Passionate Night

Passionate Night
"KNOW


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Sinar mentari sangat menyengat siang ini. Siapapun yang berdiri di bawah terik pasti akan berkeringat.


Selena menyudahi aksi memukul bolannya. Berjalan menuju tepi untuk berteduh. Perluh sudah membasahi kening wanita cantik itu. Dia mengibaskan sebelah lengannya di samping wajah.


Tidak lama kemudian Edzar datang sembari membawa minuman kaleng bersoda. Memberikannya satu kepada Selela, lalu duduk di samping wanita cantik itu.


Selena menerima minuman itu dengan senang hati. Membuka pengait tutupnya dan langsung menegak minuman itu hampir tandas. Dia menyeka peluh pada dahinya.


“Panas sekali,” keluhnya.


Edzar tersenyum. “Kau bisa menyewa privateroom untuk bermain jika tidak ingin kepanasan.”


“Tidak. Privateroom sedang terkenal dengan banyaknya skandal yang orang lakukan di sana,” lugas Selena.


“Itu hanya gosip,” timpal Edzar.


Ada jeda hening beberapa menit di antara mereka. Selena terdiam, tatapannya mengarah pada Johan yang sedang asik bermain. Sementara Edzar terdiam ketika terus memandangi wajah cantik Selena.


“Apakah pria itu-” ucapa Edzar tercekat ketika Selena tiba-tiba menoleh kepadanya.


Selena menunggu lanjutan dari ucapan Edzar selama beberapa detik. Namun pria itu tiba-tiba hening.


“Apa yang ingin kau katakan, Ed?” tanya Selena.


Edzar mengalihkan pandangannya dari Selena ke arah lain. “Tidak ada, Sele.”


Wanita cantik itu berkerut heran. Jelas-jelas tadi Edzar mengatakan tentang seorang pria. Pria mana yang Edzar maksud.


“Bagaimana hubunganmu bersama Felix?” tanya Edzar lagi tiba-tiba.


Selena terdiam sejenak, lalu tidak lama dia menjawab. “Kami baik-baik saja.”


Edzar mengangguk mengerti. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan hal-hal ini lebih lanjut. Edzar tahu, bukan haknya untuk mengikut campuri urursan Selena. Mengenai dengan siapa dia berhubungan, dan berjalan lancar atau tidaknya hubungan itu, Edzar seharusnya tidak peduli. Tapi pria itu tidak bisa untuk tetap diam. Dia ingin memastikan segalanya kepada Selena.


“Kalian sudah memutuskan untuk menikah?”


Selena terhenyak dengan pertanyaan tiba-tiba dari Edzar. Entahlah, kenapa pria itu bisa bertanya hal sensitif seperti itu. Tapi, itu bukanlah tipe Edzar yang gemar mencampuri urusan orang.


“Kami baru saja memulai hubungan, Ed. Mungkin masih panjang perjalanan kami untuk menuju jenjang yang lebih serius lagi,” lugas Selena.

__ADS_1


Edzar terdiam untuk beberapa saat. “Sele, kau mengenal baik pria itu bukan?”


Selena merasa jika pertanyaan Edzar semakin membingungkan baginya. “Maybe,” jawab Selena singkat.


“Kau tahu, jika pria itu mempu mencari tahu semua tentangmu. Tentang detail-detail kecil kehidupanmu saat ini ataupun di masalalumu.”


Selena tersenyum simpul dan sedikit tidak mengerti dengan ucapan Edzar. Perkataan pria itu membuatnya kebingungan.


“Sele, tidak ada hal yang bisa disembunyikan terlalu lama. Semua orang akan mengetahuinya cepat atau lambat.”


Selena menatap Edzar dengan bingung. “Maksudmu, Ed?”


Edzar tersenyum tipis saat melihat Marie yang sedang berjalan mendekat dengan membawa Kenzo di sampingnya. Pria itu pun pergi sebelum sempat menjawab pertanyaan dari Selena.


“Waktunya untuk minum teh. Ayo kita pergi,” ajak Marie pada Edzar dan juga Selena.


Edzar mengiyakan ajakan bibinya tersebut. Sementara Selena masih terdiam di tempatnya seraya terus memikirkan maksud dari perkataan yang diucapkan Edzar. Pria itu membuatnya bingung.


Sementara Edzar dan Marie pergi menuju ruang meminum teh bersama. Sebuah ruangan kaca dengan banyak bunga indah di dalamnya. Tempat itu begitu tenang untuk dijadikan tempat bersantai.


Dari dalam ruangan kaca itu, Edzar bisa melihat Selena yang sedang duduk termenung. Wanita itu bahkan tidak kunjung beranjak dari tempatnya sementara semua orang sedang menunggunya untuk minum teh bersama.


Edzar berpikir, jika Selena sedang bertanya-tanya mengenai apa yang dikatakannya barusan. Meskipun Edzar tidak bisa mengatakannya dengan detail seperti apa kenyataan yang dia ketahui, Edzar harap Selena dengan cepat mengerti apa yang dimaksudkan olehnya.


Selena, maaf membuatmu bingung. Pikir Edzar.


*************


Dia mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Selena. Beberapa dering berbunyi, dan akhirnya wanita cantik itu menjawab panggilan darinya.


'Hello?'


Seketika kening Felix berkerut saat dia mendengar suara lucu bocah kecil dari dalam telepon. Felix langsung menebak jika itu adalah Kenzo.


“Hai Kenzo, di mana mamimu?” tanya Felix.


'Mami? Mami berada di taman.'


“Taman? Apakah kalian sedang bermain di taman?”


'Tidak. Aku berada di kamar mami, dan mami berada di taman.'


Felix tersenyum simpul mendengarkan penjelasan dari bocah kecil itu. Lalu, dia melanjutkan pertanyaannya.


“Dengan siapa mamimu di taman?”


'Paman Edzar.'

__ADS_1


Senyuman pada wajah Felix hilang saat mendengar nama seorang pria yang Kenzo sebutkan. Edzar.


“Baiklah Kenzo, sampaikan kepada mami jika tadi paman menelepon, oke?”


“Oke paman.”


Kemudian, sambungan telepon itu terputus. Felix menyimpan ponselnya ke atas meja dengan perasaan gundah. Sebenarnya dia tidak perlu khawatir dengan kedekatan dua orang itu. Mereka bersaudra. Tidak mungkin Selena berpikiran untuk menjalin hubungan dengan saudaranya sendiri, bukan. Felix tidak perlu mengkhawatirkan apapun mengenai itu.


Tetapi tetap saja semua tentang pria itu menganggu Felix. Karena Felix tahu jika di masalalu Edzar pernah menyatakan cintanya kepada Selena. Dia risau jika pria itu maish menyimpan perasaann untuk Selena, dan sampai kini masih berusaha untuk mendapatkan wanita itu. Semua hal itu menganggu pikiran Felix.


...................


Kenzo sedang berada di dalam kamar tidur Selena. Dia terus menempel pada maminya sejak kembali dari lapangan golf. Maminya itu selalu pergi dengan tiba-tiba, dan kini Kenzo merindukannya.


Edzar akan pulang, dan Johan meminta Selena untuk mengantarkannya sampai depan. Agar Kenzo tidak terus mengikutinya, Selena membiarkan bocah kecil itu bermain ponsel miliknya.


Kenzo berbaring di atas ranjang milik Selena. Bermain ponsel untuk membuka satu aplikasi permiannan favoritnya. Tapi tiba-tiba saja ponsel maminya berdering, dan dengan polosnya Kenzo menerima panggilan tersebut serta menjawab dengan jujur beberapa pertanyaan yang dia terima.


Pintu kamar terbuka, wajah mungil itu terangkat untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar. Itu adalah Selena, yang langsung berjalan mendekat ke arahnya.


“Mami," seru bocah kecil itu langsung melepaskan ponsel yang sedang dipegangnya, dan beralih memeluk Selena.


“Hai Honey.” Selena membalas pelukan hangat itu, mengelus lembut punggung Kenzo.


“Mami, paman menelpon tadi,” ucap Kenzo dengan polos.


Selena berkerut kening. “Paman?”


Kenzo mengangguk dalam. “Ya, Mami.”


Selena mengambil ponselnya, lalu segera memeriksa daftar panggilan masuk. Dia khawatir jika rekan bisnisnya yang menelpon, lalu malah Kenzo yang menerima telepon tersebut. Setelah melihat daftar panggilan masuk, ternyata yang baru saja menelpon adalah Felix.


“Apa yang paman itu katakan?” tanya Selena pada Kenzo setelah mematikan layar ponselnya.


“Paman bertanya di mana mami.”


“Lalu apa yang kau jawab, Sayang?”


“Aku menjawab, mami sedang berada di taman bersama paman Ed!”


Selena tersenyum simpul dengan tingkah polos bocah kecil itu. Dia terlalu jujur. Setelah ini, entah apa yang akan Felix pikirkan. Pria itu pasti akan berpikiran macam-macam.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa untuk like, koment, dan juga tambahkan favorit. Byebye.


__ADS_2