Passionate Night

Passionate Night
*THINK


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


“Aku akan mengantarmu pulang.”


Felix menarik lengan Selena, namun wanita ca tik itu dengan cepat melepaskannya. Dia melangkah mundur beberapa langkah untuk menjauhi Felix.


“Tidak perlu Felix, aku akan pulang sendiri.” Dia terdiam sejenak. “Aku bisa pulang sendiri,” ucapnya lagi.


Felix menatapnya dengan intens. Bahkan dalam kondisi mabuk pun wanita itu menghindarinya. Ternyata dia benar-benar ingin menyingkirkan Felix dari kehidupannya.


“Tidak bisa. Aku akan mengantarmu pulang.”


Jangan anggap pria itu Felix Alexander jika dia bisa mengalah akan suatu hal. Keinginannya tentu akan berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ini berlaku untuk semua hal di dunia, termasuk Selena.


Dia menarik pergelangan tangan Selena, namun wanita cantik itu membatu dan tidak mau beranjak dari tempatnya. Felix sekuat tenaga menariknya dan membawa tubuh sintal itu ke dalam gendongan.


“Pria gila! Kau selalu seperti ini!”


“JENNIE TOLONG AKU!”


Dari gendongan Felix, Selena melihat sahabatnya yang sedang berusaha diangkat oleh satu pria berpakaian jas hitam rapih dan bertubuh kekar. Sebelum Selena sempat bertanya, Felix lebih dulu mengatakan;


“Tidak perlu khawatir tentangnya. Aku akan mengurusnya.”


......................


Susah payah Felix memakaikan seatbelt untuk Selena karena wanita itu terus saja meronta seperti bocah kecil. Beruntung dia tidak melepaskan seatbeltnya kembali saat Felix sudah duduk di kursi kemudi.


“Kau selalu seperti itu Felix! Damn!” umpatnya kesal.


Selena merasakan pengar yang tajam mendominasi kepalanya. Dia memejamkan matanya karena tidak kuat lagi untuk terbuka. Semakin lama, kesadarannya semakin menipis. Dia terlelap.


Satu lengannya memegang kemudi, dan satu lengannya lagi terangkat untuk meraih pipi Selena. Dia mengelusnya perlahan.


Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Selena.


Felix mengemudikan mobilnya sendiri menuju sebuah apartement. Setelah sampai di sana, dia dengan sigap menggendong tubuh sintal Selena dan membawanya masuk ke dalam lift untuk menuju lantai apartment.


Beruntung apartment itu memiliki private lift yang hanya bisa digunakan oleh setiap satu rumah. Jika tidak, orang lain akan terganggu dengannya yang menggendong seorang wanita mabuk di bahunya. Dan lagi, beberapa pria kekar di belakangnya. Mereka mengawal Felix seraya membawa tubuh Jennie yang tengah mabuk berat.


*********

__ADS_1


Renee sedang memasang kuku palsu di salon langganannya. Dia dengan senang hati menunggu kabar baik dari dalam ponselnya. Dan ketika ponsel miliknya berdering, Renee langsung menjawabnya dengan antusias.


“Bagaimana?” tanya Renee tidak sabaran.


Air pada wajahnya langsung berubah saat dia mendengar jawaban dari seseorang di seberang telepon. Dia langsung beranjak dari duduknya, dan tidak memperdulikan kuku yang sedang dihias.


“Dasar tidak becus!” umpat Renee kasar.


Sambungan telepon itu langsung terputus, dan dia menyimpan ponselnya ke atas meja dengan gerakan kasar. Seorang pegawai salon menatapnya sembari terus terdiam dan tidak berani mengusik wanita yang sedang marah itu.


*********


Cahaya mentari menyeruak masuk melewati selah gorden yang tidak tertutup dengan rapat. Selena menghempaskan lengannya dan mendarat tepat pada punggung seseorang. Orang itu langsung terbangun.


“Damn *****! Perhatikan lenganmu!” umpat Jennie seraya menyingkirkan lengan Selena dari tubuhnya.


Wanita cantik itu menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu perlahan membuka matanya yang buram, dan rasa pengar langsung menguar di dalam kepalanya.


Tatapannya terpaku pada langit-langit kamar yang tidak asing. Dia menolehkan wajahnya dan mendapati Jennie yang sedang tidur di sana.


“Kita berada di apartementmu?” tanya Selena.


Jennie mengangguk samar dengan mata yang masih terpejam. “Ya.”


Selena mengusak wajahnya lalu beranjak duduk. Keningnya berkerut halus saat mencoba mengingat kejadian semalam sebelum dirinya mabuk parah. Sialannya, dia tidak mengingat apapun selain Felix yang tiba-tiba menggendongnya untuk pergi.


Jennie terlihat tidak peduli, dia malah melanjutkan tidurnya. Selena mengguncang bahunya untuk bangun, namun wanita itu segera menyingkirkan lengan Selena.


“Kau yang menyetir mobil,” ucap Jennie asal.


Selena berpikir tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi. Tadi malam dia sedang dalam kondisi mabuk berat. Dia bahkan tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa Felix yang membawa kita ke sini?” celetuk Selena tiba-tiba dengan nada suara rendah. Karena hanya wajah pria itu terlintas di dalam otaknya.


Jennie membuta kedua matanya dengan malas, menatap Selena menggunakan mata merahnya yang sembab akibat tidur terlalu lama.


“Apa kau masih mabuk? Kau masih membayangkan pria itu?” tanya Jennie membuat Selena berdecih samar.


“Aku mengingat jika dia menggendongku, lalu membawaku dengan mobilnya. Apa aku bermimpi?” gumam Selena lagi rendah, dan Jennie hanya menggelengkan kepalanya samar melihat tingkah sahabatnya yang masih tergila-gila dengan pria itu.


Jennie beringsut turun dari ranjang, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena Selena, selera untuk tidurnya menjadi hilang.


Sementara Selena masih duduk termenung di atas ranjang. Merasakan pengar dan mual di perutnya. Meskipun begitu, pikirannya masih terbayang akan wajah Felix tadi malam. Dia yakin jika pria itu berada bersamanya di dalam club malam Jennie.


......................


Dua wanita cantik itu kini sudah berada di dapur dan sedang menyantap makanan yang mereka pesan dari aplikasi online.

__ADS_1


Selena menyantap makanannya, lalu melihat waktu pada layar ponselnya. Satu jam lagi dia perlu menjemput Kenzo. Karena baru saja Marie menghubunginya jika dia tidak bisa menjemput Kenzo karena memiliki janji bertemu dengan teman-temannya. Marie meminta Selena untuk menjemput putranya di sekolah, karena jika tidak Kenzo akan mengamuk.


“Aku akan menjemput Kenzo," ucap Selena setelah menyuapkan makanan terakhir di sendoknya.


“Baiklah, hati-hati,” seru Jennie.


Beberapa langkah menuju pintu keluar. Tiba-tiba dia teringat jika mobilnya mungkin saja masih berada di basement club malam. Selena melangkahkan kakinya kembali menuju Jennie.


“Pinjami aku mobilmu,” pintanya dengan.


Jennie menatapnya sesaat lalu mengedikan dagunya menunjuk kunci mobil. Kemudian Selena langsung mengambil kunci tersebut dari tempatnya.


“Aku akan mengembalikannya padamu,” teriak Selena seraya melangkah pergi menuju pintu apartemen.


“Kembalikan padaku dalam kondisi utuh. Terakhir kali kau mengembalikan mobilku dalam keadaan hancur.” Jennie berteriak memperingati.


“Tenang saja Jennie, bye!”


Selena melangkah keluar dari apartement Jenni. Pergi menaiki lift dan menuju basement. Sesampainya di sana, dia bertemu dengan Zayn yang hendak masuk ke dalam lift.


“Hai Zayn,” sapa Selena.


“Hai Selena, kau di sini?” tanya Zayn.


“Ya.” Selena terdiam sesaat. “Apa yang kau lakukan di sini, Zayn?”


Zayn tersenyum. “Bertemu temanku.”


Wanita cantik itu mengangguk mengerti. “Baiklah Zayn, aku harus menjemput Kenzo di sekolah. Sampai jumpa.” Selena melangkahkan kakinya pergi.


“Sampai jumpa Selena.”


Selena melenggang pergi dari sana, dia berdecih samar. Pembohong. Apakah Zayn tidak menyadari jika apartement itu memiliki private lift yang hanya bisa digunakan untuk satu rumah apartemen saja. Pria itu masih berbohong dengan mengatakan pergi berjumpa kawannya. Jelas-jelas dia pergi menemui Jennie.


Apakah mereka berhubungan? Pikir Selena.


.


.


.


Bersambung ....


Maaf ya upnya ngirit. Banyak bgt kerjaan di dunia nyataa ini wkwkwk. aku usahain up seperti biasa yaaa.


Jangan lupa like dan koment untuk terus menyemangati Author. byebye.

__ADS_1


__ADS_2