Passionate Night

Passionate Night
*TIME FOR ME


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Selena melenggang masuk ke dalam rumahnya, dan dia langsung disambut oleh teriakan bocah kecil yang berlari ke arahnya lalu memeluk kakinya erat. Dia mendongakan wajahnya, menatap Selena dengan tatapan nanar.


“Mami, apakah mami sudah membelikan ice cream untukku?”


O Lord! Baru saja kemarin dia meminta, dan hari ini dia sudah menagihnya. Keluh Selena dalam hati.


“Honey, Mami sudah memesankan mainan itu untukmu. Mainannya akan sampai dalam satu Minggu, oke?”


Kenzo menggeleng dengan cepat. “Tidak, Momi! Paman bilang jika mainan itu tidak bisa dibeli online, Mami harus pergi untuk membelinya.”


Selena tersenyum kaku. Duke Lutolf! Apa yang sebenarnya kau katakan kepada putraku.


...........


Duke Lutolf sedang tertawa saat membayangkan rengekan Kenzo kepada Selena. Dia baru saja menelpon bocah kecil itu untuk menanyakan apakah Maminya sudah pergi untuk membeli mainan itu, karena mainan itu tidak bisa dipesan secara online.


Otak Kenzo meresap semua perkataan pamannya yang jahil itu. Lantas setelah melihat Selena pulang ke rumah, Kenzo langsung menanyakan mainannya. Percaya atau tidak, jika dia lebih berharap Selena tidak pulang untuk mencarikan mainannya. Bocah ini.


*********


Selena mengabaikan Felix seharian penuh. Semua ajakan yang ditawarkan oleh pria itu dia tolak. Tidak disangka jika malam harinya harus ada kejadian yang mengharuskannya untuk menghubungi Felix.


Bocah kecil itu sedang merengek meminta mainannya sekarang. Sementara Selena tidak memiliki waktu untuk mencari mainan itu ke berbagai negara, dan dia meminta bantuan dari Felix. Berharap jika pria itu sudah menemukannya.


“Hallo Felix?”


'Yes Baby.' Suara bariton itu terdengar tepat di depan telinga Selena.


“Bagaimana dengan mainan itu, putraku sudah menanyakannya.”


Felix berada di ruang bacanya. Di atas meja tepat di hadapannya sudah ada sebuah papperbag besar yang membungkus sebuah mainan robot ice cream yang baru didapatkannya sore ini. Dia tersenyum simpul, sempat berpikir jika Selena menghubunginya karena rasa bersalah telah mengabaikannya seharian penuh.


'Ya, aku sudah mendapatkannya. Mainan itu sudah bersamaku sekarang. Apa kau ingin melihatnya?'


“Aku percaya padamu, Felix. Aku akan mengambilnya.”


'Aku akan mengantarkannya ke sana.'


***********

__ADS_1


Selena sudah bersikukuh untuk mengambil mainan itu dari Felix, namun pria itu lebih keras kepala dibandingkan dengannya. Felix ingin dia memberikan langsung kepada Kenzo mainan yang telah dibelinya itu.


Kini pria itu sudah berada di kediamannya. Duduk bersama Selena, dan juga Kenzo. Felix mencari dua orang paruh baya yang tidak dia lihat kehadirannya sejak tadi.


“Di mana kedua orangtuamu?” tanya Felix.


“Mereka pergi ke luar kota untuk bermain golf.”


Felix mengangguk mengerti.


Lalu, dia melihat Kenzo yang sedang menatapnya dengan intens. Bocah kecil itu duduk di sebelah Selena, dan tidak mendekat sama sekali. Persis ketika dia berada di dalam mobil bersamanya dan Leon. Kenzo yang pendiam dan dingin, persis seperti apa yang Zayn katakan.


“Kenzo, kemarilah,” kata Felix memintanya untuk mendekat.


Bocah kecil itu melirik pada Selena untuk meminta persetujuan. Dia turun dari sofa setelah Selena mengijinkannya untuk mendekat.


“Paman Felix?”


Felix mengusak puncuk kepala Kenzo dan mengatakan, “Mulai sekarang panggil aku Papi, jangan paman.”


WTF!!!


Selena mangangkat sebelah ujung bibirnya dan menatap pria itu dengan tajam. Bisa-bisanya pria itu meminta Kenzo untuk memanggilnya 'Papi'.


Kenzo menggelengkan kepalanya, dia tidak mau selain Selena yang menyuruhnya. Bocah kecil itu lebih pintar dari apa yang dipikirkan oleh Felix. Dia sangat menurut pada maminya, dan itu membuat Selena lega karena Kenzo tidak mudah terpedaya.


“Apakah paman Felix memiliki rumah yang besar, dan lebih besar dari rumah ini?” tanya Kenzo polos.


Felix terkekeh samar. “Paman rasa ... ya. Paman memiliki rumah yang lebih besar daripada rumah ini.”


Cih sombong. Batin Selena.


“Mami!” seru Kenzo. “Apakah paman Felix bisa menjadi papiku?”


“Dia memiliki rumah yang lebih besar daripada rumah grandma dan grandpa.”


Selena tertegun mendengarkan ocehan putranya. Dia tidak habis pikir. Sementara Felix hanya terkekeh melihat tingak laku polos bocah kecil di hadapannya, sesekali mengusak puncuk kepala Kenzo. Tidak sangka jika Selena mengajarkan hal seperti itu kepada putranya.


“Bukankah kau datang untuk memberikan hadiah kepadanya?” Selena mengangkat kedua halisnya menatap Felix, mengalihkan topik pembicaraan yang dibuat oleh putranya.


“Hadiah?” gumam Kenzo.


Mata Kenzo langsung berbinar saat telinganya mendengar kata 'hadiah'. Dia langsung menatap Felix dengan penuh pengharapan.


Felix mengambil papperbag yang dia bawa. Menyimpannya di atas meja, dan membiarkan bocah kecil itu membuka hadiahnya.


“WAAH!!!”

__ADS_1


Kenzo berseru kegirangan, dia sontak memeluk Felix lalu mencium pipi dengan sedikit jambang itu dengan penuh perhatian. Tidak lama dia melepaskannya lagi, dan focus pada mainan di hadapannya.


Selena menghela nafas panjang melihat tingkah bocah kecilnya itu. Dia meminta pengasuh Kenzo untuk membawanya masuk ke dalam kamar dan bermain di sana. Selena tidak mau bocah kecil itu semakin bertanya macam-macam.


Felix tersenyum melihat tingkah Kenzo yang sama persis seperti Selena. Dia akan bersikap manis jika menginginkan suatu hal, dan akan bersikap sebaliknya jika tidak ada yang diinginkannya.


“Terimakasih karena kau telah membelikan mainan itu untuknya. Aku tahu tidak mudah menemukannya,” kata Selena.


“Apapun akan aku lakukan untuk putraku,” ucap Felix dengan enteng.


Selena tertegun. Meskipun pria itu mengatakan jika Kenzo putranya karena dia berpikir Selena adalah kekasihnya, tapi di sisi lain asal pria itu tahu jika Kenzo memanglah putranya. Akan seperti apa reaksi pria itu nanti jika dia mengetahui kebenaranya.


“Apakah kau ada waktu besok malam?” tanya Felix.


Selena berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku rasa tidak.”


“Aku akan menjemputmu untuk makan malam besok.”


“Baiklah.”


Selena mengangguk setuju. Dia melakukannya sebagai rasa terimakasih kepada pria itu karena telah membelikan Kenzo mainan langka itu.


********


Sebuah bar di sisi pantai. Selena pergi bersama Jenni serta Jonathan. Mereka bertiga sedang membicarakan masalah pesta ulang tahun yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Jenni selalu meminta pendapat para sahabatnya untuk tema pesta tersebut.


“Bagaimana jika bikini?” saran Jonathan.


“God! Sahabat kita yang satu ini tidak akan datang nanti,” kata Jenni menunjuk ke arah Selena.


“Ya! Dia tidak suka orang lain melihat tubuh indahnya.” Jonathan menambahkan.


Meskipun dia seorang model yang gemar berpakaian ****. Tapi kini Selena tidak lagi memakai pakaian **** di depan umum mengingat dia bukanlah seorang wanita bebas lagi. Lebih tepatnya, dia memiliki Kenzo dan harus menjaga sikapnya sebagai seorang ibu.


“Selena, jangan lupa membawa Felix ke pesta nanti,” kata Jenni.


Jonathan melirik Selena. “Apakah hubungan kalian serius?”


“Kalian akan menikah?” tambahnya lagi.


Menikah? Aku tidak tahu ....


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupaa koment, like, dan terus semangati author yaaaa. byebye.


__ADS_2