
Happy Reading ....
.
.
.
Perjalanan menuju sekolah Kenzo memakan waktu cukup lama, terlebih lagi pada jam makan siang maka jalanan akan sangat padat dan membuat kemacetan. Selena terlambat sepuluh menit dan membuat si buah hatinya menunggu. Marie yang tidak senang terus menelpon Selena karena dia mendapatkan kabar dari seorang guru Kenzo jika walinya belum datang di sekolah.
“Oh mom, aku sudah sampai!” keluh Selena seraya memarkirkan mobilnya pada area parkir sekolah.
Dia segera membuka seatbeltnya dan mengambil tas lalu keluar dari mobil. Langkahnya cepat dan sesekali berlari kecil menuju ruang kelas putra tercintanya.
“Maaf aku terlambat,” kata Selena seraya membuka pintu.
Seorang guru tersenyum padanya dan mempersilahkan Selena masuk untuk duduk di samping putranya. Selena mengiyakan dan pergi menuju Kenzo. Tapi tiba-tiba dia melihat dua orang yang juga duduk tepat di samping putranya, itu adalah Renee dan Felix Alexander. Selena berdecih pelan.
Pandangan Selena beralih menuju Kenzo yang sedang tersenyum girang melihatnya. Kemudian dia duduk di sampingnya dan putra kecilnya itu langsung memeluk Selena dan menyenderkan kepalanya pada lengan maminya. Keduanya kembali melihat guru yang sedang menerangkan di depan kelas.
Selena berusaha untuk tidak melihat Felix sedetikpun, dan mengabaikan keberadaan pria itu meskipun sesekali pikirannya sangat menganggu dan ingin melihat apa yang sedang pria itu lakukan bersama anak dan istrinya.
Felix melirik wanita cantik dengan seorang bocah kecil di sebelahnya. Dia melihat keakraban dua orang itu. Pandangannya tertuju pada Selena yang tampak sangat anggun dan cantik dengan stelan kerja, membuatnya terlihat begitu mempesona dan memiliki wibawa sebagai independent woman. Lalu tatapannya beralih pada bocah kecil di sampingnya, Felix menatapnya denga begitu menelisik. Felix mengenali mata, bibir, dan hidung itu. Anehnya semua itu tampak seperti dirinya.
Seketika pandangan Felix terhalang oleh Renee yang menatapnya. Wanita itu berkerut kening dan mempertanyakan apa yang sedang Felix lihat dengan tatapan tidak suka. Felix mengalihkan pandangannya langsung dari adik perempuannya itu.
Renee menolehkan wajahnya ke samping, melihat Selena yang sedang duduk dengan putranya. Dia menatapnya tajam dan tidak suka. Dia tahu jika Felix sejak tadi menatap wanita itu. Wanita gatal!
Beberapa menit kemudian guru di depan kelas sudah selesaikan menerangkan. Guru tersebut pamit untuk pergi meninggalkan ruangan. Sebelum itu dia mengatakan kepada semua orangtua untuk makan siang bersama dengan putra dan putri mereka. Menghabiskan waktu untuk menambah keakraban antara anak dan orangtua.
Kenzo membuka tempat makannya yang berlapis. Berisikan daging, sayur mayur, dan beberapa potong buah segar. Selama ini Selena baru mengetahui jika putranya itu membawa bekal. Dia pikir bocah kecil itu makan di kantin sekolah.
__ADS_1
“Mami, aku akan menyuapi mami,” ujarnya dengan polos.
Selena tersenyum, mengusak puncuk kepala bocah itu dengan gemas. Kenzo lalu menyuapi Selena dengan sayuran, dia tahu jika maminya sangat menyukai sayuran mengingat beberapa waktu makan malam dia melihat Selena hanya memakan salad untuk mengisi perutnya.
“Mami sangat menyukai sayur, jadi mami akan sehat seperti seekor kuda.”
Selena hampir tersedak mendengar itu, dia meminum air dari tempat minum Kenzo yang dengan sigap diberikan oleh bocah kecil itu. Dia berkerut kening halus mendapati putranya yang menyamakan dirinya dengan seekor kuda.
Felix berada di samping Selena dan mencoba menahan tawanya. Ucapan bocah kecil polos itu sangat lucu sampai-sampai membuat maminya tersedak. Renee menyadari jika Felix masih terus menatap Selena, dan itu membuatnya sangat kesal. Dia mencampur nasi dengan buah menjadi satu.
“Mami, kenapa mami mencampurkan buah dengan nasi?” Leon menatapnya dengan wajah bingung.
Renee menyadari itu dan terkejut, dia menggigit bibir bagian bawahnya dan merasa bersalah. “Maaf sayang, mami tidak sengaja melakukannya.”
Tatapan Felix langsung beralih pada kotak makan di hadapannya yang sudah bercampur aduk tidak karuan. Dia menatap Renee dengan ekspresi datar karena Renee telah mengacaukan bekal makan siang putranya. Leon kecewa dan wajahnya mulai memerah.
Felix mengalihkan pandangan Leon dari nasi itu padanya, dia menatap bocah kecil itu dengan hangat. “Bekal makan siang itu sudah tidak enak lagi jadi mamimu menghancurkannya. Kita akan makan siang di luar, apa kau mau?”
Renee tersenyum kecil dan tidak enak hati ketika tatapan Felix yang seolah sedang menyalahkannya. Mungkin dia salah, tapi semua itu karena Felix yang terus-menerus menatap wanita lain sementara dirinya berada tepat di sampingnya.
Selena telah selesai dengan makan siangnya. Dia ijin kepada Kenzo untuk pergi ke toilet. Bocah kecil itu menawarkan diri untuk mengantar Selena, namun Selena menolaknya dengan halus. Kenzo sangat pengertian, dia tahu maminya tidak tahu letak toilet jadi dia berencana untuk mengantarnya.
Felix melihat Selena yang keluar dari kelas, dan dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah wanita cantik itu. Renee memandang Felix sampai pria itu berjalan keluar, bertanya-tanya kemana Felix akan pergi karena pria itu tidak mengatakan apapun.
Leon yang duduk di sampingnya juga tiba-tiba pergi. Bocah kecil itu beralih duduk di tepi Kenzo yang sedang memakan buah-buahan di dalam kotak bekal miliknya. Kenzo menawarkan buah itu kepada Leon, dan Leon menerimanya dengan senang hati. Renee yang melihat keakraban keduanya hanya diam dan menarik nafas dalam-dalam, dia tahu mereka sudah berbaikan dan lebih akrab sekarang karena Leon selalu menceritakan Kenzo kepadanya.
Selena membasuh tangannya setelah selesai dari toilet. Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya dan menariknya masuk kembali ke dalam toilet. Selena terkesiap dan ingin berteriak, namun dengan sigap telapak tangan besar menutup mulutnya.
“Damn! Lepaskan aku!” Selena berteriak dengan suara tidak jelas, sementara lengannya terus meronta agar seseorang itu melepaskannya.
Orang itu membalikan tubuh Selena dan mendesaknya ke pintu toilet. Selena akhirnya bisa melihat pria bastard yang tiba-tiba menarik lengannya dengan paksa.
__ADS_1
“Damn!” Selena melepaskan dekapan tangan Felix pada wajahnya. “Apa kau gila?” tanyanya dengan penuh penekanan.
“Sialan! Aku sangat terkejut,” imbuh Selena.
“Kau terkejut?”
“Ya! Menurutmu apa? Semua orang akan terkejut!”
“Kau akan terbiasa nanti dan tidak akan terkejut lagi,” kata Felix seraya menyentuh lembut pipi Selena, namun dengan sigap wanita cantik itu menepisnya.
“Terbiasa? Cih!” Selena berdecih malas. “Menjauhlah dariku!”
“Tidak akan pernah.”
“Kenapa kau mendekatiku? Kau memiliki istri bastard!”
“Aku menginginkanmu,” ucap Felix dengan seringai.
Selena menatap pria itu tajam begitupula sebaliknya. Dia terus meronta namun Felix mencekal kedua pergelangan tangannya dan mengangkatnya ke atas, Selena tidak bisa berkutik sama sekali. Dia ingin menendang pria itu, namun kaki panjang itu menghimpit kakinya.
Sialan sekali!
.
.
.
***Bersambung ....
Haiii jangan lupa like, koment, dan juga tambahkan ke dalam favorit yaaaa***.
__ADS_1