menuju pria yang sudah berdiri dan siap menyambutnya dengan pelukan. Mereka saling memeluk satu sama lain.


“Bagaimana kabarmu, Baby?”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja,” jawab Selena seraya melepaskan pelukan Felix.


Mereka berdua duduk di atas sofa berwarna abu-abu yang masih berada di dalam ruang kerja Felix.


Pandangan Selena mengedar melihat setiap sisi ruangan pria itu. Semuanya tampak rapih dan bersih, wangi dan sangat menenangkan dan juga dingin. Ruangan dengan gaya itu sangat cocok untuk pria seperti Felix.


“Kau tidak memberitahuku untuk datang, aku bisa menjemputmu.”


“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu,” kata Selena.


“Jadi ... apa kau memiliki banyak pekerjaan, Felix?”


Felix tentu saja memiliki banyak pekerjaan. “Tidak.” Tapi itulah yang dikatakannya kepada Selena.


Selena mengangguk. “I Miss you, Baby.” Kemudian dia menyenderkan tubuhnya pada Felix, dan memeluk pria itu.


Felix mengangkat bibirnya membentuk sebuah senyuman. 'I Miss you' kata-kata tabu yang akhirnya Selena katakan.


“I Miss you to, Baby.” Felix mencium puncuk kepala wanitanya.


“Jadi, apa yang kau lakukan bersama Renee?” tanya Felix, seketika membuat pelukan Selena melepaskan tubuhnya.


Tentang Renee ....


Selena menceritakan semuanya tentang wanita itu kepada Felix. Dari mulai Renee pergi ke perusahaannya, dan juga mengajak Selena berbelanja. Pria itu hanya mendengarkan dengan seksama.


“Kenapa? Dia saudarimu, aku akan di anggap tidak sopan jika menolaknya.” Selena terdiam menatap raut wajah Felix yang menunjukan ketidaksetujuan pria itu.


“Aku bisa menjaga diri,” kata Selena.


“Baiklah.” Felix tidak bisa melarangnya. Lagipula, Selena akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan.


Selena melirik tumpukan kertas di atas meja pria itu. Sangat banyak. Felix pasti sedang sibuk tadi, tapi dia meninggalkan semua pekerjaanya untuk mengobrol bersama Selena.


“Kau ingin pergi ke pesta Jenni bersamaku besok malam?”


“Tentu saja.”


Selena tersenyum lalu mengecup pipi pria itu. Dia beranjak berdiri setelah mengambil tasnya. “Aku akan pergi, dan tidak akan menganggu pekerjaanmu lagi.”


Felix menarik pergelangan tangannya kembali, membuat Selena terduduk kembali di sampingnya. Pria itu mendorong tubuh Selena hingga bersender di senderan kursi.


“Felix, aku harus pergi.”


“Tidak.” Felix mencium punggung telapak tangan Selena.


Selena menatap pria itu, dan akan melakukan penolakan. Namun Felix lebih cepat menggendong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam ruang istirahat yang masih berada di dalam ruang kerja pria itu.

__ADS_1


Di dalam ruangan istirahat terdapat ranjang besar, lemari pakaian, dan juga rak wine. Semuanya lengkap, dan ruangan itu memiliki ukuran yang sangat besar.


Felix menghempaskan tubuh Selena ke atas ranjang, lalu menindih tubuh wanita sintal itu. Mulai menghujaninya dengan banyak sentuhan seductive dari bibirnya.


“Hm ... Felix, ini di kantor.”


“Tidak akan ada yang menganggu kita,” kata Felix seraya terus memainkan gerakan tangan dan juga bibirnya pada tubuh Selena.


“Tapi ... uh-”


Selena mendorong dada Felix menjauh, membuat pria itu menghentikan semua aktivitasnya. Dia menatap wajah Felix yang sudah sendu itu.


“Kau harus memakai pengaman kali ini.”


“Aku tidak memilikinya Selena, aku tidak menyukai pengaman.”


Selena berkerut kening. Meskipun dia telah meminum obat kontrasepsi, tapi Selena tidak mau meminumnya berkepanjangan. Obat itu tidak akan bagus untuk bentuk tubuh dan juga kesehatannya.


“Kau menyukai anak kecil, bukan?” tanya Felix, dan Selena bingung.


“Huh?”


“Aku akan memberimu anak, dua, tiga, atau empat.”


“Haha banyak sekali.” Selena terkekeh.


Jangankan dua atau tiga. Satu yang seperti Kenzo saja sudah membuat kepala Selena hampir meledak. Apakah pria itu akan menyiksanya dengan terus melahirkan anak? Dia gila.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Felix mendorong tubuh Selena kembali dan menghujani wanita cantik itu dengan sentuhannya lagi. Selena menolaknya, mendorong dada Felix agar menjauh darinya.


“Biarkan aku yang memandu.”


Selena bangun dan mendorong tubuh Felix agar berbaring. Posisi mereka berbalik. Sekarang Selena lah yang menindih tubuh kekar pria itu. Dia tersenyum nakal ke arah pria di bawah kukungannya.


Selena tidak ingin bermain permainan inti. Dia lebih menyukai permulaan, seperti sentuhan-sentuhan kecil yang membuat seluruh tubuh meremang.


Dia meletakan jemarinya pada dada bidang Felix, berjalan perlahan menelusuri otot-otot perut pria itu. Gerakan tangannya mulai turun, turun dan semakin turun pada inti tubuh pria itu.


Selena tersenyum simpul, memainkan jemarinya di **** ***** itu.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Heiii jangan lupa like sama koment kaliaaaaaaan yaaaaaaaa.


__ADS_2