Passionate Night

Passionate Night
*AFRAID


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Selena telah bersiap untuk pergi makan siang. Felix membawanya menuju restoran di mana Jennie juga berada di sana. Sesampainya di sana, Selena sahabatnya itu sedang mengobrol bersama Zayn.


“Jadi, kau yang membawaku ke resort tadi malam?” tanya Jennie, dan Zayn mengangguk sebagai balasan.


Pasangan itu tiba dan duduk di masing-masing kursi mereka. Jennie yang melihat Selena langsung menendang kaki sahabatnya itu dengan pelan, membuat pandangan Selena langsung menuju ke arahnya.


“Hai Felix,” sapa Jennie.


“Jenni, bagaimana kabarmu?”


“Tentu saja baik, bagaimana denganmu?”


“Aku baik,” balas Felix. “Selamat ulang tahun Jennie, maaf tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunmu.”


“Tidak masalah. Aku tahu kau orang yang sibuk,” kata Jenni, lalu mengarahkan pandangannya pada Selena.


Selena segera mengangkat bahunya tidak mau tahu.


Sebenarnya, Selena mengatakan semua tentang artikel yang beredar tentang Felix kepada sahabatnya. Alasan kenapa pria itu tidak datang ke pesta ulang tahun Jennie, dan lebih memilih untuk mendatangi pesta mantan kekasihnya. Oleh sebab itu Jennie mengajaknya untuk berpesta bikini di tepi pantai guna menghilangkan stres dan semua pikiran buruk yang ada di dalam kepala wanita cantik itu.


“Apakah kalian datang bersama-sama?” tanya Selena kepada Zayn dan Felix.


“Ya, kakakku membawaku ke sini,” ucap Zayn.


Jennie cukup tercengang, ternyata pria yang sedari tadi diajak bicara olehnya tak lain adalah adik dari Felix. Pantas saja wajah mereka memiliki sedikit kemiripan, dan juga memiliki nama belakang yang sama.


“Apa yang ingin kalian pesan?” tanya Felix.


Mereka mulai memilih menu makan siang yang ada di dalam menu. Selena dan Jennie memilih pasta salad, sementara para pria memilih makanan berat dengan olahan ikan. Seorang pelayan restoran mencatat semua pesanan mereka.


................

__ADS_1


Setelah menyelesaikan acara makan siang. Mereka pergi ke tepi pantai untuk sedikit berjalan-jalan. Selena dan Jenni berjalan jauh di depan, meninggalkan Felix dan Zayn di belakang.


“Kalian akur?” tanya Jennie. “Damn! Aku membayangkan bagaimana kau berteriak tadi malam!”


“Aku berteriak?” tanya Selena dengan kerutan tajam pada keningnya.


“Yes! Tadi pagi ....”


Jennie menceritakan semuanya kepada Selena. Dari mulai Felix yang menelpon menggunakan ponsel wanita cantik itu, sampai pada saat Jennie mengantarkan koper milik Selena pada kamar resort mereka.


Wanita cantik itu menunggu cukup lama di depan pintu bersama koper besar di sampingnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak kunjung terbuka.


Namun dua puluh menit kemudian, pintu kamar itu terbuka. Menampilkan Felix yang baru saja menyelesaikan acara mandinya. Pria itu hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, dan membiarkan dada bidang dan perut sispaxnya terpampang jelas begitu saja.


“Damn! Dia sangat **** Selena.”


“O ****! Hentikan omong kosong itu,” kata Selena rendah, memandang ke belakang melihat Felix dan Zayn yang berdiri beberapa langkah dari mereka.


Jennie tergelak. “Aku membayangkan bagaimana kau dibuat menjerit setiap malam olehnya.”


“Sialan! Itu tidak terjadi!” dalih Selena, wajahnya mulai mengeluarkan semburat merah. Sahabatnya itu bicara terlalu vulgar.


“Sialan! Diamlah kau.”


Selena terkekeh pelan, menahan gelakan tawanya karena mendengar ocehan mesum dari sahabatnya. Sesekali dia memandangi Felix yang berada di belakang. Otaknya malah berpikir hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Jennie.


Sementara Zayn dan Felix sibuk membicarakan mengenai bisnis perusahaan. Apa saja hal penting yang telah ditunda hari ini. Zayn menjelaskan semuanya.


“Jadi apa yang kau katakan pada Selena mengenai konser itu?” tanya Zayn. Karena sebelum dia datang ke tempat ini untuk mengunjungi Selena, Felix begitu yakin jika wanita itu marah dan cemburu kepadanya.


“Tidak ada,” jawab Felix cepat seraya menyulut batang nikotin miliknya.


“Apa maksudmu tidak ada. Bukankah dia marah karena hal itu?”


“Dia tidak marah.” Lagi-lagi dengan jawaban yang singkat.


“Bagaimana bisa. Wanita akan marah jika mendengar kabar kekasihnya masih memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasih,” gumam Zayn.


Pandangan Zayn melirik Selena yang sedang tertawa sembari mengobrol bersama Jennie. Wanita cantik itu ternyata susah ditebak. Dia bahkan bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


“Mungkin dia tidak mencintaimu,” kata Zayn pada Felix, sebelum akhirnya dia berjalan pergi untuk menghampiri Selena dan Jennie.


Dia tidak mencintaiku?


****************


Selena dan Felix kembali ke kamar resort mereka setelah menyaksikan matahari terbenam. Selena menghempaskan dirinya ke atas ranjang untuk meregangkan otot-ototnya yang pegal sebelum kembali bersiap-siap untuk pergi ke club malam. Mereka memiliki 2 jam sebelum janji bersama Jennie untuk melihat club malam baru wanita itu.


Felix duduk di atas sofa dengan MacBook di pangkuannya. Matanya sesekali melirik Selena yang sedang berbaring santai di atas ranjang seraya memainkan ponsel. Tiba-tiba dia teringat kembali perkataan Zayn yang mengatakan jika Selena tidak cemburu dan tidak mencintainya. Felix ragu jika Selena tidak mencintainya.


Dia menyimpan MacBook miliknya ke atas meja. Lalu melepaskan arloji yang melekat satu hari penuh di pergelangan tangannya. Dia beranjak dan berjalan menuju Selena, lalu duduk tepat di samping wanita cantik itu.


“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Felix.


Selena memperlihatkan layar ponsel miliknya. Sebuah undangan untuk acara lelang yang diadakan tepat di hari tahun baru. Acara lelang itu tertutup, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya. Dan Selena adalah salah satu member setia di sana.


Sementara Felix beberapa kali menerima undangan tersebut, namun dia mengabaikannya. Dia tidak begitu tertarik dengan acara seperti itu yang menjual barang-barang lama. Kecuali jika ada satu barang yang membuatnya tertarik, maka Felix akan memerintahkan bawahannya untuk pergi membeli barang tersebut berapapun harganya.


“Aku akan mengosongkan jadwalku di hari itu,” kata Felix.


“Jika kau sibuk, aku akan pergi sendiri atau mengajak Jennie.”


“Aku selalu memiliki waktu untukmu.”


Selena menatapnya intens. Meskipun dia tidak memperlihatkan kekesalannya pada pria itu karena telah mengingkari janji pada pesta perayaan ulang tahun Jennie. Tapi di dalam pikiran Selena terus terngiang masalah artikel yang beredar itu. Artikel itu terus menganggunya dan membuat Selena merasa penasaran. Tapi dia enggan untuk bertanya.


Tiba-tiba ponsel milik Felix berdering. Selena tidak sengaja melirik layar ponsel yang terletak di atas ranjang tidak jauh darinya. Nama 'Renee' tercantum di sana, dan kemudian Felix meminta ijin untuk menerima panggilan tersebut.


“Adik tersayang,” gumam Selena rendah.


Wanita cantik itu menyibukan dirinya kembali dengan layar ponselnya. Sementara Felix pergi ke luar kamar untuk menjawab panggilan dari Renee.


'Kak, seseorang datang untuk menemui paman.'


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2