
Happy Reading ....
.
.
.
Makan malam ....
Satu restoran besar berbintang lima telah direservasi untuk satu malam penuh. Nuansa romantis dengan beberapa lilin dan bunga mawar menghiasi ruangan. Meja yang telah dihias sedemikian rupa, dengan Redwine favorit di atasnya yang hanya bisa dibeli di acara lelang tertentu. Tempat itu disiapkan dengan sangat baik.
Tapi kenapa harus formal seperti ini? Batin Selena bertanya-tanya.
Pria tampan di hadapan Selena mengetukkan jemarinya di atas meja beberapa kali. Tidak lama kemudian hidangan makan malam tiba, dan tersajikan di hadapan mereka.
Ini adalah makan malam pertama setelah mereka menjalin hubungan sepasang kekasih. Felix tidak akan mungkin memberikan kenangan pertama yang buruk untuk wanitanya. Lagipula, memberikan 'hal biasa' bukanlah tipe dirinya.
Sementara Selena bukanlah tipe wanita yang bisa diperlakukan romantis. Bukan tidak bisa, melainkan wanita cantik itu tidak terbiasa dengan perlakuan romantis pria kepadanya. Akibat dari jarangnya dia berhubungan dengan pria.
..............
Mereka menyelesaikan acara makannya. Cheers untuk meminum redwine di dalam gelas masing-masing.
Setelah itu, Felix mengeluarkan satu benda kotak kecil dari dalam jasnya. Seketika jantung Selena berdegup kencang saat dia berpikir jika pria itu mungkin saja akan melamarnya. Benar bukan, ini seperti di adegan-adegan film romantis.
Benda kotak itu dia buka, memperlihatkan sebuah kalung cantik dengan liontin permata berwarna putih dan mengkilap yang sangat indah.
Selena bernafas lega ketika dia melihat benda di dalamnya bukanlah cincin untuk melamar.
“Hadiah untukmu,” kata Felix.
Selena tersenyum simpul. Pria ini terlalu banyak memberinya hadiah.
“Aku akan memakaikannya untukmu.”
Felix beranjak dari tempat duduknya, membawa kalung itu dan berdiri di belakang Selena. Dia membawa semua rambut legam Selena yang terurai pada satu sisi kiri, lalu melingkarkan kalung pada leher wanita cantik itu.
“Sangat cocok untukmu.”
“Terimakasih, Felix.”
Lalu, Felix mengulurkan sebelah lengannya dan mengajak Selena untuk berdansa. “Mau berdansa denganku?”
Selena menerima uluran tangan itu dengan senyuman. “Tentu saja.”
Alunan musik lembut mengiringi gerakan dansa lembut keduanya. Mereka bergerak mengikuti alunan musik. Felix melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Selena, dan Selena menyimpan kedua lengannya pada tengkuk leher Felix.
“Kau sangat cantik, Selena,” puji Felix seraya menatap wajah wanitanya.
Selena terkekeh samar, sedikit mendongakan wajahnya untuk menatap Felix dan mereka saling bertatapan. “Aku bosan mendengar pujian.”
__ADS_1
“I love you.” Felix mengatakannya dengan setulus hati, namun Selena malah menjawab;
“For me or my body?”
“For yourself.”
“Benarkah?” Wanita cantik itu memastikan lagi.
“Ya.”
“Kau membuatku tertarik saat aku pertama kali melihatmu,” tambah Felix lagi.
Selena tersenyum simpul. “Di atas ranjang malam itu?”
Felix membalas senyuman wanita cantiknya. “Di sekolah.”
Pria itu mendekatkan wajahnya pada Selena, meraih bibir sintal itu lalu ********** dengan lembut. Selena membalas sentuhan itu dan mengikuti irama permainan yang Felix lakukan. Mereka saling bertukar saliva.
Saat itu juga jantung Selena berdegup sangat kencang. Dia merasakan kehangatan seorang pria yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. 'I love you' manis sekali. Meskipun begitu, Selena masih bimbang dengan perasaanya sendiri, ataupun perasaan Felix padanya. Dia belum terlalu yakin jika pria itu benar-benar mencintainya.
***********
Selena beranjak turun dari ranjang, berlari dengan cepat ke dalam kamar mandi dan bersimpuh di depan closet untuk memuntahkan semua isi perutnya. Mendadak perutnya mual ketika dia bangun tidur, peluh menetes membasahi dahinya.
Dia mematut dirinya di depan cermin. Wajahnya pucat. Di waktu tidurnya dia bermimpi buruk. Mimpi tentang sebuah pernikahan dengan banyak pertengkaran di dalamnya.
Dia menyeka peluh di dahinya, menyugar rambutnya ke belakang. Pikirannya masih gelisah ketika memikirkan pernikahan. Dia belum bisa menerima hal itu dengan baik.
“Haruskah kau memeriksakan dirimu ke dokter?” tanya Jenni.
Mereka berdua sedang berada di sebuah salon kecantikan. Merawat rambut serta kuku mereka. Merilekskan diri dari berbagai jadwal sibuk sehari-hari.
“Aku tidak tahu.” Selena dengan lemas menjawab.
“Pria itu bisa kapan saja mengajakmu untuk menikah. Apa yang akan kau katakan nanti?”
Selena menghela nafasnya lelah. “I don't know, Jenni. Pernikahan membuatku pening.”
“Kau harus mengubah cara pikirmu tentang pernikahan.” Jenni terdiam sejenak. “Kau ingin berlibur?”
“Berlibur?”
“Ya! Kosongkan jadwalmh selama tiga hari.”
Selena melihat kukunya yang sudah cantik dengan hiasan nail art. Dia beranjak dari tempat duduknya setelah melihat jam pada layar ponselnya.
“Aku harus pergi,” kata Selena kepada Jenni.
“Baiklah.”
Selena berlalu pergi dari salon tersebut. Melangkahkan kakinya dan menuruni lift untuk mencapai lantai dasar. Di luar mall, sudah ada sebuah mobil mewah yang sedang menunggunya.
__ADS_1
Seorang penjaga membukakan pintu untuk Selena, dia duduk tepat di samping pengemudi.
“Hai Baby, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Felix.
“Aku baik. Aku baru saja membuat kuku bersama Jenni.” Dia memeluk Felix ringan serta mengecup pipi pria itu.
“Kita akan pergi ke mana?” tanya Selena.
“Kau akan tahu ketika kita sampai nanti.”
Mobil mewah itu melaju pesat membelah jalanan. Felix mengemudikan sendiri mobilnya meskipun dengan satu tangan, karena tangan sebelahnya mengenggam lembut tangan Selena. Dia tidak kunjung melepaskannya.
Setelah memakan waktu setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah villa mewah luxury milik pria itu. Felix mengajak Selena untuk turun dan masuk ke dalamnya.
Saat pertama masuk dari pintu utama, dia sudah disuguhkan dengan mini bar dengan minuman yang cukup banyak di sana. Ruang utama yang indah, dan dihias begitu glamour. Pandangan mata Selena berbinar ketika melihat Villa mewah itu.
“Kau menyukainya?” tanya Felix.
“Ya. Ini sangat indah.” Dia menatap kekasihnya. “Tapi kenapa kau membawaku ke sini?”
“Jika kau menyukainya, ini akan menjadi tempat tinggal kita berdua.”
“Tempat tinggal?”
“Ya, setelah menikah nanti.”
Selena tertegun mendengar kata pernikahan. Baru satu jam yang lalu dia membicarakan tentang kegelisahannya terhadap pernikahan kepada Jenni, dan kini pria itu sudah membahasnya.
“Menikah? Kita baru saja menjalin hubungan. Aku harap kita memiliki waktu untuk saling mengenal,” ucap Selena.
Felix mengenggam kedua lengan wanita cantik itu. “Kau benar. Kita masih memerlukan waktu untuk mengenal satu sama lain.”
Felix membawa Selena menuju halaman belakang Villa. Di sana terdapat kolam renang, tempat BBQ, dan satu ruangan gym pribadi. Villa itu memiliki aset lengkap, bahkan memiliki lapangan golf tersendiri di halaman belang yang begitu luas. Sangat indah.
Pria itu mengambil satu berkas yang sudah tersedia di atas meja. Kemudian memberikannya kepada Selena yang menatapnya dengan bingung.
“Apa ini?” tanya Selena seraya menerima berkas tersebut lalu membacanya. O Lord! Matanya membulat seketika.
“Berkasi kepemilikan Villa ini. Semuanya atas namamu, Selena.”
“Huh?” Selena terkejut.
“Anything for you. Everything." Pria itu mengatakannya dengan enteng. Bahkan Villa mewah yang memiliki harga fantastis sangat mudah dia berikan kepada Selena. Gila!
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan juga tambahkan favorit yaaa. Byebyeee di next chapter.